
🥀🥀🥀🥀🥀
.
.
"Sa, cantik banget sih," kata Ara yang baru saja duduk di dalam mobil yang akan mengantar mereka berdua. Jangan lupakan tiga mobil pasukan Erlangga mengikuti mobil mereka, dan sebagian pengawal juga sudah standby di Mall yang akan Princess kunjungi. Namun, mereka mengawasi dengan cara tak dapat di curigai oleh orang lain.
Tidak adanya Arsya yang mengawasi adiknya secara langsung. Membuat Rian dan Opa Heri menempatkan pengawal terbaik, buat menjaga permata berharga mereka.
"Aiiis! Gue kan memang sudah cantik dari sebelum lahir," jawab Salsa membanggakan diri.
"Iya, iya. Princess Erlangga gitu, loh!" timpal Ara ikut tertawa. "Eh, ngomong-ngomong kita akan pergi ke mana ini?" tanya Ara melihat mobil mereka melaju berlawanan arah dari Mall milik Erlangga.
"Ke Mall kakek, hari ini gue pengen membuat uncle Paro repot. Ha... ha!" Salsa tertawa dan cepat-cepat menutup mulutnya lagi.
"Iis, emang dasar!" cibir Ara ikut tersenyum karena ke Mall milik keluarga Ridwan memang lumayan jauh. Namun, di sana ada banyak macam permainan yang bisa mereka jelajahi.
Ya, Ara dan Salsa memiliki ke hobian yang sama. Kedua gadis tersebut datang ke Mall bukan untuk berbelanja seperti remaja yang lainnya. Namun, mereka berdua cuma ingin berkeliling sampai lelah, menikmati berbagai makanan yang di sukai dan juga menaiki permainan anak-anak.
Itu lah alasan Salsa tidak pernah ingin berteman akrab dengan gadis lain, karena dia tahu antara mereka begitu banyak perbedaan.
"Biarin, sekali-kali juga. Soalnya setiap ketemu, uncle gue selalu bilang kapan mau merepotkan dia. Jadi gue putuskan hari ini saja,"
"Oke dech, mari kita nikmati hari ini. Selagi kita masih jomblo, dan belum menikah, karena bila sudah menikah, kita akan pergi bersamanya." kata Ara bersorak gembira.
Deg!
"Ha... ha...! Lo nggak tahu aja, Ra. Gue sebetulnya sudah menikah, dan selama menjadi seorang istri, gue nggak pernah tu di ajak ke Mall oleh si playboy dan tukang bohong."
Ungkap Salsa di dalam hatinya, sambil menggenggam kuat tali tas yang ia selempang kan. Seakan lagi menahan sesuatu, mengigat Kenzo benar-benar membuat bad mood nya ambeyar seketika.
Selama dalam perjalanan mereka terus saja bercerita apa saja, karena Salsa memang butuh teman yang bisa menghibur dirinya.
"Nona kita sudah sampai," ucap si sopir yang merupakan putra pak Ilham. Mantan sopir mamanya yang sekarang sudah pensiun.
"Oya, Paman." seru Salsa melepas selt belt pada tubuhnya dan bersiap-siap turun dari mobil mewah yang khusus mengantar dirinya.
"Mobil Ken, Ken kok ada di sini? Kira-kira dia radang sama siapa? mungkinkah bersama Mia, atau dengar rekan bisnisnya?"
Salsa bertanya pada dirinya yang lagi termangu di tempatnya berdiri. Sambil menunggu Ara turun, ia memperhatikan plat mobil yang tidak jauh dari mobil mereka. Setelah lihat secara seksama, mobil tersebut adalah mobil Kenzo. Namun, Salsa hanya berpura-pura tidak tahu saja. Sambil di dalam hatinya agar setibanya di dalam Mall bisa bertemu dengan suaminya. Princess ingin tahu, suaminya itu lagi sama siapa.
"Sa, Lo lagi melihat apa?" Ara yang baru saja keluar mendekati sang sahabat dan menyentuh pundaknya pelan.
__ADS_1
"Agh, tidak ada..Ayo kita masuk!" ajak Salsa mengandeng tangan Ara masuk ke Mall terbesar di daerah tersebut.
"Kita mau bermain atau mau mencari sesuatu dulu, nih?" tanya Ara begitu mereka tiba di dalam Mall.
"Main dulu, biar setelah bersenang-senang kita bisa berbelanja oleh-oleh dan mencari buat makan siang kita," jawab Salsa berjalan menaiki tangga eskalator yang kebetulan sekali ada di hadapan mereka berdua, karena jika ingin bermain, tempatnya ada di lantai paling atas gedung tersebut.
