
🥀🥀🥀🥀🥀
.
.
"Ternyata kau sama seperti Heri dan Ridwan," ucap Pria yang seumuran dengan Rian. Siapa lagi jika bukan anak dari Almarhum Anton.
"Tentu saja, karena kami adalah cucunya," jawab Arsya yang tak nampak memiliki rasa takut sama sekali. Namun, tangan kekarnya menarik Salsa kearah belakang tubuhnya.
"Kak," seru Salsa tiba-tiba merasa takut. Sebab orang-orang yang ada di hadapan mereka mengunakan senjata api dan pisau.
"Adek tenang ya, jangan takut! Kakak tidak akan membiarkan apapun terjadi padamu," ucap Arsya menenangkan adiknya.
"Ha... ha... sangat berani, andai saja aku memiliki seorang putri. Maka kau akan aku jadikan menantu," ujar pria itu lagi semakin tertawa sumbang.
"Tapi lebih sayangnya, Saya tidak ingin menjadi menantu Anda," jawab Arsya balas tersenyum.
"Anak muda, sekarang tersenyumlah sepuas mu, karena setelah ini kau dan adikmu akan kami habisi. Namun, sebelum itu aku ingin menikmati tubuh princess Erlangga, karena ini sudah perjanjian ku dan Mia." lanjutnya melihat kearah Mia yang tersenyum penuh kemenangan.
"Cuuih! Kalian langkah hi dulu jasadku, baru kalian bisa menyentuh adikku," Arsya meludah kearah Robert dan para anak buahnya. Sehingga membuat Laki-laki itu marah dan mulai memerintahkan anak buahnya untuk menangkap si kembar. Namun, sebelum tangan mereka menyentuh keduanya. Pengawal yang bertugas menjaga keturunan Erlangga keluar dan langsung saja memberikan tembakan sebagai peringatan.
"Brengsek! Bagaimana mereka bisa tahu, bukannya kata kalian jika Rian dan menantunya ke perusahaan?" umpat Robert tidak tahu jika masih ada orang-orang Erlangga.
"Sudah Tuan, kami sudah mengatur semuanya sesuai perintah Anda," jawab salah satu dari mereka.
"Bodoh!" entah siapa yang dimaki oleh Robert. Sebab semua yang dilakukan oleh anak buahnya, tentu atas perintah dia sendiri.
"Anda tidak perlu semarah ini, Tuan Robert," suara seorang pria dari arah belakang membuat semuanya menoleh ke asal sumber suara.
"Papa," seru Arsya dan Salsa secara bersamaan. Mereka tidak menyangka, jika bukan hanya para pengawal Erlangga dan Ridwan saja yang ada di sana. Tapi juga ada Kenzo dan Rian.
"Kurang ajar! Jadi kau yang menjebak ku," Robert kembali mengumpat.
"Aku tidak menjebak siapapun, aku hanya melindungi anak-anakku," jawab Rian melangkah semakin dekat.
Meskipun ada beberapa senjata api dari anak buah Robert mengarah padanya. Tidak membuat Rian merasa takut. Sebab di sekeliling mereka sudah ada polisi dari luar negeri, tempat asal Robert berada.
"Rian, Kau!" seru Robert merasa kesal.
__ADS_1
"Pa, bagaimana Papa bisa tahu jika kami ada disini?" tanya Arsya setelah sang ayah berada dibarisan paling depan untuk melindungi dia dan adiknya.
"Papa akan tahu kemanapun kalian bertiga pergi, buat apa harta yang Papa miliki jika tidak bisa melindungi anak dan menantu Erlangga," jawab Rian tersenyum.
Jangankan Arsya dan Salsa. Kenzo yang hanya menantu saja semenjak menjadi menantunya selalu dikawal. Hanya saja tidak ada diantara ketiganya yang mengetahui hal tersebut.
Membawa Kenzo ke perusahaan, adalah salah satu taktik Rian agar Robert bisa percaya bahwa hari ini Salsa tidak ada yang mengawasi.
...Flashback on......
"Pa, kenapa banyak sekali pengawal?" tanya Kenzo ketika baru melangkah masuk ke dalam perusahaan. Bahkan polisi dari luar negeri dan polisi ibu kota B, juga ada di sana.
"Nanti Papa akan jelaskan dalam ruangan Papa. Sekarang ayo kita keruangan Papa lebih dulu," jawab Rian terus berjalan kearah lift khusus bagi petinggi perusahaan. Meskipun bingung Kenzo tidak banyak bertanya. Dia hanya mengikuti sang mertua dan juga Sekertaris Aldi.
"Duduklah!" titah Rian begitu masuk kedalam kantornya. Kenzo kembali menurut dan duduk tepat dihadapan mertuanya.
"Ken, apa kamu tahu kenapa Papa membawa mu ke perusahaan selain masalah pekerjaan?" tanya Rian dengan wajah begitu serius. Sehingga membuat Kenzo merasa was-was bila sang mertua akan memecat dirinya sebagai menantu.
"Eum.. ti--tidak, Pa," jawab Kenzo terlihat jika dirinya merasa gugup.
"Tidak usah takut, Papa bukan mau memecat mu sebagai menantu," Rian semakin tersenyum karena melihat ketakutan Kenzo, membuat Rian sangat yakin untuk benar-benar melepaskan sang putri pada menantunya itu.
