Pernikahan Salsa

Pernikahan Salsa
Tidak mungkin memilih.


__ADS_3

🥀🥀🥀🥀🥀


.


.


Hari begitu cepat berlalu. Sudah satu Minggu Princes Erlangga menyandang status barunya sebagai istri dari Kenzo Imanuel Faeza putra sulung Demian Faeza bersama Xiuan Faeza.


Sejauh ini tidak ada yang berubah, selain tempat tinggal. Pasangan muda tersebut akan tinggal dimana saja mereka maunya, karena Rian tidak memberi izin putrinya tinggal di rumah mereka sendiri.


Bukan masalah uang. Akan tetapi Rian tidak ingin putrinya mengalami nasip yang sama seperti Ayla istrinya. Wanita yang pernah Rian sia-siakan karena dia mencintai gadis lain. Meskipun Kenzo tidak sama seperti dirinya. Menantunya itu tidak memiliki kekasih kecuali sahabat wanita. Rian sudah menyuruh pasukan Erlangga menyelidiki menantunya.


Bukan hanya pasukan Erlangga, tapi pasukan Ayah Ridwan pun juga ikut turun tangan buat menyelidiki latar belakang suami cucu perempuannya itu. Salsa adalah princes dari dua keluarga kolongmerat yang terkenal di ibu kota A. Saat pernikahan mamanya dulu, baik itu Tuan Heri ataupun Ayah Ridwan tidak ada melakukan penyelidikan karena mereka berdua bersahabat dan yakin bahwa Rian akan membahagiakan Ayla.


Namun, semuanya berbanding terbalik. Rian membuat Ayla tersiksa dalam kurun waktu kurang lebih tujuh bulan lamanya. Maka dari itu sekarang mereka begitu menjaga ketat kebahagiaan Salsa. Gadis cantik, manja dan takut pada hujan. Satu-satunya cara agar ketakutan mereka tidak terjadi. Kenzo belum diberi izin membawa si princes pindah. Sampai waktu yang belum bisa di tentukan.


"Sa, nanti malam Lo mau berangkat sama siapa?" tannya Kenzo yang sedari tadi terus memperhatikan istrinya. Kenzo bertanya untuk memecahkan keheningan dalam ruangan luas yang terasa begitu sesak. Padahal tanpa bertanya lagi, tentu dia tahu istrinya tidak akan pernah pergi dengan siapapun kalau bukan dengan Arsya ataupun dirinya.


Sedikit banyak sekarang Kenzo sudah tahu seperti apa mertua ataupun kakak iparnya menjaga sang istri.


"Sama kakak, memangnya mau sama siapa lagi," jawab Salsa meletakan ponselnya di atas meja kaca.


Sekarang mereka berdua lagi duduk di sofa dalam kamar Kenzo. Hari ini Kenzo tidak pergi kemana-mana karena libur dan juga persiapan untuk pertandingannya nanti malam. Yaitu pertandingan antara Universitas Bima Sakti melawan SMK Erlangga milik mertuanya sendiri. Pertandingan yang sangat di tunggu- tunggu oleh kaum muda-mudi di seluruh ibu kota.


Bukan karena permainannya saja yang bagus. Tapi ketampanan kedua Tim basket tersebut membawa daya tarik tersendiri. Terutama bagi para gadis dari sekolahan mereka masing-masing.


"Lo akan dukung gue, atau Arsya?" Kenzo kembali lagi bertanya. Dari hari dimana Salsa tidak sengaja melihat Kenzo pergi makan es krim bersama wanita lain. Gadis itu benar-benar menjaga jarak diantara mereka. Akan bicara bila ditanya, tapi meskipun begitu Salsa selalu menyiapi pakaian ataupun makan untuk Kenzo. Semaja-manjanya Salsa, ia tidak akan membantah ucapan kedua orang tua ataupun kakaknya.


Dia hanya menjaga mulutnya saja agar tidak banyak bicara. Walaupun terkadang dia ingin sekali membanting ponsel Kenzo, karena setiap kali bergetar bila bukan dari sahabat sangat suami, pasti dari wanita yang bernama Mia.


"Gue hanya mensuport bagi yang menang," jawab Salsa yang sudah mengira kalau Kenzo akan menanyakan hal tersebut. Walaupun saat bertemu Kenzo dan kakaknya terlihat biasa-biasa saja. Tapi gadis cantik itu tahu ada perang dingin antara suami dan kakak tersayang nya.


Jika tidak menjawab seperti itu tentu saja akan menjadi masalah bagi dirinya sendiri. Bagaimana mungkin Salsa bisa memilih diantara keduanya. Mereka berdua adalah bagian dari hidupnya. Meskipun tidak mencintai Kenzo, tapi tetap saja pria itu suaminya.

__ADS_1


"Heum... baiklah! Gue kira Lo akan mendukung kakak Lo aja," Kenzo mengangukan kepalanya setuju. Menurut pemuda itu keputusan Salsa sangat adil bagi dia dan Arsya.


