Pernikahan Salsa

Pernikahan Salsa
Kecelakaan.


__ADS_3

🥀🥀🥀🥀🥀


.


.


"Baiklah dari kedua Tim SMK Erlangga dan Tim dari Universitas Bima sakti diharapkan memasuki lapangan. Sebab pertandingan akan kita mulai tiga menit lagi."


Ucap si operator yang membawa acara. Semua penonton mulai berteriak histeris karena pertandingan antara Tim Arsya dan Kenzo lah yang mereka tunggu-tunggu sejak tadi.


"Bentar gue mau ke adek gue," kata Arsya menepuk pelan bahu Denis.


"Oke, santai aja, Men," balas Denis mengangguk. Lalu dia dan yang lainnya masuk ke dalam lapangan lebih dulu, begitu pula dengan Farel.


"Kakak," seru Salsa yang saat ini masih berdiri di sisi lapangan. Belum naik ke kursi barisan nomor tiga.


"Do'akan agar Kakak menang, huem!" ucap Arsya memeluk sang adik. Sebetulnya apa yang dia lakukan saat ini bukan untuk meminta dukungan buat dirinya yang akan bertanding. Melainkan menguatkan adiknya, agar Salsa tahu bahwa dia tidak sendirian.


Lagian apa yang tidak si sulung mengerti, dari raut muka sang adik saja dia sudah tahu jika si princess tidak baik-baik saja.


"Salsa akan do'ain semoga Kakak dan Kak Farel menang," jawab Salsa dengan suara Melo seperti menahan tangisnya. Itulah sosok Salsa, bila berada dalam pelukan sang kakak, dia merasa seperti anak kecil. Lebih mudah menangis karena dia sangat dimanjakan oleh kakaknya.


"Huem, Kakak akan berjuang semampu Kakak, percayalah!" ujar Arsya mencium kening adiknya, lalu setelah itu dia langsung berlari kearah lapangan, karena operator kembali mengingatkan bahwa waktu hanya tersisa satu menit lagi.


Farel yang melihat seperti apa kedekatan Salsa dan Arsya sahabatnya hanya tersenyum dan melambaikan tangannya pada Salsa. Tidak peduli jika saat ini dia dan Kenzo hanya berjarak kira-kira dua meteran.


Farel sudah sangat siap, bila Kenzo mengajaknya war demi memperebutkan Salsa.


Namun, tanpa disangka-sangka si princess dengan berani berjalan masuk kelapangan yang hanya tinggal hitungan detik akan dibunyikan Pluit oleh wasit nya. Dia berjalan bukan kearah kakaknya. Melainkan kearah Farel yang kebetulan sekali berdiri di tidak jauh dari Kenzo.


Jadinya antar kedua pemuda itu sama-sama merasa berdebar-debar karena dikiranya Salsa akan kearah mereka. Walaupun memang benar, tapi hanya salah satunya saja.


"Kak Farel semagat," ucap Salsa langsung memeluk Farel yang langsung membuat kehebohan lebih dari tadi. Ada yang menjerit karena melihat Farel mendapat pelukan dari gadis secantik Salsa. Bahkan para pemain luar kota tidak bisa bermain dengan Fokus gara-gara selalu melihat kearah Princess Erlangga.


"Tentu, tentu Kakak akan menang, apalagi sudah mendapat pelukan dari princess." jawab Farel balas memeluk. Meskipun dia tahu apa yang Salsa lakukan pasti karena ingin membuat Kenzo cemburu. Farel tidak perduli, setidaknya untuk saat ini dia sudah menang satu langkah dari Kenzo.


"Ken," seru Andra menahan pergelangan tangan Kenzo yang tiba-tiba ingin berjalan kearah Farel dan Salsa. "Elo ada masalah apa, sih sama mereka?" tanya Andra dengan menekan suaranya sendiri.


"Ck," decak Kenzo berusaha menahan emosinya. "Huh! Ini mau jadi bertanding atau nggak, sih?" ucap Kenzo seolah-olah lagi protes karena gara-gara Salsa turun kelapangan wasit belum memulai acaranya.


"Santai Bro, jangan khawatir, princess kita cuma sebentar, mereka baru pacaran jadi wajarlah," Denis yang menjawab. Sedangkan Arsya hanya tersenyum di sudut bibir atasnya. Malam ini pemuda yang merupakan calon pewaris Erlangga selanjutnya, akan memukul mundur Tim Kenzo dari turnamen bergengsi tahun ini.


