
🥀🥀🥀🥀🥀
.
.
Siang harinya. Pukul setengah dua siang.
Saat ini Kenzo dan Salsa sudah berada di kediaman mertuanya tadi setelah bertemu dengan aurelia sahabat Salsa dan Arsya mereka langsung ke laundry dan pulang tepat waktu sebab Kenzo sudah memiliki janji akan ke perusahaan Erlangga group bersama sang mertua.
"Sayang, aku berangkat dulu ya, kamu istirahat aja. Mana tahu kan nanti malam kita mengulangi percintaan---"
"Ken, Ken, Stop! Jika mau pergi sana cepat, jangan buat gue malu," sela Princess menutup mulut Kenzo menggunakan telapak tangannya jangan lupakan pipinya yang memerah karena merasa malu apabila mengingat seperti apa pergumulan panas yang mereka lakukan sejak tadi malam.
Cup!
"Kenapa harus malu, kita adalah suami istri. Jujur ya, aku sangat menikmatinya," ucap Kenzo tersenyum karena semakin senang melihat istrinya yang kesal.
"Iya, iya! Sekarang cepat pergi sana! Papa sudah nungguin tuh," usir Salsa karena ia sendiri juga akan pergi untuk menemui Mia. Selagi di rumah tersebut tidak ada orang, makanya tadi secara diam-diam Salsa telah mengirim pesan pada Mia, agar pertemuan mereka dimajukan menjadi jam dua siang. Tidak jadi nunggu sore harinya seperti permintaan Mia tadi malam.
"Eum... nanti malam boleh kan, kita ulangi lagi?" tanya Kenzo Sudah ketagihan dengan apa yang mereka lakukan dari semalam dan berlanjut tadi pagi.
"Memangnya kamu tidak lelah, bukannya malam ini ada pertandingan?" kata Salsa yang juga tidak memungkiri bahwa dirinya juga ketagihan.
"Tidak, anggap saja sebagai hadiah karena aku memenangkan pertandingan nanti malam,"
"Apa! apakah aku tidak salah dengar? Bagaimana mungkin kamu bisa yakin akan menang,"
Cup, Cup!
"Yakin dong, pasti aku akan menang, karena nanti malam ada penyemangat ku yang datang," Kenzo katanya mau berangkat malah semakin memeluk Salsa dengan erat, dan menciumi wajahnya berulang kali. Saat ini kedua pasangan itu lagi berdiri di samping tempat tidur.
"Baiklah, baiklah! Tidak apa-apa, asalkan sekarang pergi saja temani papa Oke perusahaan Erlangga. Aku akan menunggu di rumah, oke," ucap Salsa sudah tidak sabar akan berangkat secara diam-diam.
"Huem, kalau begitu aku berangkat dulu. tapi ayo antar aku sampai ke bawah rasanya aku tidak mau meninggalkanmu sendirian di rumah ini minta cancel benar-benar sudah menjadi pria aku tidak jauh dari istrinya.
"Huh!" si Princess mengalah nafas panjang sebelum mengiyakan permintaan sang suami. "Ayo aku antar ke bawah, kalau perlu sampai ke mobil," ucapnya sedikit jutek.
Tidak bicara apa-apa lagi Kenzo pun merangkul mesra istrinya, sambil berjalan keluar dari kamar dan menuruni tangga satu persatu. Menuju ke ruang tengah karena mertuanya sudah menunggu di sana sejak tadi.
Namun, namanya juga anak muda, jika ingin pergi harus mau habiskan waktu untuk berpamitan hampir setengah jam lamanya. Untung saja Rian adalah mertua yang sabar dan mengerti bahwa anak dan menantunya sedang menikmati indahnya biduk rumah tangga yang baru mereka rasakan.
"Pa, maaf ya sudah lama menunggu," ucap Kenzo yang langsung mengalihkan perhatian Rian. Pria paruh baya itu meletakkan remote TV di atas meja lalu berdiri mendekati anak dan menantunya.
"Tidak apa-apa, Papa juga tahu jika dirimu sedang berpamitan," kata Rian tersenyum menggoda Kenzo dan Salsa. Lalu dia berjalan ke arah Princess dan berkata.
