
🥀🥀🥀🥀🥀
.
.
"Pagi, Ma," sapa Kenzo yang baru sampai dirumah dengan nafas terengah-engah. Sebab setelah memarkirkan sepeda sang mertua, dia langsung berlari masuk untuk menjumpai Salsa. Dikarenakan tahu mertuanya suka memasak bila weekend, jadi Kenzo melihat istrinya ke dapur. Mana tahu Salsa ada di sana.
"Iya Nak, kamu kenapa berlari seperti lagi mengejar maling?" tanya Ayla menapat Kenzo dari atas sampai bawah. Tubuh menantunya dibanjiri oleh keringat. setahu Ayla jika menaiki sepeda tidak selelah Kenzo saat ini.
"I--itu, Ma, Salsa, Salsa katanya mau kuliah di new York." jawab Kenzo masih mengatur nafasnya. "Apakah benar?" tanyanya memastikan.
"Entahlah, Mama juga tidak tahu. Tapi jika kakaknya, iya," jawab Ayla memberikan segelas air putih yanag sudah dia tuangkan. Nyonya Erlanga tersebut memang lagi berada didalam dapur bersih bersama asisten rumah tangganya. Hari libur seperti seperti sekarang, tidak heran bila dia berada didalam dapur, Sebab Ayla memang suka membuat makanan untuk suami dan ketiga anaknya.
"Ini, minum dulu, sestelah itu tanya kan baik-baik pada istrimu, jangan berlarian nanti jatuh," ujarnya setelah Kenzo menerima gelas air putih tersebut, yang langsung diminum habis oleh menanatunya. Bak seperti anak kecil saja Ayla melarang Kenzo berlari, karena begitulah sosoknya yang penyayang.
"Terima kasih, Ma. Sekarang Kenzo permisi dulu, ya. Ken mau bertanya pada Salsa, masa iya Ken mau ditinggal." kata Kenzo meraih tangan Ayla, lalau ia cium tangan wanita yang selalu memperlakuakan dirinya seperti anak sendiri.
"Ma, tolong do'akan Kenzo," ucap Kenzo kembali meninggalkan dapur bersih, masih dengan cara berlari kecil. Baru mengetahui istrinya ingin kuliah di amerika saja Kenzo sudah sepanik ini, apalagi bila mengetahui perihal Rian yang akan mengurus perceraian dia dan Salsa. Bisa-bisa Kenzo akan prustasi, sebab dia sendiri belum kepikiran jika mertuanya akan bertindak lebih, sampai pada tahap percerain. Sebab perjanjian sebelum mereka menikah memang seperti itu.
Antara Kenzo dan Salsa boleh memilih untuk berpisah bila tidak ada kecocokan, atau tidak bisa saling mencintai. Namun, keduanya dilarang membuat surat kontrak, maupun perjanjian diluar sepengetahuan orang tuan mereka.
Braaaaak!
Kenzo membuka pintu kamar cukup keras, sehinga membuat Salsa yang lagi bersiap-siap berangkat ke rumah sakit, terlonjak kaget.
"Ken, Ken! Elo apa-apan sih, seperti dikejar-kejar setan aja," rutuk Salsa kesal. Untung saja dia tidak mudah jantungan.
"Eh, pagi-pagi begini sudah cantik, mau kemana?" bukannya menyauri perkataan istrinya, tapi Kenzo malah memuji kecantikan sang istri.
"Gue mau kerumah sakit, baru sadar, kalau gue cantik," cibir Salsa tetap melanjutkan memakai sepatunya.
"Ck, memang nya kapan gue bilang Elo, jelek," jawab Kenzo duduk disebelah Salsa, yang lansung mendapat dorongan dari sang istri.
"Ken, jangan dekat-dekat, gue sudah mandi," ujar princess karena tubuh Kenzo dibasahi oleh keringat. "Kapan, kapan! Elo memang ngaak ngomong gue jelek, tapi tindakan Elo lebih dari itu," cibir Salsa.
"Tindakan gue yang mana?" tanya Kenzo tidak sadar juga dengan perlakuannya.
"Elo memang nggak tahu, atau lagi berpura-pura?" jawab Salsa tersenyum mengejek. "Atau mau gue kasih tahu?" lanjutnya lagi.
"Sa, gue benar-benar nggak tahu, perasaan gue gak pernah bertindak yang seolah-olah mengatakan kalau Elo jelek," sambung Kenzo ingin menyentuh tangan Salsa, tapi langsung di tepis oleh istrinya.
__ADS_1
"Nggak usah pegang-pegang," ucap Salsa ketus. Sungguh sangat berbeda dengan gadis cantik yang Kenzo peluk tadi malam.
