Pernikahan Salsa

Pernikahan Salsa
Calon Cicit Erlangga Dan Ridwan.


__ADS_3

🥀🥀🥀🥀🥀


.


.


"Selamat siang Tuan Muda," sapa sekertaris di perusahaan begitu melihat kedatangan Kenzo. Pemuda itu baru saja tiba setelah hampir seharian bertemu dengan kliennya di luar perusahaan.


"Iya, siang juga," jawab Kenzo singkat. Lalu setelah itu dia langsung masuk ke dalam kantornya untuk memeriksa beberapa pekerjaan lagi. Setelah itu barulah dia akan pulang untuk menemui sang istri yang sampai saat ini masih tinggal di rumah mertuanya.


Sebab Dia dan Salsa tidak tega untuk meninggalkan Ayla yang kondisinya drop setelah kepergian Arsya. Padahal sudah dari beberapa minggu yang lalu.


Namun, baru saja Kenzo membuka jas yang ia pakai dan akan duduk pada kursi kebesaran perusahaannya. Ponsel milik Kenzo terasa bergetar, lalu dengan sigap ia pun merogoh saku celananya dan melihat siapa yang menelpon.


"Princess,"


Gumamnya tersenyum bahagia dan langsung menggeser tombol hijau yang ada pada ponsel tersebut.


📱 Kenzo : "Iya sayang," ucap Kenzo mengira bahwa yang menelpon tersebut adalah Salsa istrinya.


📱 Ayla : "Kenzo, ini Mama, Nak. kamu sekarang lagi berada di mana? Kalau bisa pulanglah! Salsa pingsan," kata Ayla yang terdengar Isak tangisnya karena takut terjadi sesuatu pada sang Putri.


📱 Kenzo "A--apa, pingsan! Kenapa Salsa bisa pingsan, Ma?" tanya Kenzo khawatir. Namun, dia sambil mengambil jasnya kembali dan keluar lagi karena dia akan pulang untuk menemui sang istri.


📱 Ayla : "Entahlah! Mama juga tidak tahu kenapa dia bisa pingsan. Tadi Bibi di rumah kita yang menemukan dia sudah pingsan di dalam kamar kalian. Sekarang kamu pulang lah tapi hati-hati," jawab ibu yang memiliki hati bak seperti malaikat gitu.


Meskipun dia mengkhawatirkan Salsa, tapi mana mungkin Ayla mengabaikan keselamatan menantu kesayangannya.


📱 Kenzo : "Iya Ma, ini Kenzo sudah berjalan keluar dari perusahaan. Mungkin tidak sampai dua puluh menit Kenzo akan tiba di sana," jawab Kenzo setelah itu dia langsung menutup sambungan telepon mereka. Dengan setengah berlari Kenzo menuju ke arah mobilnya yang terparkir. Lalu dengan kecepatan sedang dia mulai mengendarai roda empat tersebut menuju kediaman sang mertua.


"Sayang... kamu kenapa? Apa yang terjadi? tolong bertahanlah! Aku akan segera tiba," ucapnya pada diri sendiri semenjak menikah baru inilah istrinya itu sampai pingsan.akanya Kenzo begitu merasa khawatir, apalagi sudah beberapa hari ini istrinya selalu mengeluh mengatakan tidak enak badan. Akan tetapi saat diajak berobat Salsa selalu menolak.


"Seharusnya gue memaksa dia untuk dibawa ke dokter. Bukannya malah membiarkan. Ini benar semua gara-gara gue, coba saja gue lebih mengkhawatirkan kesehatannya. Maka semua ini tidak akan terjadi," keluh Kenzo menyalahkan dirinya sambil membawa kendaraan roda empatnya.


Berhubung saat ini bukan jam makan siang. Jadi di jalanan tidak macet, sehingga Kenzo tidak membutuhkan waktu lama sudah tiba di kediaman sang mertua. Setelah mobilnya berhenti, dia keluar dan kembali lagi berlari masuk ke dalam rumah yang diyakini bahwa istrinya pasti berada di dalam kamar mereka yang terletak di lantai dua.


"Tuan Muda sudah datang," sambut seorang pelayan perempuan di rumah itu. Wanita tersebut terlihat membawa air pada nampan kecil.


"Iya, Mbak. Dimana istri Saya?" tanya pemuda itu lagi sebelum dia berjalan menaiki tangga.


"Non Salsa ada di dalam kamar, Tuan. dia ditemani oleh nyonya dan tuan besar. Kebetulan mereka baru saja pulang dari rumah utama," jawab si pelayan dengan sopan.


"Oh iya, baiklah! Kalau begitu terima kasih! Saya duluan," sahut Kenzo meninggalkan pelayan itu karena dia sudah berlari menaiki anak tangga satu persatu.


