Pernikahan Salsa

Pernikahan Salsa
Malam pertama atau tidak?


__ADS_3

🥀🥀🥀🥀🥀


.


.


Setelah menyalimi keluarga suaminya. Salsa ikut Mama mertuanya ke belakang. Meskipun sudah dilarang, akan tetapi gadis itu tetap memaksa karena dia merasa malu duduk diantara Kenzo dan keluarga lainnya.


"Apa kamu sudah sering membantu Mama Ayla, sayang?" tanya mamanya Kenzo pada Salsa yang membantu dia menata makanan untuk makan malam mereka.


Lalu gadis itu menoleh diiring senyum manisnya. "Iya, Ma. Salsa sudah biasa membantu mama." Jawabnya sambil meletakkan piring.


"Apa Mama Ayla juga sering memasak sendiri?" rasa ingin tahu wanita itu terhadap besannya semakin jadi, karena mereka memang belum saling kenal.


"Kalau mama gak sakit. Mama selalu memasak untuk kami, mama sama seperti nenek Mirna, katanya." papar gadis itu memuji sang mama. Wanita yang selalu mengurus anak dan suaminya dengan tangannya sendiri.


"Mama sangat kagum pada mamu mu." kata wanita itu ikut tersenyum. Meskipun putranya menikah dadakan. Xiuan sangat bersyukur Kenzo bisa menikah dengan Salsa, karena meskipun baru mengenal menantunya. Perempuan paruh baya itu tahu kalau Princes Erlangga tersebut pasti sama seperti Ayla mamanya.


Sementara itu di ruang keluarga hanya tinggal Kenzo, Tuan Fathan dan Demian. Nenek dan adiknya lagi kembali ke kamar mereka masing-masing.


"Ken, kalau bisa kamu jangan menyentuh istrimu, sebelum dia lulus sekolah." ucap Demian mengingatkan putranya.


"Kenapa?" tanya Kenzo melihat kearah sang papa, sambil menyergit keningnya.


"Papa takut dia hamil sebelum sekolahnya selesai. Lagian kalian berdua juga belum saling kenal satu sama lain. Setidaknya tunggu kalian memiliki perasaan saling suka." terang Demian karena beliau berharap. Jika pernikahan anaknya akan langgeng seperti pernikahan dia dan sang istri.


"Ck, lagian disentuh juga belum tentu langsung hamil, Pa. Kalau perasaan, itu bisa datang dengan seiring waktu berjalan." pemuda itu berdecak. Merasa konyol dengan larangan tersebut.


Apa mungkin dia bisa menahan diri untuk tidak menyentuh istrinya.


"Agh, kamu ini tidak pa---"


"Kenapa masih berkumpul disini? Ini sudah saatnya makan malam."kedatangan nenek Kenzo menghentikan pembicaraan mereka yang lagi membahas agar Kenzo tidak menyentuh Salsa. Sampai gadis itu lulus sekolah.


"Iya, mari kita makan malam sekarang." ajak Tuan Fathan berdiri dari duduknya. Sedari tadi dia hanya mendengarkan saja. Saat putra semata wayangnya menasehati sang cucu.


"Ken, ingat pesan, Papa." ucap Demian sambil berdiri dari sofa, karena waktu makan malam sudah tiba. Tidak menjawab Kenzo hanya ikut menyusul dari belakang.


Begitu mereka tiba di meja makan, semuanya sudah tertata rapi. Salsa memang tidak ikut memasaknya. Namun, gadis itu yang menata di meja makan bersama ibu mertuanya.


Sebelum duduk Kenzo melirik kearah istrinya yang masih berdiri, karena Salsa binggung akan duduk didekat siapa. Selain makan bersama keluarga dan para kakek neneknya. Ini adalah pertama kalinya dia makan di rumah orang lain.


"Sayang duduklah dekat suamimu." kata Ratih melihat cucu menantunya hanya berdiri saja.


"Eum ... I--i--iya, Nek." Salsa menatap kearah Kenzo yang sudah duduk tanpa memikirkan kalau istrinya masih cangung berada diantara mereka.


