
🥀🥀🥀🥀🥀
.
.
"Emangnya Lo mau gue dibunuh sama papa, gara-gara sudah membuat putrinya menangis?"
Tanya Kenzo pada istri kecilnya.
Salsa yang mendengar hal itu pun tentunya langsung menggelengkan kepala, seraya menjawab "Tidak" bagaimana mungkin dia membiarkan Kenzo dibunuh ayah ataupun kakaknya.
"Kenapa? Apa Lo takut mereka dipenjara?" Pemuda itu kembali lagi bertanya. Entah mengapa tiba-tiba dia ingin menguji sang istri dengan pertanyaan.
"Kalau cuma membunuh satu orang, apalagi orang yang mereka bunuh juga bersalah. Sepertinya bokap sama kakak tersayang Lo, nggak akan dipenjara, deh." lanjut Kenzo dengan wajah seriusnya.
"Biar nggak dipenjara juga, papa sama kakak, nggak boleh bunuh Lo." jawab Salsa yang sudah berhenti menagis.
Namum, mata dan hidungnya masih memerah.
"Kenapa nggak boleh? Kan mereka nggak bakalan masuk penjara?"
"Ya kalau Lo dibunuh, gue jadi janda dong," seru Salsa dengan wajah juteknya.
"Oh, iya ya, Gue lupa," kata Kenzo ingin sekali tertawa. Cuma dia tahan karena takut Salsa kembali menangis. "Mandi dulu, gih. Lo jelek banget kalau seperti sekarang." titah pemuda itu tidak ingin menjahili istrinya lagi.
Plaaak...
"Aauh! Lo disuruh mandi kenapa malah mukul." Kenzo mengaduh karena tangannya di pukul cukup keras.
"Suruh siapa Lo ngomong gitu. Gue tu mandi atau nggak mandi. Tetap cantik, gak ada bedanya." ucap gadis itu masih tetap percaya diri karena dia memang cantik.
Akan tetapi satu hal yang dia lupakan, yaitu dress yang dipakainya sudah merah karena darah datang bulannya. Untuk sesaat ternyata mereka berdua sama-sama melupakan hal tersebut.
"Itu kan menurut Lo, kalau menurut orang tetep saja jelek." ejek Kenzo berdiri dari lantai karena dia mau naik ke atas tempat tidur. Namum, ketika dia hendak naik ke sana matanya kembali lagi melihat noda darah segar pada sprei tempat tidur mereka.
"Sa, Lo lagi datang bulan." ucapannya melihat ke arah sang istri yang masih duduk di atas lantai seperti tadi
"A--a--apa? Gu--gue kok bisa lupa sih," jawab Salsa dengan pipinya memerah karena menahan malu.
"Aaaagghkk! Ken, Ken! Kenapa Lo nggak ngomong dari tadi. Sia-sia dong gue nangis. Ujung-ujungnya malu lagi." kembali berteriak, tapi kali ini Salsa tidak menagis seperti tadi.
"Astaga, Sa! Nggak usah teriak-teriak bisa, kan?" Pemuda itu kembali menutup telinganya yang berdengung karena mendengar teriakan istrinya.
"Ken--- gue malu!" entahlah, sepertinya hanya Salsa orangnya yang menyebutkan kalau dia lagi malu.
"Ngapain malu, mending sekarang cepetan mandi. Jangan sampai mama melihat darah Lo yang ada di sprei, nanti kita dikira habis ngapa-ngapain." ucap Kenzo yang harus banyak-banyak menyimpan stok kesabaran untuk menghadapi Princess Erlangga yang sekarang menjadi tanggung jawabnya.
__ADS_1
"Eh, iya ya, gue lupa. Ya udah Lo jangan melihat kesini. Gue mau masuk kedalam kamar mandi." seru gadis itu yang malu kalau Kenzo melihat dress nya yang terkena noda darah.
Padahal apa bedanya Kenzo juga sudah tahu kalau dirinya sedang datang bulan.
"Ken, Ken. Ayo cepat lihat kearah sana gue mau ke kamar mandi." Salsa kembali berteriak.
"Sabar, sabar! Untung Lo Istri gue. Kalau nggak, mikir dulu baru gue nikahin." guman Kenzo sambil membalikan tubuhnya melihat kearah pintu kamar.
"Bentar, awas kalau Lo sampai melihat kesini." ancam Salsa sambil berlari masuk kedalam kamar mandi.
"Sudah apa belum?" tanya Kenzo karena tidak mendengar suara istrinya lagi. Tidak ada jawaban, dengan pelan dia menoleh kearah belakang. Benar saja Salsa sudah tidak ada.
"Ck, apa bedanya gue melihat atau nggak. Orang gue sudah tahu kalau lahannya lagi kebanjiran." Kenzo mengelengkan kepalanya seraya membuka seprai.
Takut Salsa tidak bisa menggantinya. Pemuda itu mau tak mau menukarnya sendiri dengan seprai yang baru. Saat matanya melihat kearah noda darah sang istri. Kenzo tersenyum kecil.
