
🥀🥀🥀🥀🥀
.
.
"Selamat datang, Nona, Tuan." sambut kepala Asisten rumah tangga di kediaman Rian dan Ayla.
"Iya, terima kasih! Oya Bi, apa mama ada di rumah?" tanya Salsa sambil berjalan masuk bergandengan tangan dengan suaminya.
"Ada, Non. Semuanya lagi berkumpul menunggu kedatangan Nona sama Tuan Muda," jawab Bi Susi yang sudah seperti saudara Ayla sendiri. Wanita tersebut tidak bekerja seperti dulu, dia hanya menjadi pengawas pelayan yang lagi mengerjakan tugasnya masing-masing.
"Eum... baiklah! Bibi kembalilah jika mau istirahat ataupun melihat anak buah Bi Susi. Kami bisa sendiri tidak perlu diantar," kata Salsa menghentikan langkah kakinya. Saat ini mereka sudah tiba di ruang keluarga yang berada di tengah rumah. Sedangkan para keluarga Salsa berada di ruang bersantai yang mengarah ke Taman.
Salsa merasa kasihan saja bila Bi Susi harus mengikuti dia dan Kenzo berjalan menuju ruang bersantai yang terletak berapa puluh meter dari tempat mereka berdiri dari saat ini.
Setelah mengantar mereka nanti, baru kembali lagi bekerja atau sebagainya. Salsa bukanlah gadis yang suka semena-mena pada pelayan, apalagi pada Bi Susi. Wanita yang banyak membantu mengasuh ia dan kakaknya, karena Ayla tidak mau mempunyai beby sister untuk menjaga kedua anak kembarnya. Jadi sudah pasti Susi yang membantu menjaga Salsa dan Arsya.
"Iya baiklah! Jika begitu Bibi akan kembali ke belakang dulu, jika ada apa-apa panggil saja ya," ucap Bibi Susi sebelum meninggalkan ruangan tersebut.
"Ayo," ajak Kenzo menarik lembut tangan sang istri.
"Iya," jawab Salsa mengangguk. Saat sudah mendekati ruangan tempat keluarganya berkumpul, Salsa melepaskan pautan tangan mereka. Dia berjalan lebih dulu sambil mengendap-endap. Salsa sengaja berjalan lebih dulu dari Kenzo, karena ingin mengagetkan kakaknya yang lagi bermain ponsel.
"Huaaa!" teriak Salsa.
"Adek!" seru Arsya terlonjak kaget karena tiba-tiba ada yang memeluk lehernya dari belakang. Ditambah jeritan Salsa yang memekakkan telinganya.
"Haha... ha... ha! Kakak kaget, ya," tawa Salsa karena sudah berhasil membuat kakaknya terperanjat.
"Huh! Nakal sekarang ya, sini kamu!" Arsya yang tidak terima karena ternyata hanya dirinya yang tidak sadar kedatangan adiknya. Langsung saja mengejar Salsa seperti bocah berebut mainan.
Sehingga Rian dan Ayla ikut tertawa. Hal yang sudah sangat jarang terjadi, karena Salsa sudah jarang berada di rumah mereka. Sedangkan Kenzo hanya tersenyum saja, sebelum dia menyalami tangan kedua mertuanya secara bergiliran.
"Siang, Pa!" ucap Kenzo pada Rian yang tersenyum hangat menyambut kedatangan dia dan Salsa.
"Iya, siang juga! Sini duduk dekat Papa," kata Rian menggeser tempat duduknya. Agar Kenzo tidak merasa sebagai menantu bila berada di rumahnya, tapi seperti bersama keluarganya sendiri.
"Iya Pa," jawab Kenzo mengiyakan. Namun, sebelum duduk, dia menyalami mertua perempuannya lebih dulu. Sementara Salsa masih berlari karena Arsya terus mengejarnya sebelum membalas kejahilan sang adik kesayangan.
"Siang, Ma!" ucap Kenzo melakukan hal yang sama.
"Iya sayang, duduklah! Maaf ya, Salsa dan kakaknya memang selalu seperti itu." ujar Ayla takut bila Kenzo memiliki rasa tidak suka karena kedekatan Salsa dan Arsya.
"Tidak apa-apa, Ma. Kenzo juga seperti itu bila lagi berkumpul sama Keysa. " jawab pemuda itu duduk di samping Rian. Seperti permintaan mertuanya.
"Bagaimana keadaan kakek dan nenekmu? Apa mereka sehat?" tanya Rian setelah melipat kembali koran yang tadi sempat dia baca sebelum kedatangan anak dan menantunya.