Lalu setibanya di tempat yang di tuju, ternyata Paro sudah menunggu keponakan cantiknya.
"Uncle," sapa Salsa yang langsung mendapatkan pelukan hangat dari sang paman. Hal yang sama, juga Paro lakukan pada Ara, karena mereka memang sudah saling kenal.
"Uncle kira kalian tidak jadi datang, tapi setelah uncle tanya Opa Heri, katanya sudah berangkat dari setengah jam yang lalu." ucap Paro membawa Salsa dan Ara duduk terlebih dahulu pada sofa yang tersedia di tempat itu.
"Jadi dong, cuma tadi kita minta Paman Roby membawa mobilnya pelan," jawab Ara dan Salsa sambil tertawa.
"Yasudah, sekarang kalian pilih ingin bermain apa saja, nanti Sekertaris uncle yang akan membantu kalian, cemilan dan minumannya seperti biasa, 'kan?"
"Betul, minumannya cukup jus aja." Salsa yang menjawabnya karena Ara sudah berdiri mendekati permainan mobil-mobilan. Kesukaan mereka yang nantinya bisa balapan berdua pula.
"Baiklah, sekarang nikmati saja apapun yang kamu mau, uncle masih ada pekerjaan lain," melihat keponakan tersayangnya sudah ingin bermain, Paro pun ikut berdiri dari sofa. "Tapi princess ingat ya, harus hati-hati jangan ceroboh. Biasanya ada kakak yang mengawasi," pesan lelaki itu seperti mau meninggalkan anak yang masih umur sepuluh tahun saja.
Begitulah keluarga Ridwan maupun Erlangga menjaga Salsa. Gadis yang menjadi kesayangan dua belah pihak ayah dan ibunya. Paro memang memiliki anak, tapi kedua anaknya laki-laki. Jadi sudah pasti Salsa tetap menjadi princess satu-satunya.
"Siap komandan," jawab Salsa tersenyum sambil menaikan tangan seperti sedang melakukan upacara.
Akhirnya Salsa dan Ara seperti dua orang anak kecil yang masih berumur sepuluh tahunan. Keduanya asik bermain sampai kelelahan. Lalu berhenti untuk istirahat sejenak sambil menikmati cemilan dan minuman khusus yang di siapkan sang paman.
"Sudah lama tidak pernah bermain lagi kok capek banget ya?" ucap Salsa dengan nafas naik turun karena kelelahan.
"Iya, gue juga sudah nggak kuat lagi, pengen berhenti saja. Besok-besok pas libur, baru kita bermain sepuasnya." Ara sampai merebahkan tubuhnya pada sofa. Tidak peduli jika mereka berdua menjadi pusat perhatian sejak tadi.
"Gue setuju, setelah penatnya hilang. Kita pergi berbelanja, lalu mencari makan siang yang enak." kata si princess menyetujui.
Hampir dua puluh menit kemudian. Barulah mereka meninggalkan tempat tersebut. Tujuan mereka saat ini adalah pusat perbelanjaan khusus pria dan wanita yang terdapat berbagai aksesoris kesukaan keduanya, tempat tersebut berada di lantai tiga. Sambil bergandengan tangan. Ara dan Salsa pun mulai berjalan mencari-cari barang yang cocok.
Hampir setengah jam berkeliling. Tanpa di sengaja mata Salsa melihat sosok suaminya yang lagi bersama seorang perempuan.
"Itukan Kenzo? Gue nggak lagi salah lihat, 'kan? Kalau itu memang dirinya, dia lagi bersama siapa? Bukannya tadi dia bilang mau menemui rekan bisnisnya."
Gumam Salsa mengepalkan kedua tangannya. Dia benar-benar marah setelah mengetahui Kenzo membohonginya. Tadi Salsa sempat ragu jika suaminya pergi ke rumah Mia, seperti pesan gadis itu tadi pagi yang menanyakan Kenzo jadi datang atau tidak.
"Sa," Ara kembali menyadarkan sang sahabat yang malah diam membisu di sampingnya.
"Elo kenapa sih, dari tadi bengong terus?" tanya Ara merasa ada yang aneh. "Lo baik-baik aja, 'kan?"
__ADS_1
"Iya, gue baik-baik saja. Ayo kita pergi dari sini," ajaknya berjalan menjauhi Kenzo dan wanita yang belum Salsa ketahui entah siapa. Namun, satu hal yang jelas, yaitu suaminya lagi bersama seorang wanita.
