Pernikahan Salsa

Pernikahan Salsa
Melewatkan makan malam.


__ADS_3

🥀🥀🥀🥀🥀


.


.


"Selamat sore, Den." sapa seorang asisten rumah tangga Mia.


"Iya, sore juga, Bi." jawab Kenzo sopan.


"Mari ikut Saya, Non Mia ada di kamarnya. Dia mengurung diri sejak tadi siang." papar si Bibi membawa kenzo berjalan menaiki tangga satu persatu, karena kamar Mia berada di lantai atas. Kenzo hanya menganguk mengiyakan.


Tok!


Tok!


"Non, ini Den Kenzo, sudah datang." panggil si pelayan mengetuk pintu kamar Mia.


"Iya, Bi. Masuk aja, pintunya tidak di kunci." sahut gadis tersebut yang masih setia meringkuk diatas ranjang dengan mata membengkak karena terlalu lama menangis.


Ceklek!


Suara pintu yang dibuka pelan. Kenzo pun mengikuti pembantu Mia masuk ke kamar sahabatnya itu. Ini adalah kali pertama Kenzo memasuki kamar gadis, selain kamar istrinya sendiri.


"Mia, Lo kenapa?" seru Kenzo kaget karena tampilan Mia sangat kacau.


"Kenzo... hu... hu... orang tua gue, Ken. Mereka mau berpisah karena papa gue ternyata sudah menikah lagi." tangis gadis itu pecah saat Kenzo mendekat dan memeluknya.


"Apa? Lo serius?" Kenzo semakin kaget mendengar jika pria yang dia kira selama ini begitu menyayangi keluarganya. Ternyata sudah menikah lagi.


"Iya, benar!" jawab Mia singkat. "Ternyata papa sudah menikah dari sebelum membawa mama dan gue pindah dari sini. Dia sudah memiliki anak bersama istri barunya." adu Mia, agar mengurangi sesak yang dia rasakan. Hanya Kenzo satu-satunya tempat yang ia percayai untuk menceritakan masalah pribadinya.


"Sabar ya, pasti ada hikmahnya dibalik semua ini." hanya kata-kata itu yang bisa Kenzo ucapkan untuk menenangkan hati sahabatnya.

__ADS_1


"Apa Lo belum makan?" tanya pemuda tersebut karena diatas meja samping tempat tidur ada makanan yang tersedia. Namun, seperti belum di makan sama sekali.


"Bagaimana mungkin gue bisa makan, sementara kedua orang tua gue lagi bertengkar hebat." jawab Mia setelah melepaskan pelukan mereka. Saat ini Kenzo duduk di sisi gadis itu sambil menatapnya penuh rasa iba.


"Lo nggak boleh gini, jangan sampai gara-gara masalah ini. Lo jadi sakit, Mi." tangan Kenzo sudah terangkat ke atas untuk memperbaiki rambut Mia yang berantakan. Namun, langsung iya turunkan lagi. Kenzo selalu melakukan hal itu bila bersama Salsa. Jadi dia malah membayangkan wajah sang istri. Itulah sebabnya dia tidak jadi. Takut nanti malah khilaf dan mengira Mia adalah princess nya.


"Tapi gue benar-benar nggak mau makan, Ken. Gue sudah kenyang. Lagian bagus juga gue sakit, biar papa mikir, semua ini gara-gara dia." mengigat perselingkuhan papanya. Membuat Mia tiba-tiba merasa kesal sendiri.


"Lo nggak boleh egois, Mi. Jika Lo sakit kasihan nyokap Lo pasti akan bertambah sedih."


"Biaranin aja, semua ini mungkin tidak akan terjadi bila mama gue memperhatikan papa. Gue---"


"Bibi, tolong bawa makanan yang baru, bisa. Soalnya makanan ini sudah dingin. Biar Mia bisa makan." Kenzo menyela ucapan Mia.


"Baik Den, tunggu sebentar Bibi ambilkan yang baru." si Bibi yang di mintai oleh Kenzo menemaninya tadi, diam saja dan tidak keluar dari kamar itu sebelum di titah pergi.


"Huh! Kenapa bisa gini sih, Mi." pemuda itu mengusap wajahnya.


Kenzo menatap Mia sambil berkata. "Jadi karena masalah ini Lo nggak baca pesan gue yang terakhir?"


"Iya benar, gara-gara masalah ini." Mia menjawab sendu.


"Lo tahu nggak, tadi siang begitu mendengar mereka bertengkar dan mama mengatakan akan menggugat papa ke kantor pengadilan. Gue sempat berpikir untuk bunuh diri. Biar mereka berdua sadar, ada gue putri mereka." papar Mia menatap kearah pisau kecil yang masih berada diatas meja samping tempat tidur.


