
π₯π₯π₯π₯π₯
.
.
Praaank!
"Sayang!" seru Kenzo langsung berdiri, mendekati Salsa dan berjongkok di hadapan sang istri. "Apa ada yang terluka?" tanyanya memeriksa kaki Salsa, mana tahu ada yang terkena pecahan beling. Padahal sudah jelas istrinya mengunakan sepatu, mana mungkin bisa terkena pecahan gelas.
"Salsa, sorry... gu--gue nggak sengaja nyenggol pelayannya," ucap Mia dengan wajah penuh sesal. Niat hati ingin membuat Salsa pergi dari sana, karena tujuan Mia adalah membuat baju Salsa basah oleh jus jeruk. Lalu si princess akan pulang karena hal tersebut dan Kenzo akan tinggal bersama mereka. Benar-benar rencana yang sangat bagus.
Namun, Mia tidak tahu, jika princess Erlangga mana pernah pergi tanpa di temani oleh seseorang. Jika Kenzo sampai membiarkan istrinya pulang sendiri. Bisa dipastikan, hari ini juga dia akan dipecat oleh Rian sebagai menantu Erlangga.
"Huem, nggak apa-apa," jawab Salsa tersenyum menatap Mia yang sangat pandai berbohong.
Akan tetapi dia juga ikut berpura-pura tidak tahu. Salsa ingin melihat, apa yang akan Kenzo lakukan. Mau sampai mana yang katanya mencintai Salsa.
"Elo gimana sih, Mi. Kenapa jalannya nggak lihat kiri-kanan dulu, biar tidak menabrak orang lain," tegur Yogi yang melihat jika Mia memang sengaja melakukannya. Hanya saja dia malas membuat keributan di sana apabila terang-terangan menuduh gadis yang saat ini juga merupakan sahabatnya.
Meskipun dari awal Yogi tidak senang pada Mia. Tapi dia berusaha menerima Mia bergabung dengan Tim mereka. Semua itu karena dia masih menghargai Kenzo. Sebab Mia adalah teman Kenzo sejak kecil.
"Gi, sudah! Namanya juga kecelakaan, contohnya Elo tadi malam, kan nggak sengaja juga nabrak si Farel," cegah Eel menengahi.
"Bedalah sama gue, kita lagi bermain dan jika terjadi kecelakaan, itu murni karena kita semua hanya fokus sama satu Bola," jawab Yogi membela dirinya.
"Ck, sama aja kali, kan sama-sama tidak sengaja. Mia kan nggak mungkin melakukan hal yang memalukan, dan ingin mencelakai istri sahabat kita," Eel terus menasehati Yogi, agar masalahnya cepat selesai. Sedangkan Kenzo tidak peduli apa yang para sahabatnya perdebatkan. Dia hanya fokus mengelap baju Salsa mengunakan tisu, karena bila dibiarkan basa. Tentu bra yang dipakai istrinya akan terlihat.
Untungnya hanya terkena tumpahan jus jeruk, itupun hanya sedikit. Namun, yang terkena siraman di area rawan. Yaitu gunung kembar Salsa. Jika tadi si princess tidak menyangga gelas tersebut. Maka seluruh bagian dadanya akan basah.
"Sudah, sudah! Kenapa kalian malah saling salahkan," sela Andra pusing mendengar kedua sahabatnya yang sama-sama tidak mau mengalah.
"Iya, kalahan berdebat. Coba lihat Kenzo yang dapat keuntungan besar," timpal Hengki harus sabar melihat Kenzo bersama gadis yang menjadi pujaan hatinya.
"Buset! Ken, Elo benar---"
"Eh, kalian jangan melihat ke sini!" kata Kenzo baru sadar jika saat ini mereka lagi di tempat umum. Bukan di dalam kamar, yang bebas apapun yang ingin mereka lakukan.
"Jagan marah, Bro! Gue baru aja melihat kearah kalian. Si Hengki yang melihat dari tadi," Eel menunjuk Hengki mengunakan jari telunjuknya.