"Oke, oke! Gue nggak akan megang-megang, tapi jawab dulu pertanyaan gue," Kenzo yang baru mengigat tujuannya mencari Salsa pun langsung membahas masalah istrinya yang akan kuliah diluar negeri.
"Apa?" princess menjawa seperlunya.
"Apa benar Elo mau kuliah ke new York?" tanya Kenzo dengan wajah seriuas. Didalam hatinya berharap, jika semua itu tidak benar.
"Elo tahu dari mana?" bukannya langsung menjawab, tapi Salsa kembali melemparkan pertanyaan.
"Jadi benar?"
"Ya benarlah! Lagian gue orangnya jujur, bukan tukang bohong kayak, Elo," jawab Salsa tiba-tiba kembali kesal mengigat Kenzo yang membohonginya.
"Salsa, Elo nggak bisa mengambil keputusan tanpa izindari gue," ucap Kenzo merasa jika tindakan istrinya salah. "Masalah gue bohong. oke gue emang salah, tapi demi tuhan, gue melakukannya karena terpaksa, semua ini---"
"Karena Mia adalah sahabat baik, Elo, betul, 'kan?" sela Salsa tersenyum sumbang.
"Iya, benar! karena gue nggak bisa meningalkan Mia, dia sahabat gue sejak dulu, apalagi papinya menitipkan Mia menjelang mereka kembali. Tapi percayalah, gue cuma cinta sama, Elo," ungkap Kenzo dan membetulkan ucapan Salsa bahwa dia terpaksa berbohong.
"Ya sudah, urus dia sana, gue nggak peduli, mau kalian temenan, mau pacaran, bahkan kalau mau menikah saja sekalian," jawab Salsa diam sejenak, sebelum dia kembali berkata. "Dan apa tadi, izinkan yang Elo bilang? Gue nggak perlu minta izin, karena pada saat waktunya tiba, kita bukan siapa-siapa lagi," ujarnya penuh penekan yang membuat Kenzo bisa mati kutu.
"Apa maksudnya bukan siapa-siapa? Jangan bilang kalau Elo mau kita be---"
"Ken, Ken!" teriak Salsa mendorong tubuh Kenzo, akan tetapi bukannya terlepas. Malah suaminya itu semakin memeluk erat.
"Astaga, Ken! Elo bikin gue mandi lagi," kesal princess menghela nafas panjang, dan dia hembuskan dengan kasar.
"Salsa, gue nggak mau kita berpisah!" ucap Kenzo meregangkan pelukannya dan tangannya menangkup kedua pipi mulus sang istri. "Sampai kapanpun, gue nggak mau kita berpisah. Gue sayang, gue cinta sama Elo, Sa," tutur Kenzo berusaha menyakinkan istrinya.
"Tapi gue nggak suka sama cowok plin-plan, Ken. Gue nggak suka Elo jadikan seperti cewek cadangan, mending kita jalanin hidup masing-masing. Ada si Mia juga yang mau sama, Elo," Salsa melepas kasar tangan Kenzo yang masih berada di pipinya.
"Gue nggak plin-plan, gue serius cinta sama Elo, Salsa! Katakan apa yang harus gue lakuin, agar Elo bisa percaya," Kenzo menarik tangan Salsa, agar duduk seperti tadi.
"Ha... ha... bukti? Elo nggak akan sanggup nyebuktiinnya, Ken." Salsa tertawa mendengar Kenzo ingin dia membuktikan apa. "Karena itu, gue memilih untuk kita akhiri semuanya. Tidak lama, hanya sekitar tiga bulan lagi, kan?"
"Sa, tolong katakan, apa yang perlu gue buktiin, gue nggak akan melepas Elo sampai kapanpun," seru Kenzo mengelengkan kepalanya. "Gue mohon, tolong kasih gue kesempatan satu kali ini saja, gue mohon!" seumur-umur baru kali ini Kenzo memohon agar tidak ditinggalkan oleh seorang wanita.
"Apa Elo bisa menjauhi Mia? Kalau bisa, mungkin gue akan berpikir ulang. Tapi jika tidak bisa, mohon maaf, gue bukan tukang lotre," jawab Salsa ingin melihat seberapa besar Kenzo mencintai dirinya.
"Apa? Jauhin Mia seperti apa?" tanya Kenzo tercengang, ternyata permasalahan diantara mereka tetaplah gara-gara hubungan dia dan Mia.
__ADS_1
"Nggak usah sok jadi pahlawan buat menjaganya, nggak usah bersahabat dekat dengan dia. Sebab persahabatan diantara wanita dan laki-laki, tidak dibenarkan, apalagi Elo punya istri." Salsa meskipun manja tentu bukan gadis bodoh. Justru dia sangatlah pinta.