"Ken, kamu sudah datang, Nak," seru Ayla menoleh ke arah pintu masuk yang terbuka karena memang sengaja tidak ditutup.


"Iya, Ma! Maaf Kenzo terlambat. Bagaimana keadaan Princess?" tanya Kenzo berjalanan mendekat dan langsung duduk di sisi istrinya yang belum sadarkan diri.


Ken, tenanglah! Papa sudah menelpon Dokter Sean untuk datang memeriksa keadaannya terlebih dahulu. Setelah itu baru kita putuskan untuk membawanya ke rumah sakit atau bagaimana," kata Rian duduk di sebelah kanan putrinya. kedua pasangan suami istri itu memang ikut duduk di atas ranjang untuk memberi kehangatan pada telapak kaki dan tangan Salsa, yang terasa dingin. Padahal AC di dalam kamar tersebut sudah dimatikan.


"Ba--baiklah!" jawab Kenzo tidak bisa tenang sebelum mengetahui keadaan sang istri. Akan tetapi Kenzo merasa heran melihat mertuanya terlihat tidak begitu khawatir. Padahal jika hujan Salsa tidak ada yang menemani. Maka kedua mertuanya itu akan datang untuk menemani putri mereka.


Namun, di saat Salsa pingsan. Baik itu Rian ataupun Ayla, terlihat tenang meskipun mata mertua perempuannya masih memerah akibat menangis. Untungnya tidak lama setelah kedatangan Kenzo. Dokter Sean yang merupakan dokter keluarga Erlangga sejak dulu sudah datang.


"Rian, apa yang terjadi? Kenapa princess bisa sampai pingsan?" tanya Dokter Sean yang baru saja datang. Laki-laki yang seumuran dengan Rian, merupakan dokter pribadi keluarga Erlangga sejak dulu. Tepatnya ayah Dokter Sean adalah dokter kepercayaan Tuan Heri Erlangga.


"Entahlah! Jami juga tidak tahu pasti apa yang terjadi. Namun, menurut mamanya, Salsa seperti lagi mengandung. Coba kamu periksa dulu, apakah benar," jawab Rian menjelaskan.


"Apa... benarkah, Ma?" Kenzo menatap ibu mertuanya menunggu jawaban.


"Mama juga belum tahu pasti nak tapi dari Melihat tingkahnya beberapa hari ini sepertinya iya," jawab Ayla tersenyum kecil. Dia memang sangat berharap bahwa Salsa benar-benar lagi mengandung.

__ADS_1


Tidak penting meskipun putrinya belum melanjutkan kuliah. Sebab tempat Universitas yang akan dimasuki oleh Salsa adalah milik mertuanya. Jadi sudah pasti mau hamil ataupun tidak, tak akan mempengaruhi sekolah sang Putri.


"Bagaimana, apakah benar putriku sedang hamil?" tanya Rian tidak sabaran. Tak berbeda jauh dengan istrinya. Presdir Erlangga group itu pun, sama sangat mengharapkan bahwa Princess mereka tengah mengandung. Agar ada yang mengobati rasa kehilangan mereka terhadap putra sulungnya.


"Jika menurut hasil pemeriksaanku, Iya benar Princess sedang mengandung. Namun, untuk kejelasannya setelah dia sadar atau kalau tidak besok juga tidak apa-apa. Maka bawa dia periksa ke rumah sakit langsung. Nanti hubungi saja aku, maka aku yang akan mengurus semuanya," jawab Dokter Sean menyimpan kembali alat pemeriksaan yang ia gunakan.


"Sekarang aku akan kembali ke rumah sakit karena ada beberapa pasien yang sedang menunggu diriku," ucap Dokter Sean langsung berpamitan. Ayla dan Kenzo hanya mengangguk sambil menjabat tangannya untuk mengucapkan rasa terima kasih mereka.


"Oke, kalau begitu terima kasih! Kita lihat saja dulu apabila dia tidak terlalu mengkhawatirkan untuk dibawa ke rumah sakit. Maka sore hari ini juga kita akan memeriksanya fan semoga saja berita bahagia ini memang benar," ujar Rian tersenyum sambil mengantar Dokter Sean keluar dari sana.


Belum sampai sepuluh menit setelah kepergian Dokter Sean. Princess Erlangga mengerjapkan matanya pelan.


"Eum... Mama," lirih Salsa sudah siuman dan begitu matanya terbuka orang pertama yang dilihatnya adalah sang ibu yang sedang memijit telapak tangan putrinya menggunakan minyak kayu putih.