"Wah pakai nyalahin kita, lagi Elo tuh yang salah! Sudah tahu mau membersihkan bagian yang rawan, tapi malah diam di sini," ucap Yogi juga ikut melihat Kenzo bisa bebas menyentuh area gunung kembar princess. Walaupun dari luar baju, tetap saja bagi mereka sangatlah intim.
Sebetulnya Salsa bisa membersihkannya sendiri, atau kalau tidak. Dia bisa mengajak Kenzo ke toilet. Namun, karena dia tahu si Mia sengaja melakukannya. Sekalian saja dia biarkan Kenzo membersikan di pinggir gunung kembar miliknya. Toh hanya memegang dan mengelap baju luarnya saja.
Saat mereka hampir melakukan hubungan suami-istri waktu itu. Salsa dan Kenzo sudah pernah saling melihat milik masing-masing. Meskipun tidak terlalu jelas, tetap saja begitu intim. Apalagi Salsa sempat mendesah nikmat.
Tanpa berkata-kata, Kenzo langsung membuka jaket yang ia pakai, dan dia kenakan pada tubuh kecil istrinya. Enak saja, para sahabatnya melihat bagian dada sang istri. Begitulah kiranya yang Kenzo pikirkan.
"Pelit banget, Ken," goda Andra cekikikan melihat Kenzo sibuk tidak karuan. Padahal mereka tidak begitu memperhatikan kearah gunung kembar istrinya, yang bajunya lagi dibersihkan. Mereka hanya masih tidak percaya saja, jika Kenzo bisa menikahi Salsa.
__ADS_1
"Pelit juga punya gue sendiri," jawabnya tanpa rasa malu ataupun canggung. Kenzo malah sangat PD, karena dia adalah pemenang dari semua pemuda yang tergila-gila pada istrinya.
"Iya deh, yang sudah punya!" sahut Eel ikut tertawa. "Asal cepat kasih kita keponakan aja," lanjutnya lagi.
"Tenang aja, kita sudah proses dari kemarin-kemarin, cuma belum jadi," jawab Kenzo malah meladeni candaan para sahabatnya. "Iya kan sayang?" dia malah dengan sengaja melempar pertanyaan tersebut pada Salsa, yang pipinya sudah terasa panas, gara-gara malu mendengar pembicaraan yang mengarah pada ranjang.
Apalagi Kenzo malah menyebut jika mereka sudah melakukannya.
"Huem.. gu-gue mau ke toilet buat bersihin bekas jus nya," kata Salsa langsung pergi begitu saja. Dia perlu sendiri, agar bisa menghilangkan rasa panas dan merah diwajahnya.
"Sayang, tunggu biar gue antar," Kenzo siap mengikuti Salsa. Namun, pergelangan tangannya di tahan oleh Mia.
"Kenzo, biar gue yang nemenin Salsa, Elo disini aja. Ini kafe, mana boleh pria masuk ke toilet wanita," cegah Mia, karena dia ingin berbicara berdua dengan Salsa.
Entah apa yang hendak dia katakan, sehingga begitu berani ingin menyusul Salsa.
"Tapi gue---"
"Mia, cepat Elo susul Salsa, biar Kenzo di sini. Daripada nanti kita direpotkan, karena Kenzo dipukuli penjaga, gara-gara masuk ke toilet perempuan," Eel memegang tangan Kenzo cukup kuat.
"Oke," Mia yang tidak ingin menyia-nyiakan waktu, langsung berlari menyusul Salsa.
"Eel lepas!" seru Kenzo minta dilepaskan tangannya. "Gue harus nyusul Salsa, bisa-bisa gue digantung hidup-hidup oleh mertua gue, jika sampai putrinya lecet,"
"Isisis, bini Elo akan baik-baik saja, ada Mia juga yang menemaninya. Lagian ini bukan hotel ataupun Restoran besar, yang memiliki banyak pintu. Jika mau keluar dari sini, semuanya harus lewat sini," kata Yogi begitu gemas pada sahabatnya. Tidak disangka-sangka ternyata Kenzo yang menjomblo tidak tertarik dengan wanita cantik, sekarang menjadi seperti pria bucin. Tidak! Bukan seperti, tapi dia memang sudah bucin beneran.
