Pernikahan Salsa

Pernikahan Salsa
Lagi sakit hati.


__ADS_3

🥀🥀🥀🥀🥀


.


.


Cekleek!


Kenzo membuka pintu kamar mandi. Bagitu melewati ranjang, ia dikagetkan dengan pakaiannya yang sudah disiapkan di atas ranjang tempat tidur. Tahu jika pakai tersebut di siap oleh Salsa. Kenzo langsung saja memakainya.


Hatinya terasa berbunga-bunga. Padahal istrinya hanya menyiapkan pakaian saja. Setelah dirasa siap semuanya, Kenzo megambil ponsel, kunci mobil dan tas yang sudah ia siapkan tadi malam.


Dia tahu pasti Salsa sudah turun lebih dulu karena tas sekolah istrinya sudah tidak ada. Tiba di lantai bawah Kenzo langsung saja menuju meja makan. Disaat pagi seperti ini sudah pasti semuanya lagi berkumpul di sana.


"Pagi semuanya!" sapa Kenzo mengambil tempat duduk disebelah sang istri yang hanya diam tidak berkata apa-apa.


"Pagi juga," jawab Tuan Fathan yang sudah siap dengan setelah baju kantornya.


"Iya, pagi juga sayang," jawab neneknya juga.


"Pagi Sa," sapa Kenzo pada Salsa yang diam tapi tangannya sudah mengisi piring untuk suaminya.


"Heum, pagi juga." jawabannya singkat. Setelah itu Salsa tidak bicara apa-apa lagi sampai mereka berpamitan berangkat pada pasangan paruh baya tersebut.


"Sa... Lo sakit?" Kenzo yang sudah tidak tahan akhirnya bertanya juga. Saat mereka masih berada di rumah wajah Salsa tidak semurung sekarang. Entah apa yang terjadi karena Kenzo tidak bisa menebaknya.


"Iya, gue sepertinya lagi sakit hati." seloroh Salsa asal. Namun, berbeda dengan Kenzo, pemuda itu menyergit sampai salah satu alisnya terangkat ke atas.


"Lo sakit hati kenapa? Kayak yang sudah punya pacar aja," ejek Kenzo membuat Salsa semakin jengkel.


"Orang tu berbeda-beda Ken, Ken. Ada yang suka mengumbar hubungannya. Mereka akan bertemu setiap hari, setiap malam bisa pergi jalan sana-sini." Salsa yang mengingat jika tempat yang dia duduki saat ini adalah bekas wanita yang bernama Mia. Menjawab dengan jutek.


Akan tetapi meskipun begitu dia tetap menyalami tangan Kenzo seperti kemarin pagi. Setelah itu dia kembali lagi berkata. "Tapi ada juga yang sengaja menyembunyikan tidak ingin orang lain tahu. Jadi jangan salah menilai," ucapnya tersenyum kecil.


"Maksudnya Lo punya pacar yang di sembunyikan?" tanya Kenzo telat karena Salsa sudah turun dan menutup pintu mobilnya. Gadis cantik itu berjalan masuk ke dalam gerbang tanpa menoleh kearah belakang.


Sedangkan Kenzo hanya bisa menghela nafas karena Salsa tidak menjawab pertanyaan nya.

__ADS_1


"Dia kenapa sih? Apa benar lagi sakit hati? Tapi bukannya dia lagi sakit datang bulan? Oh, mungkin karena hal itu jadi bawaannya jutek terus." kata Kenzo kembali lagi memutar arah mobilnya menuju Universitas Bima Sakti.


Kenzo tipe orang yang tidak mau ambil pusing. Jadi dia tidak memasukan kedalam hati sifat Salsa yang suka berubah-ubah. Hanya kurang lebih lima belas menit. Mobil Lamborghini miliknya sudah tiba di parkiran kampus.


Saat dia keluar dari mobil. Para sahabatnya juga kebetulan baru datang sama seperti dirinya.


"Ken!" sapa Eel dan yang lainnya.


"Kenapa? Ayo masuk," ajak Kenzo berjalan beriringan dengan ketiga sahabatnya.


"Ken, nanti malam Lo latihan nggak?" tannya Hengki yang bertugas mengatur Tim saat latihan.


"Sorry gue nanti nggak latihan, karena setelah pulang dari perusahaan gue mau nginap diru---"


"Nginap di mana, Ken?" sela Eel begitu saja, padahal Kenzo belum menyelesaikan ucapannya.


"Iya Ken, Lo mau nginap di mana?" Andra ikut menimpali.


"Mau nginap di rumah kakek sama nenek gue lah," jawab Kenzo merutuki mulutnya yang hampir salah bicara.


"Lah bukannya Lo memang sudah tinggal disana, ya?" Hengki pun ikut bertanya.


"Tumben banget! Setahu gue, Lo nggak pernah nginap disana," sambil berjalan masuk menuju kelas, mereka masih juga membahas masalah Kenzo yang menginap di Apartemen.


"Nggak tumben, sudah beberapa kali gue nginap di sana." Kenzo memang memiliki Apartemen yang belum pernah dia tempati. Jadi untuk hal itu dia tidak membohongi sahabatnya.