Agar adik iparnya tahu bahwa dia tidak akan membiarkan siapapun menyakiti hati adiknya. Sudah pernah di peringkatkan nyatanya Kenzo masih mengulangi kesalahan yang sama.


"Kak, Salsa kembali menonton lagi," ujar Salsa tersenyum manis yang mampu membuat siapa saja meleleh karena senyumnya.


"Sorry," kata Salsa saat melewati Kenzo dan Tim nya. Dia sengaja tersenyum seakan-akan tidak terjadi apapun dan terlihat begitu menggemaskan.


"Princess," sapa Hengki yang tidak tahan bila hanya diam saja.


"Iya," sahut Salsa berhenti di tempatnya berdiri. Si princess tahu jika wasit, tidak akan berani membunyikan pluit ataupun marah padanya. Salsa adalah adik dari Arsya, dan sudah pastinya mereka semua tahu bahwa sikembar adalah cucu dari Tuan Heri Erlangga.


"Eum kenalin nama kakak Hengki," ucap Hengki mengulurkan tangannya mengajak berkenalan. Tidak peduli ada Arsya ataupun Farel yang mereka ketahui kekasih Salsa saat ini.


"Salsa," jawab si cantik disertai senyum manisnya. Sehingga anak-anak yang lain ikut memperkenalkan diri juga. Lagi mumpung ada kesempatan emas.


"Benar-benar nama yang sangat cantik, sama seperti pemiliknya." sela Eel tidak mau kalah.


"Nama Kakak Eel, jangan lupa ya," kata Eel tersenyum kecil. Dia memang baru kali ini bertemu Salsa hanya berjarak satu meter, biasanya hanya bisa melihat dari jarak cukup jauh.


"Huem, oke Kak. Sudah dulu ya, nanti wasitnya marah," ujar Salsa berlari kepinggir lapangan. Dia benar-benar merasa puas melihat wajah masam Kenzo.


"Princess, Lo sudah gila masuk ke sarang macan," Ara mengelengkan kepalanya.

__ADS_1


"Tenang, ada kakak gue, dia mana mungkin membiarkan princess kenapa-kenapa," jawab Salsa tertawa, dan hal itu tidak luput dari lirikan Kenzo.


"Salsa sengaja buat gue cemburu, atau dia memang sudah pacaran lagi sama Farel?"


Gumam Kenzo mulai bermain, karena wasit telah membunyikan pluit. Selama bermain boleh dikatakan Kenzo tidak bisa konsentrasi, karena yang dia pikirkan adalah Salsa, bukan Bola Basket lagi.


Apalagi melihat para sahabatnya malah sudah berkenalan dengan sang istri. Membuat Kenzo semakin tidak rela.


"Hore... Arsya, Arsya!" suara teriakan dari suporter mulai riuh saat putra sulung Rian itu berhasil mencetak poin pertama.


"Ken, Elo kenapa sih?" tanya Andra kesal, karena sudah beberapa kali dia memberikan Bola pada Kenzo ketika sudah mendekati Zone-marking. Namun, gara-gara Kenzo kurang fokus Bola tersebut berhasil direbut oleh Tim Arsya.


"Sorry," jawab Kenzo berulangkali menarik nafas, lalu ia hembuskan dengan kasar.


"Rel, ayo Rel!" seru suporter Tim Arsya kembali berteriak saat Farel berhasil merebut Bola dan.


Hap!


Kenzo yang menakap Bola tersebut dan langsung dia masukkan ke dalam ring. Sehingga poin mereka menjadi satu sama.


"Jangan harap Elo bisa menang," ucap Kenzo saat kakinya sudah kembali menyentuh lantai.


"Kita lihat, ini baru saja pemanasan," jawab Farel tak kalah sengit. Untung saja tidak ada yang mendengar ucapan mereka berdua.


"Ar, sorry gue lalai," ucap Farel saat Arsya berlari mendekati Zone-marking. Tadi Arsya merubah posisi, karena dia kira Kenzo tidak akan bertindak lebih.


"Yoi, santai." Arsya menepuk bahu Farel. Guna menenangkan sahabatnya itu. Jika satu poin saja tidak akan membuat mereka kalah.