"Iya, kok kita jadi lupa," Hengki menepuk pelan keningnya sendiri. Tadi mereka sudah mau memesan makanan kesukaan masing-masing. Namun, gara ulah Mia, Kenzo dan yang lainnya jadi lupa.
"Oke, kalian pesan sendiri -sendiri aja, hari ini gue cuma mau pesan buat princess," Kenzo bersiap ke meja untuk memesan makanan yang disukai oleh Salsa.
Namun, langkahnya terhenti karena pertanyaan Eel. "Tapi buat Mia siapa yang akan memesannya? Apa nggak sekalian Elo yang pesan, seperti biasanya?"
"Kalian yang pesan punya dia," jawab Kenzo singkat.
"Wah, sepertinya Kenzo lagi menjaga jarak sama Mia, deh. Kalian ada yang merasa keanehan nggak, antara mereka bertiga?" tanya Eel menatap kepergian Kenzo.
"Wajarlah dia menghindari Mia, tu cewek ternyata punya kelakuan jelek," sahut Yogi mulai merasa tidak suka pada Mia.
"Maksudnya kelakuan jelek bagaimana, nih?" sekarang Andra yang bertanya.
"Ck, kalian emangnya nggak lihat, tadi si Mia sengaja menyenggol pelayan, agar baju Salsa basah," decak Yogi yang mengira jika sahabatnya berpura-pura.
"Masa sih?" Andra kembali memastikan. ", Tapi menurut gue, Mia cewek baik-baik, mana mungkin dia mau membuat istri sahabatnya terkena siraman jus,"
"Terserah mau percaya atau nggak nya, yang jelas gue setuju bila Kenzo menjaga jarak sama Mia. Karena gue yakin, Mia suka sama Kenzo. Makanya dia ngelakuin itu," setelah menceritakan sedikit tentang keburukan Mia. Yogi juga ikut menyusul Kenzo, karena ingin memesan makanan untungnya sendiri.
"Gi, Yogi! Tolong pesan punya gue," teriak Eel karena malas harus memesan sendiri.
Berhubung sudah siang, akhirnya mereka memesan makanan dan minuman. Sehingga tidak ada yang tahu jika Salsa dan Mia lagi bertengkar di dalam kamar mandi.
__ADS_1
"Ck, murahan banget tahu nggak!" cibir Salsa karena Mia tiba-tiba langsung marah padanya yang baru selesai membersihkan bajunya. Namun, dia masih memakai jaket milik Kenzo, yang dipakaikan oleh suaminya sendiri.
"Elo yang murahan!" kata Mia balas mengatai Salsa. "Lo sengaja kan menjebak Kenzo buat nikahin Elo?" ucapnya lagi.
"Ha... ha... kalau tidak tahu apa-apa, jangan asal bicara. Gue sama Kenzo menikah karena saling mencintai," jawab si princess disertai tawa mengejeknya.
"Saling mencintai tapi belum pernah disentuh sama sekali, aneh banget ya? Padahal setahu gue, Kenzo sangat jago bila dalam masalah ranjang," Mia berjalan mendekati cermin besar yang ada didalam kamar mandi, dia mencuci tangannya santai.
Sebab dia tahu, pasti Salsa akan bingung untuk menjawab perkataannya.
"Ha... ha... pasti Elo bingung, kan mau berkata apa. Percuma cantik, nyatanya Kenzo belum pernah menyentuhnya. Jika gue nggak bisa dapetin Kenzo, maka Elo juga tidak akan bisa memilikinya, Salsa."
Gumam Mia di dalam hatinya. Dia benar-benar merasa puas karena bisa membuat Salsa bungkam.
