Pernikahan Salsa

Pernikahan Salsa
Persiapan Ke Pesta.


__ADS_3

🥀🥀🥀🥀🥀


.


.


Pagi hari di kediaman Tuan Fathan.


"Jadi kamu juga akan ikut ke pestanya, sayang?" tanya nenek Kenzo memastikan.


"Iya Nek, Kak Kenzo yang minta di temani,"


"Uuhuuk... uhuuuuk!


Jawaban Salsa langsung membuat Kenzo tersedak makanan. Bagaimana tidak, tumben sekali Salsa memangil dia dengan sebutan kakak. Padahal biasanya apa bila lagi di depan para orang tua mereka. Salsa selalu menyebut Kenzo dengan kata dia saja.


"Sayang! pelan-pelan makannya!" seru nenek Kenzo.


"Kak, Ken!" Salsa pun ikut menyerukan nama Kenzo dengan embel-embel kakak sambil memberikan air putih yang sudah tersedia di hadapan mereka.


"Terima kasih!" ucap Kenzo setelah minum dan merasa baikan.


"Eum, makannya pelan-pelan aja," kata Salsa tersenyum kecil. Dia ingin tertawa karena tahu apa penyebab Kenzo sampai tersedak.


"Awas ya! Lo lama-lama gue makan beneran, Sa,"


Gumam Kenzo didalam hati sambil saling tatap dengan sang istri. Untung saja ada kakek dan neneknya, bila tidak ada pasangan baya tersebut. Sudah ia makan istrinya di saat ini juga.


"Ken, sebelum pergi, sebaiknya kalian izin dulu pada Papa Rian. Kakek tidak ingin terjadi sesuatu pada kalian berdua." saur kakek Fathan. Mana mungkin dia membiarkan Kenzo membawa Salsa begitu saja.


Cucu menantunya itu diibaratkan sebuah berlian mahal dan langka, yang begitu dijaga oleh keluarganya.


"Kakek tenang saja, setelah dari butik kami memang akan pulang ke sana dan mungkin tidak akan kesini lagi, ya Kan sayang?"


Uhuuk!


Uhuuk!


Sekarang bergantian Salsa yang tersedak makanan. Biasanya dia tidak fokus saat Kenzo memanggilnya sayang. Tapi kali ini berbeda, dia sedang makan.


"Sayang, makanya pelan-pelan aja," bergantian memberi air minum dan mengelus punggung istrinya.


"Sayang, minum dulu," seru nenek Kenzo saat mendengar Salsa tersedak. Tidak tahu saja mereka, kalau Kenzo dan istrinya lagi saling mengerjai.


"Ehm... thanks!" ucap Salsa yang masih terbatuk-batuk. Lalu ia menoleh kearah si nenek dan berkata. "Iya, Nek. Ini sudah minum." jawabnya sopan.


"Sudah, sekarang makan saja, jangan sambil berbicara agar tidak ada yang tersedak makanan lagi." sela kakek Fathan. Yang diiyakan oleh semuanya.


Beberapa menit setelah selesai menghabiskan sarapan masing-masing. Kenzo dan Salsa langsung berpamitan karena mumpung waktunya masih pagi.


"Sorry!" ucap Kenzo setelah memasang sabuk pengaman pada tubuh istrinya.


"Buat?" tanya Salsa karena tidak tahu kenapa suaminya minta maaf.


"Sudah membuat Lo tersedak makanan," Kenzo tersenyum. Sebetulnya dia bukan berniat balas dendam, tapi memang ingin memangil Salsa sayang.


"Jadi Lo bales dendam ceritanya, gara-gara gue sudah manggil Kakak?" menatap penuh selidik.


Cup!


"Jangan marah, gue nggak lagi balas dendam. Hanya ingin manggil sayang saja, memangnya tidak boleh?" jawab pemuda itu jujur. Tapi jangan lupakan dia sudah mengecup bibir Salsa. Semenjak berciuman pagi kemarin, Kenzo semakin berani dan menunjukkan sifat seperti pemuda lain apabila sedang bersama pacarnya.


"Eum... ayo jalan sekarang," Salsa mengalihkan topik pembicaraan mereka, karena dia belum tahu akan menjawab apa. Tidak tahan merasa pipinya yang panas tiba-tiba. Gadis itu pun membuang pandangan matanya kearah luar jendela.


"Oke, kita berangkat sekarang. Butik waktu itu, 'kan?" karena tahu istrinya malu Kenzo tidak berbicara lagi. Mungkin dia memang terlalu buru-buru. Salsa adalah gadis yang minim akan pengalaman berpacaran. Jadi sudah pasti belum nyaman bila dipanggil sayang, atau sebagainya.


