
🥀🥀🥀🥀🥀
.
.
"Aurel, kenapa kamu bisa mengambil keputusan ini. Walaupun mendadak, tidak seharusnya kamu menerimanya," lirih Arsya merasa kesal pada dirinya yang tidak bisa membantu sahabat yang ia sayangi. Ya, sejauh ini Arsya masih menganggap bahwa dia menyanyangi sahabatnya itu.
"Pada saat itu, aku hanya tidak mau papaku masuk penjara," jawab Aurel sembari menyeka air matanya sendiri. Sejak awal bercerita dia menahan agar tidak menagis. Sebab tidak mau bila Arsya merasa kasihan pada dirinya.
"Apa kamu pikir aku akan diam saja bila sesuatu yang buruk terjadi pada keluarga mu? Mana mungkin kakek ku tidak membantu papamu, Rel," Arsya yang melihat Aurel menangis langsung menarik gadis itu untuk dia peluk dengan sangat erat. Lalu tangannya terangkat untuk mengelus rambut panjang sahabatnya.
Meskipun ini bukanlah pelukan pertama bagi mereka berdua. Namun, kali ini terasa begitu berbeda. Mungkinkah karena sudah lama tidak berjumpa, atau karena ada perasaan lainnya.
"Maaf, aku tidak bisa berpikir dengan benar. Kamu tahu sendiri, jika sebelum kejadian itu. Hubungan kedua orang tuaku baik-baik saja. Jadi melihat pertengkaran tersebut, aku merasa tidak berguna sebagai anak. Bila tidak bisa membantu susah orang tuaku," Aurel mendorong tubuh Arsya agar menjauhi dirinya.
"Aurel, kenapa?" tanya Arsya karena gadis itu berdiri dari duduknya dan membelakangi tubuh Arsya.
"Eum... persahabatan kita cukup sampai disini, Ar. A--aku tidak ingin mengenal mu lagi," jawab Aurel yang langsung menghujam jantung di tampan Arsya.
"Rel, apa maksudmu? Kenapa kamu ingin mengakhiri semuanya?" Arsya berdiri dan membalikkan tubuh Aurel agar menghadap kearah dirinya.
"Tidak ada apa-apa, hanya saja aku tidak ingin kita berteman lagi," Aurel berkata dengan membuang arah pandangan matanya. Dia tidak mau bertatapan yang akan membuat dia kembali menangis.
Aurel harus kuat, sebab perjuangan dia selama ini untuk melupakan Arsya akan sia-sia. Bila mereka kembali berteman. Meskipun Ziko tunangannya tidak pernah melarang Aurel akan dekat dengan siapapun. Tetap saja gadis itu ingin menjauhi Arsya.
"Kenapa, kenapa kamu tidak ingin berteman denganku?" Arsya tetap tidak melepaskan kedua bahu gadis itu.
"Karena aku sudah memiliki calon suami. Aku tidak ingin menyakiti hatinya," menjawab sesuai fakta. Agar Arsya bisa percaya pada alasannya. Tidak mungkin Aurel berkata jujur karena dia takut perasaan yang ia miliki tumbuh bersemi semakin besar.
__ADS_1
"Rel, kamu masih bisa membatalkan semuanya. Aku akan bicara pada papaku untuk membantu keluargamu," ucap si tampan mencoba mencegah agar dia bisa mempertahankan gadis itu agar tidak menjadi milik orang lain. "Satu hari, tolong beri waktu satu hari. Aku pastikan bahwa papaku akan menyelesaikan semuanya. Jadi kamu bisa terbebas dari semua ini," pintanya sangat yakin.
Sebab bila Arsya meminta bantuan pada sang ayah. Tidak mungkin Rian akan diam saja. Pasti Presdir Erlangga group itu akan menyuruh Sekertaris Aldi menyelesaikan semuanya dalam kurun waktu satu malam saja.
"Tidak Ar, kamu tidak perlu melakukan semuanya. Aku tidak masalah lagi dengan perjodohan ini. Thanks," imbuh Aurel menyingkirkan tangan pemuda itu dari bahunya.
"Aurelia! Kenapa kamu tidak mau menerimanya. Satu tahun, satu tahun lebih aku selalu mencari dirimu. Tapi setelah bertemu kamu menghindari ku dan sekarang kamu juga menolak bantuan ku. Tolong katakan kenapa?" seru Arsya balik mencekal pergelangan tangan Aurel.
"Apa kamu tahu bahwa aku... tidak ingin kehilanganmu. Aurel aku menyukaimu lebih dari sahabat. Aku sudah lama memiliki perasaan terhadapmu," ungkap Arsya sebelum Aurel menjawab pertanyaan nya.
