Pernikahan Salsa

Pernikahan Salsa
Tidak Semua Masalah, Harus Diceritakan.


__ADS_3

🥀🥀🥀🥀🥀


.


.


Keesokan harinya.


Jam masih menunjukkan pukul sepuluh pagi. Tapi keluarga besar Rian dan Ayla sudah berkumpul di kediaman mereka. Untuk menjenguk keadaan Kenzo. Ya, pemuda tampan itu sudah dibawa oleh Ayla pulang ke rumah mereka. Bukan ke rumah Tuan Fathan kakek menantunya. Sebab Ayla ingin merawatnya sendiri. Tidak mau merepotkan besannya.


Padahal Demian sudah berkata bahwa Xiuan ibunya Kenzo belum akan pulang ke Korea, karena menunggu putra mereka sembuh terlebih dahulu.


Namun, Ayla tetap pada permintaannya, yaitu Kenzo dan Salsa tinggal di kediaman mereka. Alhasil ibunya Kenzo pun mengiyakan karena sebetulnya dia juga tidak bisa berlama-lama tinggal di negara asal suaminya itu. dia dan Demian juga memiliki pekerjaan yang tidak bisa ditinggal.


Apa yang Ayla lakukan tentu saja karena dia mengerti seperti apa sibuknya kedua besan mereka. Berbeda dengan dirinya yang semenjak menikah, tidak ada bekerja di luar rumah. Ayla hanya bertugas mengurus anak dan suaminya.


"Terima kasih, Ma. Ken jadi merepotkan Mama," ucap kenzo dengan tulus. Sekarang dia lagi beristirahat di kamar tamu, yang terletak di lantai satu. Sebab apabila langsung ke lantai atas tempat kamar mereka berada. Selain keadaan Kenzo belum pulih, juga karena sudah pasti para saudara teman-teman maupun kerabat yang akan melihat akan masuk ke dalam kamar.


Sedangkan kamar pribadi merupakan privasi bagi setiap pasangan. Jadilah pagi-pagi sekali Ayla menyuruh asisten rumah tangganya menyiapkan kamar tamu untuk dijadikan tempat tidur anak dan menantunya buat sementara ini.


"Heh! Tidak boleh berbicara seperti itu lagi, kamu anak Mama. Sama seperti Arsya dan Salsa. Jadi jangan pernah merasa sungkan ataupun yang lainnya," seru Ayla tidak ingin Kenzo memiliki pemikiran bahwa merepotkan Ibu mertuanya.


"Iya Ma, Kenzo hanya merasa malu sama Mama, yang sejak awal sudah menyambut Ken dengan kedua tangan terbuka. Padahal pernikahan kami hanya karena keterpaksaan. Belum lagi perbuatan Kenzo yang pernah menyakiti Salsa," ungkap pemuda tampan itu sambil memperhatikan sang mertua menyiapkan bubur untuk dirinya.


Mendengar perkataan menantunya, Ayla menoleh seraya menyematkan senyuman kecil dan duduk di samping menantunya. Yaitu di sisi ranjang karena Kenzo lagi berselonjor dan bersandar pada kepala ranjang pula.


"Karena Mama melihat kamu anak yang baik, makanya langsung membuka kedua tangan Mama untuk menjadikan kamu menantu sesungguhnya, bukan untuk sementara," tutur ibu muda itu dengan suara lembut. Siapapun orangnya, bila sudah bertemu Ayla. Pasti seperti terhipnotis, dia bukan hanya cantik parasnya saja. Akan tetapi memiliki hati yang jauh lebih cantik lagi.


"Mama," Kenzo yang sangat jarang memeluk ibunya sendiri, malah dengan tiba-tiba langsung memeluk Ayla, yang hanya tersenyum melihat reaksi menantunya.


"Terima kasih Ma, Kenzo berjanji akan menjadi anak yang bisa membanggakan Mama," ucapnya lagi seperti janji seorang anak pada ibu kandungnya.


