
🥀🥀🥀🥀🥀
.
.
"Wah anak-anak Mama sudah datang," sambut Ayla memberi pelukan hangat pada putri dan menantunya. Baik Ayla maupun Rian, tidak bahkan keluar besar Erlangga dan Ridwan, tidak ada yang menganggap Kenzo sebagai menantu. Mereka memperlakukannya sama seperti pada Arsya si calon pewaris dua keluarga kaya raya di ibu kota B.
"Sore Ma, maaf kami terlambat," ucap Kenzo sopan. Meskipun dia dan Salsa lagi ada masalah, ia tidak mungkin memperlihatkan pada keluarga istrinya. Apalagi yang salah memang dirinya sendiri, Kenzo tahu itu. Namun, dia juga tidak bisa memiliki pilihan lain, selain memilih untuk putus dengan Salsa.
Apa yang ia lakukan sekarang adalah demi sahabat baiknya, bukan wanita lain. Satu hal yang membuat Kenzo mengabulkan permintaan Salsa untuk putus. Yaitu dia kesal karena menurutnya Salsa terlalu berlebihan, yang terkesan egois tidak mengerti keadaannya.
Meskipun Kenzo tahu Salsa berhak marah, tapi bukan berarti harus menyuruh dia memilih antara Salsa atau membiarkan Mia sendirian. Mana bisa seperti itu, wanita tersebut sahabat baiknya. Seperti itulah kiranya cara pemikiran Kenzo.
Sebab kebanyakan sifat manusia, memang selalu mencari kebenaran atas dirinya sendiri.
"Tidak apa-apa, ayo masuk!" jawab Ayla tersenyum sambil mengandeng tangan putrinya berjalan masuk ke dalam rumah mewah mertuanya.
"Ma, apa kakak belum pulang?" tanya Salsa setibanya di ruang keluarga. Dia masih berdiri tidak langsung duduk seperti mama dan suaminya.
"Sudah, kakak mu lagi di kamar, membersihkan dirinya. Tadi dia diantar Om Aldi, karena papa tidak boleh dia kelelahan membawa mobil sendiri," jawab Ayla yang tahu pasti Salsa memperhatikan mobil kakaknya yang tidak ada di garasi.
"Kalau begitu Salsa mau ketemu kakak," tidak minta izin pada Kenzo lagi, si princess langsung pergi dari sana menunju tangga, karena kamar mereka memang terletak di lantai atas.
"Ada apa, Nak? Apa kalian bertengkar?" tidak seperti biasanya Salsa seperti itu membuat Ayla langsung bertanya. Sebelum sang putri menikah, ia sudah pernah muda dan mengalami yang namanya berpura-pura di depan keluarga mereka bahwa dia dan Rian baik-baik saja. Padahal hampir dua bulan mereka tidak tinggal serumah lagi. Jadi dari melihat kedatangan Salsa dan Kenzo berjalan seperti orang bermusuhan, tentu Ayla tahu ada sesuatu.
"Tidak ada, Ma." dusta Kenzo, menjawab sambil menundukkan pandangan matanya. Pemuda itu tidak berniat membohongi ibu mertuanya, tapi untuk bicara jujur pun Kenzo juga tidak bisa.
"Baguslah jika kalian tidak bertengkar, Mama hanya takut kalian lagi memiliki masalah yang mungkin saja ada hubungan dengan pernikahan kalian yang mendadak." ucap Ayla langsung tutup poin. Dia tidak ingin berbasa-basi bila menyangkut kehidupan dua buah hatinya.
__ADS_1
Setelah melihat Kenzo diam tidak bicara apa-apa. Ibu muda itupun kembali lagi berkata. "Kenzo, Mama menyayangi mu sama seperti pada putra Mama sendiri. Jadi sebagai ibumu, Mama ingin kamu berjanji, bila kalian berdua tidak ada kecocokan atau kamu memiliki kekasih diluar sana, tolong kembalikan Salsa pada kami," ucap Ayla yang tidak ingin putrinya merasakan di dua oleh suaminya.
Deg!
"Apa Salsa bilang pada mamanya jika kami bertengkar? Tapi tidak mungkin, sejak tadi dia sama gue. Atau memang mama sendiri yang memiliki naluri terhadap putrinya?"
Gumam Kenzo bertanya didalam hatinya. Dia tidak menyangka, ibu mertuanya bisa merasakan jika dia dan Salsa lagi bertengkar.
"Sejak kecil Salsa sangat dimanja oleh kakak dan papanya. Jadi bila pertengkaran kalian karena kamu tidak suka pada sifat manjanya, cerita pada Mama. Nanti Mama akan bantu untuk menasehati Salsa. Agar dia bisa merubah sifatnya lebih dewasa lagi," Ayla berkata dengan tutur kata lembut. Supaya Kenzo tidak salah paham pada perkataannya.
"Tapi... bila kalian bertengkar karena kamu yang memiliki kekasih di luar sana. Maka pikirkanlah baik-baik sebelum semuanya terlambat. Sebab jika kalian bertengkar karena Salsa yang mempunyai pacar, Mama tidak yakin, karena dia tidak pernah pacaran dan dekat dengan laki-laki lain saja, selain dengan ke-tiga saudaranya, Salsa cuma berteman sama sahabat Arsya." papar Ayla panjang kali lebar.
