
🥀🥀🥀🥀🥀
.
.
Setelah ibu mertuanya pergi. Kenzo menutup kembali pintu kamar sang istri yang mulai sekarang juga menjadi kamarnya.
"Gimana cara ngebangunin si princes?" tanya pemuda itu pada dirinya sendiri. Entah mengapa mendengar hampir semua keluarga memangil Salsa princes. Membuat Kenzo tidak asing menyebut istrinya seperti itu juga.
"Sa, Sa, ayo bangun!" memangil nama saja karena takut istrinya besar kepala bila, dia ikut-ikutan menyebut nama princes.
"Sa, ayo bangun! Ini sudah sore, kita mau kerumah kakek." kata Kenzo mengoyang pelan pundak sang istri.
"Eum, bentar, Ma!" bukanya bangun tapi malah semakin memeluk boneka kesayangannya. Gadis cantik itu bila dubagunkan oleh mamanya, selalu minta tambahan waktu. Walaupun hanya dua menit.
Ada-ada saja! Dasar Princes Erlangga. Kenzo melihat Salsa seperti itu malah tersenyum sambil menggelengkan kepalanya. Lalu dia berdiri untuk mengambil ponselnya yang tadi dia letakan diatas tempat tidur.
Cekrek ...
Cekrek ...
Pemuda itu mengambil beberapa foto sang istri. Lalu dibuatnya sebagai layar wallpaper di WhatsApp dan layar utama. Baru setelah itu dia simpan kembali di atas meja rias Salsa, yang berada di belakangnya saat ini.
"Sa, ayo bangun! Ini sudah sore." kembali membangunkan sang istri.
"Adek masih ngantuk, Kak." merubah pangilan dari mama menjadi kakak, karena dia mengira yang membangunkan dia kali ini adalah Arsya kakak tampannya.
"Ck, ini gadis kenapa tidurnya seperti kerbau sih. Susah banget bangunannya." Kenzo berdecak heran. Soalnya dia yang laki-laki saja tidak sesusah itu bila dibagunkan. Malahan Kenzo selalu bangun sendiri, tidak pernah di bangunkan. Baik itu pagi hari ataupun siang.
"Ini bukan kakak kesayangan mu, tapi--- Om, ini Om. Ayo cepat bangun!" setengah berbisik tepat ditelinga sang istri. Sehingga bisikan tersebut langsung membuat Salsa duduk sambil memegang kepalanya yang tiba-tiba terasa pusing.
"Sa--- Lo, kenapa?" bertanya khawatir karena istrinya mengaduh sambil memijit pelipisnya sendiri. Walaupun dengan suara kecil.
"Kepala gue pusing," jawab Salsa masih tetap memijit pelipisnya.
"Kenapa bisa seperti itu? Sini coba awas tanganya. Biar gue yang mijitin." seru pemuda itu tidak bisa menyembunyikan rasa khawatirnya. Masa iya baru nikahin anak gadis orang, hari ini sudah dibuatnya sakit. Bisa-bisa Kenzo digantung oleh Arsya atau Rian mertuanya.
__ADS_1
"Lo ngapain ngebangunin gue kayak gitu! Ini gara-gara gue kaget." mengerutuk sambil merasakan pijitan dikepalanya. Sebetulnya Salsa tidak heran dia sakit kepala seperti itu, karena sudah biasa. Apalagi kalau tidurnya terlalu lama dan sampai sore seperti sekarang.
Cuma---- Memang dia lagi ingin mengerjai suaminya itu. Haha... Pembalasan Princes baru saja dimulai. Gadis itu cekikikan didalam hatinya. Apalagi mendengar Kenzo meminta maaf berulangkali.
"Bagaimana? Apa masih pusing?" tanya Kenzo berhenti memijit kepala sang istri. Pemuda itu berdiri untuk mengambil air putih yang sudah tersedia di atas nakas.
"Ini minumlah!" memberikan segelas air putih. Sambil menyibakkan anak-anak rambut yang menutupi muka cantik istrinya. Lalu dia selipkan pada telinga Salsa. Dia mati-matian menahan rasa khawatir.
Namun, Salsa bukannya menjawab pertanyaannya. Akan tetapi dia berdiri dengan santai setelah mengembalikan gelas yang sudah kosong.
"Lo mau kemana? Diam aja, nanti malah terjatuh." cegah pemuda itu, karena takut kalau Princes Erlangga itu kenapa-napa. Namun, semuanya berubah dalam seketika. Saat mendengar ucapan Salsa sebelum masuk kedalam kamar mandi.
"Sepertinya, Lo harus latihan lagi. Pijitannya belum pas." gadis itu tertawa sambil menutup pintu kamar mandi.
"Ken, Ken--- terima kasih!" teriaknya dari dalam kamar mandi, sambil tertawa cekikikan.