Tes!
Tes!
Air mata yang sudah berhenti. Sekarang kembali menetes cukup deras. Aurelia kembali menangis mendengar bahwa pemuda yang dia sukai, ternyata membalas perasaannya.
Namun, semuanya sudah terlambat. Aurel telah berjanji pada ibu Ziko. Bahwa akan menemani pemuda itu sampai akhir hayatnya.
"Arsya, tidak semua masalah bisa selesai dengan uang. Sekali lagi terima kasih atase tawaran mu. Tapi maaf, aku tidak bisa menerima semuanya, karena aku mencintai calon suamiku,"
"Tidak! Kamu pasti bohong kan? Kamu tidak mungkin menyukainya," Arsya mencoba menolak apa yang ia dengar. Walaupun hatinya terasa tersakiti.
"Aku tidak berbohong, Ar. Kamu tahu sendiri jika aku tidak pernah berbohong. Aku memang mencintai Ziko. Awalnya aku juga tidak bisa menerimanya. Namun, karena kebersamaan kami satu tahun terakhir ini. Perasaan cinta tumbuh dengan sendirinya," sedikitpun tidak terlihat bahwa Aurel lagi berbohong. Wajahnya menunjukkan keseriusan. Sehingga hanya membuat Arsya semakin membeku mendengar pengakuan gadis yang dia sukai.
"Jadi mulai sekarang, tolong dimana pun kita bertemu. Segeralah menjauh dariku, anggap saja diantara kita tidak pernah saling kenal," lanjut Aurel merasa ada kesempatan untuk melanjutkan bohongnya. Sebab Arsya hanya diam saja.
"Aku tidak ingin menyakiti hati Ziko, maka dari itu aku menjauhi setiap ada pemuda yang ingin berteman dengan ku. Jadi aku harap kamu bisa mengerti,"
"Aurel, kamu pasti bohong kan? Kamu tidak mungkin menyukai pria itu," sangkal Arsya tidak ingin menyerah begitu saja.
__ADS_1
"Aku tidak berbohong, Ar. Aku serius. Buat apa juga aku harus berbohong, karena aku tidak menyukai mu. Aku hanya menganggap mu sebagai sahabat ku saja, tidak lebih. Sama seperti pada Salsa adikmu." tutur gadis tersebut semakin lancar saja untuk membohongi dirinya sendiri, bukan Arsya saja.
"Jadi aku mohon, menjauhlah dariku. Aku tidak ingin berhubungan dengan mu, walaupun hanya sebagai teman," kata Aurel lagi.
"Benarkah kamu tidak memiliki perasaan apapun padaku? Aurel tatap mataku, aku tahu jika kamu lagi berbohong. Katakan jika semua ini hanya karena ka---"
Ttttddd!
Ttddddd!
"Maaf, tunggu sebentar aku akan mengangkat panggilan dari Ziko." sela Aurel mengangkat panggilan dari calon suaminya. Gadis itu sengaja tidak menjauh, agar Arsya percaya bahwa dia serius dengan ucapannya.
📱 Aurel : "Iya sayang, ada apa?" ucap Aurel sengaja menekankan kata sayang.
📱 Ziko : "Tidak ada, kamu lagi dimana? Aku ada di Apartemen mu," jawab dari seberang sana.
📱 Aurel : "Aku ada di pantai bersama teman lama ku. Tunggulah sebentar lagi aku akan kembali ke Apartemen," setalah itu Aurel mematikan sambungan telepon bersama calon suaminya dan menyimpan kembali ponsel tersebut kedalam tas yang ia bawa.
"Ar, maaf aku akan kembali ke Apartemen sekarang, karena Zi---"
"Huem! Baiklah! Jika begitu terima kasih untuk semuanya. Aku akan mundur dari sekarang. Sebab aku tidak ingin menjadi penganggu untuk hubungan orang lain," sela Arsya memaksakan senyum getir.
Sakit? Ya! Hatinya sangat sakit menerima kenyataan ini. Baru saja akan memulai menjalin hubungan dengan gadis yang ia sukai. Namun, nyatanya gadis itu lebih memilih pemuda lain daripada dirinya.
"Ar, maaf! Aku hanya tidak ingin menyakiti hati Zik---"
"Tidak apa-apa, Rel. Aku mengerti! Justru sebagai pasangan saling mencintai, memang harus bisa saling menjaga perasaan pasangannya." Arsya kembali menyela dengan hembusan nafas dalam-dalam. Untuk menguatkan hatinya sendiri. Bahwa perjalanannya masih panjang. Arsya datang ke negara tersebut untuk menimba ilmu, bukan mencari kekasih.
...BERSAMBUNG......
__ADS_1