Pernikahan Salsa

Pernikahan Salsa
Jadi Dia Berbohong!


__ADS_3

🥀🥀🥀🥀🥀


.


.


"Aaagk! Ken," desah Salsa sambil mengigit bibir bawahnya, untuk menahan sensasi yang dibuat oleh suaminya. Saat ini Kenzo masih memberikan tanda kepemilikan pada leher putih Salsa.


"Huem," jawab Kenzo dengan nafas yang sama terengah-engah, karena perbuatannya sendiri sudah berani melakukan pemanasan yang akhirnya dia sesali sekarang. "Maaf," bisik Kenzo menarik Salsa kedalam pelukannya. "Maafin gue, Sa." sambil memeluk istrinya, Kenzo masih mengucapkan kata maaf. Dia takut Salsa marah karena sudah hampir mengambil apa yang sudah menjadi haknya.


"Maaf buat?" tanya Salsa mendongak keatas, agar bisa bertatap muka dengan Kenzo yang masih memeluk dirinya. Jujur saja, Salsa bingung dan tidak mengerti kenapa suaminya meminta maaf padanya. Kesalahan apa yang sudah suaminya lakukan?


"Maaf, karena perbuatan gue," kata Kenzo merenggangkan pelukan mereka "Gue hampir aja melakukannya," saat berkata Kenzo masih bisa tersenyum untuk menahan gejolak adik kecilnya yang sudah meronta ingin dimasukan pada sarangnya.


"Lo nggak perlu minta maaf, gue juga salah yang sudah sembarangan tidak mengunci pintunya. Padahal sudah jelas ada pria lain di kamar ini," jawab Salsa yang malah tersenyum getir dan sengaja menekan kata pria lain. padahal Kenzo adalah suaminya sendiri.


Entah mengapa, mendengar Kenzo berulangkali meminta maaf padanya, gara-gara mereka hampir melakukan hubungan suami-istri. Membuat hati Salsa terasa nyeri tanpa sebab.


"Oke, sekarang Lo mandi duluan, gue akan menunggu di luar." ujar Kenzo keluar dari bathub dan seperti perkataannya, untuk sementara menunggu di depan kamar mandi agar Salsa bisa leluasa membersihkan tubuhnya.


"Seharusnya Kenzo tidak perlu minta maaf, kan? Kami berdua sudah sah menjadi suami-istri. Kenapa ini, seharusnya gue senang Kenzo tidak meminta haknya sekarang. Tapi kenapa pula hati gue malah menjadi kecewa juga,"


Gumam Salsa sambil membilas tubuhnya di bawah guyuran air shower. Saat ini pikirannya memang lagi berkecamuk kenapa sudah dua kali, Kenzo selalu tersadar dari apa yang mereka lakukan. Mungkinkah karena Kenzo sebetulnya tidak mencintai dia. Pikiran seperti itu akhirnya muncul secara tiba-tiba di benak Salsa.


Si princess adalah pengemar Film Drakor dan juga Dracin, di dalam adegan yang ia tonton. Bila pasangan tidak mencintai kita, maka untuk menidurinya saja malas. Mungkinkah di dalam hubungan mereka juga seperti itu.


Ceklek!


Salsa membuka pintu kamar mandi cukup pelan. Dia tidak menoleh kearah Kenzo dan hanya menunduk karena meras malu pada dirinya sendiri dan pada Kenzo.


"Sa," ujar Kenzo melihat Salsa seperti orang sakit. Tidak seperti tadi saat lagi berdebat mulut dengannya.


"Iya, mandilah! Bukannya kita mau ke rumah utama," jawab Salsa mengangkat pandangan matanya dan tersenyum kecil, untuk menunjukkan. Bahwa dirinya baik-baik saja.


Kenzo tidak menjawab, ia hanya mengangguk kecil dan langsung saja bergantian membersihkan tubuh dan menidurkan kembali si adik kecil yang masih juga terbangun.


Selama menunggu suaminya mandi, Salsa menyiapkan baju ganti Kenzo seperti hari-hari sebelumnya. Dia tidak boleh berpikiran yang macam-macam dulu, karena kenyataannya di luar sana Kenzo tidak memiliki kekasih lain, terkecuali dekat dengan Mia sahabatnya.


Hampir dua puluh menit kemudian. Barulah Kenzo selesai mandi, pagi ini agak lama karena harus bersolo terlebih dahulu untuk menuntaskan hasratnya yang terasa sampai ke ubun-ubun.


Sebelum menyapa sang istri yang duduk bermain ponsel di atas sofa. Pemuda tersebut memilih untuk mengenakan pakaiannya yang sudah di siapkan oleh Salsa.


