Pernikahan Salsa

Pernikahan Salsa
Alan Tanuwijaya.


__ADS_3

🥀🥀🥀🥀🥀🥀


.


.


"Arsya... to--tolong lepas, nanti ada yang melihat kita," ucap Aurel sejak tadi hanya diam dalam tubuh laki-laki yang ia rindukan. Namun, untuk mendapatkannya bagaikan menimba air laut, yang tidak mungkin akan kering.


"Kenapa, apa Elo nggak rindu sama gue?" tanya Arsya tetap tidak melepaskan pelukannya. Justru ia semakin memeluk erat.


"Bu--bukan, bukan seperti itu, tapi gue takut nanti ada yang melihat kita," jawab Aurel tergagap.


"Aurel, Elo kenapa? Kenapa jadi berubah gini?" Arsya melepaskan pelukan mereka untuk menatap muka gadis itu. Sehingga membuat Aurel semakin salah tingkah. Padahal dulu sebelum Aurel pindah rumah dan hilang tanpa kabar, mereka sering berpelukan dikala lagi bahagia ataupun sedih.


"Ini Aurelia, 'kan? Aurel yang suka manjat pohon jambu di rumah kakek?" pertanyaan konyol Arsya tentu saja membuat Aurel yang tadinya menampakan muka sedih langsung tersenyum. Ada-ada saja, dia kira Arsya sudah melupakan hal tersebut. Ternyata justru menanyakan lagi.


Padahal itu semua sudah lama berlalu. Aurel memang sangat pandai memanjat pohon. Jika sama Arsya saja masih menang dia. Apalagi kalau dengan princess, pasti akan kalah jauh.


"Ar, Elo apa-apaan sih," kata Aurel masih tersenyum. Dia merasa malu bila mengigat betapa nakalnya ketika masih kecil. Senyuman gadis itu ternyata menular pada Arsya. Dia juga ikut tersenyum kecil yang nyaris tak terlihat bila hanya ditatap sekilas. Sehingga membuat jantung Aurel seakan mau keluar pada tempatnya. Apalagi posisi mereka masih sangat intim. Sebelah tangan Arsya ia sanga pada dinding kamar mandi. Untuk mengurung tubuh kecil Aurel.



"A--ar, i---itu, itu sudah ada panggilan dari komentator. Elo dipanggil tuh," cicit gadis itu menelan Saliva nya sendiri. Bau harum tubuh Arsya yang sudah bercampur keringat masih mampu membuat Aurel membeku dan salah tingkah.


"Biarin aja, masih ada waktu dua menit lagi," jawab Arsya santai sambil melihat jam pada pergelangan tangannya.


"Huem... tapi gue mau ke depan, nanti kursinya di tunggu sama orang lain," mencari-cari alasan agar bisa pergi dari sana.


"Bagus dong, Elo bisa duduk di tempat Tim gue istirahat," ternyata sifat Arsya tidak berbeda jauh seperti ayahnya, yang bawel tidak mau menyerah saat dia mendekati Ayla.


"Enggak, gue gak mau, nanti malah jadi pembicaraan orang-orang," tolak Aurel cepat.


"Biarkan saja orang mau bilang apa, yang penting tidak mengusik kita," imbuh Arsya tumben berbicara banyak. Biasanya dia tidak sepandai itu menjawab perkataan wanita. Jika bukan orang-orang terdekatnya.


"Arsya, gue mohon. Jangan seperti ini, cepat pergi sana, nanti Elo telat," usir Aurel menahan kesal karena dia sudah tidak tahan ditatap begitu intens. Gadis itu marah pada dirinya sendiri yang tidak mampu membuang perasaan yang ia miliki. Padahal sudah lama tidak bertemu.


"Aurel setelah satu tahun lebih kita tidak bertemu, tapi Elo ngusir gue?" mendengar perkataan Aurel tentu saja Arsya kecewa pada gadis itu. Dia tidak menyangka jika sahabat yang sangat ia rindukan malah terlihat biasa-biasa saja.


"Arsya, bukan gitu, gue nggak mau---"


"Ar, Elo lagi ngapain? Lama benar cuma ke toilet doang," suara Dito yang menyusul Arsya menghentikan ucapan Aurel. Gadis itu benar-benar merasa bersyukur dengan teman Arsya. Sehingga ia tidak perlu menjelaskan apa-apa lagi.


"Dito, ngapain Elo kesini?"


"Elo yang ngapain di sini, sudah seperti mencuci kereta api saja. Ayo cepat, kita sudah ditunggu. Ini sudah telat dua menit," jawab pemuda itu menarik paksa tangan Arsya.


