Pernikahan Salsa

Pernikahan Salsa
Terlalu Munafik.


__ADS_3

🥀🥀🥀🥀🥀


.


.


"Hai cantik, maukah berangkat bersama ku?" goda Arsya seraya membukakan pintu mobil untuk sahabatnya.


"Ar, kamu membuatku geli," Jeni terkikik sambil masuk kedalam mobil.


Braaak!


"Kenapa jadi geli? Dasar gadis aneh," sekarang bergantian Arsya yang tertawa. Untuk menghilangkan kegalauannya, si tampan Arsya memang sering menggoda Jeni. Sebab gadis itu sangat lucu dan jika bicara blak-blakan.


"Aku bukan aneh, tapi jujur. Aku tidak pernah tertarik pada gombalan pemuda yang serius atau hanya bercanda seperti yang kamu lakukan," ungkapnya sambil memasang sabuk pengaman.


"Tidak perlu dijelaskan, aku sudah menduganya." sambil mengendarai mobil tersebut kearah kampus. Arsya dan Jeni terus saja bercerita sehingga tidak terasa mereka berdua sudah sampai di parkiran universitas tempat mereka menimba ilmu.


"Diam di mobil, biar aku yang membuka pintu mobilnya," cegah Arsya mengambil tas dan juga menarik kunci mobil. Lalu dia turun lebih dulu untuk membukakan pintu sebelahnya untuk sang sahabat.


Baru saja Jeni turun dari dalam mobil. Aurel melintas di samping keduanya. Gadis itu datang mengunakan taksi. Jadi Arsya tidak tahu bahwa ada mantan sahabatanya itu di samping mobilnya. Namun, mata Jeni bisa melihatnya dengan sangat jelas bahwa Aurel menatap mereka berdua dengan tatapan sendu.


"Ar, kamu duluan ya, aku mau menemuinya Vanise. Dia lagi menunggu di sana," Jeni menunjuk ke sembarang arah. Asalkan Arsya percaya pada ucapannya.


"Memangnya ada perlu apa? Kenapa tidak di dalam kelas saja jika dia ada perlu denganmu?" tanya Arsya beruntun. Dia memang mengenal Vanise karena gadis itu adalah salah satu teman satu kelas dia dan Jeni.


Jadi jika menurut dirinya lebih baik sekalian saja di dalam kelas. Kenapa Jeni harus repot-repot menemuinya di luar gedung bertaraf internasional tersebut.

__ADS_1


"Aish, kamu ini! ini urusannya sangat sensitif masalah seorang gadis jadi mana mungkin kami membahasnya di dalam kelas ada-ada saja." desis Jeni tidak sabar agar Arsya segala pergi dari sana karena dia ingin menemui Aurel sangat jarang mereka bisa bertemu seperti pagi ini.


"Oh, ya sudah baiklah! Kalau begitu aku duluan ya, kamu hati-hati jangan pergi kemana-mana. Nanti bisa-bisa Om Vino meminta pertanggungjawabanku karena putrinya hilang di negara ini." ujar Arsya yang paham maksud perkataan sahabatnya itu Sebab Dia juga memiliki seorang adik perempuan.


"Oke, oke! Tenang saja kakakku yang tampan. Aku tidak akan pergi jauh dan hanya sebentar saja," Jeni sengaja menyebut Arsya dengan menekan perkataan kakakku yang tampan, karena saat mereka melakukan panggilan video call bersama ayah dan ibu mereka sudah menitipkan jenny pada Arsya untuk dijaga layaknya seperti adik sendiri.


Baik Vino Anderson ataupun Ayla benar-benar tidak menyangka bahwa putra dan putri mereka bisa bertemu di negeri orang dan kebetulan bisa bersahabat. Apalagi keduanya memiliki jurusan yang sama.


Hubungan persahabatan mereka yang semakin jauh, akhirnya bisa terjalin kembali dengan pertemanan Arsya dan Jeni.


"Huh! Pandai sekali ya untuk mengambil hatiku," cibir Arsya mengacak rambut Jeni sebelum dia benar-benar pergi meninggalkan gadis itu di samping mobilnya.


Maka dari itu banyak dari teman sekelas mereka yang mengatakan bahwa Arsya dan Jeni berpacaran. Sebab selain mereka selalu pergi bersama. Arsya juga selalu bersikap manis pada gadis itu.


