
🥀🥀🥀🥀🥀
.
.
Di luar, tepatnya di ballroom hotel, acara masih berlangsung, sebagian dari para tamu sudah mulai ada yang pulang kerumahnya masing-masing, karena jam sudah menunjukan pukul sepuluh malam. Sedangkan Kenzo masih berkumpul bersama teman-temannya. Tadi dia memang mengirim pesan pada Arsya untuk mengikuti Salsa ke toilet, sebab Kenzo bukan tidak percaya pada Mia. Namun ia takut ada orang seperti waktu itu, yang kembali menjebak Salsa.
"Ken, Lo nggak mau mencari Bila?" tanya Andra karena melihat Mia hanya kembali seorang diri. Apa lagi saat ditanyakan pada Mia, wanita tersebut menjawab jika Bila yang mereka kenal sudah keluar duluan ketika ia masih berada dalam kamar mandi.
Mia pun terlihat lagi mencari-cari keberadaan Salsa di sela ramainya tamu undangan. Padahal didalam hatinya lagi bersorak senang, sebab berharap jika sudah terjadi sesuatu pada kekasih sahabatnya.
"Nggak lah, dia pasti sudah kembali ke kamarnya yang ada hotel ini. Sebentar lagi gue baru akan memastikan keberadaan Bila." jawab Kenzo yang sebetulnya sudah mengetahui bahwa istrinya sudah kembali ke kamar mereka, yang terletak di lantai paling atas hotel mewah bintang lima tersebut.
"Jadi dia akan menginap di hotel ini?" tanya Eel yang mendengar obrolan kedua sahabatnya.
"Sepertinya iya, soalnya inikan sudah larut malam, Bila biasanya memang seperi itu karena pesan dari orang tuanya tidak boleh pulang ke rumah kalau sudah larut malam," papar Kenzo berbagi sedikit informasi tentang istrinya.
"Apa! Bila sudah kembali ke kamar tempat dia akan menginap? Bila gimana sih, Ken. Seharusnya dia memberi tahu gue," seru Mia terlihat kaget.
Di dalam hatinya, Mia benar-benar merasa dongkol, kamar hotel Bila, itu berarti kamar yang akan Kenzo tempati juga. Sangat menyebalkan, membayangkan Bila yang akan tidur di samping sahabatnya.
"Iya, mungkin dia sudah lelah, jadi memilih untuk istirahat. Kalian nanti pulang duluan saja, karena gue juga masih ada urusan di hotel ini." Kenzo melihat para sahabatnya satu-satu. Itulah alasan dia meminta Arsya langsung membawa Salsa untuk istirahat, karena bila kembali ke tempat acara, maka sudah pasti para sahabatnya akan mengajak pulang serempak.
"Alah, alasan aja Lo, ngomong aja mau honeymoon sama Bila." cibir Eel tidak percaya dan di angguki oleh teman-temannya yang lain.
"Ha... ha... kalian semuanya aneh, selalu mikirnya ke arah ranjang terus," Kenzo tertawa mendengar perkataan Eel. Para sahabatnya selalu menuduh dia sudah boxing kekasihnya. Padahal ciuman bibir saja baru beberapa hari ini.
"Nggak mungkin, jika kalian tidak ngapa-ngapain. Lo lihat tu body Bila seperti apa, kan nggak normal jika tidak terjadi gempa lokal, ya nggak, Men" sekarang bergantian para sahabat Kenzo yang tertawa. Jika mereka lagi berkumpul, selain membahas masalah pertandingan. Maka para gadis lah yang menjadi bahan ghibah mereka.
Intinya hampir sama dengan para ibu-ibu kaum rebahan, jika lagi berkumpul. Seperti itu jugalah, kaum Adam.
"Terserah kalian mau berpikir seperti apa, tapi yang jelas gue belum pernah melakukan hal lebih dari mencicip bibir aja, sama cewek manapun, apalagi Bila, dia belum lulus sekolah. Gue nggak seberengsek itu, Bro. Karena gue juga punya Keysa, gimana rasanya jika adik kita dirusak. Apalagi kalau belum halal, gue mah ogah." jawab Kenzo agar para sahabatnya tidak mengikuti hal yang salah. Nanti gara-gara mengetahui Kenzo sudah tidur dengan cewek. Mereka malah melakukan hal yang sama, padahal jika Kenzo tidur dengan pasangan halalnya. Mau seperti apa, juga tidak ada salah dan melarangnya.
"Wah, Lo serius? Gila, gila! Gue salut sama jiwa kelelakian Lo, Men." Andra memuji Kenzo dengan memberikan minuman miliknya sebagai hadiah.
"Kampret! Lo pikir selama ini gue tidak jadi lelaki apa," Kenzo bersiap-siap ingin melempar Andra mengunakan ponselnya. Namun, langsung ia hentikan karena benda tersebut malah bergetar.