Saat mereka berdua lagi berpelukan, suara berdehem dari Rian pun membuat Kenzo melepaskan pelukannya dan berkata.


"Papa sudah datang," ucap Kenzo sambil menyeka ujung matanya yang hampir saja menangis.


"Kenapa! Belum juga sembuh, tapi sudah menjadi saingan baru lagi. Kamu kan tahu jika kakakmu itu selalu nempel jika ada Mama, kenapa sekarang malah bertambah saja musuh baru Papa," kata Rian berjalan masuk dengan tangan ia masukkan kedalam salah satu saku celananya.


Benar-benar sangat cocok berdampingan dengan Ayla. Meskipun mereka berdua sudah sama-sama berkepala empat namun aura dari keduanya belum berubah sama sekali. masih sama seperti pasangan muda lainnya belum lagi Rian adalah tipe laki-laki yang sangat romantis. Sesuai dengan janji yang pernah diucapkan pada Ayla dulu. Tidak akan membuat istrinya menangis lagi.


"Papa apa-apaan sih," Kenzo tergelak sendiri mendengar jika dia menjadi saingan baru. sebab menghadapi kakak iparnya saja, Ayah mertuanya itu sudah sangat jarang ke bagian duduk bersama ibu mertuanya, karena si tampan Arsya selalu menempel seperti perangko.


"Huem, bagaimana, apa terasa nyeri pada lukanya?" tanya Rian kembali ke mode serius. Ayah tampan ini baru tiba dari kantor polisi untuk menandatangani surat pemindahan tahanan untuk Robert dan Mia.


Sedangkan Ayla tadi pulang dengan ke-tiga anaknya. Di ikuti oleh Nando dan juga Andre yang baru sempat untuk menjenguk keadaan Kenzo.


"Sekarang sudah tidak lagi Pa, jika baru datang dari rumah sakit iya. Terasa nyeri, mungkin karena goncangan ketikan didalam mobil," jawab Kenzo apa adanya.


"Oh, baguslah jika sudah lebih baik. Nanti siang ada dokter dan satu orang perawat, yang akan tinggal di sini. Sampai keadaan mu pulih seperti semula. Tadi Om Aldi sudah merekomendasikan dokter terbaik di rumah sakit tempatmu di rawat," papar Rian menepuk pelan pundak menantunya.


"Serius Pa, akan ada dokter tinggal di sini?" tanya Ayla ikut berdiri seperti suaminya. Tentu saja, memangnya buat apa Papa berbohong, heum!" Rian menarik hidung mancung istrinya.


"Papa, diamlah! Ada Kenzo yang melihat kita," seru Ayla yang takut jika suaminya khilafah mencium dia dihadapan sang menantu.


"Memang apa salahnya," Rian tersenyum menggoda. Sebelum kedatangan princess mereka yang langsung menjauhkan ibu dan ayahnya.


"Papa sama Mama kenapa mesra-mesraan di depan Hubby nya Salsa. Orang sakit malah batinnya dianiaya, " seloroh Salsa yang malah memberikan pelukan pada ayahnya beberapa saat.


Cup!


Rian mengecup kening putrinya, yang hampir saja menjadi korban karena dendam lama yang belum juga usai.

__ADS_1


"Kamu ini yang apa-apaan, dihadapan Kenzo meluk-meluk Papa," timpal Arsya datang mengantarkan irisan buah-buahan segar yang disiapkan oleh nenek dan omanya. Kedua wanita sepuh itu juga sibuk mempersiapkan buat acara kemenangan cucu mereka.


Ya, Rian membuat acara berkumpul bersama keluarga di kediamannya. Sebagai bentuk rasa syukur karena Kenzo tidak apa-apa dan atas kemenangan putra sulungnya. Maka dari itu semuanya berkumpul.


"Kakak, itu dari siapa? Apa Kakak yang melakukannya sendiri?" tanya Salsa tidak mendengarkan godaan dari sang kakak.