"Ada hal penting yang terjadi saat ini. Orang yang menjebak kalian, sudah di ketahui siapa pelakunya," lanjut Rian setelah menjeda sesaat.
"Apa! Siapa orangnya, Pa?" seru Kenzo mengangkat kepalanya melihat Rian menunggu jawaban.
"Dia adalah Robert, orang tuanya meninggal di tangan Opa Heri, karena ingin menyelamatkan Mama Ayla," papar Rian yang harus menceritakan semuanya agar Kenzo paham. Sambil menunggu aba-aba dari para anak buahnya di lapangan.
"Lalu apa hubungannya dengan kita datang ke sini?" tanya pemuda itu semakin tidak paham.
"Tentu ada hubungannya, saat ini Robert ingin menyakiti Salsa melalui Mia sahabat mu,"
"Mia? Tapi mereka tidak mungkin kan bisa menyakiti Salsa. Princess juga lagi ada di rumah," ucap Kenzo tidak tahu bahwa si princess sudah pergi mengunakan motor besar kakaknya.
"Tidak! Salsa tidak lagi di rumah, tadi setelah kita pergi, dia juga menyusul pergi sendirian untuk menemui Mia di Taman yang tidak selesai, arah jalan ke bandara." jelas Rian yang tahu semuanya. Namun, demi menjebak Robert dan Perdi. Dia harus berani ambil resiko seperti saat sekarang ini.
"A--apa! Pa, jika begitu Salsa lagi dalam bahaya, kenapa Papa malah membawa Kenzo ke sini. Jika sudah tahu apa yang akan terjadi?" seru Kenzo berdiri hendak pergi. Dia benar-benar tidak habis pikir dengan cara berpikir mertuanya.
"Tuan Muda Kenzo, duduklah! Nona Muda akan baik-baik saja. Dia tidak sendirian di sana, sebentar lagi Tuan Muda Arsya pasti akan menelepon untuk memberitahu bahwa adiknya pergi sendirian," ucap Sekertaris Aldi yang hanya diam saja sejak tadi. Sehingga membuat Kenzo kembali duduk dengan khawatir.
__ADS_1
"Sebentar lagi kita akan berangkat ke sana. Jadi tenanglah, untuk menangkap Robert, Papa terpaksa melakukan ini. Walaupun sangat beresiko pada keselamatan kembar," kata Rian agar menantunya bisa tenang.
"Baiklah, tapi bagaimana mungkin Papa bisa mengetahui jika Salsa akan menemui Mi---"
Ttttddd!
Ttddddd!
Baru saja Sekertaris Aldi berkata jika Arsya akan menelepon. Ponsel Rian dan Kenzo sudah dihubungi secara bergantian.
"Tidak usah di angkat. Biarkan saja," cegah Sekertaris Aldi.
"Pa, bagaimana caranya Papa bisa mengetahui bahwa Princess akan menemui Mia?" Kenzo kembali bertanya. Setelah Arsya berhenti menghubungi mereka.
"Itu urusan Sekertaris Aldi dan Ayah Nando kalian, entah bagaimana caranya mereka bisa meretas nomor ponselmu," Rian bersiap-siap karena perkiraan waktu mereka ke tempat pertemuan putrinya sudah tinggal beberapa puluh menit lagi.
"Ja--jadi ponsel Kenzo sudah diretas?" cicit Kenzo merasa malu. Sebab dia sempat berbalas pesan dengan para sahabatnya tentang hubungan dia dan Salsa.
"Iya, benar! Ponselmu sudah di retas, tapi baru dua Minggu ini," sambil berjalan ke luar dari perusahaan Rian terus saja menjawab pertanyaan menantunya.
Flashback off...
"Robert sekarang menyerah lah, kalian sudah di kepung," ucap Rian melihat di sekeliling mereka sudah ada polisi.
"Aku sudah memanggil polisi dari tempat asalmu. Agar kalian di proses hukum oleh negara kalian sendiri," lanjut Rian sangat malas harus mengurus masalah seperti Robert. Makanya dia lebih baik kehilangan uang banyak buat menyuruh polisi itu datang menangkap Robert dan beberapa anak buahnya.
"Tidak akan, aku datang ke sini untuk membalaskan dendam papiku yang dihabisi oleh Heri. Kalian membunuhnya," kata Robert mengeluarkan senjata api dari balik jas nya. Tanpa aba-aba dia mengarahkan senjata tersebut kearah Rian.
Dalam hitungan detik sudah terdengar suara tembakan.
Dooor!
Dooor!
Dua kali suara tembakan. Satu kali mengenai Kenzo dan satu kali lagi mengenai tanggan Robert sendiri, karena pada saat bersamaan dia juga ditembak oleh polisi dari negaranya.
"Aaakk! Ken, Ken!" jerit Salsa melihat Kenzo terjatuh karena peluru yang akan ditembakkan oleh Robert pada Arsya. Di halangi buat Kenzo. Pemuda itu bisa tahu jika Robert akan menembak Arsya makanya Kenzo memeluk tubuh kakak iparnya dari arah depan. Tapi dia sendiri yang kena tembakan tersebut.
*BERSAMBUNG*...
__ADS_1