"Ck, gue di kerjain! Awas Lo, ya!" Kenzo berdiri menyimpan gelas di tangannya. Lalu dia membereskan selimut bekas Salsa tidur, karena bila menunggu gadis itu. Takut mereka telat pulang kerumah kakeknya.
Setelah selesai membereskan semuanya. Kenzo memilih duduk di atas sofa sambil memainkan ponselnya.
Begitu data seluler dihidupkan. Ratusan pesan via WhatsApp masuk silih berganti. Begitupun dengan pangilan yang tidak bisa terhubung karena data internet nya sengaja Kenzo matikan.
💌 Eel : "Ken, Lo kemana sih?" satu pesan dari salah satu sahabat Kenzo. Namun dia hanya membacanya saja. Tidak berniat membalas, karena bila dia membalasnya maka waktu Kenzo akan habis buat berbalas pesan saja.
💌 Andra : "Ken, hari ini gue sama teman-teman mau latihan. Minggu depan kita harus menang. Jangan sampai kalah sama si Kapten Arsya." pesan kedua yang di bacanya.
💌 Aria : "Lo kemana sih, Men? Tumben matiin HP. Kayak lagi ngurus bini aja. Kita-kita lagi latihan, nih. Gue pengen jadi pemain hebat. Mana tahu princes mau ngelirik gue. Ha ... ha ... ngarep banget." 😂
Salah satu pesan dari sahabat Kenzo juga. Mereka semua mencari dirinya yang tiba-tiba hilang tiada kabar berita. Mana saat dihubungi ponsel pemuda itu selalu offline.
💌 Ee : "Ingat Bro, sekarang kita punya penyemangat. Yaitu Princes adiknya si Arsya. Gue dah mencari tahu mereka benar-benar saudara kandung. Bukan pacaran. Berarti ada harapan buat kita mendapatkan inces yang cantik."
"Enak aja ... dia sudah menjadi milik gue." bukannya membalas pesan-pesan tersebut. Tapi Kenzo merasa panas membaca chat dari teman-temannya yang mengagumi sang istri.
Cek ... lek ...
Mendengar suara pintu kamar mandi dibuka. Kenzo menoleh kearah pintu tersebut. Dia tidak melihat Salsa berjalan keluar karena gadis itu hanya menyembulkan kepalanya saja.
__ADS_1
"Huh! Sa--- ngapain Lo nongol gitu. Cepatlah, nanti kita terlambat. Barusan mama mengirim pesan. Katanya kita harus makan malam disana." ucap Kenzo sambil milirik jam mewah dipergelangan tangannya.
"Ken, Ken--- Gue mau keluar sekarang. Tapi tolong ambilin jubah mandi gue." setelah tadi mengerjai suaminya. Sekarang gadis itu meminta tolong, seakan-akan tadi dia tidak melakukan apa-apa.
"Aiissh, kan ada handuk disana juga." masih tetap tidak bergeming dari tempat duduknya.
"Gue nggak mau pake handuk. Cepatlah! Gue udah dingin, nih!" entah sedang merintah atau meminta tolong.
"Astaga, nih cewek! Untung Lo, istri gue."
Gumam Kenzo akhirnya berdiri juga untuk mengambil apa yang disuruh istrinya.
"Ada didalam ruang ganti. Di dalam lemari sebelah kanan. Awas barang-barang gue nggak boleh diacak-acak, ya!" teriak Salsa dengan sengaja, karena tahu kalau sebetulnya Kenzo sedang menahan geram padanya.
"Rasain Lo, suruh siapa pake jebak-jebakan buat nikahin gue." tersenyum merasa sudah berhasil mengerjai Kenzo. Tanpa dia sadari kalau nanti malam dia akan mengikuti Kenzo pulang kerumah kakeknya. Bagaimana bila pemuda itu balas dendam padanya.
"Ken, Ken! Lama banget sih!" kembali berteriak sambil menahan tawanya.
"Berisik amat jadi cewek!" seru Kenzo baru keluar dari ruang ganti.
"Harus ikhlas kalau disuruh sama istri. Nanti kalau tidak ikhlas malah jadi dosa." membalas apa yang Kenzo ucapakan tadi siang. Sebelum dia kembali berteriak cukup kencang karena takut Kenzo berjalan mendekati pintu kamar mandi.
"Om, Ken, Ken. Diam jangan melihat ke sini." cegah Salsa berteriak.
"Astaga! Kalau gue nggak boleh melihat kesana. Bagaimana gue ngasih ini." Hari ini Kenzo sedang mendapat suatu keberuntungan, atau malah sebaliknya.
BERSAMBUNG ...
.
.
.
Sambil menunggu pernikahan Salsa. Yuk Kak, baca novel sahabat Mak author yang kece.
__ADS_1