"PD sekali, ini dari oma sama nenek, lagian seperti kurang kerjaan aja mengupas buah buat suami adek," kata Arsya masih menjahili adik kesayangannya.


"Ha... ha... Kan memang tidak ada kerjaan, Kakak jomblo sejati," Salsa terkikik menertawakan kakaknya. Namun, setelah itu dia berhenti tertawa dan berkata lagi.


"Tapi bukannya Kakak sering mengupas buah-buahan buat Aurel?" ucap si princess yang membuat jantung kakaknya berdegup kencang.


Deg!


Darah Arsya tiba-tiba terasa berdesir, yang ia sendiri tidak tahu kenapa. Hampir semalam si tampan tidak bisa tidur, karena memikirkan kesalahan apa yang telah ia perbuat. Sehingga Aurel temannya seperti menghindar saat mereka bertemu.


"Kak, Salsa lupa! Beberapa hari lalu Salsa tidak sengaja bertemu sama Aurel di Restoran," cerita Salsa. Dia memang lupa hendak menceritakan pada kakaknya. Selain karena lupa, kakaknya juga selalu bepergian.



Sambil meletakan piring yang ia bawa keatas meja yang tidak terlalu jauh dari ranjang tempat tidur. Arsya terdiam beberapa saat. Entah apa yang sedang dia pikirkan, karena si author juga tidak tahu, yang jelas ada hubungannya dengan Aurelia. Gadis berkacamata yang membuat seorang Arsya tidak tidur semalaman.


"Adek ketemu di restoran mana?" tanyanya setelah merasa lebih baik.


"Di restoran cepat saji yang berada di jalan xx. Kita berdua pernah datang ke sana," jawab Salsa mengingat-ingat tempat tersebut.


"Apakah adek minta nomornya yang baru? Dan dia ada mengatakan sesuatu, atau tidak?" seru Arsya. Mana tahu adiknya memiliki nomor ponsel Aurel. Dia akan meneleponnya dan mengajak bertemu. Untuk menanyakan kemana gadis itu pergi.


"Enggak, katanya tidak membawa ponsel dan tidak hapal sama nomornya juga,"


"Ck, sepertinya dia sengaja nggak mau ngasih. Adek tahu sendiri seperti apa Aurel, biasanya kemana-mana selalu membawa ponsel," decak Arsya tidak percaya jika Aurelia sampai lupa nomor ponsel. Sebab gadis itu sangat pintar, jadi mana mungkin nomor beberapa angka saja tidak ingat.


"Huem! Tidak ada apa-apa Ma, Arsya mau ke kamar buat memeriksa tugas sekolah yang belum selesai," jawabnya sebelum pergi meninggalkan anggota keluarga tersayangnya.


"Kak, Kakak kenapa?" panggil Salsa yang tangannya sudah di sentuh lembut oke ibunya seraya mengelengkan kepala.


"Ma, Kakak kenapa?" tanya Salsa bingung.


"Sudah, biarkan dia sendiri dulu. Adek tahu kan, seperti apa kakakmu itu bila lagi ada masalah. Dia akan diam dan lebih suka menyendiri," jawab Ayla semakin yakin jika putranya ada masalah. Dengan tingkah tidak biasa Arsya, tentu ibu muda itu langsung tahu.


"Ma, ayo kita keluar! Biarkan Kenzo istrirhat," ajak Rian setelah sejak tadi ikut memperhatikan putranya. Tidak banyak bicara Ayla pun menurut, karena menantunya harus banyak-banyak istrirhat. Agar cepat sembuh seperti semula.


"Sini," Kenzo yang tahu jika istrinya bersedih merentangkan kedua tangannya, dan dituruti oleh Salsa. Gadis itu ikut duduk di sisi ranjang, agar mempermudah Kenzo memeluk dirinya. Sebab suaminya itu belum sembuh, tidak bisa bergerak sembarangan.


Cup, cup! Muaah!


"Jangan bersedih, Kak Arsya mungkin belum siap untuk bercerita pada kita," kata pemuda itu kembali mengecup kedua pipi dan juga bibir istrinya sekilas.