"Baiklah, ayo." ajak Ara membawa Salsa berjalan memutar dari arah tempat mereka sekarang. Entah dia mengerti karena sempat melihat arah pandang mata Salsa. Atau memang hanya kebetulan saja.
Setelah pertemuan tidak di sengaja itu, pikiran Salsa mulai tidak karuan. Lalu ia memutuskan untuk mengakhiri ingin mencari barang yang cocok. Bahkan si princess belum mendapatkan satu barang pun, kecuali Ara sahabatnya. Gadis tersebut sudah membeli gantungan kunci dan juga beberapa barang yang lainnya.
"Sebentar ya, gue bayar dulu. Nggak enak gue belanja sendirian, sementara Elo nya cuma ngintilin dari belakang." kata Ara menarik Salsa kemeja kasir. Salsa hanya mengangguk saja. Tapi sialnya saat mereka berdua menunggu antrian buat membayar. Kenzo dan wanita yang Salsa lihat tadi malah lewat di hadapan ia dan Ara. Katakanlah Mia dan Kenzo menyerobot orang-orang yang sudah lebih dulu daripada dirinya.
"Princess, ayo!" Ara kembali menarik sahabatnya yang tumben sekali seperti orang hilang.
Sementara itu Kenzo yang mendengar kata princess pun sontak melihat kearah belakang dan.
Deg!
Deg!
Dia dan Salsa sama-sama saling tatap. Namun, tidak lama karena Salsa sudah memutuskan pandangannya lebih dulu. Kenzo pun hanya bisa menelan Saliva nya sendiri. Sungguh ia tidak menyangka akan bertemu Salsa di sana, karena Mall tersebut lumayan jauh dari rumah Opa Heri maupun dari rumah mertuanya.
"Kenzo, Elo kenapa?" tangan Mia terangkat menyentuh bahu pemuda itu.
"Agh, tidak ada. Bentar gue bayar dulu," jawab Kenzo kembali melihat kearah kasir. Lalu ia mengeluarkan kartu kredit dari dalam dompetnya, dan diberikan pada si kasir. Untuk membayar barang-barang yang mereka beli.
"Ken, punya gue nggak usah dibayar, gue bawa kartu sendiri." cegah Mia karena dia memang ingin membayar sendiri. Meskipun sebelumnya sudah biasa Kenzo yang membayar setiap mereka berdua berbelanja.
"Sudah simpan aja untuk lain kali, yang ini biar gue bayarnya." Kenzo mendorong tangan Mia yang hendak memberikan kartu miliknya.
Semua itu di dengar dan lihat oleh Salsa. Ia berusaha menguatkan hatinya agar tetap bertahan di sana menjelang giliran Ara, dan kebetulan setelah Kenzo dan Mia. Itu adalah giliran Ara.
"Wah, wah! Kakak mimpi apa nih bisa ketemu princess di sini," suara heboh Denis dan Dito yang ingin membayar barang juga.
"Kak, Denis, Kak Dito, dan Kak Farel. Kok kalian ada di sini?" tanya Salsa melihat kearah pemuda tampan yang merupakan sahabat kakaknya.
"Kan mau bayar barang-barang kita inces! Iih bikin gemes aja." jawab Dito mengangkat tangannya ingin menarik pipi Salsa. Namun, tangannya sudah di pukul duluan oleh Farel.
Plaaak!
"Aduh Rel, Lo belum jadi bapak tiri aja sudah sekejam ini pada gue," ujar Dito seraya mengelus tangannya yang di pukul.
"Salahnya mau narik pipi princess," Farel berjalan melewati kedua sahabatnya, karena dia ingin lebih dekat dengan Salsa dan bertanya. "Princess kenapa tidak berbelanja?" Farel bertanya seperti itu, karena melihat di tangan Salsa kosong tidak membawa barang apapun.
"Enggak Kak, Salsa cuma menemani Ara." tunjuk gadis itu pada sahabatnya yang masih tetap berdiri di belakang Mia dan Kenzo.
"Karena princess nggak berbelanja, setelah sama-sama makan siang kita nonton yuk, sudah lama kakak ingin mengajak princess, tapi waktunya tidak ada," Farel yang mengetahui ada Kenzo. Langsung saja menarik lembut tangan Salsa pergi dari sana, jangan lupakan sebelum itu dia memberikan barangnya yang dia beli agar Denis dan Dito membayarnya.
__ADS_1
*BERSAMBUNG*...