Selama dalam perjalanan. Keduanya tidak ada yang berbicara, Salsa dan Kenzo sama-sama larut dengan pikirannya masing-masing. Kenzo lagi memikirkan pesan yang dikirimkan orang tua Mia tadi pagi. Beliau mengatakan jika ingin menitipkan Mia selama dua Minggu ke depan. Sebab mereka ingin pergi keluar negeri untuk mengurus perusahaan yang sudah terbang kalai dan juga memenangkan pikiran agar keduanya tidak mengambil keputusan yang salah.


Saat ini Kenzo bingung, ingin menolak dia merasa tidak enak dan kasihan pada Mia juga. Mau diiyakan, ada hati yang berusaha ia jaga. Makanya dia belum bercerita pada istrinya.

__ADS_1


Kriiit!


"Ken, Lo lagi mikirin apa?" tanya Salsa karena Kenzo mengerem mendadak. Bila tidak cepat tersadar, mungkin mobilnya telah menabrak mobil lain yang ada di depan mobil Kenzo.


"Astaga! Maaf, gue hampir membahayakan nyawa kita berdua," seru Kenzo mengusap kasar wajahnya.


"It's okay! Lo kenapa? Apa ada masalah?" Salsa yang tadinya melihat kearah samping juga merasa kaget, karena mobil mewah tersebut berhenti secara mendadak.


"Nggak ada, gue cuma lagi mikirin perusahaan kakek," kilah Kenzo tidak mungkin mengatakan yang sebenarnya. "Saat ini Perusahaan sudah hampir bangkrut. Bila kamis besok gue gagal buat menangin Tender yang diadakan perusahaan Papa Rian. Mungkin benar-benar akan gulung tikar." sekarang barulah Kenzo berkata jujur.


"Apa? Apakah pemilik tender besar itu perusahaan Erlangga group?" kata Salsa memastikan.


"Huem, iya benar! Jika gue berhasil menangin Tender dari perusahaan Erlangga. Maka gue bisa menyelamatkan perusahaan kakek yang kini gue pegang," papar Kenzo sesuai fakta yang ada. Dia memang sering menceritakan masalah pekerjaannya di perusahaan. Walaupun Salsa tidak paham, karena Salsa bukanlah jurusan perkantoran. Tapi Kenzo merasa beban nya berkurang, bila sudah bercerita.


"Kalau begitu minta bantuan papa aja, agar tender tersebut di kasih ke perusahaan Kakek Fathan. Kenapa harus bingung?"


Mendengar ucapan istrinya. Kenzo tersenyum sambil mematikan mesin mobilnya, karena mereka sudah sampai ke tempat yang dituju.


" Iya, jika mau bermain curang! Tapi gue ingin murni kerja dengan jujur, karena gue nggak mau ngasih anak sama istri gue harta haram dan tidak berkah. Mungkin saja Tander itu akan menjadi milik seseorang yang sudah bersusah payah bekerja dengan benar. Namun, semua usahanya sia-sia saja karena tanpa berbuat apa-apa. Gue menjadi pemenangnya." jelas Kenzo tidak ingin memanfaatkan kekuasaan mertuanya.


"Ken... Gue do'akan semoga Lo yang menang," ucap Salsa memberikan semagat. Tadinya dia ingin mengucap kan bahwa dirinya sangat terharu pada kejujuran Kenzo.


"Hanya segitu? Nggak ada kata penyemangat yang lainnya?" ucap Kenzo menaik turunkan alisnya.


"Baiklah, kalau begitu gue beri penyemangat yang lain. Eheum! Lo harus pejamin mata, gak boleh lihat." kata Salsa tersenyum manis.


Tentu saja dengan senang hati Kenzo menuruti perintah sang istri. Sampai beberapa detik kemudian dia merasakan bibir istrinya menempel pada pipi sebelah kirinya.


Cup!


"Semangat Hubby!" bisik Salsa yang langsung berlari keluar dari mobil sebelum Kenzo membuka matanya.


"Ck, kenapa nggak gue kunci aja pintu mobilnya, biar dia gak bisa lari keluar." ucap Kenzo merasa gemas sambil menyentuh pipinya yang dikecup sekilas.