"Hei... kenapa malah diam aja? Ayo kita berangkat sekarang," sapa Kenzo lebih dulu, karena dia mengira diamnya Salsa gara-gara masih malu dan canggung, atas kejadian di kamar mandi beberapa saat lalu.


"Sudah siapa, ayo kalau mau berangkat sekarang. Kakak ternyata sudah duluan karena dia lupa mau menemani opa olahraga mengelilingi kompleks." Salsa yang sudah siap, berdiri dari tempat duduknya.


"Ayo," ajak si princess memilih berjalan lebih dulu, masih dengan perasaan tidak karuan. "Huh!" sambil berjalan keluar dari hotel, berulangkali gadis itu menghembuskan nafasnya ke udara. Bila lagi sendirian saja, mungkin Salsa sudah menangis.


Kenzo berjalan mengejar langkah Salsa yang jauh lebih dulu dari dirinya. Lalu ia cekal pergelangan tangan sang istri untuk diajak berbicara. "Sa... Lo kenapa?"


"Gue, emangnya gue kenapa?" balik bertanya meskipun hatinya tidak baik-baik saja. Mungkin jika yang berada di posisi Salsa, orang tersebut sudah menangis, karena kecewa dan malu yang sudah menjadi satu.


"Iya, Elo kenapa? Marah sama gue, gara-gara kejadi di kam---"


"Ken, stop! Nggak usah dilanjutin. Gue nggak kenapa-kenapa. Sudah ayo jalan, kasihan kita sudah di tungguin ini." sela Salsa cepat. Dia tidak mau lagi mendengar kata-kata saat tadi dikamar mandi.


"Baiklah, jika ada apa-apa jangan diam aja, gue nggak sehebat kaum rebahan, yang bisa menebak isi hati orang." tutur Kenzo masih sempat mengacak rambut istrinya. Setelah itu dia yang berjalan duluan dan menarik lembut tangan Salsa masuk ke dalam lift menuju lantai dasar.

__ADS_1


Salsa yang lagi tidak mood untuk berbicara, hanya diam dan membiarkan Kenzo menarik tangannya. Selama di dalam lift pun keduanya tidak ada yang berbicara, mereka hanya larut dengan pikirannya masing-masing.


Ting!


Pintu lift terbuka, Kenzo kembali lagi mengandeng Salsa keluar menuju tempat mobil yang sudah di siapkan oleh pengawal Erlangga. Jadi keduanya tidak usah repot-repot, karena mobil sudah berada di depan lobby hotel.


"Ayo masuk," titah Kenzo memegang pintu mobil yang sudah di buka oleh pengawal. Sebetulnya Kenzo hanya menyangga tangan nya, karena takut kepala sang istri terbentur mobil. Padahal Salsa bukanlah anak kecil lagi yang harus di awasi.


Agh, Kenzo memang limited edition. Namun, karena perbuatannya tadi, membuat terjadi salah paham antara mereka berdua.


"Thanks!" jawab Salsa menurut masuk dan duduk sambil memasang salt belt pada tubuhnya sendiri.


Braaaak!


Suara pintu mobil yang di tutup oleh Kenzo, karena dia sudah menyusul duduk di bangku kemudi.


"Oh, sudah di pasang, gue kira belum," kata Kenzo sudah bersiap-siap mau memasang sabuk pengaman sang istri.


"Sudah, gue pasang sendiri, sekarang kan gue bukan lagi Salsa yang selalu mengandalkan orang lain," jawab Salsa memundurkan tubuhnya, karena posisi Kenzo sangat dekat dengan wajahnya, bahkan bila kaca mobil Kenzo tembus pandang, dari luar terlihat mereka berdua lagi berciuman.


"Sa, bekas Kiss mark nya mana? Perasaan tadi gue ngasih di beberapa tempat," tanya Kenzo menyibakkan rambut Salsa yang masih lembab, karena sampai saat ini si princess belum juga bisa mengunakan alat pengering rambut atau yang sering di sebut Hair Dryer oleh sebagian orang.


"Sudah gue tutup pakai foundation," Salsa menjawab sambil menyingkirkan tangan Kenzo dari lehernya.


"Gue kira tadi sudah hilang, kok bisa secepat itu. Perasaan tadi merah banget, bahkan Elo sampa---"


"Ken, stop deh! Bisa nggak, kita jangan membahasnya lagi, anggap aja tadi hanya sebuah kecelakaan yang tidak perlu diingat," sentak Salsa benar-benar tidak ingin mendengar hal semacam itu lagi.


"Oke, sorry," jawab Kenzo tersenyum, karena dia mengiranya Salsa hanya malu bukan bercampur kecewa atas tindakannya.


Berhubung si princess sudah marah, pemuda itupun mulai memanaskan mesin mobilnya terlebih dahulu. Setelah itu barulah ia menjalankan kendaran roda empat miliknya membelah jalanan ibu kota yang masih juga ramai, padahal hari ini adalah weekend.


