Pernikahan Salsa

Pernikahan Salsa
Alat pengering rambut.


__ADS_3

🥀🥀🥀🥀🥀


.


.


"Astaga, Sa! Tanganya Lo keluarin, takut banget diapa-apain." ucap Kenzo kesal karena istri kecilnya benar-benar menjengkelkan.


Untuk memberikan Barthrobe saja sudah menghabiskan waktu lebih dari sepuluh menit. Soalnya Salsa melarang dia berjalan kearah pintu, dan juga tidak diizinkan meskipun berjalan mundur. Alhasil setelah tidak memiliki cara lain Salsa mengizinkan suaminya mendekat. Tapi pemuda itu harus memejamkan matanya.


"Sudah, cepat bawa sini, gue sudah kedinginan." gadis itu mengulurkan tangannya keluar untuk menerima Bathrobe tersebut.


"Terima kasih!" ucap Salsa setelah menerima dan mau menutup kembali pintunya.


"Brabe banget jadi cewek!" gumam Kenzo kembali lagi kearah sofa. Jam sudah menunjukkan pukul setengah lima sore. Sedangkan mereka berdua belum juga berangkat kerumah sang kakek. Dimana kedua orang tua dan adiknya menunggu mereka disana.


"Sa--- Lo ngpain sih, lama banget. Sudah kayak mandiin kereta api aja." Kenzo berteriak karena Salsa belum juga keluar. Padahal pemuda itu sudah memberikan apa yang dia minta.


Cek ... lek ...


"Gue ni cewek, jadi wajarlah mandinya lama." jawab Salsa sudah keluar.


Deg ...


Deg ...


Jantung Kenzo berdegub kencang begitu matanya dan mata Salsa bertemu. Mendengar suara sang istri, Kenzo menoleh kearah pintu kamar mandi. Kebetulan saat itu Salsa juga sedang melihat kearah dirinya.


"Cepat, jangan lama-lama. Kita sudah ditungguin." langsung memutuskan pandangan matanya lebih dulu, lalu pura-pura melihat ponselnya. Padahal Kenzo sedang menyembunyikan rasa aneh yang tiba-tiba saja datang.


Sebetulnya pemuda itu tahu, kalau perasaan tersebut karena dia menyukai istrinya. Kenzo tidak sama seperti Salsa yang belum pernah pacaran. Di umurnya yang sekarang, Kenzo sudah memiliki beberapa orang mantan kekasih.

__ADS_1


Wajarlah, selain umurnya yang sudah pas. Kenzo juga tampan dan kaya, sudah jelas banyak digilai para gadis. Termasuk sahabatnya yang sekarang kuliah di luar negeri.


"Tunggu sebentar, nggak sabaran banget, sih." jawab Salsa berjalan menuju ruang ganti pakaian. Di kediaman Rian, kamar khusus untuk menganti pakaian memang sengaja dipisah, karena dia memiliki anak laki-laki dan perempuan.


Meskipun Arsya dan Salsa bersaudara. Tentu ada batasannya. Jadi dia sebagai ayah yang menjaga putra-putrinya sendiri.


Tidak sampai lima belas menit. Salsa sudah keluar dari ruang ganti. Sore ini, dia memakai dress yang sudah disiapkan oleh mamanya, karena Ayla takut bila sang putri memakai pakaian tidak pantas saat pergi kerumah orang tua Kenzo.


Rambutnya di urai panjang, karena masih basah. Saat ini dia masih mengeringkan rambutnya menguna handuk kecil. Lalu dia berjalan menuju meja rias dan duduk didepannya.


"Kapan kita berangkatnya, kalau Lo ngeringnya pake handuk. Kan ada Hair dryer. Ngapain cari yang lama?" ucap Kenzo melihat tingkah Salsa malah terlihat santai.


"Gue belum pernah mengunakan Hair dryer." gadis itu terus menggosok-gosok rambutnya mengunakan handuk kecil, agar cepat kering. Dia pun tidak malu untuk mengakui kalau tidak bisa mengunakan alat pengering rambut.


"Terus ngapain Lo beli barang kayak gitu, kalau nggak bisa makeknya."


"Ya, kan biasanya ada mama sama kakak yang bantuin. Ini semua gara-gara Lo, jadinya mereka nggak ada yang datang kesini." menjawab kesal.


"Eh, sembarangan bicara. Nggak denger apa gue itu dipanggil Princes." seru Salsa yang tidak terima dibilang cewek jadi-jadian. Namun, meskipun marah. Dia diam saja saat Kenzo mengeringkan membantunya.