"Brengsek banget si Ken, Ken! Nggak tahu apa kalau gue cangung berada disini."

__ADS_1


Umpat gadis itu pada suaminya. Tanpa dia sadari kalau Kenzo sudah berdiri dari duduknya. Lalu menarik lembut tangan Salsa dan langsung didudukan tepat sebelahnya.


"Duduk sini, jangan kayak orang hilang!" ucap Kenzo pada sang istri. Tadi bukan dia tidak ingat dengan Salsa. Hanya saja dia ingin melihat kira-kira Princes Erlangga itu akan langsung mendekatinya atau bagaimana.


Nyatanya Salsa hanya diam. Sampai-sampai dia tidak sadar kalau Kenzo sudah berdiri menghampirinya.


"Sayang ... kamu jangan sungkan-sungkan. Mulai sekarang, ini rumahmu juga." kata Demian ikut menatap pada Salsa.


"I--iya, Pa!" menjawab dengan cangung. Kenzo yang mengerti tidak menunggu Salsa yang mengisi piring untuknya. Namun, malah sebaliknya, dia yang mengisi piring sang istri.


"Ini, ayo makanlah! Tidak usah cangung, ini juga keluargamu." ucap Kenzo menyodorkan piring yang sudah dia isi beberapa makanan. Namun, dia tidak seperti Salsa yang sengaja mengerjainya.


"Agh, te--terima kasih!" Salsa menarik nafas dalam-dalam lalu dia hembuskan untuk menenangkan hatinya. Kenzo hanya mengangguk kecil. Lalu dia pun mengisi piring untuknya sendiri. Begitupun dengan yang lainnya.


Mereka semua mengerti apa yang Salsa rasakan. Gadis yang biasanya di kelilingi oleh keluarga besarnya. Malam ini harus berada terpisah dan makan malam bersama keluarga suaminya. Tentu saja Salsa terlihat seperti orang hilang.


Selama makan malam berlangsung mereka lebih banyak mengajak Salsa berbicara. Agar gadis itu terbiasa dan tidak cangung lagi untuk kedepannya.


*


*


Tiga puluh menit kemudian. Makan malam sudah selesai dari dua puluh menit lalu, dan sekarang. Salsa dan ibu mertuanya baru saja selesai mencuci piring. Meskipun ada pembantu, tapi mereka berdua memilih untuk membersihkan sendiri.


Salsa yang selalu diajak bicara dari tadi. Perlahan mulai terbiasa, karena semua keluarga Kenzo benar-benar memperlakukan dia dengan sangat baik.


Salsa pun tidak menolak, gadis itu mengikuti ibu mertuanya menaiki tangga satu persatu sampai di depan pintu kamar yang tertutup rapat. Barulah mereka berhenti. Lalu Xiuan mengetuk pintu kamar tersebut, yang Salsa yakini adalah kamar suaminya.


Tok ...


Tok...


"Ken, ini Mama bersama istrimu." pangil wanita yang masih terlihat cantik diusianya yang sudah empat puluh tahun lebih.


"Buka aja, pintunya tidak dikunci." sahut Kenzo yang lagi menyelesaikan tugas kuliahnya.


Cek ... lek ...


"Ayo sayang, masuklah! Istirahat saja, bila ingin menganti pakaian ada didalam lemari. Semua keperluanmu sudah Mama siapkan."


"I--iya, Ma. Terima kasih!" jawab Salsa dengan jantung berdegup kencang. Kakinya seakan berat untuk melangkah masuk ke kamar milik suaminya.


Meskipun tadi siang mereka sudah satu kamar juga. Akan tetapi malam ini berbeda. Salsa benci pada pikirannya sendiri, yang takut bila Kenzo meminta haknya. Sebab menurut cerita dari sahabatnya. Malam paling menakutkan ada malam pertama.


"Eum, kalau begitu Mama mau menemui nenek dikamarnya. Bila membutuhkan sesuatu, pinta saja pada Kenzo." kata wanita itu sebelum menutup pintunya. Dia sengaja menutup pintunya dari luar, karena tahu kalau menantu cantiknya tengang begitu disuruh masuk.