"Tapi... sebelumnya kakak tidak pernah berdecak seperti tadi," jawab Salsa benar-benar merasa bersedih.


"Tidak semua masalah itu harus dia ceritakan padamu, mungkin kakak malu. Apalagi jika masalah hati, contohnya kamu. Apakah pernah cerita padanya jika mencintaiku?" Kenzo berkata dengan tangan mengelus pipi istrinya.


Pemuda itu sangat paham, bahwa Salsa bersedih karena merasa jika Arsya seperti tidak sayang padanya lagi. Apalagi ini baru kali pertama Arsya berdecak dihadapan sang adik.


"Masalah hati? Maksudnya apakah kakak lagi ada masalah sama pacarnya?" Salsa tidak menggubris ucapan Kenzo tentang mencintaiku Dia hanya fokus pada kata masalah hati.


"Huem, mungkin saja. Tadi apakah kamu tidak melihat raut wajahnya langsung berubah ketika menyebut nama..."


"Aurelia, tadi aku mengatakan jika kita pernah bertemu sama Aurel, sahabat kami yang sudah pindah," sela si Princess.


"Nah iya, Aurel. Mungkin kakak punya masalah sama dia, bukannya waktu itu kamu juga bertanya saat kita pulang dari Restoran. Kenapa saat menyebut nama Kak Arsya, Aurel hanya diam saja dan tidak menanyakan kabarnya. Padahal kalian sudah lama tidak bertemu," papar Kenzo juga ikut mengingat-ingat pertemuan mereka dengan Aurel.

__ADS_1


"Iya sih, tapi ada masalah apa? Sehari sebelum Aurel pindah tidak ada kabarnya. Kami bertiga masih pergi jalan-jalan ke Taman yang tidak jauh dari rumah kakek," jelas Salsa sedikit lebih baik setelah mendengar ucapan suaminya. Laki-laki yang akan selalu menjadi sandaran hatinya, setelah ayah dan sang kakak.


"Itu yang tidak kita ketahui, mungkin mereka berdua ada masalah. Tapi menurutku, Kak Arsya menyukai Aurel, begitupula sebaliknya," Kenzo menarik Salsa kembali kedalam pelukannya.


"Benarkah? Tapi... bagaimana bisa," seru si princess yang langsung hidung mancungnya ditarik lagi oleh sang suami.


"Bagaimana bisa! Tentu saja bisa Mine, mereka berdua adalah dua orang insan yang memiliki hati dan perasaan. Kenapa tidak bisa, apalagi Kak Arsya selama ini belum pernah mencari kekasih," ucap kenzo gemas pada perkataan istrinya.


Andai saja dia dalam keadaan sehat. Maka hari ini Salsa sudah dia kurung di dalam kamar. Biar yang terdengar hanya ******* mereka saja.


"Mine," goda Salsa dengan tersenyum manis.


"Iya, mine. Bukannya sekarang kamu sudah menjadi milikmu seutuhnya," Kenzo balas tersenyum dengan tatapan mata tajam. Namun, tersimpan ribuan kata cinta untuk sang istri didalamnya.


"Huem! iya, karena aku tidak ada pilihan," asik mengobrol masalah panggilan. Salsa akhirnya lupa pada masalah kakaknya dan Aurel.


"Pilihan! Pilihan apa? Apakah ada orang lain selain diriku?" tangan Kenzo menarik agar tubuh Salsa lebih menempel pada dirinya.


"Ken, Ken! Lepas, jangan seperti ini. Aku takut nanti bagaimana tiba-tiba ada yang datang," Salsa menyangga tangannya pada dada bidang suaminya.


"Tidak apa-apa, kita suami-istri, siapa yang akan melarang mau ngapain juga,"


"Memang tidak ada yang akan melarangnya, tapi keadaanmu belum sembuh," sahut Salsa masih dengan posisi yang sama.


