Pernikahan Salsa

Pernikahan Salsa
Suami Random.


__ADS_3

🥀🥀🥀🥀🥀


.


.


Dua bulan kemudian.


Keadaan Kenzo pasca musibah penembakan sudah sembuh dari satu bulan yang lalu. Namun, dia tidak mengikuti kegiatan seperti biasanya lagi. Akan tetapi menantu Erlangga itu lagi serius mengurus perusahaan Tuan Fathan yang sudah diserahkan pada sang cucu.


Sedangkan Salsa akan kuliah di universitas Erlangga milik keluarganya. Tempat ayah dan ibunya kuliah dulu. Hanya Arsya yang akan berangkat ke UAS untuk melanjutkan studinya.


Kekecewaannya belum bisa menemukan tempat Aurel membuat si tampan semakin ingin menjauh. Agar bisa melupakan sahabatnya itu. Gadis berkacamata yang mampu membuat putra kebanggaan keluarga Erlangga dan Ridwan tidak mau mencari kekasih.


Padahal dia dan Aurel hanya bersahabat, bukan pacar. Namun, mungkin sakit dan rasa kecewanya atas sikap gadis tersebut. Berdampak pada mood Arsya untuk dekat dengan gadis lainnya.


Dua hari yang lalu adalah hari kelulusan si kembar. Mereka berdua sama-sama mendapatkan nilai terbaik. Arsya menjadi juara umum lagi, sama seperti tahun-tahun yang lalu.


Selama liburan ini, Salsa dan Kenzo akan terbang ke Korea untuk menemui mertua dan juga keluarga suaminya. Namun, setelah keberangkatan kakaknya terlebih dahulu. Agar keluarganya tidak terlalu bersedih.


Percayalah, gara-gara semakin dekatnya Arsya pergi menuntut ilmu, dan meninggalkan mereka semua. Kondisi kesehatan Ayla jadi menurun. Meskipun begitu banyak pasukan Erlangga yang ditugaskan oleh Rian untuk menjaga putranya. Tetap saja Ayla merasa khawatir, karena dari semenjak kecil. Mereka belum pernah berpisah.


"Kak," lirih Salsa berjalan masuk kedalam kamar kakaknya yang tengah bersiap-siap. Jam tiga nanti Arsya akan berangkat untuk menuntut ilmu seperti cita-citanya sejak kecil. Yaitu menjadi seorang Arsitek hebat seperti kedua kakeknya.


"Huem, apa? Ayo duduk sini," jawab si tampan mengulurkan tangannya agar Salsa mendekat.


Buuuk!


"Kakak, jangan pergi," Salsa bukannya menerima uluran tangan sang kakak. Tapi dia langsung memeluk kakaknya yang lagi duduk di sisi ranjang tempat tidur. Arsya baru saja memasukan barang-barang yang akan dia bawa ke dalam cover pakaian.


"Eh, kenapa lagi, kan kita sudah membicarakan sebelumnya," Arsya mengelus punggung adiknya yang menangis tersedu-sedu.


"Tapi Salsa nggak mau Kakak pergi jauh, Kakak kuliahnya di sini saja. Kan di kampus opa juga ada jurusan yang Kakak mau,"


"Iya, memang ada, tapi Kakak ingin mencari pengalaman baru. Lagian kamu bisa menjenguk Kakak sekaligus jalan-jalan. Kenapa harus bingung," merenggangkan pelukan mereka dan menyapu air mata sang adik sambil tersenyum. Ternyata sebesar apapun adiknya. Meskipun sudah menikah dan memiliki orang yang dicintai. Masih saja manja seperti biasanya.


"Jangan menangis seperti ini, Kakak jadi tidak tenang mau perginya. Coba lihat Kakak sudah siap dan tinggal mandi saja,"


"Tapi Kak---"


"Kakak tidak akan lama, setelah selesai akan kembali ke sini lagi. Di sana Kakak hanya sendiri, tapi kalian di sini ada yang menemani. Jadi adek tidak boleh bersedih, kamu tahu kan, jika Kakak tidak bisa melihat mu menangis," sela Arsya yang memang tidak mungkin tega meninggalkan adiknya bila seperti saat ini. Dari kecil dia menjaga adiknya agar jangan menjatuhkan air mata. Lalu setelah mereka besar, mana mungkin Arsya membiarkan princess bersedih karena dirinya yang akan kuliah di negeri tetangga.