"Sayang, kamu sudah bangun!" seru Kenzo dan ibu mertuanya secara bersamaan. sehingga membuat Salsa yang baru saja membuka mata tersenyum melihat keduanya.


"Mama sama Hubby kenapa selalu kompak," ucap Salsa tersenyum kecil.


Cup!


"Itu karena kami sama-sama mengkhawatirkan mu," yang dijawab oleh Kenzo. Tidak lupa dia juga memberikan kecupan pada kening sang istri. Sehingga Ayla yang berada di sana langsung berdehem untuk menyadarkan sang menantu bahwa ada dirinya di sana.


"Huem! Ini papa kenapa mengantar Dokter Sean saja lama sekali," goda ibu dua anak itu sambil tersenyum.


"Mama," Kenzo tergelak setelah mendapat kode keras dari ibu mertuanya. Sebab hal wajar juga Ayla bersikap seperti itu, karena apabila tidak sadar ada orang di sekeliling mereka. Kenzo selalu berlaku mesra pada si Princess.


Sehingga membuat yang jomblo duduk di pojokan sambil menggigit jari.


"Tunggu Mama pergi dari sini jika mau bermesraan," kata Ayla seperti orang lagi marah. Padahal dia benar-benar sangat bahagia melihat sang menantu begitu mencintai putrinya.


"Ma, Salsa kenapa?" tanya princess yang sudah dibantu untuk duduk dan bersandar pada kepala ranjang oleh ibu dan suaminya.


"adek minum dulu ya, nanti baru Mama ceritakan," jawab Ayla seraya mengambil air yang dibawa oleh asisten rumah tangganya tadi. Salsa tidak membantah karena dia memang merasakan haus. Gadis itu pun langsung menerima gelas yang disodorkan oleh ibunya.


"Kenzo, mau Mama yang menjelaskan pada istrimu atau kamu sendiri," Ayla bertanya lebih dulu mana tahu menantunya ingin menyampaikan berita bahagia tersebut pada sang istri. Sebab kebahagiaan orang itu berbeda-beda.


Mungkin saja memberi tahu pada istrinya bahwa Salsa tengah mengandung adalah keinginan Kenzo. Akan tetapi karena ada ibu mertuanya sang menantu tidak berani untuk menyampaikan keinginannya. Maka dari itu Ayla menawarkan lebih dulu pada Kenzo.


"Benarkah! Mama terima kasih! Kenzo sangat menyayangi Mama," seru pemuda itu merasa sangat bahagia karena Ayla begitu mengerti pada perasaan anak dan menantunya.


"Huem! Mama itu istri Papa, jadi jangan macam-macam," ancam Rian sudah kembali melihat keadaan putrinya lagi.


"Ha... ha... Papa cemburu ya, sama Hubby nya adek," tawa Salsa sudah merasa baikan. Tadi dia pingsan karena merasa kelelahan setelah menaiki tangga.


"Papa bukan cemburu tapi---"


"Hoek!" belum selesai papanya berbicara Salsa sudah menutup mulutnya karena tiba-tiba saja dia merasa ingin muntah.


"Sayang," dengan sigap Kenzo membantu Salsa berjalan ke arah kamar mandi karena istrinya itu tidak ingin digendong dan mau berjalan sendiri.


"Ma, sepertinya memang benar kita akan memiliki cucu," Rian menarik istrinya untuk ia peluk. Sambil menunggu anak dan menantunya kembali masuk ke dalam kamar.


"Iya Pa, kita akan segera memiliki cucu. Sebetulnya sudah dari satu minggu ini Mama curiga bahwa Salsa sedang mengandung. Saat dia meminta Mama untuk membuatkan sop buah yang ada mangga mudanya kan aneh sekali," cerita Nyonya Erlangga pada sang suami.


"Kenapa Mama baru bercerita sekarang? Ada kejadian selangka ini tidak memberitahu Papa?" kata Rian merenggangkan pelukan mereka.


"Bukan tidak ingin memberitahu, Mama hanya tidak ingin kalian heboh tidak karuan. Soalnya Mama tidak ingin membuat Kenzo yang sudah berharap dari beberapa bulan lalu merasa kecewa. Jika putri kita belum hamil juga,"


"Oh, seperti itu! Yasudah tidak apa-apa yang penting sekarang kita harus menjaga Princess dan calon cucu kita dengan sangat baik. Semoga saja mereka kembar seperti mamanya," imbuh Rian tidak bisa menyembunyikan rasa bahagianya.


Rian sendiri juga ingin sebelum Ayah dan ibu mereka meninggalkan semua, sudah melihat kelahiran cicit dari keluarga Erlangga dan Ridwan.

__ADS_1


Hoek!


Hoek!