"Sayang, Papa sama Ken mau ke perusahaan, adek tunggu di rumah saja. Tidak boleh kemana-mana," Rian mengelus kepala sang putri penuh kasih sayang.
"Oke, Papa tidak perlu khawatir," jawab Salsa tersenyum menyakinkan.
"Mama dan Kakak mu tidak akan lama, sebentar lagi pasti akan pulang," ujar Rian lagi.
"Iya, Papa tidak perlu cemas, Salsa akan di rumah," tiba-tiba princess memeluk ayahnya. Sebab hari ini dia akan berbohong untuk mengurus masalahnya dengan Mia. Bila bicara lebih dulu pada keluarganya, tentu Salsa akan dilarang menemui Mia yang memiliki tempramen seperti psikopat. Semenjak Kenzo menolaknya, wanita itu sudah menunjukkan sifat aslinya.
Maka dari itu juga Salsa memutuskan untuk menemui Mia, karena si princess sangat yakin, jika wanita itu memiliki rencana terhadap suaminya. Salsa tidak akan membiarkan hal itu terjadi.
Cup!
"Papa hanya takut terjadi sesuatu padamu, Nak. Makanya Papa selalu mengutus orang untuk menjaga kalian," Rian memberikan ciuman pada kening sang putri. Kesalahan di masa lalu yang hampir menghilangkan nyawa istri dan kedua anaknya. Membuat Rian sangat menjaga ke tiganya.
"Ternyata Papa sangat penyayang, dia benar-benar menjadi contoh yang baik untuk anak-anaknya, gue aja mengidolakan banget sifat baik papa. Pantas saja dia diam-diam mau mengurus perceraian kami, untungnya gue belum terlambat. Kalau tidak Duda sebelum mencoba gue."
__ADS_1
Gumam Kenzo yang melihat sendiri seperti apa Rian menyayangi istrinya.
"Sudah ya, kami kami berangkat dulu," sebelum pergi Rian mengacak rambut putri kesayangannya dan tersenyum. Hari ini di perusahaan lagi libur, makanya Rian ingin membawa Kenzo ke sana. Sebab tidak ingin terlalu banyak orang yang tahu jika dia akan menyerahkan sebagian urusan perusahaannya pada sang menantu.
Cup, Cup, Muuuah!
"Aku pergi dulu, baik-baik di rumah, jangan lupa untuk istirahat dan aku sangat mencintaimu," ucap Kenzo kembali berpamitan. Salsa hanya tersenyum manis agar Kenzo dan papanya cepat-cepat pergi. Dia tidak memiliki banyak waktu, sebab sebelum mama dan kakaknya kembali, dia sudah harus pergi.
"Akhirnya!" seru Salsa menghela nafas lega. Lalu dia berlari menaiki tangga untuk kembali ke kamarnya. Tiba di dalam kamar Salsa menganti pakaiannya mengunakan celana jeans panjang dan juga baju kaos pendek beserta jaket.
"Mia, tunggu kedatangan gue," ujarnya tersenyum seraya mengambil ponsel dan juga kunci motor Arsya yang sudah dia sembunyikan dari tadi.
"Nona Muda, Nona mau pergi ke mana?" tanya asisten rumah tangga yang baru saja menutup pintu depan.
"Bibik, Salsa mau pergi menyusul mama sama kakak, katanya Salsa di suruh ke sana," jawab Salsa tersenyum agar tidak terlihat jika dirinya lagi berbohong.
"Agh, masa sih? Memangnya Nona mau menyusul pakai apa? Roby lagi tidak ada, Non. Dia baru saja di suruh Pak Ilham pulang ke rumah utama," si bibik terlihat ragu-ragu, karena semenjak dia bekerja di keluarga Erlangga. Belum pernah melihat Salsa pergi seorang diri. Kecuali bersama Roby, sopir kepercayaan Rian.
"Saya di suruh membawa motor, sudah bibik tenang saja. Ini perintah dari mama, dia tidak akan marah. Oke!" setelah itu Salsa langsung saja pergi ke garasi. Lalu dia mengenakan helm dan memanaskan motor besar kakaknya.
Meskipun nantinya dia pasti akan dimarahi habis-habisan bila sampai ketahuan. Namun, princess tidak perduli, yang penting dia sudah menemui Mia. Agar wanita itu tidak meneror dia lagi.