"Sehat semuanya, Pa. Tadi nenek dan kakek menitip salam. Katanya belum sempat ingin main ke sini." meskipun masih ada rasa canggung bila sedang seperti sekarang. Akan tetapi Kenzo masih bisa menjaga sikapnya agar tidak salah bicara yang akan membuat dirinya malu.
Lalu Rian dan Ayla mengajak Kenzo mengobrol seperti dengan anak mereka sendiri. Pada dasarnya, Rian dan Ayla memang menyayangi Kenzo. Jadi yang masih memiliki rasa canggung itu hanyalah Kenzo sendiri.
"Oya, tinggal beberapa hari lagi Tender perusahaan Erlangga akan segera meluncur. Apa perusahaan kakek ikut mengajukan bahan proposal juga?" tanya Rian beberapa saat kemudian, karena setahunya belum ada pemberitahuan jika perusahaan Tuan Fathan yang di teruskan oleh menantunya saat ini, ikut masuk daftar pengajuan.
"Rencananya ikut, tapi bahan pengajuannya masih mau Kenzo periksa, Pa." jawab Kenzo jujur, karena semua proposal buat pengajuan dia kerjakan sendiri, tidak meminta para karyawan yang mengerjakan nya.
"Wah, bagus sekali! Jika butuh bantuan datang saja ke perusahaan Erlangga." tawar Rian yang sebetulnya sudah tahu jika perusahaan Tuan Fathan lagi diambang kebangkrutan.
__ADS_1
Bukan dia tidak ingin menolong. Namun, saat dia bertemu Tuan Fathan Minggu lalu dan menawarkan diri untuk memberi dana. Tuan Fathan mengatakan, jika sekarang perusahaannya sudah ia serahkan pada Kenzo. Jadi semua keputusan ada pada menantunya sendiri.
"Iya Pa, terima kasih! Untuk saat ini Kenzo ingin berusaha untuk menyelesaikan semuanya." kata Kenzo karena mana mungkin mertuanya tidak mengetahui jika perusahaan kakeknya sudah hampir bangkrut. "Tadi malam, Papa Demian juga sudah menelepon kakek, katanya papa juga akan mengirim dana untuk membayar hutang pada beberapa perusahaan yang sudah tertipu. Tapi Ken tolak dulu, karena jika kami bisa mendapatkan Tender dari perusahaan Erlangga, maka semuanya akan baik-baik saja." papar Kenzo sambil beradu tatapan dengan Arsya yang sudah kembali di ikuti oleh istrinya di belakang.
"Ma, Pa!" ucap Salsa dengan nafas masih tidak beraturan karena sudah berlari dari kejaran kakaknya.
"Kenapa? Ketangkep lagi, 'kan?" kata Rian tersenyum. Lalu ia dan Kenzo terpaksa sama-sama menggeser lagi tempat duduknya, karena Salsa malah duduk diantara suami dan papanya.
"Pa, nanti malam kakak ikut ke pesta ulang tahun temannya Kak Kenzo juga, 'kan?"
Mendengar ucapan Salsa, ayah dua anak itu sempat terdiam beberapa saat. Baru setelahnya ia menjawab dengan tersenyum bahagia, karena panggilan Salsa pada suaminya lah yang membuat Rian tersenyum. Begitu juga Ayla, perempuan paruh baya tersebut juga merasa bahagia dan lega.
Panggilan Salsa pada Kenzo tentu merupakan jika pernikahan putrinya baik-baik saja.
"Iya, kakak mu akan datang juga, karena kebetulan sekali. Lala itu anak rekan bisnis Papa." jawab Rian mengelus kepala putrinya yang malah bersandar pada ayah, bukan pada suaminya.
"Kakak tadi bohong ya!" ujar Salsa menjulurkan lidah pada sang kakak yang hanya tersenyum karena tadi sengaja berbohong bahwa dirinya tidak ikut ke acara ulang tahun anak dari rekan papa mereka.
"Kan kebanyakan yang datang membawa pasangan. Lalu kakak mau datang bersama siapa, Pa?" Salsa bukannya bertanya pada Arsya, tapi malah bertanya pada Rian.
"Mana Papa tahu kakakmu akan datang bersama siapa," Rian menaikan kedua bahunya pertanda tak tahu apa-apa.
"Mama!" ucap Salsa pada mamanya yang hanya tersenyum.