"Kakak harus menelepon setiap hari ya, Salsa pasti akan kehilangan Kakak, siapa yang akan---"


"Ada Kenzo, dia akan menjagamu. Kakak percaya dia tidak akan membiarkan adek terluka," sebelum Salsa selesai berbicara, kakaknya kembali menyela. "Jika tidak ada Kenzo, Kakak tidak akan pernah kuliah jauh, karena mana mungkin Kakak meninggalkan dirimu pergi kuliah sendirian. Apalagi jika hujan, siapa yang akan menemanimu. Tapi sekarang sudah ada yang mengantikan tugas tersebut. Jadi biarkan Kakak pergi dengan hati senang. Agar kaki Kakak tidak berat untuk melangkah meninggalkan rumah ini," tutur Arsya memberikan adiknya pengertian. Padahal akhir-akhir ini, setiap waktu kumpul bersama. Mereka selalu membahas perihal dia yang akan kuliah di luar negeri.


"Kamu mau kan memenuhi permintaan Kakak?" Salsa tidak langsung menjawabnya tapi dia terdiam beberapa saat sebelum mengangguk dan tersenyum yang disertai air mata.


"Baiklah, Kakak boleh pergi. Tapi di sana jangan lupa menjaga kesehatan, jangan terlalu sibuk belajar. Nanti bagaimana jika Kakak sakit, siapa yang akan menemani. Jika di sini kan ada mama kita," jawab Salsa yang ternyata sama mengkhawatirkan kakaknya.


"Tentu saja Kakak akan menjaga kesehatan, karena Kakak tidak mau cepat-cepat mati. Sebab Kakak belum melihat keturunan dari Erlangga yang berikutnya," goda Arsya agar sang adik tidak bersedih lagi.


"Kakak," seru Salsa tersenyum. sesuai keinginan kakaknya.


"Sudah, Kakak mau mandi dulu, sebentar lagi kita harus berangkat ke bandara, karena Om Aldi dan papa, jika sudah waktunya pergi tidak bisa telat," ucap Arsya berdiri dari duduknya lalu mengambil handuk kan masuk ke dalam kamar mandi.


Salsa hanya mengangguk dan dia pun pergi meninggalkan kamar Arsya menuju ke kamarnya sendiri untuk bersiap-siap juga.

__ADS_1


Ceklek!


"Menangis lagi," tanya Kenzo melihat wajah istrinya yang sembab bahkan sisa air mata pun masih ada.


"Hubby," seru Salsa kembali lagi menangis, karena Kenzo menenangkan istrinya dengan cara merentangkan kedua tangan. Agar Salsa masuk ke dalam pelukannya. Jadi jelas saja si Princess kembali menangis. Pada dasarnya dia masih belum ikhlas kakaknya pergi meninggalkan mereka semua. Walaupun di mulutnya berkata iya, tapi tidak dengan hatinya.


"Sudah jangan menangis lagi, nanti setiap akhir pekan kita bisa mengunjungi Kak Arsya ke sana. Jadi tidak perlu bersedih yang akan membuat Kak Arsya berat untuk meninggalkan kita. Huem... kamu paham kan maksudku,"


"Benarkah kita akan mengunjunginya setiap akhir pekan?" Salsa menjauhkan tubuh mereka dan menatap mata suaminya untuk meminta kepastian.


"Tentu saja kenapa tidak, lagian mana mungkin aku membiarkan Princess menangis karena ingin bertemu kakaknya," jawab Kenzo tersenyum seraya menarik hidung mancung sang istri yang memerah akibat terlalu banyak menangis.


Cup!


"Thanks, kalau begitu aku tidak akan bersedih lagi karena setiap minggu masih bisa bertemu dengan kakak, " ucap Salsa tersenyum dan memberikan kecupan sebagai hadiah karena Kenzo akan membawanya menemui sang kakak setiap satu minggu sekali.


"Tidak perlu berterima kasih, sudah menjadi tugasku untuk membahagiakan istriku. Tapi..." Kenzo dia tidak melanjutkan lagi ucapannya sehingga membuat sang istri menjadi semakin penasaran.


"Tapi, tapi apa? Kenapa malah berhenti," tanya Salsa yang sudah dibawa Kenzo duduk di atas sofa yang berada di dekat mereka.


"Tapi jika Kenzo junior belum tumbuh di sini, karena kata Mama apabila kamu sudah mengandung, kita tidak bisa bebas pergi kemanapun yang kita mau. Kamu masih ingat kan waktu kita mengantar mama dan papa ke bandara?" ucap Kenzo karena dia memang sudah berharap jika Salsa segera mengandung anaknya.