Saat melewati pos satpam, Salsa juga masih di persulit, karena mereka semua bertanggung jawab bila terjadi sesuatu pada Salsa. Untung saja Salsa berhasil meyakinkan para penjaga. Begitu keluar dari pagar rumahnya, dengan kecepatan sedang, Salsa terus mengendarai roda dua yang sudah lama tidak pernah lagi dia naik.
"Wah seru banget, seharusnya gue lebih sering lagi naik motor seperti ini," ucap Salsa tersenyum bahagia. Dia bagaikan burung baru keluar dari kandangnya.
"Papa, Mama, Ken, Kakak. Maaf ya, princess bohong, tapi hanya hari ini saja," ujarnya yang sudah tiba di lampu merah.
Setelah mengendarai motor tersebut kurang lebih dua puluh lima menit. Salsa memarkirkan kendaraannya lebih dulu, baru setelah itu dia berjalan kearah Taman yang terlihat sepi. Sebab waktunya tidaklah tepat.
Sebetulnya Salsa mengajak bertemu di Restoran seperti permintaan gadis itu. Namun, tiba-tiba Mia mengajak bertemu di Taman yang terbuka. Salsa yang sudah terlanjur pun mengikuti saja.
"Salsa!" seru Mia ketika melihat yang datang adalah Salsa bukan Kenzo mantan sahabatnya.
"Kenapa Elo kaget, memangnya gue hantu," jawab Salsa tersenyum mengejek. Sebelum Mia menjawab, Salsa yang masih memeluk helm duduk di kursi kosong yang ada dihadapan Mia.
"Mana Kenzo? Gue mau ketemu sama dia, bukan Elo," ucap Mia semakin ketus.
"Enggak salah Elo nanyain suami gue? Emang ya," kata Salsa yang tidak takut sama sekali. Padahal dia tidak tahu jika ada bahaya besar yang menantinya.
Hari ini, Mia tidak datang seorang diri. Namun, dia datang bersama ayah dan juga seorang pria yang memilik dendam dengan keluarga Erlangga. Dia adalah anak dari Anton yang tewas di tangan Tuan Heri Erlangga saat menyelamatkan Ayla mamanya.
Putra dari Anton itulah yang menjebak Salsa beberapa bulan yang lalu. Namun, karena keamanan di hotel milik keluarga Erlangga sangat ketat. Dia gagal untuk menjatuhkan perusahaan Erlangga group dengan jebakan yang ia buat.
Mengetahui jika Perdi orang tua Mia lagi dalam kesulitan masalah keuangan. Dia memberikan bantuan dana. Dengan syarat harus membantunya balas dendam.
Bagi orang-orang yang memiliki sifat iri dan dengki. Tentu tidak sulit untuk diajak bekerja sama, yang mereka kira akan sama-sama untung.
Perdi mendapat untung karena perusahaannya bisa berdiri kembali, dan Mia bisa mendapatkan Kenzo. Sedangkan putra Anton yang bernama Robert bisa membalaskan dendam atas kematian ayahnya yang tidak terhormat.
"Ha... ha... mimpi! Elo hanya mimpi Salsabila, karena sebentar lagi Elo hanya tinggal namanya saja dan... Kenzo akan menjadi milik gue," tawa Mia karena merasa dia menjadi pemenang sebenarnya.
"Oya, gue kok nggak yakin ya," jawab Salsa masih tetap tersenyum.
"Dasar, Elo sudah berani merebut Kenzo dari gue," Mia berdiri ingin menampar Salsa. Namun, tangannya hanya menggantung di udara, karena Salsa sudah menahan dan balas menampar Mia pipi kiri dan kanan wanita itu.
Plaak!
"Ini karena Elo sudah berani ingin menjebak Kenzo," ucap Salsa menampar cukup keras
Plaaak!
__ADS_1
"Dan tamparan ini karena Elo berniat buat merebut suami gue," seru Salsa yang tidak sampai di situ. Tapi dia juga mendorong tubuh Mia ke tanah, karena wanita itu ingin balas menamparnya.
"Brengsek! Elo mau mati, hah!" Mia mengeluarkan pisau kecil yang ia bawa di dalam tasnya. Namun, baru saja dia akan menusuk pada dada Salsa. Sebuah dorongan dari samping membuat dia hilang keseimbangan sehingga terjatuh.