"Selamat datang, Nona Muda," sapa pegawai butik yang sudah mengenal Salsa. Pemilik butik tersebut adalah sahabat baik Ayla mamanya. Yaitu Riri, gadis cantik yang mengambil satu jurusan dengan Ayla. Namun, semenjak memiliki anak, Ayla berhenti total dari urusan mendesain seperti jurusan sekolah yang ia ambil saat kuliah. Dia hanya menjadi ibu rumah tangga biasa. Begitu juga dengan Sari, mereka hanya fokus mengurus keluarganya saja.


"Iya, terima kasih.. Apa Tante Riri nya ada?" tanya Salsa melihat kearah Kenzo yang baru menyusulnya masuk.


"Ken!" seru Salsa menatap ke arah sang suami. Sedangkan yang ditatap hanya tersenyum tampan.


"Ayo jalan! Atau mau gue gendong?" goda Kenzo yang langsung mendapatkan tatapan tajam dari Salsa, karena para pegawai menoleh kearah meraka berdua. Sebab Kenzo berbicara dengan suara cukup keras.


"Gue nggak kemana-mana, jadi jangan manggil terus." kata Kenzo bukannya takut mendapat tatapan tajam. Namun, malah semakin senang menggoda sang istri.


"Sudah ah, nggak akan habis ngomong sama Lo," Salsa akhirnya membiarkan terserah Kenzo mau berbicara apa. Dia berjalan saja mengikuti pegawai butik.


Tok!


Tok!


"Masuk!" jawab Riri dari dalam ruangan kerjanya.


Ceklek!


"Sayang, kalian sudah datang!" sambut Riri langsung berdiri dan memeluk keduanya secara bergantian.


"Iya Tan, Tante sudah dikabari oleh mama ya?" tebak Salsa karena kata pegawai butik jika Riri sudah menunggu kedatangan mereka.


"Benar, mama mu yang menelepon. Katanya princess mau berangkat ke pesta bertopeng. Tante disuruh menyiapkan gaun untukmu." jawab Riri yang sudah mengajak pasangan muda tersebut duduk di sofa. Tidak lupa, ia juga sudah menyuruh pegawai mengambil gaun yang sudah dia siapkan.


"Tu, kan! Salsa sudah mengira dari awal pasti mama yang memberitahu Tante." ucap Salsa tersenyum, karena mamanya itu selalu memperlakukan dia seperti anak kecil.


Sejauh ini Salsa memang sangat jarang pergi shopping tanpa kehadiran mamanya, karena Ayla merupakan teman terbaik bagi kedua anaknya.


"Biasa, hampir setiap orang tua memang seperti itu." sahut Riri karena dia sudah tidak heran lagi dengan sang sahabat.


"Kenzo, apa kamu sudah memiliki jasnya? Jika belum ada, Tante punya pasangan dari gaun Salsa." tanya perempuan paruh baya itu lagi.


"Belum ada, Tan. Bagus jika sudah ada yang pasangan sama punya Salsa, karena Saya tidak pandai harus mencari sendiri." jawab Kenzo menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.

__ADS_1


"Sekarang kamu tidak sendiri, ada si princess yang siap membantu mencari yang pas untuk suaminya, benar kan sayang," goda Ririn. Sambil menerima gaun yang dibawa oleh pegawainya.


Terima kasih!" ucap Riri singkat. "Sekarang kamu boleh kembali ketempat kerja mu," titahnya lagi. Si pegawai pun hanya mengangguk sopan.


"Princess, ini kamu coba dulu, nanti bagian yang tidak pasnya biar Tante perbaiki." Riri memberikan gaun tersebut pada Salsa. Lalu karena mereka tidak bisa lama-lama Salsa pergi masuk ke ruang ganti. Sedangkan Riri duduk bersama Kenzo.


Tidak lama, hanya sepuluh menit kurang lebih, Salsa sudah keluar dengan gaun pestanya.


"Waw! Ternyata sangat cocok pada tubuhmu sayang." seru Riri langsung berdiri untuk melihat dengan detail. Agar tidak ada yang terlewatkan dari penelitian matanya.



"Cantik!" Gumam Kenzo yang masih bisa didengar oleh Riri dan Salsa. "Yang ini saja Tan, Saya sangat menyukainya." ucap Kenzo sebelum istrinya dan Riri bertanya dia sudah menentukan pilihan yang menurutnya cocok.


"Ini gaun buat gue atau buat Lo, sih?" tanya Salsa merasa heran. Seharusnya yang menentukan cocok atau tidaknya adalah dirinya, bukan Kenzo.


"Tapi gue suka yang ini, sudah nurut sama suami." Kenzo mulai memberikan penegasan. Lalu setelah itu dia berkata lagi pada Riri yang tertawa melihat perdebatan antara Kenzo dan Salsa. "Oya Tan, bisa nggak, jika bagian dadanya jangan terlalu terbuka?" tanya Kenzo yang tidak ingin tubuh istrinya dilihat oleh banyak orang.


