Pernikahan Salsa

Pernikahan Salsa
Makin kesini, makin kesana.


__ADS_3

🥀🥀🥀🥀🥀🥀


.


.


"Nah, Kenzo sudah datang," seru Eel begitu melihat Kenzo keluar dari mobil dan berjalan kearah mereka.



"Mau bertanya sekarang, atau nunggu di kantin aja?" tanya nya pada Andra, Yogi dan Hengki.


"Lebih baik nanti, saat di kantin waktu kita lebih banyak. Ini tidak sampai dua puluh menit lagi sudah masuk." Andra yang menjawab seraya melirik jam tangannya. Akhirnya yang lain pun menyetujui keputusan Andra.


"Kalian kenapa melihat gue seperti itu, memangnya di wajah gue ada yang aneh?" tanya Kenzo sudah sampai di hadapan keempat sahabatnya.


"Bukan aneh, cuma... wajah Lo semakin berseri-seri semenjak pacaran terus." cibir Eel yang sudah di senggol lengannya oleh Andra.


"Aahh! Apa sih, Dra?" sungut Eel mengelus tangganya yang kena senggolan oleh Andra. Kebetulan sekali tangan tersebut tadi malam tidak sengaja terkena benturan pintu mobil.


"Ayo masuk! Sebentar lagi waktunya belajar, dan jangan menggoda Kenzo." jawabnya tidak ingin Eel kebablasan membahas pacar Kenzo.


Tidak banyak bicara. Para pemuda tampan dan kaya dari Universitas Bima Sakti berjalan masuk gedung tempat mereka menimba ilmu. Namun, baru saja mereka tiba di lorong gedung lantai tiga. Sudah ada yang menyerukan nama Kenzo.


"Kenzo, tunggu sebentar!" pangil gadis tersebut. Ya, gadis! Yang memangil Kenzo memang seorang gadis yang tergila-gila dengan dirinya.


"Si Lala, Lala!" bukan Kenzo yang menyauri. Tapi Eel dan Hengki. "Ada apa cantik? Kenapa setiap hari selalu mencari Kenzo, sih. Ini ada kita berempat yang tidak kalah tampannya, senggol dong sekali-kali," lanjut Eel maju mendekati Lala, gadis paling cantik di Universitas Bima Sakti.


"Sorry, tapi sahabat gue suka sama Lo. Jadi gue nggak mau dia salah paham." jawab Lala tersenyum. Selain cantik ia memang orang yang ramah dan tidak memilih teman. Namun, semua kesempurnaan yang Lala miliki tidak pernah berhasil membuat Kenzo menoleh kearahnya.


"Benarkah? Teman Lo yang mana?" sahut Eel cepat.


"Ada apa?" sela Kenzo karena malas berlama-lama hanya berdiri mendengar Eel yang tidak pernah diam.


"Eum... Gue mau ngundang Lo ke acara ulang tahun gue, datang ya. Plis! Lo boleh datang membawa pasangan siapapun, mau pacar pun tidak apa-apa. Soalnya jika ada Lo pasti acaranya lebih meriah." mohon Lala sambil mengatupkan kedua tangganya didepan dada.


"Eh, yang di undang Kenzo aja nih, kita nggak?" ucap Yogi dan Hengki secara bersamaan.


Mendengar pertanyaan kedua pemuda itu, Lala tersenyum dan berkata. "Tenang aja, gue nggak seperti si lampir, kalau ngundang pilih-pilih orang. Semuanya gue undangan kok. Cuma buat Kenzo spesial, gue takut dia nggak mau datang bila hanya dikasih undangan."


"Mau ya, Ken. Plis!" Lala kembali memohon. "Acaranya mengunakan topeng, jadi Lo nggak usah takut jika banyak yang ngajak berfoto." ucapnya lagi. Sudah sangat sering Lala dan gadis lainnya mengundang Kenzo ke acara mereka. Namun, pemuda itu tidak pernah datang. Dia hanya mengirimkan hadiah saja. Padahal yang mereka harapkan adalah kedatangan dirinya.


"Ken, di iyain aja lah, kasihan Lala. Lagian Lo kan sudah punya pacar. Sekali-kali bawa dia, dan kenalin sama kita-kita, iya kan, Dra?" sekarang bergantian Yogi yang menyenggol Andra.