"Ken... pusing! Aku kenapa?" lirih Salsa yang pundaknya dipijit oleh Kenzo.


"Tidak apa-apa, sayang. Ini pasti efek dari kehamilan mu," jawab Kenzo sambil mengikat rambut istrinya yang terurai panjang.


"Apa maksudmu? Anak siapa? Siapa yang hamil?" mendengar perkataan suaminya si Princess langsung memutar tubuhnya menghadap ke belakang.


"Ini, disini ada anak kita," Kenzo menuntun tangan sang istri untuk menyentuh perutnya sendiri.


Tes!


Tes!


"Sayang, apa ka---"


Buuuk!


Salsa menangis dan langsung memeluk tubuh suaminya. Sehingga Kenzo yang tadinya takut jika Salsa belum siap apabila hamil disaat baru saja lulus sekolah menengah atas. Menjadi tersenyum sambil mencium pucuk kepala sang istri berulangkali.


"Sayang, kamu tidak marah kan?" tanyanya merenggangkan tubuh mereka untuk menatap muka sang istri yang memihak akibat menangis.


"Tentu saja tidak, Kenapa aku harus marah. Bukannya ini adalah anak pertama kita," jawaban Salsa sungguh berbanding terbalik dengan yang ditakutkan oleh suaminya.


"Huem, benar! ini adalah anak pertama kita," jawab Kenzo tersenyum dan kembali menarik Salsa ke dalam pelukannya. Namun, baru saja beberapa detik kemudian. Salsa sudah mendorongnya kasar, karena princess kembali mengeluarkan isi yang ada di dalam perutnya.


Hoek!


Hoek!


"Ken, apakah dia belum berhenti muntah-muntahnya suruh Ayla menyusul masuk ke dalam kamar mandi, karena anak dan menantunya tidak kunjung keluar dari sana.


"Belum Ma, ini muntah-muntah lagi. Apa sebaiknya kita bawa ke rumah sakit saja agar dokter bisa menolongnya," ucap Kenzo yang memeluk tubuh istrinya dari arah belakang, karena bila tidak seperti itu Salsa akan terjatuh.


"Iya, tunggulah di sini. Mama akan memberitahu kepada Papa kalian untuk menyiapkan semuanya," Ayla mengangguk setuju dan pergi keluar dari sana untuk memberitahu Rian.


*


*


Sementara itu di belahan Benua Amerika, yaitu benua nomor dua terbesar di dunia setelah benua Asia. Arsya baru saja selesai membersihkan tubuhnya. Pemuda itu lagi bersiap-siap untuk berangkat ke kampus tempat dia menimba ilmu selama beberapa pekan terakhir ini.


Hari setelah pertemuan terakhirnya bersama Aurel. pemuda itu benar-benar menjauhi sahabat masa kecilnya, dugaannya benar! Bahwa dia dan Aurel ternyata melanjutkan studi mereka di universitas yang sama. begitu pula dengan Jeni, anak dari sahabat mamanya itu juga kuliah di tempat yang sama bahkan Arsya dan Jeni satu jurusan.


Sejauh ini hubungan keduanya terjalin cukup baik, apalagi Jeni orangnya sangat baik. Sebab gadis itu tidak terlalu ikut campur urusan orang lain. Hal itulah yang membuat Arsya merasa suka bersahabat dengan Jeni.


Di tempat asing ini, selain dengan Jeni, Arsya juga sudah memiliki sahabat laki-laki yang asli penduduk negara tersebut. jadi dia sudah bisa menyesuaikan diri dengan tempat barunya itu dan mulai terbiasa berjauhan dengan keluarga besarnya.


Akan tetapi setiap harinya Arsya masih seperti biasa menelepon adik kesayangannya. Dari semenjak di ciptakan mereka bersama, jadi pasti sulit bagi si kembar untuk saling berjauhan.


Ttddddd!


📱 Arsya : "Iya, Jen?" sapa si tampan sambil berjalan keluar dari kamarnya.


📱 Jeni : "Kamu lagi dimana? Apakah sudah berangkat ke kampus?" tanya Jeni dari sebrang sana.


📱 Arsya : "Belum, ini aku baru saja mau berangkat. Tunggu saja di depan Apartemen mu, aku akan datang ke sana agar kita bisa berangkat bersama,"


📱 Jeni : "Huem, baiklah! Aku tunggu," jawab Jeni menyimpan kembali ponsel ke dalam tas ransel miliknya.

__ADS_1


"Huh! Arsya, kamu dan Aurel kenapa terlihat seperti anak kecil, sih." ucap Jeni menghela nafasnya dalam-dalam.


...BERSAMBUNG......


__ADS_2