Setelah itu tidak ada percakapan lagi sampai Kenzo kembali lagi berbicara, karena Salsa tidak akan mungkin berbicara lebih dulu.


"Sa!" dua kata saja sudah cukup, yang penting berbicara. Hal itulah yang Kenzo lakukan sekarang.


"Heum! Apa?" jawab si princes yang kembali lagi memainkan ponselnya. Tidak ada kegiatan lain, tentu saja Salsa hanya bermain ponsel.


"Jika gue menang melawan Tim Arsya, gue mau ngajak Lo jalan-jalan," ucap Kenzo mengutarakan keinginannya.


Mendengar perkataan Kenzo. Salsa menghentikan jari tanganya yang lagi mengetik sesuatu pada ponselnya. "Tidak masalah, tapi itupun jika Lo menang melawan sekolah gue," ujar gadis itu kembali lagi mengetik.


"Oke, kalau begitu besok pagi kita akan pergi jalan-jalan ke Villa kakek." Kenzo yang sudah berlatih setiap malam tentunya sangat yakin akan menang.


"Senin tanggal merah, jadi besok malam kita akan menginap di sana." lanjutnya lagi karena Salsa hanya diam, itu pertanda jika istrinya setuju.


"Heum! Semoga saja keinginan Lo bisa menjadi kenyataan." sahut Salsa mengikuti saja apa yang terjadi selanjutnya.


Akan tetapi walaupun begitu, Salsa sangat yakin kalau yang akan menjadi pemenangnya adalah sekolah mereka. Sudah dua kali pertemuan di lapangan antar Tim Kenzo dan Tim Arsya, pemenangnya adalah kakak tersayangnya.


Deg...


Ucapan Kenzo langsung membuat Salsa melihat kearahnya. Lalu setelah beberapa detik saling tatap, gadis tersebut kembali lagi melihat kearah ponselnya.


"Apa maksudnya sih, ingin berdua sama gue? Si Ken, Ken nggak mungkin mau---"


Gumam Salsa di dalam hatinya. Lalu cepat-cepat dia menggelengkan kepalanya berulang kali. Entah apa yang sedang dia pikirkan.


"Sa, gue serius mau bawa Lo jalan-jalan ke Villa kakek yang ada di pinggir desa," kata Kenzo mengira jika Salsa tidak percaya pada ucapannya.


"Iya, gue tahu." Salsa menaruh lagi ponselnya. Mana mungkin dia bisa pokus bermain sosial media bila Kenzo selalu mengajaknya berbicara.


Setelah itu dia berjalan untuk mengambil bantal sofa yang berada dihadapan mereka berdua.

__ADS_1


Kenzo memang selalu duduk di samping tempat yang Salsa duduki. Pemuda itu tidak pernah jauh bila lagi berada di dalam kamar. Satu hal yang membuat Salsa tidak nyaman bila lagi bersama Kenzo. Yaitu ponsel Kenzo selalu menggangu kenyamanan


"Geser, gue mau baring." Salsa mendorong agar Kenzo menjauh. Namun, bukannya menjauh tapi Kenzo merebut bantal tersebut dan menarik Salsa agar ikut baring bersamanya.


"Ken, Ken!" seru Salsa yang kaget karena suami playboy nya menarik secara tiba-tiba.


"Diamlah!" bukannya melepas pelukan tangannya akan tetapi Kenzo semakin mengeratkan pelukan tersebut. "Gue benar-benar capek banget, biarin seperti ini." Ucapnya memejamkan mata sambil mencium aroma rambut Salsa yang wanginya membuat Kenzo ketagihan.


Hampir setiap malam dia menarik Salsa kedalam pekukanya, karena istrinya itu selalu tidur lebih awal, jadinya tidak ada yang melarang saat Kenzo memeluk ketika ia mau tidur.


"Ken, Lo apa-apaan sih! Cepat lepas, nanti nenek atau siapa aja bisa melihat kita," Salsa berusaha untuk melepaskan dirinya.


"Biarinlah meskipun ada yang melihat juga, memangnya kenapa? Kita kan sudah halal," jawab Kenzo dengan santai. "Kita sudah sah menjadi suami istri, jadi tidak akan ada yang melarang kita mau ngapain." ucap Kenzo lagi.


"Suami apaan! Gue nggak suka sama cowok playboy kayak Lo, Ken.!


Gumam Salsa di dalam hatinya. Mendengar Kenzo menyebutkan kata suami-istri, Salsa bukannya senang. Tapi justru merasa sesak tidak karuan. Akan tetapi hati dan tubuhnya saling berkhianat. Hatinya membenci Kenzo yang menurutnya cowok playboy. Namun, tubuhnya membiarkan Kenzo memeluknya.


*BERSAMBUNG*...


.


.


.


Jangan lupa untuk selalu memberikan dukungannya, ya😊 Bila dukungannya banyak, nanti akan update satu bab lagi. Terima kasih😘💕


Like.


Vote.


Komen.

__ADS_1


Subscriber.


Hadiah kopi ataupun bunga nya.🥰🥰🥰


__ADS_2