"Mia, Lo gila atau bagaimana," sentak Kenzo langsung mengambil pisau yang gadis itu maksud. "Jika sampai Lo melakukan sesuatu yang akan membahayakan nyawa Lo sendiri. Maka sampai kapanpun gue nggak mau mengakui Lo sebagai sahabat gue lagi, " ancam Kenzo dengan tatap tajam.


Pemuda itu benar-benar merasa emosi mendengar Mia akan melakukan bunur diri. Sahabat mana yang tidak marah dan akan membiarkan hal itu terjadi.


"Tapi gue benci sama keadaan ini, Ken. Lo nggak akan mengerti karena belum ngerasain jadi gue," Mia yang tadinya sudah berhenti menangis, sekarang kembali menangis sambil menarik rambutnya sendiri.


"Mia, Lo nggak boleh seperti ini." seru Kenzo menarik tangan Mia dari rambutnya sendiri. Lalu dia pegang kedua tangan tersebut dengan cukup erat.


"Lo jangan seperti ini, tenangin diri dulu. Setelah tenang kita pikirin bersama-sama, bagaimana caranya agar kedua orang tua Lo nggak jadi berpisah." papar Kenzo agar Mia bisa tenang.

__ADS_1


"Kita? Memangnya Lo mau bantuin gue?" Mia minta kepastian dari ucapan sang sahabat.


"Tentu, tentu gue akan bantuin Lo. Kapanpun itu gue siap membantu. Tapi tolong jangan lakuin hal bodoh seperti yang Lo pikirin tadi. Oke, Lo bisa, 'kan? Demi persahabatan kita." Kenzo yang tadinya tidak ingin memperbaiki rambut Mia, sekarang malah terpaksa mengikatnya mengunakan ikat rambut yang berada di atas nakas.


"Ken," gadis itu tiba-tiba kembali memeluk Kenzo. "Thanks baget, jika nggak ada Lo, entah kepada siapa tempat gue mengadu." seru Mia merasa terharu karena Kenzo tidak meningalkan dirinya dalam keadaan rapuh.


Namun, sayangnya Kenzo malah meningalkan istri cantiknya. Sampai malam nyatanya pemuda itu belum juga kembali, dan melewatkan makan malam bersama keluarganya, karena harus menemani Mia sampai gadis itu tertidur.


Sampai pada pukul sepuluh malam. Kenzo barulah meningalkan rumah Mia. Dia tidak mungkin meningalkan sahabatnya dalam keadaan kacau.


"Astaga, gue lupa untuk mengabari Salsa." Kenzo memukul setir mobilnya, karena setiba di dalam mobil baru ia mengingatnya. Tadi Kenzo lupa membawa ponselnya masuk, jadi tidak tahu kalau Kakek dan istrinya sudah menghubungi sampai beberapa kali pangilan tak terjawab.


Sambil membawa mobil. Tangan Kenzo yang satunya membuka pesan Telengram dari istrinya.


💌 Salsa : "Lo nggak bisa pulang ya? Gue kira Lo akan makan malam di rumah, Ken. Tadinya gue mau pamerin, kalau yang masak makan malamnya gue sendiri, bukan Bibi Imah." pesan yang dikirim oleh Salsa.


Gadis itu tidak tahu jika Kenzo sudah diberitahu oleh neneknya. Jika sore ini Salsa yang memasak. Ini adalah kali pertamanya Salsa memasak untuk suaminya. Namun, sayangnya Kenzo tidak ikut makan malam bersama mereka.


Setelah mengirimkan satu pesan tersebut. Salsa tidak ada menelepon ataupun mengirim pesan lagi, karena saat Kenzo mengecek riwayat pangilan terakhir dan pesan dari istrinya hanya berjarak dua menit.


Lalu Kenzo langsung mencoba menghubungi Salsa. Ingin meminta gadis itu menunggu kedatangannya. Kenzo ingin meminta maaf secara langsung.


Tuuuut!


Tuuuut!


Sampai beberapa kali Kenzo menelepon Salsa. Tapi tidak diangkat-angkat. Sudah jam sepuluh malam, Salsa jelas sudah tidur. Istrinya itu bila tidak ada acara ataupun menonton pertandingan kakaknya. Mana pernah tidur di atas jam sembilan malam.


"Sial! Kenapa gue sampai lupa membawa ponsel. Jadinya nggak tahu kalau Salsa ada menghubungi gue. Dia pasti marah lagi." rutuk Kenzo penuh sesal pada dirinya yang meningalkan ponsel di dalam mobilnya.


Tadi setengah jam sebelum waktu makan malam. Salsa berulang kali menelepon suaminya, karena dia benar-benar sangat berharap Kenzo akan pulang dan makan malam bersama mereka.


*BERSAMBUNG*...

__ADS_1


__ADS_2