"Eh, Dit, gue masih ada urusan sa---"


"Nanti lagi, selesaikan dulu pertandingannya," sela Dito yang buru-buru. Namun, sebelum benar-benar pergi dia menoleh kearah Aurel dan berkata. "Dek, jika mau foto sama Kak Arsya nanti saja ya. Tunggu selesai pertandingan," ucapnya yang langsung hilang dibalik pintu kearah luar. Sehingga membuat Aurel dan Arsya terbengong seperti orang bodoh. Bagaimana mungkin Dito mengira jika Aurel hanya gadis kecil ingin berfoto dengan Arsya.


"Huh!" Aurel menghembuskan nafas panjang seraya menatap kepergian Arsya. Mata gadis itu memerah ingin menangis.



"Ar... Maafin gue, gue juga kangen banget sama kalian berdua. Tapi gue harus melakukan ini, maaf!"


Gumam Aurelia akhirnya meneteskan air matanya yang sejak tadi ia tahan-tahan. Setelah menyapu air matanya kasar, gadis tersebut langsung pergi meninggalkan gedung itu karena takut akan bertemu Arsya lagi. Sudah sekian lama Aurel menghindari kebebasannya hanya untuk menjauhi Arsya dan Salsa.


Sementara itu, di lapangan Basket. Arsya sudah kembali lagi memimpin pertandingan. Untuk sejenak, dia melupakan Aurel karena Tim dari luar ibukota menganti para pemainnya dengan pemain cadangan, yang lebih hebat lagi. Sehingga Arsya dan sahabatnya kesusahan untuk menyeimbangi. Sebab tenaga mereka sudah terkuras saat babak pertama. Namun, siapa sangka jika Tim dari luar ibukota memiliki trik lain yang bukan merupakan pelanggaran.

__ADS_1


Sebab berbeda Tim tentu memiliki cara mereka masing-masing untuk bisa menjadi pemenang. Selagi masih dengan cara sportif.


"Ki, ubah posisi! Elo bantu gue di Zona-marking," ucap Arsya begitu dia berdekatan dengan Hengki. Biasanya bila itu Farel, tanpa disuruh dia sudah paham. Namun, karena ini mereka baru bergabung sore ini, hal wajar bila mereka belum memahami satu sama lain.


"Oke," sahut Hengki menuruti perintah Arsya sebagai kapten. Sudah hampir lima belas menit. Tim Arsya tidak kunjung bisa mencetak poin. Sementara lawan mereka yang tadinya kalah sudah melewati tiga poin dari Tim mereka.


"Aaaah!" teriak penonton ketika Tim luar ibukota sudah kembali mencetak poin.


"Wah, Ar, sepertinya malam ini kita dibantai habis sama mereka," seru Eel melihat Timnya tidak kunjung mendapatkan Bola.


Arsya yang mendengarnya hanya tersenyum kecil. Dia masih terlihat tenang, entah rencana apa yang sedang sang Kapten pikirkan.


"Gue belum kalah, adik-adik gue pasti sangat berharap gue yang menang. Gue nggak akan mengecewakan orang-orang yang sudah memberikan kepercayaan nya,"


Gumam Arsya langsung melompat merebut Bola yang ingin dilimpar oleh lawan kedalam ring dan hap!


"Hore! Arsya, Arsya, Arsya!" suporter yang tadinya mulai sepi akhirnya kembali menyerukan nama sang Kapten.



Setelah berhasil mencetak poin, Arsya sendiri juga memberikan semangat pada Tim nya. Mengajak mereka sama-sama berjuang.


"Arsya, ayo kalahkan mereka, Elo pasti bisa mempertahankan juara ini untuk kota kita," teriak para penonton.


"Waw! Keren banget, Men!" sorak Andra menjadi semagat. Setelah Arsya berhasil mencetak poin baru, di babak kedua ini, mereka pun dengan perlahan mulai kembali mencetak poin selanjutnya. Sehingga menyamakan kedudukan mereka yang tadinya sudah tertinggal jauh, dan pada saat waktu tinggal beberapa menit lagi. Arsya kembali mencetak poin yang membuat wasit membunyikan peluit panjang. Pertanda bahwa pertandingan di babak kedua ini pun sudah selesai, yang pemenangnya diraih oleh tim ibukota B. Yaitu Tim Arsya, putra sulung Rian Erlangga.


"Gila, gila! Elo dikasih makan apa sih sama om dan Tante?" seloroh Eel yang kagum pada taktik cara bermain Arsya. Tidak ada yang menyangka bahwa malam ini ibukota B akan menjadi pemenang. Andai saja itu bukan di pimpin oleh Arsya, maka sudah pasti mereka akan kalah.


Malam ini seluruh siaran televisi di ibukota B. Live streaming menyiarkan betapa hebat pertandingan malam hari ini, dan tangguhnya si Kapten Basket yang merupakan anak pengusaha terkenal. Siapa yang tidak kenal dengan Heri Erlangga dan Ridwan.