Termasuk Aurel sendiri, gadis itu juga mengira bahwa Jeni dan Arsya adalah pasangan kekasih. Sampai-sampai dia menangis sendiri karena tidak menyangka belum sampai satu bulan setelah mengatakan perasaannya terhadap Aurel. Namun, nyatanya Arsya sudah berpacaran bersama Jeni. Begitulah kiranya yang dirasakan oleh Aurelia.


"Why?" tanya Aurel yang mengira bahwa Jeni tidak tahu permasalahan dia dan Arsya. Gadis itu hanya takut jika Jeni menuduh dia yang bukan bukan.


"Jangan takut, aku hanya ingin berbicara denganmu sebentar saja." sebelum Aurel menjawab perkataannya Jeni sudah menarik tangan gadis itu menuju taman di area kampus itu juga.


"Ayo kita duduk di sebelah sana, agar tidak ada orang yang mendengar percakapan kita," ajak Jeni masih menarik tangan Aurel secara paksa. Lalu dia suruh duduk pada bangku taman, begitupun dengan dirinya sendiri.


"Maaf kak, ada apa ya? apakah di antara kita ada masalah?" tanya Aurel bingung dengan tindakan Jeni.


"Tolong jangan panggil aku kakak, karena kita masih seumuran," lain yang ditanyakan oleh Aurel maka lain pula jawaban Jeni.


"Eum, kamu---"

__ADS_1


"kenalkan nama Jeni Anderson. Aku adalah sahabat Arsya," ucap gadis itu mengulurkan tangannya untuk berkenalan lebih dulu dengan Aurel. Selama ini dia hanya tahu nama gadis itu saja karena Arsya sering bercerita.


"Aku Aurelia," jawab Aurel menyambut baik meskipun dia bingung untuk apa Jeni menemui dirinya.


"Huem! Aurel, apakah kamu benar-benar tidak mencintai Arsya lagi?" pertanyaan Jeni tentu saja membuat Aurel langsung menoleh ke arahnya.


"Apa maksudmu?" seru Aurel singkat.


"Maksudku apakah kamu tidak memiliki perasaan suka sebagai pasangan laki-laki dan perempuan pada mantan sahabatmu itu?" tanpa berbasa-basi jenny langsung saja berbicara pada pokok inti permasalahan antara Aurel dan Arsya sahabatnya.


"Aku, aku tidak... pernah menyu---"


"Ck, sudah terlihat dari cara bertatapan kalian berdua, tapi masih ingin menyangkalnya," decak Jeni merasa gemas pada Arsya maupun Aurel. Keduanya memiliki perasaan yang sama. Akan tetapi karena Aurel sudah dijodohkan dengan pria lain.


Akhirnya Arsya menyiksa dirinya sendiri untuk menjauhi gadis itu. Begitu pula sebaliknya Aurel juga menyiksa dirinya karena tidak ingin mengecewakan Arsya Jika dia menikah dengan laki-laki lain.


"Terlihat dengan jelas?" Aurel mengulangi perkataan Jeni.


"Iya, terlihat dengan jelas bahwa kamu dan Arsya saling mencintai. Tapi kenapa kalian begitu bodoh malah memilih jalan untuk saling menyakiti satu sama lain," kata Jeni sambil meniup kan kuku tangannya sendiri. Padahal jari tangan gadis itu tidak kenapa-napa. Namun, memang itu salah satu ciri khas Jeni sejak dulu.


"Jeni, kamu tidak tahu apa yang terjadi di antara kami jadi jangan asal mengambil kesimpulan," jawab Aurel tidak terima dikatain bodoh.


"Benar! Aku tidak tahu apa yang terjadi di antara kalian. Tapi satu hal yang aku ketahui adalah... kamu terlalu munafik sehingga menyakiti dirimu sendiri dan orang yang kamu cintai, Rel."


"Aku tidak munafik, aku hanya tidak ingin menyakiti perasaan Arsya," seru gadis itu lagi. Terdengar suaranya seperti menahan tangis.


"Ha... ha... tidak ingin menyakiti Arsya katamu? Aurel bukalah matamu. Apa kamu tidak melihat betapa dia tersakiti mendengar bahwa kamu akan tetap menikah dengan pria yang dijodohkan dengan mu?" seru Jeni menata tajam kearah Aurel.

__ADS_1


*BERSAMBUNG*...


__ADS_2