"Mama juga tidak tahu, coba saja tanya sendiri." jawab Ayla sama seperti suaminya.
"Kakak!" si princess akhirnya pindah tempat duduk di antara mama dan kakaknya. "Malam ini kakak mau pergi sama siapa?" tanya Salsa untuk kesekian kalinya, karena hal itu jugalah tadi dia dan Arsya sempat saling kejar-kejaran.
"Huem!" Arsya hanya berdehem.
"Nanti malam kakak mau pergi sama siapa? Ayo kasih tahu Salsa," rengek Salsa belum bisa tenang sebelum kakaknya memberitahu siapa gadis yang akan dia bawa.
Akhirnya karena Arsya tidak mau memberitahu siapa gadis yang akan dia bawa ke pesta nanti malam. Ruangan yang digunakan saat keluarga bersantai pun, sontak menjadi ramai oleh suara Salsa. Gadis tersebut berhenti merengek setelah kedatangan Susi yang memberitahu jika makan siang telah siap.
Sebetulnya bukan Arsya tidak mau memberitahu adiknya. Namun, dia memang tidak memiliki pasangan. Rencananya Arsya akan datang sendiri, tapi Salsa terus mendesak karena tidak percaya kakaknya akan datang sendirian.
"Adek, ajak suamimu istirahat, selagi hari libur." titah Ayla setelah mereka selesai mencuci piring bekas mereka makan siang.
"Iya Ma, apakah Mama mau pergi?" tanya Salsa sudah bergelayut manja pada tangan mamanya sampai ke ruang tengah, karena Kenzo dan Arsya lagi duduk di sana sambil menonton TV.
"Iya, Mama juga mau menemani papa ke acara temannya." jawab Ayla yang selalu mendampingi kemanapun suaminya menghadiri acara perusahaan ataupun acara lainnya. Semakin tua ternyata Rian malah semakin tidak ingin jauh dari istrinya.
"Berarti nanti malam Mama juga ke acara pesta dong," ujar Salsa berhenti di ruang yang mengarah ke kamar orang tuanya.
"Iya, tapi bukan acara pesta ulang tahun. Ini acara peresmian perusahaan. Saat di acara nanti, kamu tidak boleh pergi sendirian, teruslah berada di sisi Kenzo atau Arsya. Ada suami dan kakak mu di sana," pesan Ayla melepas pelukan mereka. Sebab dia dan suaminya akan pergi sebentar lagi, karena tempat acara tersebut cukup jauh dari pusat ibu kota B.
Salsa hanya mengangguk mengerti. Setelah mamanya masuk ke dalam kamar. Ia pun kembali berjalan menuju ruang tengah.
"Kak," ucap Salsa sehingga membuat Kenzo dan Arsya menoleh bersamaan. Sedari tadi kedua saudara ipar yang biasanya menjadi musuh bila sedang di dalam lapangan. Lagi mengobrol membahas pertandingan yang tinggal beberapa Minggu lagi. Mereka berdua saling berbagi pengalaman masing-masing.
"Mama sama papa mau pergi sebentar lagi. Malam ini mereka juga mau menghadiri pesta peresmian perusahaan teman papa saat kuliah." papar Salsa yang mengira Kenzo dan Arsya belum mengetahui. Padahal sudah lebih dulu mereka berdua yang tahu, karena setelah makan tadi, Rian memangil Kenzo dan Arsya untuk menitipkan princess Erlangga.
"Lalu?" tanya Kenzo dan Arsya serempak. Setelah itu mereka berdua saling tatap dan tertawa bersama, karena memiliki pikiran yang sama. Yaitu pasti Salsa akan mengatakan jika disuruh sang papa untuk menjaganya dengan baik. Padahal tanpa Rian perintahkan, tentu Kenzo maupun Arsya akan menjaga Salsa dengan nyawa mereka sendiri.
"Kenapa tertawa?" Salsa menatap suaminya dan kakaknya penuh selidik. "Jangan bilang, kalau papa sudah ngomong sama kalian lebih dulu ya?" ujarnya lagi.
"Memangnya kenapa jika Papa sudah bilang pada mereka, hah!" Rian sendiri yang menjawab. Sambil merangkul putrinya karena dia sudah mau berangkat.
__ADS_1
"Jadi benar!" seru Salsa mencebikan bibirnya. Ternyata dia yang ketinggalan informasi.
"Iya betul, kakak dan suamimu sudah tahu. Mana mungkin Papa bisa tenang pergi meninggalkan princess Papa keluar malam-malam. Apalagi ke acara pesta seperti itu. Papa tidak ingin hal serupa terjadi lagi pada mu, Nak." jelas Rian.