"Hem!" Salsa berdehem lalu duduk dihadapan Kenzo yang tidak mengalihkan pandangannya dari laptop.

__ADS_1


"Kenapa? Jika mau menganti baju tidur, ada di lemari sebelah kanan. Semua keperluan Lo sudah ada disana." kata Kenzo kembali menjelaskan seperti apa yang dikatakan oleh mamanya tadi


"Iya, gue sudah tahu,"


"Lalu!" Kenzo yang tadinya terus menatap laptop. Sekarang menoleh kearah sang istri.


"Malam ini gue tidur dimana?" tanya gadis itu bingung. Jika dirumahnya dia bisa tidur dilantai seperti hal yang sering dilakukan oleh kakak tersayang nya.


"Ya tidur diatas ranjang lah. Itu kan tempatnya lebar. Gue bukan orang pelit yang nggak mau berbagi tempat tidur." Pemuda itu menjawab santai dan menunjukkan pakai dagunya.


"Apa! Tidur diatas ranjang? Sama, Lo?"


"Iya, tidur sama gue. Emangnya mau sama siapa lagi?"


"Eh, nggak, nggak! Gue gak mau berbagi tempat tidur sama, Lo. Cari selimut---"


Duuueeaar ...


Suara petir mengelegar. Sehingga langsung membuat Kenzo mematikan laptop dan menutup kembali benda tersebut.


Mendengar bunyi petir. Salsa pun tidak melanjutkan lagi ucapannya. Gadis itu terperanjak kaget dan langsung pindah keisamping suaminya.


"Ngapain dekat-dekat? Takut sama suara petir juga?"


"Iya, gue takut," jawab Salsa yang sudah merangkul lengan Kenzo. Sehingga membuat pemuda itu menyugikan senyum di ujung bibirnya. Namun, karena takut, Salsa tidak tahu kalau Kenzo sedang tersenyum.


"Sudah tidak apa-apa, itu pertanda jika diluar mau hujan besar. Lo tidur aja diatas ranjang. Nanti biar gue tidur di bawah, kalau Lo nggak mau kita satu tempat tidur." mulutnya berkata seperti itu. Tapi didalam hatinya ingin tertawa melihat Salsa seperti anak kecil.


"Tapi--- temenin sampai gue tidur dulu. Nanti setelah gue tidur, Lo baru pindah ke bawah!"


"Eum, oke tidak masalah! Tapi kesiniin ponsel, Lo?" kata pemuda itu menengadahkan tangannya.


"Buat apa? Ponsel gue ada didalam tas gue."


Tidak berkata-kata lagi. Kenzo langsung membuka tas selempang miliki istrinya yang diletakan diatas meja kaca dihadapan mereka berdua. Lalu dia mengambil HP Salsa, untuk memberitahu mertuanya kalau putri mereka baik-baik saja.


"Sudah gue duga." gumam Kenzo melihat ada beberapa panggilan tidak terjawab dari Arsya dan juga mertuanya. Lalu sebelum menyimpan kembali ponsel milik Salsa. Dia mengirimkan pesan lebih dulu. Agar mertua dan kakak iparnya tidak khawatir pada sang istri.


Salsa yang tahu Kenzo mengirim kabar pada keluarganya hanya diam saja. Kebetulan ponsel gadis itu tidak memiliki sandi atau sidik jari, karena ponselnya sudah biasa dibuka oleh Arsya dan papanya.


"Sudah, ayo pindah keranjang! Setelah hujanya reda nanti. Gue mau nyelesain tugas gue." kata Kenzo membantu Salsa berdiri. Lalu mereka pun pindah keranjang king size yang juga sudah dihiasi seperti kamar pengantin.


Entah bagaimana pikiran orang tua mereka. Tadi Demian berkata, untuk saat ini Kenzo jangan menyentuh Salsa. Sampai gadis itu lulus dari bangku SMK.


Akan tetapi dari cara menghiasi kamar mereka. Seolah-olah menyuruh Kenzo dan Salsa melakukan malam pertama. Kan Kenzo jadi bingung, malam ini dia harus melakukan malam pertama atau tidak.


*BESAMBUNG* ...

__ADS_1


__ADS_2