
🥀🥀🥀🥀🥀
.
.
Setelah memarkirkan mobilnya di halaman rumah sang kakek. Kenzo berjalan masuk membawa kresek wadah pembalut untuk sang istri. Sambil berjalan masuk, pemuda itu bersenandung kecil. Sehingga dia tidak sadar ada kakeknya di samping tangga menuju kelantai atas.
"Ken... kamu dari mana?" tanya Tuan Fathan yang baru saja keluar dari kamarnya.
"Dari Alfamart, Kek. Habis beli sesuatu." jawab Kenzo tidak menyebutkan barang apa yang dibelinya.
"Oh yasudah, kakek hanya bertanya saja." kata pria paruh baya itu melanjutkan lagi langkahnya menunju ke ruang tengah.
Sedangkan Kenzo tidak bicara apa-apa lagi, karena tahu Salsa pasti menunggu dirinya.
Tiba dilantai atas.
Ceklek!
Kenzo membuka pintu kamar dengan pelan. Lalu setelah menutup lagi pintu tersebut, dia berjalan kearah Salsa yang masih duduk di atas Sofa. Tapi sudah memakai pakaian lengkap. Salsa terlihat bertambah cantik dengan dress selutut yang dipakainya.
"Sa... sorry ya, agak lama." meminta maaf sambil menyerahkan pembalut yang dibelinya.
Eum, tidak apa-apa. Thanks, ya." Salsa menerima barang tersebut lalu dia berdiri dari sofa dan langsung masuk kedalam kamar mandi.
Kenzo tidak menjawab. Pemuda malah mengambil ponselnya yang terlihat ada banyak pesan.
Sekitar hampir sepuluh menit kemudian. Gadis cantik itu sudah keluar dari sana
"Ken, sebelum Lo berangkat kuliah, ngantar gue pulang dulu 'kan?" tanya Salsa ikut duduk di samping tempat yang di duduki oleh suaminya.
"Hem, iya! Kenapa? Apa masih mau disini? Kalau mau disini itu malah bagus, nanti setelah gue pulang kuliah baru kita pulang kerumah Lo." jawab Kenzo menyimpan kembali ponselnya. Ya, sedari Salsa mau masuk kedalam kamar mandi. Kenzo memegang benda tersebut, karena berbalas pesan dengan Mia dan juga teman-teman satu kampusnya.
"Eh, nggak, nggak! Bukan gitu. Gue kan hari ini juga mau sekolah." kata Salsa seraya mengelengkan kepalanya.
"Ya sudah, nanti setelah sarapan baru gue antar kesana." Kenzo yang tahu kalau saat ini Salsa juga tidak bisa libur sesuka hatinya meskipun sekolah di tempat orang tuanya sendiri. Hanya menyetujui apa yang dikatakan oleh Salsa, karena Kenzo tahunya sang istri tidak bisa naik mobil. Bila tidak diantar oleh sopir. Padahal tanpa dia ketahui, kalau Salsa bahkan jago menaiki motor. Cuma tidak di ketahui oleh orang lain. Terkecuali kakak tersayang dan kedua orang tuanya.
"Ayo kita turun sarapan, gue hari ini masuk pagi." ajak Kenzo berdiri dari sofa dan berjalan mengambil tas ransel berisi laptop beserta keperluan dia untuk kuliah. Semua barang-barang tersebut sudah Kenzo siapkan dari tadi malam.
__ADS_1
"Iya, ayo!" sahut Salsa ikut berdiri. Namun, saat dia mengambil ponsel beserta tas selempang nya yang ada di meja kaca. Tanpa sengaja, gadis itu melihat pesan yang baru masuk pada ponsel suaminya.
"Sepertinya ini gadis yang mengirim pesan tadi. Jadi Kenzo sudah menyimpan nomornya. Kira-kira dia siapanya Kenzo, sih?"
Gumam Salsa sambil membaca pesan tersebut.
💌 Mia : "Oke, gue tunggu di kampu---"
Itulah bunyi pesannya. Tapi Salsa hanya bisa membaca sebagian saja, sama seperti tadi. Akan tetapi kali ini ada namanya, Mia. Gadis yang merupakan sahabat Kenzo itulah yang mengirim pesan.
Namun, meskipun hanya bisa membaca sebagian saja. Salsa tahu jika suaminya dan Mia berjanjian untuk bertemu di kampus.
"Sa, Lo kenapa malah diam?" tanya Kenzo mengambil ponsel. Lalu dia masukan kedalam saku jaket yang dia pakai.
"N--ngggak ada apa-apa, gue cuma ngambil ponsel gue." jawab gadis itu cepat. Tapi jujur saja perasaannya sedang tidak karuan. Entah mengapa setelah membaca chat di ponsel suaminya. Pikiran Salsa menjadi tidak karuan.
Padahal dia belum tahu pasti siapa gadis yang di beri nama Mia oleh Kenzo. Tapi yang jelas suaminya memiliki janji untuk bertemu wanita lain.
Meskipun Salsa tidak mencintai Kenzo. Tapi dia tidak suka melihat suaminya berbalas pesan dengan gadis lain, karena dia sendiri saja tidak seperti itu.
Selain nomor para orang tua, kakek neneknya, sahabat dan ke tiga saudara laki-lakinya. Ponsel Salsa tidak memiliki nomor ponsel orang lain lagi.