"Ken, gue mohon banget, apapun masalah Elo sama Princess, tolong jangan bawa-bawa saat pertandingan, "kata Andra yang sudah menebak ketika Kenzo memecahkan botol minuman tadi.


"Apaan sih," kilah Kenzo masih berpura-pura.


"Terserah, mau mengakui sendiri atau nggak, yang jelas tolong konsisten jangan membawa masalah pribadi. Pertandingan ini bergengsi, Men. Jika kita kalah, maka kampus kita akan berada dibawah Tim Arsya." kata Andra sebelum berlari menempati posisi dirinya.


"Brengsek! Salsa Elo bikin gue gila,"


Lalu setelah itu pertandingan terus berlangsung. Antara Tim Arsya dan Kenzo tidak ada yang bisa disepelekan. Mereka sama-sama hebat.


Arsya yang berniat membuat Tim Kenzo mundur pun belum terlaksana, karena semuanya bermain cukup baik.


Go... go...


"Farel, Farel!"jerit histeris anak-anak SMK Erlangga saat Farel berhasil membawa Bola kearah Zone-marking.


"Yogi, Yogi, Elo pasti bisa, Gi," teriak dari suporter dari Universitas Bima Sakti. Namun, ketika Farel melompat ke arah ring tabrakan antara dia dan Yogi terjadi.


Pruiit!


Pruiit!


Pruiit!


Saat pertandingan masih berlangsung, tiba-tiba wasit membunyikan pluit karena melihat Farel dan Yogi bertabrakan dan kedua-duanya sama-sama terkapar di atas lantai.


"Apa yang terjadi?" tanya mereka bersama-sama mendekati Farel dan Yogi.


"Apa kalian bermain tidak benar lagi," hardik Denis menarik kerah kaos Andra. Dia kira Tim Kenzo sengaja. Padahal itu semua murni kecelakaan yang sudah sering terjadi.


"Denis," seru Arsya yang saat ini memangku Farel. Sahabatnya hampir tidak sadarkan diri karena dia dan Yogi bertabrakan saat sama-sama melompat.


Tapi yang parah adalah Farel, karena jika Yogi sudah langsung duduk dan berusaha membantu Farel. Dia benar-benar tidak tahu bisa menyebabkan kecelakaan pemain sampai separah ini.


"Farel, Farel, Elo bisa mendengar suara gue, 'kan?" panggil Arsya yang sangat mengkhawatirkan sahabatnya itu.

__ADS_1


"Tuan Muda, kita harus membawa Farel ke rumah sakit, sepertinya yang terkena kaki Yogi tadi adalah bagian perutnya." ujar para penyelenggara pertandingan. Mereka sama khawatirnya.


"Baiklah, Saya akan ikut bersamanya," putus Arsya yang tidak mungkin melepas sahabatnya begitu saja. Dia adalah Kaptennya, jadi bila terjadi sesuatu Arsya harus mengurus Tim nya. Apalagi ini semua terjadi saat pertandingan berlangsung.


"Baiklah, pertandingan malam ini kita hentikan dulu," putus Tim penyelengara.


"Baiklah, karena terjadi kecelakaan yang tidak kita inginkan. Pertandingan malam ini terpaksa kami hentikan sampai di sini. Di harapkan keluar dari gedung dengan teratur dan patuhi peraturan. Di luar sedang hujan besar. Kalian semua pulang dengan berhati-hati."


Ucap operator memberi tahu pada seluruh pemain dan penonton. Meskipun sangat disayangkan, mereka harus menghentikan pertandingan tersebut.


Salsa yang merasa khawatir berlari masuk ke tengah lapangan, karena para pemain masih berkumpul mengelilingi Farel. Tim penyelengara lagi menyiapkan mobil ambulans untuk membawanya ke rumah sakit terdekat.


"Awas, permisi, perimisi!" ucap Salsa menerobos melewati anak-anak yang sibuk menyerukan nama Farel.


"Kak Farel," lirihnya berjalan dan duduk disamping kakaknya yang masih memangku Farel. Pemuda itu sekarang sudah tidak sadarkan diri.


"Kak, Kak Farel kenapa?"