Mengigat nanti malam semua sahabatnya juga hadir. Jadi Kenzo mencari cara agar hanya dia yang melihat keindahan tersebut.


"Ha... ha... Tentu saja bisa, karena gaun ini memang ada pasangan untuk menutupi bagian dada. Bila si pemilik mau menutupnya." jawab Riri masih tertawa bahagia.


"Ken, Lo apa-apaan sih? Ini kan gue yang make?" protes Salsa semakin dibuat terheran-heran mendengar permintaan suaminya.


"Di pestanya nanti malam, hampir semua anak-anak kampus datang. Gue nggak mau mereka melihat Lo seperti harimau kelaparan." jujur Kenzo tetap dengan keputusannya. "Lagian memangnya Lo mau mereka melihat seperti itu?" tanya Kenzo agar Salsa bisa memikirkan perkataan nya.


"Eum... gue nggak mau lah dilihat seperti itu," jawab Salsa menggelengkan kepalanya. Lalu dia berkata lagi. "Tapi buat penutup bagian atasnya jangan yang panjang, gue risih."


"Tanya sama Tante Riri saja." Kenzo menunjuk kearah Riri yang baru saja datang mengambil penutup di bagian dada agar tidak terpampang dengan jelas.


"Ini, coba dulu, Nak." Riri membantu memasangkan langsung pada tubuh di bagian dada Salsa.


"Perfect! gue suka banget!" seru Kenzo ikut berdiri dan mendekati Salsa. "Kan jika seperti ini bertambah cantik," puji pemuda itu tersenyum senang, karena Salsa menuruti kemauannya.


Eheuum!


Ehuuem!


"Jika mau bermesraan lihat- lihat tempat jangan di hadapan Tante," Riri berdehem sambil menggoda keduanya.


"Tante," Salsa tersenyum malu. Selama ini ia dan Kenzo tidak pernah di goda. Jadi wajar jika Salsa merasa tersipu.


"Menurut Tante memang seperti ini lebih bagus dan lebih baik, Nak. " kata Riri ikut memberi pendapatnya.


"Iya, kalau begitu Salsa pilih yang ini saja, Tan." ucap Salsa sambil melihat kearah Kenzo. Sebetulnya ia juga tidak ingin berangkat dengan tampilan terbuka seperti tadi.


Tapi dia sengaja membiarkan Kenzo memberi penilaian. Sebab menurut cerita Ayla mamanya. Bila laki-laki mencintai pasangannya. Maka tidak akan pernah mau kekasih, ataupun istrinya dilirik oleh orang lain. Hal itulah yang lagi Salsa coba cari tahu.


Saat Kenzo masih mandi tadi pagi. Salsa memang sempat teleponan dengan mamanya. Nah saat itulah Ayla mengajari putrinya.


"Oke, kalau begitu biarkan pegawai Tante yang mengantarkan ke rumah mamamu." putus Ririn karena mereka butuh waktu untuk menyiapkan gaun tersebut agar nanti malam Salsa tinggal memakainya.


"Kenzo, apa jas mu tidak ingin di coba dulu?" tanya Riri pada Kenzo.


"Tidak usah, Tan. Ukurannya sama seperti jas waktu itu, 'kan?" tolak Kenzo, karena beberapa Minggu lalu dia sudah pernah ke butik Riri untuk mengukur baju untuk acara keluarga besar Erlangga.


"Iya benar! Tante kebetulan membuat ukuran yang sama dengan tubuhmu. Eeh tau-taunya memang pas sekali untuk kalian berdua lagi." ungkapan Riri yang secara kebetulan malah Salsa dan suaminya akan ke acara pesta ulang tahun.


"Baiklah, jika begitu kami permisi untuk pulang sekarang ya, Tan. Nanti pesanannya tolong antarkan ke rumah Mama Ayla." ucap Kenzo sambil melihat jam tangannya.


"Iya, Tante akan mengirimkan ke sana. Sekalian punya kakak kalian."


"Maksud Tante, Kak Arsya?" tanya Salsa memastikan.


"Iya, kan kakak tampan mu juga ikut ke acara tersebut. Untuk menghadiri undangan dari rekan kerja papa kalian." jawab Riri yang mengira jika Salsa sudah mengetahui bahwa Arsya kakak kembarnya juga akan berangkat ke acara yang sama.


BERSAMBUNG...


.

__ADS_1


.



__ADS_2