"Yoi, benar banget! Gue juga setuju, nanti kita bawa pasangan masing-masing. Oya La, teman Lo yang suka sama gue suruh DM gue ya, soalnya gue nggak punya gebetan buat datang." sela Eel yang selalu heboh. Akan tetapi setelah itu dia mengaduh kesakitan karena kakinya ditendang lagi oleh Hengki.


Auh! Kalian jika iri sama ketampanan gue, bukan gini caranya," kata Eel sambil mengelus kakinya yang kena tendang. Padahal tidak sakit, memang dasar Eel nya saja yang lebay.


"PD banget, memangnya Lo diundang," cibir Yogi menggelengkan kepalanya.


"Kan tadi Lala yang cantik sudah ngomong, jika semuanya di undang. Jadi sudah pasti kan, gue diundang juga." jawab Eel merasa menang.


"Sudah, sudah! Kenapa kalian berisik banget." kata Kenzo menatap pada Eel, karena dialah biangnya.


"La, sebelumnya terima kasih undangannya. Tapi gue nggak bisa berjanji bisa datang atau nggak nya." ucap Kenzo yang sekarang bergantian melihat Lala.


"Oke, nggak apa-apa. Tapi gue harap Lo datang, setidaknya sebagai sahabat, karena gue tahu Lo nggak pernah suka sama gue," jawab Lala masih tetap tersenyum. Dia memang sudah sering ditolak oleh Kenzo. Jadi tidak malu meskipun dihadapan Andra dan yang lainya.


Semenjak mereka berkenalan, mungkin sudah lebih dari tiga puluh kali, gadis itu meminta Kenzo agar mau menjadi kekasihnya.


"Lihat saja nanti, lagian acaranya masih dua hari lagi, kan?" mendengar ucapan Lala, Kenzo sedikit lega. Selama ini memang Kenzo tidak pernah tertarik pada gadis manapun. Dulu dia berpacaran hanya karena ingin menikmati masa mudanya dengan bergonta-ganti pasangan. Tapi Kenzo tidak pernah mengunakan hatinya.

__ADS_1


Hanya Salsa satu-satunya gadis yang membuat hatinya bergetar. Pada malam dia membohongi Salsa, Kenzo sudah tertarik pada gadis tersebut. Benar kata Ale, jika saat itu Kenzo hanya modus untuk berkenalan dengan kakaknya.


"Iya, acaranya malam Minggu, seperti acara biasanya. Tapi kali ini tempatnya aja yang berbeda." jawab Lala mengangguk setuju.


Jika Kenzo memang tidak mau datang, dia juga tidak bisa memaksanya, yang penting sudah berusaha. Itulah yang gadis itu pikirkan.


"Memang acaranya dimana?" tanya Andra karena biasanya Lala membuat acara di rumah dan Hotel milik keluarnya sendiri.


"Acaranya di hotel Erlangga yang berada di pusat ibu kota."


"Wah, gila! Keren banget," timpal Yogi dan Eel.


"Bukan keren, hanya kebetulan aja. Orang tua gue lagi bekerjasama dengan Om Rian, jadi dia yang menawarkan tempatnya, karena tahu gue mau ulang tahun." Lala tersenyum sebab dia bisa mengadakan acara di salah satu hotel Erlangga karena lagi beruntung saja.


Kebanyakan yang menyewa hotel Erlangga adalah untuk acara pernikahan. Bila hanya acara ulang tahun, orang-orang kebanyakan memakai anak cabang hotel Erlangga saja.


"Si princess cucunya Tuan Erlangga, kan?" kata Eel meminta persetujuan para sahabatnya dan juga Lala.


"Iya, hanya itu cucu perempuan satu-satunya. Tapi gue belum pernah ketemu sih, dua kali kalian bertanding katanya dia datang, gue nya lagi ada acara." jawab Lala sudah tahu siapa saja nama keluarga Erlangga.


"Itulah yang bikin kita semakin bersemangat buat bertanding," tawa Yogi.


"Gue duluan ya," pamit Kenzo langsung pergi meninggalkan para sahabatnya. Mendengar mereka mulai membicarakan sang istri malah membuat Kenzo ingin menghindari gadis lain.