"Bila sudah saatnya nanti, gue juga bakal bobolin Lo, Sa. Sekarang Lo boleh malu,"
Gumamnya di dalam hati.
Setelah mengganti dengan seprai baru. Kenzo menaruh seprai yang kotornya kedalam keranjang cucian. Lalu setelah itu dia duduk di pinggir ranjang sambil menghidupkan data seluler ponselnya.
Ting
💌 Eel : "Ken, hari ini Lo masuk kuliah, kan?
💌 Kenzo : "Iya, gue masuk. Tapi sepertinya gue agak telat." balas Kenzo.
💌 Eel : "Tumben banget?" Eel langsung membaca balasan dari Kenzo dan mengirim pesan baru lagi.
💌 Kenzo : "Sekali-kali nggak apa-apa dong. Mulai hari ini mungkin gue bakalan sering telat. Soalnya ada istri yang harus gue urus."
💌 Eel : "Yaelah, Ken. Baru lihat foto Salsa aja, Lo sudah ngebayangin punya istri." ejek Eel karena mengira Kenzo sedang mengada-ada.
Padahal apa yang Kenzo ucapakan adalah kenyataan.
💌 Kenzo : "Terserah mau percaya atau nggak. Sudah, ah mandi sana. Gue juga mau mandi." Kenzo menaruh ponselnya ke atas meja samping tempat tidur.
"Brengsek banget si Eel. Masih pagi sudah mikirin istri orang.
Umpat Kenzo yang tidak suka pria lain menyebut istrinya.
Cek ... lek ...
"Ken, ken." Salsa membuka pintu kamar mandi dan mengeluarkan kepalanya saja.
"Huem! Apa lagi, Sa?" tanya Kenzo menghela nafas panjang lalu dihembuskan dengan pelan. Dari cara Salsa memangilnya sudah pasti ada yang dimintai tolong lagi.
__ADS_1
"Tolong ambilin pembalut. Gue nggak bisa keluar dalam keadaan seperti ini." meskipun malu gadis itu akhirnya meminta bantuan Kenzo lagi.
"Pembalut?" mengulangi permintaan istrinya.
"Iya, pembalut!"
"Mana gue punya, Sa. Itukan punya anak cewek." jawab pemuda itu seraya melihat kearah si burung Kacer.
"Gue kan punya burung Kacer. Jadi mana adalah gue nyimpan pembalut."
Gumam Kenzo.
"Aiissh! Bukannyya Lo bilang mama Xiuan sudah nyiapin semua kebutuhan gue. Kalau semuanya sudah disiapkan, pasti ada pembalut juga, kan?" kesal gadis itu karena kakinya terasa keram akibat suhu didalam kamar mandi sudah mulai dingin.
"Iya, tunggu gue lihat dulu," Kenzo langsung berjalan menuju lemari khusus peralatan Salsa yang disiapkan oleh mamanya.
"Ada nggak? Cuma ngambil pembalut aja kok lama." ucap Salsa tidak sabaran.
"Sa, sepertinya nggak ada. Mungkin mama lupa menyiapkannya." Kenzo berjalan mendekati pintu kamar mandi yang ditutup separo, karena kepala Salsa berada diluar.
"Et, diam disana! Mau ngapain dekat-dekat kesini?" cegah Salsa takut kalau Kenzo ingin berbuat sesuatu padanya.
"Gue cuma mau bilang, pembalutnya nggak ada. Bukannya mau ngapa-ngapain. Jangankan lagi banjir, musim kemarau aja gue nggak mau." ucap Kenzo asal.
Namum, perkataan tersebut mampu membuat pipi Salsa rasa terbakar. Gadis itu tahu kemana arah pembicaraan suaminya.
"Cepatlah keluar, gue juga mau mandi. Nanti malah kesiangan. Hari ini gue ada kelas pagi." ujar pemuda itu sambil matanya melihat jam pada dinding kamar.
"Mana gue bisa keluar kalau nggak ada pembalut. Tolong minta sama mama atau Hansel. Mereka berdua pasti punya."
"Apa? Lo aja yang minta. Gue malu." Kenzo langsung menolak. Mana mungkin dia meminta pembalut pada mama atau adik perempuannya.
"Astaga, Ken, ken! Cuma minta sama nyokap sendiri aja malu. Kalau Lo malu beli aja sebentar." Salsa memutar bola matanya jengah.
"Ayo pake bajunya. Biar gue anterin ke Alfamart yang ada di persimpangan jalan." secara tidak langsung. Kenzo kembali menolak disuruh pergi membeli pembalut. Makanya dia bicara seperti itu.
"Kalau gue bisa, nggak bakalan nyuruh Lo, Ken! Sekarang tolong ambilin ponsel gue. Biar Kakak Arsya yang beliin atau minta sama mama gue." Salsa yang bertambah kesal akhirnya menyerah tidak mau meminta bantuan pada suaminya.
*BERSAMBUNG*...
.
.
.
Sambil menunggu cerita bbg Kenzo. Yuk mampir di karya sahabat Mak author.
__ADS_1