"Wah, Princess? Lo punya nomor Salsa, Ken?" tanya Eel yang tidak sengaja melihat nama yang tertera sama dengan foto si penelepon. Eelano mengenal foto tersebut.
"Apaan sih, ya bukanlah! Gue cuma ss foto Salsa aja, ini tu nomor Bila yang lagi menelepon. Kalau nggak percaya, kalian dengar aja suaranya." elak Kenzo merutuki kebodohannya yang tidak sadar, jika tadi Eel berdiri di samping kursi tempat dirinya duduk.
📱 Kenzo: "Iya sayang," jawab pemuda itu setelah menggulir tombol hijau pada layar ponselnya.
📱 Incess : "Apa masih di ballroom hotel? Kesini sebentar ya, aku ingin sesuatu." jawab Salsa menahan tawanya. Dia sengaja melakukan hal tersebut, agar Kenzo tidak dekat-dekat dengan Mia. Wanita yang sudah ia buat nama si lampir.
📱 Kenzo: "Oke, tunggu sebentar," setelah sambungan telepon mereka terputus. Kenzo menyimpan kembali ponselnya. Lalu dia menatap semua sahabatnya dan berkata. "Sorry gue duluan, karena gue mau melihat bila."
__ADS_1
"Ken, tunggu! Lo nggak akan lama kan? kalau nggak lama, gue mau numpang saat pulangnya," Mia dengan cepat mencegah kepergian Kenzo.
"Gue belum tahu, Lo pulang bareng sopir aja ya, besok gue akan ke rumah Elo, karena mau bicara sesuatu sama bokap om," ujar Kenzo tidak mungkin malam ini bisa pergi dari hotel tersebut.
"Eum, iya. Nggak apa-apa. Sampai bertemu besok pagi." Mia mengembangkan senyum karena meskipun tidak bisa bersama Kenzo malam ini, masih ada waktu besok pagi. Apalagi sahabatnya itu akan datang ke rumahnya. Mia harus bersabar, karena dia memiliki banyak kesempatan bukan cuma malam ini.
Tidak ingin mendengar ocehan para sahabatnya yang lain. Kenzo langsung saja pergi dari ballroom dan berjalan kearah lift khusus untuk keluarga Erlangga. Dia langsung menekan tombol angka ke lantai paling atas, tempat istrinya berada saat ini.
Ting!
Suara pintu Lift terbuka, Kenzo yang sudah pernah menginap di sana sebelumnya, yaitu saat acara salah satu keluarga Erlangga. Tidak bingung lagi mencari kamar istrinya.
Tok!
Tok!
Ceklek!
"Ken," seru Salsa membuka pintu. "Masuklah!" ucapnya kembali berjalan menuju ranjang tempat tidur. Sedangkan Arsya sudah tidak ada lagi, dia lagi pergi mengantar pulang gadis yang ia gandeng saat di pesta.
Setelah menutup pintu kamar mereka. Kenzo berjalan menyusul Salsa, dan tanpa gadis itu duga. Kenzo memeluk tubuhnya dari belakang.
"Ken, Ken!" seru Salsa menegang karena Kenzo membuat ia terkejut.
"Huem, apa? Bukannya tadi menelepon karena ingin sesuatu?" sengaja menggoda sang istri yang saat ini sudah memakai baju tidur panjang.
Di peluk seperti itu tentu membuat jantung Salsa semakin berdegup kencang, seakan-akan ingin keluar dari tempatnya.
Cup!
"Lo kenapa seperti kucing takut air? Ini Bila atau Salsa istri gue, sih?" Kenzo membalikan tubuh Salsa dengan cepat, lalu ia tarik lagi pinggangnya sehingga tubuh mereka kembali menempel.
"Ke--Ken, sana cepat ganti pakaian dulu, jangan seperti ini. Nanti Kak Arsya datang tiba-tiba bagaimana?" ucap Salsa terbata-bata dan berusaha mencari alasan yang malah memojokkan dirinya sendiri.
"Benarkah?" melihat kegugupan istrinya, membuat Kenzo semakin ingin menggodanya.
Dengan cepat Salsa mengangguk membenarkan. "Iya, nanti takutnya Kak Arsya datang ke sini,"
Cup!
Kembali lagi mengecup bibir Salsa yang tidak bisa kemana-mana karena tubuhnya ia tahan.
"Ken,Ken!" mata Salsa membola karena kelakuan Kenzo diluar dugaannya. "Lepa---"
Cup!
"Mau bohongin gue, Kak Arsya sudah ngirim pesan kalau dia lagi ngantar Cica pulang ke rumahnya." ujar Kenzo tersenyum menyeringai karena Salsa tidak bisa mengelak lagi.
__ADS_1
Jika dia semakin mencari alasan, maka yang menang banyak adalah Kenzo karena bila kembali berbohong. Bibirnya menjadi taruhannya.