"Ken, Kenzo!" tiriak Eel berlari mengejar Kenzo. Begitu pula dengan yang lainnya.


"Lala, kita duluan ya. Soalnya sebentar lagi masuk," ucap Hengki berpamitan pada gadis yang dulu sempat ia sukai.


"Iya, thanks! Tolong bujuk Kenzo ya, agar dia mau datang." kata Lala melihat punggung Kenzo yang sudah hilang dari pandangan.


"Oke, gue rasa jika bersama kekasihnya. Dia pasti akan datang." jawab Hengki sebelum meninggalkan gadis tersebut, karena semua teman-temannya sudah masuk ke kelas mereka lebih dulu.


Namun, berbeda dengan Kenzo. Pemuda tampan itu malah tersenyum sendiri sambil menggelengkan kepalanya. Ia tidak bisa fokus dari tadi karena pikirannya kembali mengingat kejadian di kamar mereka pagi ini.


Flasback on...


"Sa, nanti Lo pulang sama Kak Arsya aja ya? Soalnya gue ada rapat jam setengah dua." ucap Kenzo setelah selesai memakai jam tangannya.


"Kak Arsya?" sahut Salsa menyergit aneh mendengar Kenzo memangil Arsya kakak, sama seperti dirinya.


"Iya Kak Arsya," jawab Kenzo tersenyum karena wajah Salsa terlihat begitu menggemaskan.


Fiiuuh!


"Iya Kak Arsya, diakan kakak Lo, jadi gue harus memangil dia kakak, 'kan?" Kenzo meniup muka Salsa yang malah termangu di tempatnya berdiri.


"Memangnya Lo nggak merasa sudah tua dari kakak gue lagi?" cibir Salsa sambil memasukan ponselnya ke dalam tas sekolah yang akan dia bawa.


Saat ini mereka berdua sudah siap tinggal berangkat ke sekolah masing-masing.


"Aaah... Ken, Ken! Lo bikin gue kaget," seru Salsa yang menjerit karena Kenzo tiba-tiba merengkuh pinggangnya. Sehingga tubuh mereka saling menempel.


Hal itupun tentu dengan reflek membuat tangan Salsa mendekap dada bidang Kenzo. Dengan jantung berdebar-debar keduanya saling tatap. Lalu Kenzo menjawab perkataan istrinya.


"Gue mengalah demi princess, asalkan Lo bisa bahagia, gue mau melakukan apapun itu. Asalkan jangan suruh gue manggil Ale sama Aditya kakak aja, karena mereka benar-benar masih Bocil." ucap Kenzo sedikit tersenyum.


Saat Salsa telah tidur dalam pelukannya tadi malam. Kenzo memang sudah memikirkan untuk mengubah panggilannya pada Arsya. Lagian apa yang dikatakan oleh neneknya benar, walau seberapa tua pun umurnya dari Arsya. Pemuda itu tetaplah kakak tersayang istrinya. Apalagi umur mereka hanya berjarak kurang lebih empat tahun.


Jawaban Kenzo tentu saja membuat Salsa tertawa. Mana mungkin dia menyuruh Kenzo memangil Alexander dan Aditya kakak. Ada-ada saja! Sudah jelas Salsa memangil kedua remaja itu adik, bukan kakak.


"Kenapa tertawa? Memangnya ada yang lucu?" Kenzo semakin mendekap tubuh Salsa yang sudah menempel sejak tadi.

__ADS_1


"Tidak ada!" jawab gadis itu yang sudah berhenti tertawa. Lalu Salsa pun bertanya dengan serius. "Do you really want to be my husband forever?"


"Huem, gue mau menjadi suami Lo untuk selamanya, Sa, jadi jangan pernah ragu sama keseriusan gue,"


Cup!


Jawab Kenzo sebelum bibirnya bersilaturahmi pada bibir ranum Salsa yang sudah dua kali ini ia jelajahi.


Awalnya hanya ciuman biasa, tapi lama-lama tangan Kenzo yang berada di pinggang Salsa sekarang naik keatas dan menahan tengkuk si princess untuk memperdalam ciuman mereka.