"Iya, masih ingat," jawab Salsa singkat. Tapi ketika berkata pelaut wajah gadis itu terlihat sendu.


"Kenapa, apakah kamu tidak mau mengandung anakku?" Kenzo melihat raut sedih Salsa langsung memiliki pikiran lain.


"Bu--bukan, bukan seperti itu, aku bukan tidak mau. Tapi... aku hanya takut bagaimana jika aku tidak bisa hamil?"


"Suit! Kenapa kamu bicara seperti itu? Tidak boleh punya pikiran gitu lagi ya," Kenzo langsung meletakkan jari tangannya pada bibir istrinya.


"Mungkin belum, atau kita yang kurang bagus mengocok adonannya," Kenzo tersenyum karena semenjak sehat. Hampir setiap malam dia dan Salsa melakukan hubungan suami-istri. Entah mengapa, tubuh Salsa benar-benar menjadi baginya.


Akan tetapi jika masalah Salsa yang belum juga hamil Kenzo tidak ambil pusing, karena Ayah Nando mereka sudah menceritakan betapa sulitnya dia dan Sari ingin memiliki keturunan. Bukan dalam waktu bulanan, tapi hampir lima tahun lamanya. Makanya Salsa dan Arsya sama seperti anak kandungnya sendiri. Sebab dari bayi ikut mengasuh keduanya. Ayla yang tidak ingin mengunakan jasa babysitter membuat orang-orang terdekatnya membantu mengurus si kembar.


"Kurang adon apanya, bila dibiarkan. Bisa-bisa aku tidak bisa berjalan," cibir Salsa tidak malu lagi saat membahas masalah ranjang, karena mereka bukan lagi pengantin baru.


Cup!


"Tapi kamu ikut menikmatinya, kan?" melihat muka jutek Salsa, membuat Kenzo semakin ingin menggoda istrinya. Tidak lupa dia memberikan ciuman pada bibir seksi itu juga.


"Ken, Ken!"


"Apa mine? Ayo mandi bersama, bukannya kita harus bersiap-siap untuk mengantar Kak Arsya," ucapnya lagi.


"Eh, tidak! Mandinya sendiri-sendiri saja. Nanti kamu bukan hanya mau mandi. Tapi---"


Cup!


"Ingin lebih dari mandi? Kan aku sudah berpuasa selama satu Minggu. Jadi biarkan Lele tunggal berbuka," sela Kenzo sudah menyambar bibir ranum istrinya. Suasana cuaca yang mendung, membuat keinginan Kenzo untuk meminta jatahnya tidak bisa ditunda lagi.


Meskipun awalnya Salsa menolak, tapi lama kelamaan diapun membalas ciuman panas dari sang suami. Sehingga beberapa saat kemudian sudah terdengar suaranya yang melenguh menahan sensasi dari cumbuan Kenzo yang sudah turun ke leher jenjangnya.


"Augh! Ken... jangan sekarang, kita mau mengantar Kakak. Bagaimana jika nanti terlambat," lirih Salsa mencoba menekan gejolak yang ingin lebih dari apa yang mereka lakukan saat ini.


"Aku tidak akan lama, sebentar saja," tidak ingin mendengar Salsa bicara Kenzo kembali membungkam bibir istrinya. Sehingga Salsa pun akhirnya hanya pasrah. Percuma saja ia menolak, atau mencari alasan, karena bisa-bisa Kenzo akan membuat waktu habis dengan percuma.


"Augh!" desah Salsa begitu Kenzo sudah bermain pada intinya. Tanpa Salsa sadari jika dress yang ia pakai sudah dilepas oleh Kenzo. Pemuda keturunan dari negeri ginseng itu sangat lihai bila membuka pakaiannya disaat mereka lagi berciuman.

__ADS_1


"Ken,"


"Huem, apa sayang?" Kenzo yang sedang melahap salah satu gunung kembar milik istrinya, mendongak keatas.


"Jangan di sini, di atas tempat tidur saja," ucap Salsa baru menyadari jika mereka lagi berada di atas sofa.


"Baiklah," Kenzo tersenyum dan tanpa aba-aba dia mengendong Salsa ala bridal style masuk kedalam kamar mandi. Sehingga Salsa sempat menjerit karena khawatir pada bekas operasi suaminya.