"Ha... ha... ada-ada aja, jelas dikasih makan nasi lah," bukan Arsya yang menjawab, tapi Denis. sebab Arsya sendiri sibuk memasukkan peralatannya ke dalam tas. Dengan pandangan mata menatap ke arah lautan penonton yang sudah mulai bubar, untuk mencari sosok Aurelia, karena dia ingin berbicara dengan gadis itu. Namun, setelah dicari-cari sosok tersebut tidak juga ada.


"Ar, Elo nyari siapa?" tanya Yogi melihat Arsya seperti mencari sesuatu yang hilang.


"Gadis berkacamata tadi, 'kan?" sela Dito.


"Gadis berkacamata mana? Bukannya banyak tuh gadis yang pakai kacamata," tanya Denis menunjuk ke arah para gadis-gadis cantik yang memakai kacamata untuk bergaya. Bukan seperti Aurel yang memakai kacamata karena matanya memang sudah minus.


"Bukan, bukan yang itu. gadis kecil tadi memakai baju kaos warna hitam dan kacamatanya bukan untuk bergaya. tapi seperti untuk menjaga kesehatan gitu," jelas Dito kembali mengingat-ingat. Sebab dia sendiri juga kurang jelas melihatnya, karena terburu-buru.


"Siapa sih? Kok gue jadi penasaran. Apakah pacar Arsya?" imbuh Denis semakin penasaran. sebab sahabatnya itu sangat jarang. Eh bukan! Bukan sangat jarang. Akan tapi memang tidak pernah berdekatan sama gadis lain, kecuali dengan Salsa dan Ara sahabat baik adiknya.


"Sepertinya fansnya Arsya deh, dia masih kecil, mungkin mau ngajak teman kita berfoto. Tapi gue keburu datang,' betul kan, Ar?" Dito menoleh kearah belakang. Dikiranya Arsa masih ada di sana. Namun, ternyata ketua Tim Basket mereka itu sedang menemui Tim penyelenggara. Sebelum mereka berpamitan untuk pulang ke rumahnya masing-masing.


Sebab untuk pembagian pialanya memang belum dilakukan malam ini, karena harus ada tamu penting yang merupakan Rian sendiri. Sebab perusahaan Erlangga group lah yang mensponsori pertandingan tersebut.


"Gue duluan ya, soalnya tadi gue pake motor. Takutnya hujan," pamit Andra lebih dulu. Lalu diikuti oleh teman-temannya yang lain.


"Iya, nggak papa, duluan aja. Nanti kita bisa share di grup," jawab Denis mengangguk. Sebab dia dan Dito akan menunggu Arsya dan Hengki yang lagi bertemu Tim penyelenggara.


"Thanks ya, Ar," ucap Hengki sambil berjalan bersama dengan Arsya.


"Terima kasih buat?"


"Buat kebesaran hati keluarga Erlangga dan Elo yang mau berbesar hati untuk memaafkan kesalahan yang sudah kami perbuat. Jujur gue merasa malu dan bangga bisa mengenal keluar Elo yang ternyata sangat baik," ungkap Hengki jujur.


"Oke, santai aja. Sekarang kita teman, kan. Jadi jangan sungkan. Keluarga gue bukan baik, tapi memang melakukan apa yang seharusnya kita perbuat," ujar Arsya menepuk pelan pundak Hengki.


"Sudah larut malam, ayo kita pulang, besok kita bisa atur waktu untuk bertemu. Atau jika kalian mau, datang ke rumah gue aja, sekalian melihat Kenzo," tawar Arsya tidak pernah memilih untuk berteman. Apalagi Hengki dan yang lainnya, merupakan sahabat Kenzo. Jadi Sudah sewajarnya Arsya menawarkan mereka jika ingin datang ke rumahnya langsung.

__ADS_1


"Memangnya Kenzo sudah dibolehin pulang, Ar?" sahut Denis yang mendengar percakapan Arsya dan Hengki.


"Iya, soalnya tadi sebelum gue berangkat ke sini. Papa menelpon, katanya malam ini tidak akan pulang. Mereka menginap di rumah sakit. Gue disuruh tidur tempat opa atau kakek. Soalnya besok pagi Kenzo sudah mau dibawa pulang. Mama gue nggak mau, nanti jika berlama-lama di rumah sakit, adek gue jadi ikutan sakit," tutur Arsya sudah memakai jaketnya kembali dan membawa tas tempat perlengkapannya.


"Oke, besok kita ke rumah Elo aja deh," imbuh Dito sambil mereka berjalan keluar dari sana.


"Baiklah, nanti gue bilangin teman-teman gue juga. Tapi... apa tidak akan merepotkan keluarga Elo nih jika kita berkumpul di sana?" tanya Hengki ragu, sebab dia memang belum pernah datang ke sana.