"Buka mulutnya," bisik Kenzo melepaskan ciuman tersebut walau hanya beberapa detik, karena setelah itu dia menyambar lagi bibir sang istri. Bahkan kali ini durasinya lebih lama. Salsa yang belum pernah berciuman tentunya harus diajari dengan cara mempraktekkan langsung.


Dengan pelan tapi pasti, Salsa mulai membalas ciuman dari kekasih halalnya. Bahkan tanpa dia sadari tangannya sudah melingkar indah pada leher Kenzo.


Decapan demi decapan mulai terdengar karena Kenzo terus me lu m4t bibir istrinya yang terasa begitu manis. Sangat berbeda dengan rasa bibir gadis yang pernah ia cium saat berpacaran.


Ya, jika sekedar berciuman Kenzo sudah biasa melakukan bersama mantan-mantan kekasihnya. Tapi hanya sekedar berciuman bibir saja, tidak lebih dari itu, karena Kenzo juga tidak berani merusak para gadis tersebut. Dia memiliki adik perempuan makanya tidak ingin melakukannya.


Padahal jika Kenzo mau, tentu sudah puluhan gadis yang mungkin saja sudah mengandung anaknya. Tanpa ia pinta saja, gadis-gadis tersebut mau memberikan keperawanannya pada Kenzo. Hampir semua mantan kekasih pemuda itu pernah mengajak Kenzo berhubungan badan. Namun, satupun tidak ada yang ia terima dan karena hal itulah membuat Kenzo betah menjadi jomblo.


Satu-satunya gadis yang berlaku jutek padanya adalah Salsa. Gadis yang digilai oleh semua sahabatnya.


"Aaaaggkk!" lenguh Salsa tanpa sadar keluar dengan sendirinya. Setelah mendengar itupun Kenzo langsung melepas panggutan bibir mereka. Lalu tangannya menyapu bibir Salsa yang basah.


"Cup!


"Sorry, we can't do it now." ucap Kenzo setelah mencium Salsa dan saling menempelkan kening mereka. Guna meredam gejolak ke lelakian yang ia rasakan. Kenzo pemuda normal, sudah pasti si adik kecil akan terbangun mencari sarangnya.


Salsa tidak berkata apa-apa. Dia hanya mengangguk membenarkan. Sekarang memang belum waktunya untuk mereka melakukan lebih dari ciuman.


"Ayo kita berangkat, nanti malah terlambat." ajak Kenzo mengeggam lembut tangan Salsa keluar dari kamar mereka.


Tidak ada yang lebih bahagia bisa menikmati masa-masa berpacaran setelah menikah. Itulah yang Kenzo rasakan saat ini.


Flashback oof...


Braaak!


"Parah benar Lo Ken," ucap Eel setelah mengebrak meja dihadapan Kenzo. Saking asiknya membayangkan ciuman bersama sang istri. Kenzo sampai tidak sadar bahwa dosen yang mengajar telah keluar dari lima menit yang lalu.


"A--apaan sih, main gebrak. Memangnya sejak kapan Lo jadi geng?" seru Kenzo yang tersadar.


"Semenjak seorang Kenzo melamun dan tersenyum sendiri seperti seorang wanita yang lagi jatuh cinta." Eel kembali mencibir.


"Sok tahu Lo, sudah ah, ayo kita ke kantin. Kenapa kalian malah hanya diam di sini, memangnya tidak ada yang mau makan?" kata Kenzo berdiri dan pergi begitu saja meninggalkan ke empat sahabatnya.


Padahal mereka diam di kelas, gara-gara dirinya yang melamun sambil tersenyum seperti seorang perempuan yang lagi jatuh cinta.


"Makin kesini, tu anak kenapa makin ke sana sih," ucap Eel yang mengikuti Kenzo dari belakang.


"Biasa, lagi jatuh cinta." Andra yang menjawab.


"Biasanya dia baik-baik aja. Dia mulai berubah semenjak ada si Mia. Apa mungkin mereka berdua sebetulnya berpacaran?" tanya Hengki ikut menimpali.


"Agh nggak mungkin lah, mereka hanya berteman." sahut Yogi. Dari kelas sampai ke kantin. Mereka berempat terus menebak-nebak apa yang membuat Kenzo bisa seperti itu. Mereka sangat penasaran gadis yang menjadi kekasih sahabatnya.


.


.


__ADS_1


__ADS_2