"Ayo!" Kenzo kembali mengajak untuk kedua kalinya. Lalu pasangan suami-istri itupun berjalan menuju lantai bawah untuk sarapan bersama keluarga lainya.
"Pagi juga, Nak!"
"Pagi juga sayang!" jawab mereka yang sudah berkumpul di meja makan.
"Ayo duduk!" titah Kenzo menarik bangku meja makan untuk sang istri.
"Terima kasih!" jawab Salsa dengan tulus. Kenzo hanya mengangguk dan ikut duduk di samping sang istri.
"Mau berangkat jam berapa nanti, Pa?" tanya Kenzo sambil mengisi piring untuk dia dan Salsa.
Terbalik memang, Kenzo yang melayani sang istri, bukan sebaliknya. Bukan apa-apa, Kenzo hanya takut bila Salsa merasa tertekan harus melayaninya. Walaupun sebetulnya sudah kewajiban Salsa melayani dia di meja makan. Atau di atas tempat tidur sekalipun.
Sedangkan yang lainya hanya diam saja, mereka malah sangat senang Kenzo memperhatikan istrinya. Itu pertanda putra mereka menerima Salsa dengan baik.
"Jam setengah empat sore. Pagi ini Papa mau ke perusahaan kakek dulu. Jadi setelah kamu selesai kuliah dan Salsa pulang dari sekolahnya. Kalian berdua kembali ke sini lagi." jawab Demian di sela sarapan.
__ADS_1
"Iya, pa. Kalau begitu nanti setelah pulang, kami akan kembali ke sini lagi." yang di Jawa oleh Kenzo. Sedangkan Salsa hanya diam menjadi pendengar.
"Ayo sayang sarapan yang banyak," kata nenek Kenzo pada cucu menantunya.
"I--i--iya, Nek. Ini juga sudah sarapan yang banyak." jawab Salsa melanjutkan makannya.
Lima belas menit kemudian. Semuanya sudah selesai menghabiskan sarapan mereka. Kenzo berjalan ke ruang tengah lebih dulu, karena Salsa ingin membantu membereskan meja makan. Hal yang sering dia lakukan apabila dirumah orang tuanya.
"Ken... Setelah ini, kalian akan tinggal di sini dan juga rumah mertuamu. Rian sudah berbicara dengan Papa setelah selesai acara pernikahan kalian kemarin." ucap Demian yang saat ini berada di ruang keluarga bersama Tuan Fathan dan Kenzo.
"Kenapa kami tidak tinggal di rumah sendiri saja, Pa. Papa tinggal nambahin aja, Ken ada memiliki sedikit tabungan." tanya Kenzo merasa tidak setuju harus tinggal di dua tempat.
Padahal, baru tadi malam dia memikirkan tempat tinggal dan juga pekerjaan. Akan tetapi papanya berbicara demikian.
"Ini bukan masalah uang. Tapi mertuamu yang tidak mengizinkan kalian tinggal di rumah sendiri." jawab pria paruh baya itu. Dia sebagai orang tua Kenzo juga tidak bisa menolak permintaan Rian yang ingin Salsa dan Kenzo tinggal di rumahnya atau dirumah Tuan Fathan.
"Kenapa bisa seperti itu? Kenzo kan berhak menentukan tempat tinggal sendiri. Kalian tidak perlu cemas, tiga hari lagi Kenzo mau numpang kerja di perusahaan kakek. Agar memiliki uang sendiri, untuk bisa memenuhi kebutuhan Salsa." ujar Kenzo yang mengira mertua atau orang tuanya takut karena Kenzo pengangguran. Padahal dia sudah memikirkan akan bekerja setelah pulang kuliah, karena saat ini ada istri yang harus dia nafkahi.
"Wah, wah! Kakek tidak salah dengar 'kan?" sela Tuan Fathan. Kata-kata itulah yang dia tungu-tungu.
"Iya, Kek. Kalau Kakek boleh, Ken mau bekerja di perusahaan. Tapi setelah pulang kuliah." Kenzo menjawab dengan yakin.
"Tentu saja boleh! Kamu adalah calon Presdir nya. Kakek ini sudah tua, tidak pantas lagi mengurus perusahaan." ujar Tuan Fathan tersenyum senang.
"Tapi Ken, meskipun kamu bekerja. Kalian tetap akan tinggal di sini dan rumah mertuamu. Ini sudah menjadi keputusan Rian dan juga Papa." kata Demian.
"Agh, terserah sajalah! Mana yang menurut kalian bagus, yang jelas tiga hari dari sekarang. Ken mau melamar pekerjaan di perusahaan kakek." ucap pemuda itu berdiri saat melihat Salsa suda berjalan kearahnya.
"Ayo kita berangkat sekarang." ajaknya pada sang istri.
"Heum!" jawab Salsa setuju. Setelah itu dia berpamitan dulu pada keluarga suaminya, karena itulah Salsa. Walaupun dia manja dan biasa hidup dalam bergelimang harta. Tidak membuatnya sombong dan tidak memiliki sopan santun.
BERSAMBUNG...
.
.
.
__ADS_1
Sambil menunggu bbg Kenzo update. Yuk mampir, baca karya sahabat Mak author juga. Terima kasih 😘😘😘