"Dia tidak sengaja bertabrakan dengan Yogi, sudah tenanglah. Kakak akan membawanya ke rumah sakit." ucap Arsya menenangkan adiknya. Padahal dia jauh lebih khawatir.


"Salsa akan ikut," putus Salsa sembari menghapus air matanya sendiri.


"Tidakk, ini sudah malam. Lagian diluar..." Arsya menghentikan ucapannya, dia baru ingat jika diluar sedang hujan besar.


"Astaga kenapa bisa gini, sih!" seru Arsya bingung harus seperti apa. Di sisi lain dia harus menemani sahabatnya. Namun, di sisi lainnya lagi Arsya tidak bisa meninggalkan adiknya.


"Kenapa, Ar?" tanya Denis sudah selesai melepas sepatu yang Farel pakai.


"Permisi," Tim kesehatan melewati kerumunan membawa tandu untuk mengangkat tubuh Farel sampai ke mobil.


"Ar," Dito menepuk pundak Arsya yang malah terdiam beberapa saat.


"Iya, ayo kita temani Farel," ajaknya. Akan tetapi sebelum berdiri Arsya menatap pada Kenzo, karena satu-satunya yang bisa menjaga Salsa untuk saat ini adalah Kenzo. Hanya iparnya yang mengetahui jika Salsa takut dengan hujan.


"Ken, Elo bawa Salsa pulang, gue nggak bisa membawanya ke rumah sakit, yang ada nanti adek gue ikutan sakit." ucapnya yang langsung diiyakan oleh Kenzo.


"Tapi Kak, adek nggak mau pulang sama dia," Salsa menarik baju kakaknya seperti anak kecil yang takut ditinggal pergi oleh ayahnya.


"Salsa, Kakak mohon, jangan membuat Kakak bingung. Adek melihat sendiri kan seperti apa keadaan Farel," Arsya memegang kedua bahu adiknya. Dia tahu Salsa pasti tidak akan mau, tapi Arsya tidak punya pilihan lain.


Membawa Salsa pergi bersamanya, sama saja dengan membawa sang adik ke tengah penyakit. Mana mungkin Arsya membiarkan hal itu terjadi.


"Tapi Salsa bisa ikut Kakak ke rumah sakit,"


"Tidak bisa, diluar hujannya sangat besar. Adek tunggu di sini bersama Kenzo, nanti setelah hujannya agak reda, baru langsung pulang ke rumah mama, bilang sama mama jika kakak menemani Farel di rumah sakit."


"Kalau begitu Salsa pulang sama pengawal papa aja, Kakak tinggal telepon papa," pinta Salsa yang tetap tidak mau pulang bersama Kenzo.


"Arsya, Farel sudah mau dibawa, Elo kalau binggung nggak usah berangkat, biar kita-kita yang menemani Farel." ucap Dito kembali berjalan masuk menyusul Arsya yang tidak kunjung keluar.


"Nggak gue ikut," jawab Arsya cepat. "Ken, Lo urus Salsa. Tadi ada Ara, bawa dia juga kalau adek gue nggak mau pulang berdua sama Elo," tidak mungkin berlama-lama lagi. Arsya langsung berlari keluar karena dirinya sudah di tunggu.


Tanpa bicara apa-apa Salsa yang marah pada kakaknya, pergi keluar dari lapangan, melewati Kenzo dan teman-temannya begitu saja.


"Kenzo, Elo kenal baik sama mereka?" tanya Andra tercengang tidak percaya jika Arsya memerintahkan Kenzo seperti pada adiknya.


"Iya, besok gue jelasin," jawab Kenzo berjalan mengikuti Salsa.


"Wah-wah, benar kan dugaan gue, jika Kenzo cemburu pada princess." kata Eel ikut keluar lapangan.


Para penonton masih banyak yang belum pulang, dikarenakan mereka pergi mengunakan motor. Sedangkan di luar lagi hujan besar.


"Sa, Salsa!" panggil Kenzo yang tidak dihiraukan oleh sang istri.

__ADS_1


Saat ini Kenzo tidak peduli dengan teman-temannya yang mengetahui dia mengenal Salsa. Sebab keselamatan istrinya jauh lebih baik. Lagian dia tahu, Arsya tidak akan mengambil keputusan gegabah, bila tidak dipikirkan lebih dulu konsuensi nya.


*BERSAMBUNG*...


__ADS_2