"Lagian dia punya orang tua, kenapa mereka egois malah menitipkan anak gadisnya pada seorang pria, walaupun kalian bersahabat. Apakah bisa menjamin tidak akan terjadi sesuatu diantara kalian? Tidak, 'Kan!" kata Salsa tersenyum dan mengelengkan kepalanya. Kenapa bisa ada orang tua seperti itu.
"Itu karena mereka lagi memiliki masalah, dan Mia di sini nggak ada punya keluarga, makanya mau nggak mau, meminta bantuan gue," Kenzo masih menjawab perkataan istrinya. Namun, dia menundukkan kepalanya, merasa apa yang Salsa katakan memang benar. Jika saja Kenzo seperti anak muda lainnya, mungkin sudah lama Mia hamil, karena gadis itu selalu mengenakan pakaian minim setiap Kenzo datang ke rumah nya.
Sangat menggoda iman, bila tidak bisa menjaga diri. Untungnya Kenzo sangat mencintai Salsa, jadi hal itu jugalah yang membuat dia bisa tahan dari keindahan tubuh Mia.
"Lo lihat seperti apa papa menjaga gue? Jangankan papa, Kak Arsya saja tidak pernah percaya pada sembarangan orang buat menjaga adiknya, karena apa? Karena melindungi gue, itu tanggung jawab papa dan kakak, bukan orang lain," Salsa kembali membandingkan orang tuanya.
"Mau seberapa sibuk, papa tidak pernah menomor duakan keluarganya, Ken. Sudah terlihat jelas seperti apa orang tua Mia, dia ingin menyelesaikan masalah yang ia ciptakan sendiri. Namun, melimpahkan masalah satunya pada orang lain. Bukannya waktu itu Elo bilang, jika kedua orang tuanya sudah mengetahui kalau Elo punya istri, tapi kenapa mereka tetap menitipkan Mia, itu karena mereka egois," papar Salsa panjang kali lebar, ternyata memiliki orang-orang hebat disekitarnya membuat putri bungsu Rian dewasa daripada umurnya.
"Baik, gue akan melakukan semuanya, hari ini juga, gue akan menghubungi orang tua Mia, dan mengatakan kalau gue nggak bisa bantu jagain anaknya lagi. Tapi tolong jangan pernah berpikiran untuk mengakhiri hubungan kita," akhirnya Kenzo mengambil keputusan untuk memilih membantu Mia, atau menjaga hubungan dan perasaan istrinya.
"Eum... buktikan dulu, soalnya jika sampai Elo ingkar janji, gue nggak akan memberi kesempatan terakhir,"
"Siiap, gue akan menjaga kesepakatan ini," seru Kenzo tersenyum dan menarik Salsa kedalam pelukannya. "Tapi Elo nggak boleh pergi ke rumah sakit sendirian, perginya harus bareng gue dan anak-anak. Tapi kita ketemuan di kafe dulu, soalnya ada yang harus gue jelasin ke mereka,"
"Apa! Nggak ah, gue mau pergi sendiri, nanti ada yang curiga kita datangnya bersamaan," tolak Salsa cepat.
"Tidak ada penolakan, nanti sepertinya Mia juga ikut, tapi dia katanya di jemput sama Eel. Gue nggak mau ada salah paham diantara kita," Kenzo melepas pelukannya untuk melihat muka Salsa yang ditekuk menahan jengkel.
"Jangan manyun, gue paling nggak tahan melihat ini," Kenzo sengaja mencolek bibir istrinya.
"Nyebelin banget sih, gue sudah rapi-rapi harus ganti baju lagi," dari perkataannya Salsa memang marah. Namun, didalam hatinya lagi tersenyum menyeringai, dia akan membuat Mia semakin kepanasan, melihat dia dan Kenzo datang bersama lagi.
"Oh, jadi princess marah karena bajunya kotor, bukan karena dilarang ke rumah sakit sendirian," ujar Kenzo semakin tersenyum. Dia tidak tahu jika dibalik sikap jutek tersebut, istrinya lagi merencanakan sesuatu.
"Ya iyalah, gue sudah cantik begini, jadinya harus mandi dan ganti baju," Salsa menghela nafas panjang. Dia sebetulnya ingin marah, tapi mau bagaimana lagi. Biar bagaimanapun Kenzo adalah suaminya, tidak ada yang bisa melarang bila pria itu ingin berbuat apa pada tubuhnya.
"Nggak usah cantik-cantik, nanti sahabat gue pada oleng, jadi Febinor semua," Kenzo melepas pelukannya dan menarik Salsa agar kembali duduk seperti semula.
"Lepas ah, jangan meluk-meluk gini, gue mau ganti baju lagi,"
"Berhubung gue juga mau mandi, jadi buat menghemat waktu, kita mandinya berdua," ajak Kenzo berdiri dari duduknya.
*BERSAMBUNG*...
.
.
__ADS_1