"Siapa bilang, aku sudah sembuh sayang, ini tinggal menunggu luka bekas jahitannya pulih saja," menjawab dengan bangga, bahwa dia termasuk laki-laki yang hebat. Baru dioperasi kemaren siang gara-gara tertembak. Tapi hari ini sudah pulang dan bisa berjalan sendiri.


Sepertinya hanya Kenzo saja yang bisa seperti itu. Ayah mertuanya saja harus berada di rumah sakit selama enam hari.


"Iya, jika tubuh Elo sih memang sudah sehat," kata Salsa yang membuat Kenzo melepaskan pelukannya untuk menatap muka cantik gadis yang ia cintai.


"Tapi... yang gue khawatirkan si Lele tunggal bangun," bisik Salsa terkikik sambil berdiri cepat. Lalu dia mengambil buah yang dibawakan oleh kakaknya untuk menyuapi Kenzo.


"Astaga! Aku lupa," Kenzo tersenyum seraya mengigit bibir bawahnya. Guna menahan diri agar tidak melakukan sesuatu buat menghukum princess yang berani sekali menggoda dirinya.


"Ayo buka mulutnya, ini disiapkan oleh oma sama nenek, nanti mereka akan marah bila melihat tidak dimakan," Salsa mengarahkan garpu yang dia tancapkan buah segar ke mulut Kenzo.


Cup!


"Terima kasih sayangku," satu kali suapan dibalas Kenzo dengan memberikan kecupan. Pada pipi dan bibir sang istri. Dia mengambil kesempatan, karena Salsa membiarkan saja apa yang ia lakukan sekarang.


Si princess hanya tersenyum dan mengelengkan kepalanya. Tidak disangka-sangka pemuda yang pernah berdebat dan dia katai om-om. Malah menjadi suaminya.


Berbeda dengan yang dilakukan kedua adiknya. Arsya yang berada di lantai atas kamarnya. Hanya duduk memperhatikan foto Aurel yang masih ia simpan. Foto tersebut adalah foto hari terakhir mereka bersama.



Namun, saat mengambil gambarnya tidak diketahui oleh Aurel. Gadis itu lagi asik mendengarkan Salsa yang bercerita tentang Ara.


"Huh!" si tampan Arsya kembali menghembuskan nafas kasar yang entah untuk ke berapa kali semenjak dia masuk kedalam kamarnya.


"Aurel... elo kenapa sih, mengapa menjauhi gue sama adek?" lirihnya terus memandangi foto Aurel. Gadis cantik bertubuh kecil yang selalu membuat Arsya dan Salsa betah berada di rumah Kakek Ridwan, karena di sana si kembar punya teman baru. Yaitu Aurelia, tetangga sang Kakek.


"Jika ada masalah, kenapa saat terakhir kali kita bertemu elo terlihat baik-baik saja," tanya pemuda itu pada foto di hadapanya. Seolah-olah lagi berbicara dengan orangnya langsung.


"Apakah gue ada melakukan kesalahan? Kenapa elo juga menjauhi Salsa. Bukannya waktu itu elo ngomong sendiri ingin menjadi saudara adek gue, tapi kenapa semuanya berubah," memang sulit untuk dipercaya jika Aurel menjauhi si kembar, karena mereka berteman akrab semenjak umur kurang lebih tujuh tahun.


Hanya satu tahun terakhir ini mereka putus hubungan, karena Aurel dan keluarganya pindah tidak berpamitan pada warga sekitar rumahnya. Termasuk pada kakek Ridwan dan Nenek Mirna.


"Apa semua yang elo ucapin bohong? Tapi kenapa harus bohong, Aurel? Apa Elo tahu selama satu tahun ini gue selalu mencari tahu tentang elo. Dari sosial media ataupun mencari di setiap wilayah yang pernah gue datangi. Tapi tetap saja tidak ada petunjuk apapun," seru Arsya tidak tahu harus marah atau bersedih.


...BERSAMBUNG......

__ADS_1


__ADS_2