"Aaaghk!" jerit Mia karena pisau tersebut melukai jari tangannya sendiri.
"Berani Elo menyentuh adek gue, maka gue sendiri yang akan menghabisi nyawa Elo di sini juga," ucap Arsya melindungi adiknya dari depan. Sekarang Salsa sudah berada dibalik tubuh kekar kakaknya.
"Kakak," seru Salsa memeluk Arsya. Dia tidak menyangka jika sang kakak akan menyusul dia ke sana.
"Adek, sudah jangan takut, Kakak tidak akan membiarkan siapapun menyakiti dirimu," jawab Arsya membalas pelukan adiknya. Dia benar-benar merasa lega, karena bisa datang tepat waktu.
"Bagaimana Kakak bisa tahu jika adek ada di sini?" Salsa mendongak menatap muka sang kakak menunggu jawaban.
"Tadi Kakak di kasih tahu sama bibik, katanya adek pergi membawa motor, Kakak kira yang membawanya papa atau mungkin Kenzo," jawab Arsya yang selalu tahu jika adiknya dalam bahaya.
Flashback on.
"Kak, motor Kakak kemana?" tanya Ayla begitu mobil mereka berhenti di garasi rumah mewah tersebut.
"Tidak tahu, Ma, mungki---"
"Nyonya, Tuan Muda, syukurlah kalian sudah kembali," seru si bibik berlari kearah majikannya.
"Bibik, ada apa? Semuanya baik-baik saja, 'kan?" tanya Ayla dengan khawatir. Sebab biasanya asisten rumah tangganya tidak pernah seperti itu.
"Motor Kakak di bawa siapa, Bik? Bukan Salsa yang bawa, 'kan?" kali ini Arsya yang bertanya.
"Itu dia masalahnya, Den, Non Salsa yang membawa motor nya, tadi Bibik sudah melarang, tapi kata Non Sal---'
"Ma, Kakak pergi dulu, Mama kabari Papa," ucap si tampan Arsya sudah kembali masuk kedalam mobilnya. Jantungnya seakan berhenti berdetak. Pikiran buruk tentang adiknya sudah berputar kemana-mana.
"Arsya, Arsya kamu mau kemana? Tunggu di rumah, telepon papamu lebih dulu, Nak," teriak Ayla yang sudah tidak dihiraukan lagi oleh putranya.
Ttttddd!
Tttdddd!
"Pa, ayo anggkat!" ucap Arsya mengendarai mobil sambil mencoba menghubungi papanya. Namun, beberapa kali tersambung, tidak diangkat juga oleh sang ayah.
Tidak putus asa, si tampan kembali mencoba menghubungi Kenzo. Namun, juga tidak diangkat. Sehingga Arsya memutuskan untuk berangkat sendiri ke titik lokasi adiknya pergi.
Satu hal yang tidak di ketahui oleh princess. Jika di MotoGP sang kakak terdapat GPS. Alat pelacak di mana tempat adiknya berada. Sehingga tidak mempersulit Arsya untuk menemukan adiknya.
Flashback off...
"Kakak, maaf sudah membuat Kakak khawatir," ucap Salsa merasa bersalah.
"Sudah tidak apa-apa, yang penting adek baik-baik saja. Kakak hanya khawatir terjadi sesuatu sama adek," Arsya melepas pelukan pada adiknya dan melihat Mia yang menatap mereka penuh kebencian.
"Apa yang membuat Elo begitu berambisi menyakiti adek gue? Jika itu karena Kenzo, gue nggak yakin," tanya Arsya yang tidak bisa menilai sesuatu dengan asal.
Prok!
Prok!
"Wah, wah! Sungguh kau benar-benar keturunan Erlangga dan Ridwan rupanya," suara tepuk tangan dan tawa yang penuh ejekan mengalihkan perhatian Arsya dan Salsa. Kedua saudara kembar itu begitu kaget setelah mengetahui jika di sekeliling mereka ada segerombolan orang yang tidak dikenal.
Namun, fokus Arsya adalah melindungi adiknya. Meskipun nyawa taruhannya dia tidak peduli, asalkan sang adik bisa baik-baik saja.
BERSAMBUNG...
__ADS_1