Untung saja acara pesta ulang tahun tersebut, berlangsung di hotelnya sendiri. Jadi Rian sudah benar-benar memperketat penjagaan lebih dari malam ketika Salsa dan Kenzo kena jebak oleh musuhnya.
"Papa tenang saja, kami akan menjaga Salsa." Kenzo dan Arsya kembali menjawab bersamaan.
"Wah, wah! Sepertinya saat liburan sekolah. Papa harus membuat acara liburan keluarga nih, coba lihat Kenzo dan Kak Arsya makin kompak aja," seloroh Ayla baru menyusul suaminya. Dia masih terlihat cantik meskipun sudah berumur empat puluh dua tahun.
"Ide yang bagus sayang! Apa sudah siap?" Rian merangkul istrinya yang mendekat ia dan putrinya.
"Sudah, ayo kita barangkat sekarang. Agar setibanya di sana, kita bisa istirahat." ajak Ayla tersenyum penuh cinta pada sang suami.
"Ehum... jika sudah seperti ini, kita hanya ngontrak." sekarang bergantian Salsa dan Arsya yang berbicara serempak karena sudah biasa menggoda kedua orang tua mereka.
"Nanti jika sudah menemukan pasangan yang dicintai, kalian akan seperti Papa," ucap Rian berhenti sejenak. Lalu dia berkata lagi. "Kenzo, nanti kenalkan teman-teman mu pada Arsya, biar di rumah ini bertambah ramai bila dia sudah menikah." goda Rian sebelum berpamitan meniggalkan ke tiganya.
"Papa apa-apaan, memangnya Arsya tidak laku," kata Arsya yang tahu bahwa papanya hanya bergurau.
"Kalau begitu, cepat cari pacar. Salsa sudah ada Kenzo yang menjaganya." Rian menepuk pelan bahu sang putra yang akan menjadi penerusnya.
"Nak, kami pergi dulu. Kakak sama Kenzo jaga princess Mama baik-baik." pesan Ayla untuk kesekian kalinya. Lalu setelah memberikan pelukan pada anak dan menantunya. Barulah kedua pasangan baya tersebut pergi.
Tidak lama setelah kepergian Rian dan Ayla.
"Kak gue ke kamar duluan, mau istirahat," ucap Kenzo sambil menarik tangan istrinya beranjak dari ruang tengah.
Hal tersebut tentu saja membuat Arsya tertawa geli mendengar panggilan Kenzo padanya.
Tidak berbeda jauh dari kakaknya, Salsa juga ingin tertawa. Tapi ia tahan karena takut terjatuh dari tangga.
Ceklek!
Kenzo membuka pintu kamar mereka dan menyuruh Salsa masuk lebih dulu. Namun, begitu masuk si princess langsung tertawa.
"Ha... ha...! Ken, Ken Lo bikin gue sakit perut aja," kata Salsa masih cekikikan. Dia benar-benar tidak tahan mendengar Kenzo memangil Arsya kakak. Soalnya waktu pertama kali mereka menikah, Kenzo begitu membanggakan umurnya yang lebih tua dari Arsya.
"Mengapa tertawa? Semua ini gue lakukan demi princess gue, agar dia tidak pernah merasa tertekan karena suami dan kakaknya tidak akur." imbuh Kenzo setelah menutup pintu kamar mereka.
"Ken!" seru Salsa yang langsung dipeluk oleh Kenzo. Mendengar perkataan suaminya, tentu hatinya merasa tersentuh.
"Gue nggak mau berjanji lagi, tapi ingin berusaha demi pernikahan kita, dan untuk membuat Lo bahagia." ungkap Kenzo mencium pucuk kepala istrinya.
"Gue suka sama Lo, Sa." ucap pemuda itu jujur. Lalu dia melonggarkan pelukannya dan tersenyum. "Ayo istirahat, biar nanti malam Lo nggak cepat ngantuk dan kecapean." ajaknya masih tetap tersenyum tampan.
"Thanks!" Salsa ikut tersenyum. "Lo juga istirahat, selagi libur. Soalnya besok-besok Lo pasti akan repot karena mengurus perusahaan." jawab Salsa yang sudah naik keatas ranjang bersama suaminya.
Kenzo mengangguk setuju, lalu setelah itu pun mereka tidur siang bersama.
BERSAMBUNG...
.
.
__ADS_1