Apartemen tersebut adalah hadiah ulang tahun yang dari Tuan Fathan sendiri agar cucunya mau tinggal bersamanya. Anggap saja sebagai sogokan.


Tidak lama setelah tiba di kelas. Dosen yang mengajar pun sudah masuk. Sebab untuk beberapa hari ini mereka memang masuk pagi. Selama belajar mereka tidak ada yang berani berbicara karena semuanya pokus pada pelajaran.


Sementara itu di SMK Erlangga.


"Sa, Lo nggak berangkat bareng sama Kak Arsya?" tannya Ara sahabatnya. Saat ini mereka baru saja keluar dari kelas.


"Nggak!" jawab Salsa jujur.


"Tumben? Lo berangkat diantar siapa? Sopir atau sama Om Rian?" selama ini Salsa memang selalu pergi bersama Arsya, jadi mereka merasa aneh saja bila kedua saudara kembar tersebut berangkat secara terpisah.

__ADS_1


"Sama sopir. Gue lagi pingin aja, soalnya nggak mungkin kan gue selalu bergantung pada kakak," saat menyebutkan kata bergantung Salsa menghembus nafas kasar. Gara-gara pernikahan dadakan tersebut. Dia baru menyadari saat sudah menikah, sesayang apapun Arsya padanya. Tetap saja tidak bisa berbuat apa-apa bila dibandingkan dengan Kenzo.


Sekarang segala sesuatu Salsa harus bertanya pada Kenzo bukan kakaknya lagi. Memikirkan hal itu membuat mood Salsa langsung berubah buruk.


"Atau Jangan-jangan kalian berdua lagi tengkaran?" tanya Ara lagi karena aneh saja menurut dirinya.


"Sudah jangan ngebahas mobil lagi ya, Ra. Gue sama Kak Arsya nggak lagi tengkaran ataupun sebagainya." pinta Salsa yang tidak ingin mengingat apa penyebab ia dan kakaknya harus berangkat secara terpisah.


"Oke, Oke. Gue bertanya karena buat memastikan saja kalau Lo sama kak Arsya nggak lagi tengkaran." tadi pagi para siswa-siswi begitu heboh karena baru mengetahui jika kedua anak pemilik sekolah mereka berangkat secara terpisah.


Biasanya selalu berangkat bersama. Kecuali ada dari salah satu mereka yang tidak masuk. Tiba di kantin Salsa dan Ara langsung memesan makanan untuk mereka berdua.


Saat pesanan mereka sudah datang. Arsya dan sahabatnya baru tiba di kantin. Suara riuh seperti biasa mulai terdengar, terutama dari kaum hawa. Kedatangan Arsya selalu heboh, sudah seperti selebritis setiap hari selalu seperti itu. Tapi sejauh ini Arsya masih menutup pintu hatinya.


Meskipun saat ini adiknya sudah menikah. Dari dulu dia selalu beralasan ingin menjaga Salsa. Putra pertama Rian dan Ayla begitu menyanyi adiknya. Tidak di sangka-sangka sang adik malah menikah dengan rivalnya.


"Kak!" seru Salsa berdiri untuk memeluk Arsya. Rindu, meskipun baru tadi malam tidak bertemu. Salsa sangat merindukan kakaknya.


"Adek makan dulu, nanti malah makanannya menjadi dingin." ucap Arsya melepas pelukan mereka. Lalu ia dan para sahabatnya bergabung di meja yang sama dengan adiknya.


Termasuk Farel, dia juga ada di sana. Sambil sesekali matanya mencuri pandang pada Salsa. Hanya saja karena dia pendiam tidak seperti Denis dan Dito.


"Dek, nanti pulang bareng kakak, ya?" suara Arsya mengalihkan pandangan mereka semua.


"Iya!" jawab Salsa tersenyum lebar karena itulah keinginannya. Berangkat dan pulang bersama Arsya bukan Kenzo.


Setelah itu mereka semua kembali ke kelas masing-masing, untuk menyelesaikan pelajaran terakhir. Sampai waktunya pulang Salsa menunggu kakaknya di parkiran. Sebab mereka tadi sudah membuat janji, hari ini SMK Erlangga pulang setengah jam lebih awal dari kemarin.


"Sudah lama nunggunya?" tannya Arsya seraya membuka pintu mobil dan menyuruh adiknya untuk masuk.


"Nggak, mungkin baru sepuluh menit." jawab Salsa sudah duduk dengan nyaman.


"Kakak kira sudah lama. O'ya bagaimana kalau kita makan es krim dulu sebelum pulang?" tannya Arsya karena dia mengajak adiknya pulang bersama memang hanya untuk membeli es krim kesukaan mereka.


"Boleh," jawab gadis itu menganguk setuju.


Arsya hanya tersenyum, karena mereka berdua memiliki hobi yang sama, yaitu sama-sama suka makan es krim. Setelah memasang sabuk pengaman pada adiknya. Arsya pun mulai menjalankan kendaraan mewahnya. Rencananya setelah memakan es krim, barulah Arsya mengantar adiknya pulang ke rumah Tuan Fathan.

__ADS_1


*BERSAMBUNG*...


__ADS_2