"Memangnya Lo mau kemana?" Salsa balik bertanya. Namun, dia tidak mengalihkan pandangan matanya.


"Gue mau pergi menemui.... seorang rekan kerja," jawab Kenzo membatalkan niatnya untuk berbicara jujur. Sebab dia tahu Salsa marah bila sudah membahas Mia sahabatnya.


"Kan ini weekend, kenapa bisa bertemu rekan kerja?" Salsa yang orang tuanya pengusaha tentu tahu bila hari Minggu waktu untuk bersama keluarga, bukannya bekerja. Bahkan papanya sejak mereka masih kecil, sampai saat ini, tidak pernah pulang lebih dari jam tiga sore. Jadi wajar saja, Salsa mempertanyakan pada suaminya.


Dia bertanya bukan karena tidak percaya pada Kenzo, hanya merasa heran saja.


Dia biasanya tinggal di Korea juga, hanya saja sekarang kebetulan pulang ke sini karena melihat putrinya." jawab Kenzo ada benar dan bohong secara bersamaan.


"Oh, yasudah! Gue akan menunggu di rumah papa aja, nanti gue akan pulang bersama kakak. Lo pergi aja, soalnya gue masih mau main di rumah utama." sahut si princess mulai melupakan masalah yang ia pikirkan sejak tadi.p


"Huem, bagus juga seperti itu," setelah itu tidak ada lagi yang mereka bicarakan. Sampai di lampu merah, Kenzo mengambil ponselnya yang berada di atas dasbor mobil.


Saat membaca pesan dari sahabatnya. Kenzo tersenyum-senyum sendiri. Entah apa yang mereka bahas, sehingga Kenzo sangat serius mengotak-atik ponselnya. Sampai-sampai tidak sadar jika Salsa melihatnya dari tadi.


"Ken, Ken lagi berbalas chat sama siapa? Kenapa sepertinya asik banget,"


Gumam Salsa di dalam hatinya, sambil menatap setiap inci wajah Kenzo dari samping, yang ternyata sangatlah tampan. Seiring berjalannya waktu ternyata persaan Salsa tumbuh begitu saja. Semenjak menyadari ketidak sukanya pada Mia sahabat suaminya sendiri. Salsa memang baru menngatahui kalau dia menyukai Kenzo.



"Ken, lampunya sudah hijau." kata Salsa yang tidak tahu Kenzo lagi berbalas pesan dengan siapa. Sehingga sampai tidak sadar kendaraan di depan mobil mereka sudah jalan.


"Oh, iya." seru Kenzo menyimpan lagi ponselnya ke atas dasbor. Lalu kembali lagi menjalankan kendaraannya. Hanya lima belas menit kurang lebih, mereka sudah tiba di kediaman mewah, milik Tuan Heri Erlangga. Kenzo turun lebih dulu untuk membuka pintu buat istrinya. Lalu mereka berdua berjalan masuk menemui keluarga yang sudah menunggu sejak tadi pagi.

__ADS_1


"Sayang, kalian berdua sudah datang." sambut Oma Sonya memberikan pelukan hangat untuk cucu dan juga menantunya.


"Iya, maaf ya sudah membuat Oma menunggu lama." ucap Salsa bergelayutan manja pada sang nenek.


"Tidak apa-apa, lagian Oma tidak menunggu kalian berdua saja, karena opa sama kakak mu juga baru kembali dari olahraga. Sekarang mereka lagi mandi. Jadi sangat kebetulan sekali kalian sudah datang," sambil berbicara dengan cucunya, Oma Sonya mengelus lembut kepala sang cucu yang saat ini duduk bersandar padanya, bukan pada Kenzo.


"Benarkah! Wah, wah, pasti tadi sangat seru. Kenapa opa hanya mengajak kakak, tidak mengajak Salsa juga," protes princess yang di jawab langsung oleh kakeknya.


"Bukan tidak mau, Opa hanya kasihan sama kakak mu, setiap adek sudah lelah, dia rela mengendong mu sampai pulang ke rumah," jawab Opa Heri sambil menarik gemas hidung Salsa yang bagi mereka tetaplah princess kecil Erlangga.


"Kan pakai sepeda, Opa." jawab Salsa yang saat ini malah pindah tempat duduk di sisi kakeknya. Sebab memang seperti itulah dirinya bila lagi berkumpul dengan orang tua papa, maupun mamanya.


"Mana ada pakai sepeda, tadi opa mengajaknya berjalan kaki." Arsya yang menjawab, karena ia sudah selesai membersihka tubuhnya.