"Ha... ha.. gue lupa!" Salsa tertawa untuk menghilangkan rasa gugupnya. "Ken, ganti baju dulu gih, ini sudah malam. Sudah waktunya Kita tidur," menekan-nekan dada Kenzo mengunakan jari telunjuknya. Biasanya akan mempan, siapa sih yang bisa menolak keinginan Princess.
"Oke, tunggu sebentar gue ganti baju, tapi Lo nggak boleh tidur duluan." kata Kenzo melepaskan istrinya karena dia tahu Salsa sangat jarang tidur di atas jam sepuluh malam.
"Iya, gue tunggu. Tapi jangan lama-lama," jawab Salsa yang penting bisa dilepas oleh suaminya.
Saat Kenzo baru saja masuk ke kamar mandi. Salsa cepat-cepat naik ke atas ranjang dan membungkus tubuhnya mengunakan selimut. Dengan paksa dia berusaha untuk tidur lebih dulu.
"Mati gue, si Ken, Ken pasti tahu jika tadi gue sengaja ngomporin si lampir." masih bergumam dengan mata yang terpejam.
Hanya tujuh menit kurang lebih, Kenzo sudah keluar mengunakan baju salin yang tadi disiapkan oleh Salsa.
"Sa, Lo sudah tidur?" panggil Kenzo ikut naik keatas ranjang. "Mine," bisik Kenzo yang tidak menyangka kalau istrinya benar-benar sudah tidur dalam waktu yang singkat.
"Cup, Cup, Muuuah! Tidurlah, Lo pasti lelah banget," Kenzo mencium pipi istrinya. Lalu sebelum menarik Salsa kedalam pelukannya, Kenzo menurunkan sedikit selimut yang membalut tubuh sang istri, agar tidak kepanasan.
*
*
Sementara itu di lain tempat. Lain pula yang terjadi.
Di hotel bintang lima tapi bukan milik keluarga Erlangga. Rian dan Ayla lagi menonton video kedua anak kembar mereka yang lagi bernyanyi di atas panggung. Kedua pasangan yang masih tetap romantis meskipun umurnya sudah diatas kepala empat itu, baru saja kembali dari tempat acara juga.
"Ternyata mereka berdua sangat mirip seperti dirimu, yang memiliki suara emas, tapi tidak ada yang tahu." ucap Rian memuji istrinya yang semakin hari, malah semakin cantik di matanya.
"Huem, benar! Padahal kakak sama adek sudah jarang berduet seperti ini, tapi tetap saja masih kompak." Ayla tersenyum lebar melihat talenta yang di miliki si buah hati.
"Itu karena mereka seperti ibunya yang pintar, walaupun tidak pernah latihan." Rian kembali lagi memuji karena dia ada maunya yang sudah bisa di tebak oleh Ayla. Meskipun apa yang suaminya katakan memang benar.
"Tapi tetap saja aku hampir pernah kehil---"
Cup!
"Jangan diteruskan lagi! Semuanya adalah kenangan yang buruk untuk di ingat. Lebih baik sekarang kita bersenang-senang. Anggap saja kita lagi berbulan madu," sela Rian mengecup bibir istrinya yang tetap masih terasa manis seperti dulu.
Ayla hanya tersenyum bahagia, karena suaminya itu benar-benar menepati janjinya tidak akan pernah menyakiti istri dan anaknya hanya karena wanita lain. Sudah cukup kesalahan dia yang pernah mempertahankan Bela.
Selanjutnya, entah siapa yang memulai lebih dulu. Kedua bibir mereka sudah sama-sama menempel dan saling membelit lidah. Setelah merasa puas bercumbu, Rian pun mulai turun ke bawah dan memberikan jejak miliknya seperti biasa. Meskipun sudah berumur, Rian tidak pernah puas dan masih saja kuat untuk membuat Ayla menjerit nikmat di bawah Kungkungan nya.
"Aaaggkh!" desah Ayla saat Rian sudah mulai memasukan senjatanya. Perbedaan dulu dan sekarang adalah, Rian tidak pernah mau berlama-lama melakukan pemanasan seperti saat mereka masih muda dulu.
"Aku mencintaimu, istriku," ucap Rian sambil terus berpacu memaju mundurkan pinggulnya. Agar bisa menggali kenikmatan surga dunia bersama wanita yang ia cintai.
Hal yang sama juga di lakukan oleh Ayla, dia pun juga sama lincahnya untuk memberikan kepuasan pada Rian. Untuk saat ini, selain menikmati masa tua bersama orang yang dicintai, mau apalagi. Mereka sudah memiliki semuanya, harta, anak dan bahkan menantu. Tinggal mengawasi si kembar, agar tetap bahagia bersama pasangan mereka masing-masing.
__ADS_1
*BERSAMBUNG*...