"Sudah diam, biar cepat selesai. Maka cepat juga kita berangkatnya." tidak ingin berdebat, pemuda itu memilih untuk melanjutkan tugasnya.


Kenzo sudah diperingati oleh Opa Heri dan juga mertuanya. Agar sabar menghadapi sikap Salsa yang masih kekanak-kanakan. Bagaimana dia bisa dewasa. Gadis itu hanya berteman dengan kakak laki-lakinya dan juga dua orang lagi adik angkatnya yang juga laki-laki.


"Sudah nih, bersiaplah. Tidak usah membawa apa-apa. Di sana semua keperluan kamu sudah disiapin oleh mama."pemuda itu mencabut alat pengering rambut, lalu setelah meletakkan di tempat semula. Kenzo kembali lagi duduk menuju sofa.


Tidak menjawab. Salsa meneruskan pekerjaannya. Yaitu menyisir rambut dan juga memoleskan bedak untuk bayi, karena meskipun dia memiliki berbagai merk alat kosmetik. Gadis itu sangat jarang menggunakannya, bila dia tidak pergi menghadiri acara.


"Sudah, ayo kalau mau pergi sekarang." ajak Salsa sambil mengambil tas selempang kecil yang hanya berisikan dompet dan ponselnya saja.


"Eum!" gumam Kenzo yang masih bisa didengar oleh Salsa. Pemuda itu hanya mengambil kunci mobilnya saja karena dompet dan juga ponsel sudah ada padanya.

__ADS_1


Tidak ada acara berjalan sambil bergandengan tangan. Mereka berdua berjalan masing-masing dengan jarak hampir dua meter. Kenzo berjalan lebih dulu. Sedangkan Salsa mengikuti dari belakang.


Saat mereka tiba di ujung tangga paling bawah. Ada Arsya yang baru saja mau berjalan naik kelantai atas menuju kamarnya sendiri.


Putra sulung Rian dan Ayla itu, seperti habis berolah raga atau bisa jadi habis bermain Basket. Soalnya pemuda itu memakai kostum olahraga dan tubuhnya di penuhi oleh keringat yang masih mengucur.


"Kakak!" begitu melihat saudara kembarnya. Salsa langsung berlari turun dan melewati Kenzo begitu saja.


"Sa!"


"Adek!"


Seru kedua pemuda itu melihat Salsa berlari turun mendekati sang kakak. Mereka berdua sama-sama khawatir. Sedangkan yang dikhawatirkan malah menyengir, menampilkan giginya yang putih dan rapi.


"Kamu tu kebiasaan baget, sih, dek! Sudah berapa kali Kakak ngomong. Nggak boleh berlari saat menuruni atau menaiki tangga." marah Arsya pada adiknya.


"Maaf, Kak. Adek lupa." jawab Salsa masih tersenyum, biar dimarah bagaimana pun oleh sang kakak, dia tidak ambil hati, karena tahu kalau dirinya memang bersalah.


"Jangan diulangi lagi. Kakak hanya takut kamu kenapa-napa." mengelus kepala sang adik seperti biasanya.


Perlakuan manis Arsya, ternyata membuat Kenzo yang melihatnya menjadi tidak suka. Sehingga dia sengaja berdehem untuk memisahkan kedua saudara kembar itu.


"Hem!" Kenzo berdehem sambil menuruni tangga yang tinggal beberapa langkah lagi tiba di lantai dasar.


Arsya yang mengerti langsung menatap kearah Kenzo. Dia menatap adik iparnya dengan sorot mata tajamnya. Bagaimana Arsya tidak menatap seperti itu, karena dia tahu jika tadi siang Kenzo sengaja menghalangi Salsa saat adiknya ingin memberikan air minum padanya.


"Gue mau bawa Salsa pulang kerumah. Besok pagi orang tua gue mau pulang, jadi mereka ingin kami menginap di sana malam ini." ucap Kenzo sebelum Arsya bertanya, karena dari sorot mata kakak iparnya. Kenzo sudah tahu ada pertanyaan lewat sorot mata tersebut.


Arsya yang sudah diberitahu oleh kedua orangtuanya hanya mengangguk kecil. Tapi setelah itu diapun berkata. "Lo jagain adek gue baik-baik. Awas Lo, kalau berani nyakitin dia. Eum, sama satu lagi. Bila hujan, Lo jangan sampai meninggalkan dia sendirian." pesan Arsya di sertai peringatan. Agar Kenzo menjaga adiknya dengan baik.


*BERSAMBUNG* ...

__ADS_1


.


__ADS_2