"Kakak sudah datang, sekarang ayo kita sarapan, Oma sudah lapar, ini kita telat satu jam daripada biasanya." ajak Oma Sonya berdiri lebih dulu, karena dia memang sudah lapar. Namun, demi makan bersama ketiga cucunya, Oma Sonya rela menahan lapar.


"Ken, ayo!" ajak Arsya pada adik iparnya. Kenzo hanya mengangguk dan mengikuti dari belakang. Setibanya di meja makan seperti biasa, Salsa mengisi piring untuk suaminya, baru setelah itu mengambil buat dirinya sendiri.


"Terima kasih, Oma." ucap Arsya menerima piring yang sudah diisi dari neneknya.


"Iya, sama-sama. Ayo sekarang semuanya makan yang banyak, ini Oma sendiri yang mengawasi chef nya masak." ujar Oma Sonya yang langsung membuat gelak tertawa di ruangan dapur bersih. Sebab wanita paruh baya itu, memang tidak pernah memasak sendiri. Selain di saat Opa Heri ingin memakan masakan istrinya. Barulah dia turun ke dapur untuk memasak pesanan sang suami tercinta.


"Ha... ha..!" tawa opa yang begitu bahagia bisa menikmati masa tua bersama anak dan cucu menantunya. Lalu setelah berhenti tertawa, Opa Heri berbicara pada Kenzo. "Ken, apa kamu tahu, daripada mencicip dan menemukan masakan Oma. Lebih gampang lagi mendapatkan masakan princess." ucapannya masih tetap tersenyum.


"Opa benar Ken, oma tu bukan tidak bisa memasak. Hanya saja oma yang tidak mau, karena pelayan di sini sudah seperti Restoran cepat saji." si tampan Arsya ikut menggoda sang nenek yang malah tertawa.


"Kan oma sudah tua, lagian princess ikut seperti putri Oma, dia sama seperti mama kalian. Suka memasak sendiri dan sama lagi seperti nenek Marni," tawa Oma Sonya karena semua yang ia katakan memanglah benar.


Sambil menghabiskan sarapan yang sudah telat dari satu jam yang lalu, mereka seling mengobrol ringan dan canda tawa. Walaupun tanpa ada Rian dan Ayla, tapi bagi pasangan sepuh tersebut tidak apa-apa. Asalkan para cucunya ada.


Dua puluh menit kemudian. Sarapan sudah selesai, kali ini Salsa tidak ikut membereskan meja makan, karena sudah banyak pelayan. Lagian Oma Sonya juga melarang sang cucu bekerja.


"Apa mau langsung berangkat sekarang?" tanya Salsa melihat Kenzo kembali bersiap-siap dan memakai jam tangannya yang ada tersedia bila mereka pulang ke rumah utama.


"Benar, soalnya orang itu sudah menunggu sejak tadi. Tapi gue mau kekamar mandi sebentar." kata Kenzo tiba-tiba mau buang air kecil. Lalu dia menaruh ponsel dan kunci mobilnya di atas ranjang yang Salsa duduki.


Namun, ketika Kenzo masih di kamar mandi. Ponsel pemuda itu bergetar pertanda ada yang menelepon dan juga pesan. Penasaran Salsa membalikan benda tersebut yang tadinya memang seperti itu, karena Kenzo menaruhnya asal. Walaupun Salsa sudah bisa menduga jika itu Mia, tapi dia tetap melihatnya.


💌 Mia : "Ken, mau jadi apa nggak datang ke rumah? Ini gue sudah mema---"


Deg!


Meskipun Salsa tidak bisa membaca lanjutan pesan yang dikirim Mia, karena sampai saat ini ponsel Kenzo memang masih mengunakan password dan tidak pernah memberi tahu Salsa sandinya.


"Jadi Kenzo berbohong mau bertemu teman bisnisnya, nyatanya dia memiliki janji bertemu Mia. Apa mungkin saat di perjalanan, dia lagi berbalas pesan sama Mia?"


Ucap Salsa di dalam hati, seraya mengigit bibirnya sendiri agar tidak menangis. Lalu karena takut ketahuan oleh Kenzo. Ia letakkan lagi benda tersebut seperti semula dan dia berpura-pura memainkan ponselnya sendiri.


Kleek!


Bunyi pintu kamar mandi terbuka lebar. Kenzo sudah keluar dari kamar mandi.


Cup!


"Sa, gue berangkat sekarang ya." ucap Kenzo setelah mencium kening istrinya yang lagi duduk di pinggir ranjang tempat tidur.


"Iya, hati-hati. Kasihan juga sama rekan bisnis Elo jika menunggu terlalu lama," jawab Salsa tersenyum miring.

__ADS_1


Kenzo yang berbohong kalau dia akan menemui Mia. Hanya mengangguk dan setelah mengambil ponsel beserta kunci mobil, dia langsung saja pergi.


*BERSAMBUNG*...


__ADS_2