Selama ini dia diam karena melihat hubungan Salsa dan Kenzo terlihat baik-baik saja. Bahkan begitu romantis meskipun terkadang ada bertengkar juga, karena mereka saling mengejek.
Namun, untuk sore ini Ayla merasakan perbedaan dari keduanya. Apalagi cara Salsa yang terkesan dingin pada menantunya.
Meskipun Ayla berkata dengan lembut, tapi Kenzo merasa seperti sebuah ancaman dari ibu mertuanya.
"Baiklah, Mama percaya kamu tidak mungkin membuat putri Mama menangis," Ayla tersenyum dan percaya saja pada Kenzo.
Tapi sayangnya di lantai atas si princess sudah menangis dalam pelukan kakaknya. Arsya yang baru saja mau keluar dari kamarnya di kagetkan oleh Salsa.
"Ada apa huem? Ayo masuk, cerita dulu pada Kakak, ada apa? Apa yang membuat princess menangis?" ucap Arsya menuntun adiknya berjalan masuk ke kamarnya. Lalu ia ajak duduk di atas sofa.
"Sebentar Kakak ambil air minum," kata Arsya berjalan menuangkan air yang ada disamping nakas tempat tidurnya. "Ini minum dengan pelan, lalu cerita pada Kakak," Arsya memberikan segelas air putih, dan diapun duduk tetap disebelah Salsa. Ia elus punggung adiknya. Saat tadi Farel mengatakan Salsa minta diantar pulang ke rumah orang tua mereka. Arsya sudah tahu jika sang adik lagi ada masalah.
"Ini," ucap Salsa memberikan gelas kosong pada kakaknya. Dia benar-benar seperti anak kecil yang lagi mencari perlindungan.
"Sini, cerita sama Kakak," Arsya hanya tersenyum menerima gelas tersebut dan setelah dia taruh di atas meja. Dia merentangkan kedua tangannya, agar sang adik bisa cerita dengan nyaman.
__ADS_1
"Kakak," panggil Salsa yang masih tersedu-sedu karena perlakuan baik kakaknya, membuat dia tidak tahan untuk menangis.
"Ada apa, ayo cerita pada kakak," jawab Arsya memberi adiknya hak untuk bercerita sendiri tanpa harus ia bertanya.
"Salsa sudah putus sama Kenzo, kami tidak pacaran lagi," adunya pada sang kakak.
"Putus?" ulang Arsya karena dia memang belum tahu jika adik dan iparnya berpacaran. Sebab yang Arsya tahu, Kenzo dan Salsa cuma pasangan suami-istri.
Salsa mengangguk membenarkan. "Iya, kami sudah putus gara-gara dia tidak bisa memilih adek atau sahabtanya itu," lalu Salsa pun menceritakan bagaimana mereka bisa berpacaran dan bagaimana pula mereka berdua bisa putus, yang tidak princess ceritakan adalah apa yang diaedsn Kenzo lakukan.
"Benarkah, dia lebih memilih putus sama adek, daripada membiarkan temannya?" tanya Arsya memastikan.
"Iya, tapi jika si lampirnya tidak menyukai Kenzo, Salsa nggak akan marah. Kakak percayakan jika adek gak mungkin jahat sama orang tanpa sebab?"
"Tentu saja Kakak percaya, sekarang sudah tidak usah menangis." Arsya merenggangkan pelukannya lalu dia hapus air mata Salsa. "Jangan menangis hanya karena laki-laki yang tidak bisa menjaga perasaan pasangannya. Biarkan jika dia memilih gadis lain daripada princess, adek bisa mendapatkan yang jauh lebih baik daripada Kenzo," kata Arsya terlihat begitu tenang, meskipun di dalam hatinya sangat ingin menghajar Kenzo yang sudah berani memilih wanita lain daripada adiknya.
"Tapi Salsa masih menjadi istrinya, Kak."
"Adek hidup bagaimana gadis lainnya, jalani semuanya seperti biasa. Sisanya itu urusan kakak, huem!" Arsya tersenyum karena Salsa adiknya tidak menangis lagi. "Kakak yang akan bicara pada papa, dan menjelaskan semuanya. Jadi bersabarlah sampai semuanya selesai, Oke."
Salsa mengangguk dan kembali memeluk kakaknya. "Kakak terima kasih," ucap Salsa merasa begitu beruntung memiliki saudara seperti Arsya.
"Tidak perlu berterima kasih, memang tugas Kakak untuk melindungi mu," jawab Arsya mengelus sayang punggung adiknya.
""Brengsek Elo, Ken. Berani-beraninya menyakiti Salsa hanya karena wanita lain. Ternyata ancaman gue waktu lalu, tidak membuat Elo lebih berhati-hati lagi. Akan gue buat kampus kalian bertekuk lutut pada SMK Erlangga."
Gumam Arsya mengepalkan tangannya. Dia akan membalas perbuatan Kenzo yang sudah berani mempermainkan perasaan adik kesayangannya.
*BERSAMBUNG*...
__ADS_1