"Kata siapa Kenzo belum pernah nyentuh gue?" setelah terdiam, Salsa baru menjawab perkataan Mia yang berupa cemoohan bagi dirinya. Saat ini Salsa berusaha untuk tidak terlihat lemah dan terkejut akan ucap Mia yang bisa mengetahui jika Kenzo belum pernah menyentuhnya.
Di dalam hatinya lagi berdoa, semoga saja Kenzo tidak pernah menceritakan masalah hubungan mereka kecuali masalah pernikahan saja. Salsa berharap jika Mia hanya menebak-nebak, karena ingin mencari cara agar hubungan dia dan Kenzo menjadi retak.
"Kenapa Elo nggak percaya kalau gue tahu sampai sejauh ini?" bukannya menjawab, tapi Mia malah melemparkan pertanyaan dengan tersenyum mengejek.
"Gue tanya siapa yang bilang jika Kenzo belum pernah nyentuh gue?" Salsa mengulangi perbuatannya.
"Tentu saja suami Elo sendiri, Princess, siapa lagi jika bukan dia," Mia sengaja menekan kata suami dan princess, karena melihat raut wajah Salsa mulai berubah kemerahan. Namun, bukan karena tersipu malu atau sebagainya. Tapi karena princess lagi menahan emosinya.
"Terus masalahnya sama Elo apa? Mau Kenzo sudah menyentuh gue, atau belum. Itu urusan kami berdua, bukan urusan orang asing seperti... Elo yang kegatelan mengejar suami orang, murahan!"
"Memang bukan urusan gue, tapi gue hanya kasih sama, Elo," Mia dan Salsa terus saja berdebat. "Kenzo nggak suka sama Elo, Sa. Dia cuma terobsesi karena para sahabatnya selalu membicarakan princess Erlangga. Anggap saja dia lagi merasa menang dari pemuda lain, jadi Elo nggak usah kepedean dia manggil sayang ataupun panggilan lainnya."
Deg!
Jantung Salsa berdegup kencang mendengar jika Kenzo hanya terobsesi padanya.
"Tidak, Kenzo tidak mungkin hanya terobsesi sama gue. Jika memang benar, kenapa dia sampai mohon-mohon agar gue memberi dia kesempatan. Please Salsa, Elo jangan percaya sama si lampir. Dia mau memisahkan kalian berdua,"
Salsa bermonolog di dalam hatinya. Dia lagi menyakinkan dirinya sendiri, agar tidak terpancing pada ucapan Mia.
Di saat mereka berdua masih terus berdebat, tiba-tiba saja Kenzo yang merasa khawatir pada istrinya pergi memasuki kamar mandi wanita untuk mengecek keadaan sang istri.
"Sayang," ucap Kenzo memangil istrinya. Namun Salsa berpura-pura tidak mendengar dan malahan dengan sengaja mendorong tubuh Mia sampai terjatuh ke lantai kamar mandi.
"Aauuuh!" teriak Mia mengaduh kesakitan, walaupun tidak terlalu sakit. Tapi dia sengaja biar terlihat kesakitan. Sebab dia juga tahu ada Kenzo. Mia berniat memanfaatkan kejadian tersebut untuk menjebak Salsa, agar Kenzo marah pada Princess.
Namun, dia tidak tahu jika Salsa sengaja melakukannya, karena ingin melihat seberapa besar Kenzo mencintainya. Kira-kira Kenzo lebih percaya pada ucapan Mia sahabatnya, atau pada Salsa istrinya sendiri?
"Pertunjukan dimulai! Ini ujian buat Elo, Ken. Jika sampai Elo mengecewakan gue, maka hari ini juga. Gue akan minta diantar papa buat mengurus perceraian kita,"
Gumam Salsa sudah pasrah, karena bila pun dia harus kecewa. Semuanya belum terlambat. Salsa bisa meneruskan niatnya pergi kuliah keluar negeri bersama Arsya kakaknya.
BERSAMBUNG...βΊοΈ
__ADS_1