"Nggak lah, mama gue pasti akan senang jika ada teman-teman gue yang datang," jawab Arsya sebelum masuk ke dalam mobilnya sendiri.


"Sampai berjumpa besok, kalian hati-hati," pamit Arsya lebih dulu.


"Oke, siap! Elo juga hati-hati," ucap mereka ikut masuk ke mobilnya masing-masing.


"Huh! Aurel kenapa sih, kok dia seperti menghindari gue?" sambil mengendarai kendaraannya Arsya terus memikirkan Aurelia sahabat dia dan adiknya.


"Aurel tadi kan duduknya di tempat penonton dari Universitas Bima Sakti. Apakah dia sudah kuliah? Ah tidak, tidak! Aurel belum kuliah, dia kan satu kelas sama gue dan Salsa. Tapi kenapa dia duduk di sana, apa Aurel pergi dengan seseorang yang masih kuliah?" tanya Arsya pada dirinya sendiri, dan mengigat saat matanya tidak sengaja melihat sosok sang sahabat.


"Aurel... sebetulnya Elo tinggal di mana sih? Kenapa nggak mau datang ke rumah kakek, agar kita masih bisa berhubungan. Bukannya seperti ini, Elo terkesan menghindar dari gue. Memangnya gue ada salah apa?" seru Arsya menguyar rambutnya yang masih basah oleh keringat.


"Ck, kenapa tadi gue nggak minta nomor ponselnya yang baru, sih," decak si tampan. "Benar, gue nggak salah! Aurel sepertinya menghindar dari gue," tebaknya terus menduga-duga, sehingga tidak sadar jika mobilnya sudah sampai ke rumah Opa Heri.


Ya, karena rumah Opa Heri lebih dekat daripada pulang ke rumah kakek dan neneknya. Jadi Arsya pulang ke sana.


"Begitu melihat mobilnya, Pak satpam yang berjaga di pos depan rumah. Langsung membuka gerbang sambil membungkukkan badannya sebagi tanda hormat pada tuan mudanya.


Tiin!


Tiin!


Arsya membunyikan klakson mobilya. Dia bukanlah pemuda sombong yang semena-mena pada pekerja dirumah mereka.


"Huh! Apakah gue harus minta tolong sama papa untuk mencari tahu tempat tinggal Aurel, ya?" mobilnya telah tiba di garasi dan mesin mobil pun sudah dimatikan. Namun, Arsya tidak langsung keluar dari sana. Dia masih memikirkan Aurel.


Tok!


Tok!


Kleeek!


"Opa," seru Arsya setelah keluar dari dalam mobilnya. Ternyata yang mengetuk jendela mobil tersebut adalah kakeknya.


"Lagi mikirin apa? Kenapa sepertinya serius sekali?" tanya Opa Heri sudah digandeng masuk oleh cucunya.


"Tidak ada Opa, Arsya cuma lagi mikirin buat merayakan kemenangan malam ini," jawab Arsya tidak berbohong. Sebab dia memang sempat memikirkan hal itu.


"Opa kenapa belum tidur, ini sudah larut malam. Jika mama tahu, pasti Opa akan diomeli," ucap Arsya mengalihkan pembicaraan. Sebab keadaan kakeknya itu memang kurang sehat.


"Opa menunggu kedatangan mu, tadi Opa sudah tidur. Tapi terbangun lagi, karena khawatir pada cucu Opa yang hebat ini," Opa Heri tersenyum sambil masuk kedalam kamarnya. Sebab sang cucu langsung mengantar beliau ke kamar agar segera beristirahat.


"Hebatnya kan, karena keturunan dari Opa," jawab Arsya tersenyum. "Opa istirahatlah, sekarang Kakak sudah pulang dan mau istirahat juga," lanjutnya lagi dengan suara kecil, karena takut membangunkan Oma Sonya yang sudah tidur sejak tadi.


"Iya, sekarang Opa tenang karena kamu sudah tiba di rumah, dalam keadaan baik-baik saja," setelah mengantar kakeknya, Arsya pun kembali ke kamarnya sendiri.


Ttttddd!


Ttdddd!


📱Opa Heri : "Huem, iya. Coba kamu cari tahu tempat tinggal keluarga Alan Tanuwijaya. Selidik semuanya dan berikan laporannya secepat mungkin, jangan sampai terlewatkan," perintah Opa Heri pada orang kepercayaannya.

__ADS_1


📱 : "Baik Tuan, besok Saya akan menyelidikinya," jawab laki-laki tersebut dari seberang sana. Setelah itu Opa Heri pun langsung memutuskan sambungan tersebut.


BERSAMBUNG...


__ADS_2