"Aah, Kenzo cepat turunkan aku. Apa yang kamu lakukan, bagaimana jika lukanya Ke---"


Cup!


"Tidak akan terbuka lagi, karena sudah diberikan obat paling bagus dan mahal oleh dokter pilihan papa," sela Kenzo cepat. Lalu setibanya di didalam kamar mandi mendudukkan Salsa pada meja kecil yang terbuat dari keramik pilihan.


"Kenapa malah ke kamar mandi? Bukannya ke tempat tidur saja,"


"Karena kita tidak memiliki banyak waktu. Agar langsung mandi setelah Lele ku kenyang," seloroh kenzo mulai menjalankan tugasnya yaitu pekerjaan yang melebihi tugas negara.


"Agh, Aah!" Salsa yang paling anti bila intinya di sentuh, mulai seperti cacing kepanasan. Padahal mereka lagi berada di dalam kamar mandi dan air shower pun di hidupkan oleh Kenzo. Namun, dengan aliran yang kecil, sehingga terkesan seperti gerimis hujan.


Aaagk!


kamar mandi yang tadinya sunyi tiba-tiba mendadak mulai terdengar suara-suara aneh dari Kenzo dan Salsa. Padahal acara intinya baru saja akan dimulai.


Cup!


"Sekarang ya," ucap Kenzo yang diangguki oleh Salsa, karena gadis itu memang sudah tidak kuat lagi menahan pemanasan yang dilakukan oleh Kenzo.


Dengan pelan Kenzo yang sudah tidak memakai sehelai benang pun, sama seperti istrinya. Mulai mengarahkan si Lele tunggal pada lembah milik sang istri. Dikarenakan ini bukanlah petualangan yang pertama bagi si Lele tunggal, tidak membutuhkan waktu lagi dia tinggal berjalan masuk tanpa ada yang menghambatnya.


Akan tetapi, tetap saja rasa sensasinya masih sama. Walaupun bukan yang pertama lagi bagi keduanya.


"Aaaakkh! Sayang ini nikmat sekali," ucap Kenzo mendiamkan si Lele tunggal yang nakal. Saat ini benda tersebut sudah menancap dengan kedalam beberapa puluh senti dari permukaan lembah milik istrinya.


Salsa tidak menjawab, gadis itu hanya menatap muka suaminya dengan tatapan penuh damba. Hidup sudah lebih dari kata cukup, mempunyai keluarga kaya raya, mendapatkan suami yang sangat mencintainya. Jadi apalagi yang dia butuhkan, selain menikmati kebersamaan bersama pasangan halalnya.


Cup!


"I love you," bisik Kenzo sebelum memulai permainan mereka. Pemuda tampan itu mulai memaju mundurkan pinggulnya dari gerakan sedang sampai cepat. Sehingga istrinya semakin terasa melayang disetiap hentakan yang ia berikan.


"Aaagkk, aah! Aaah!" tidak hanya Salsa yang mengeluarkan suara merdunya, tapi juga Kenzo. Namun, meskipun dengan nafas terengah-engah dia terus berpacu untuk sampai pada puncak pelepasan. Sebab kali ini mereka tidak memiliki banyak waktu.


"Aaaah! Ken, aku mencintaimu," ucap Salsa ikut membalas setiap lantunan kata cinta dari suaminya.


"Aku pun sangat mencintaimu," jawab Kenzo sebelum mempercepat gerakan pinggulnya. Sebab dia pun sudah hampir tiba pada pelepasan yang mampu memberikan kenikmatan dunia.


"Aaaakkh! Terima kasih sayang, aku mencintaimu," erang panjang dari Kenzo dan Salsa. Dengan posisi masih berdiri Kenzo memeluk tubuh istrinya yang juga bergetar hebat. Untuk meresapi penyatuan mereka. Siang ini dia kembali lagi menyiram sawah sang istri dengan semburan Lele tunggal nya.


Cup!


"Diam, biarkan seperti ini dulu," cegah Kenzo karena Salsa mendorong agar tubuhnya segera menjauh.


"Kita mau berangkat mengantar Kakak, mau menunggu apa lagi?"


"Mau menunggu semua bibit Lele ku keluar pada tempat yang tepat. Mana tahu yang ini akan langsung jadi, dan kita akan memiliki Kenzo junior," jawab Kenzo asal yang membuat mereka akhirnya tertawa bersama. Salsa tidak habis pikir, akan mendapatkan suami random seperti Kenzo.


*BERSAMBUNG*...

__ADS_1


__ADS_2