Pernikahan Salsa

Pernikahan Salsa
Benar-benar Menjaga Jarak.


__ADS_3

🥀🥀🥀🥀🥀


.


.


"Ar, kita tunggu dulu, jangan pulang sekarang," bisik Jeni ketika melihat Ziko sudah sadar sambil memegang kepalanya.


Melihat Ziko sudah siuman kedua orang tuanya dan Aurel semakin mendekati ranjang untuk menanyakan bagaimana keadaannya saat ini. Sedangkan Arsya dan Jeni masih tetap berada di pinggir sofa yang tidak terlalu jauh dari sana.


"Iya, tapi tidak lama, ya. Jujur aku tidak suka bila berada disini terlalu lama," si tampan Arsya balas berbisik. Namun, pandangan mata mereka melihat ke arah Ziko yang belum menyadari keberadaan mereka berdua. Pemuda itu hanya fokus pada tunangan dan kedua orang tuanya saja.


"Nak, kamu baik-baik saja, kan?" tanya Nyonya Pradipto mengelus kepala sang putra. Sedangkan Aurel hanya berdiri di samping ranjang tempat Ziko berbaring saja.

__ADS_1


"Aku baik-baik saja, Ma," jawab pemuda itu yang wajahnya juga cukup tampan. Namun, umurnya saja yang sudah dua puluh enam tahun. Ini bukanlah kali pertama dia masuk ke rumah sakit. Namun, untuk kesekian puluh kalinya, karena penyakit yang ia derita sejak empat tahun terakhir ini. Mereka berada di Amerika juga untuk melakukan pemeriksaan pada penyakit yang dideritanya.


Bila orang lain yang tidak mengenal Ziko lebih dekat. Maka kebanyakan akan mengira bahwa pemuda itu sehat tidak memiliki penyakit apapun. Namun, dibalik itu semua Ziko mengidap penyakit cukup berbahaya apabila tidak berhasil disembuhkan.


Seharusnya jika dia sehat. Sudah sejak dulu Ziko menikah dengan gadis yang ia cintai. Akan tetapi dua tahun lalu kekasihnya meninggalkan dia dan menikah dengan pria lain. Makanya Tuan Pradipto memanfaatkan ayah Aurel untuk menjodohkan anak mereka. Bila tidak seperti itu, maka siapa yang akan menikah dengan putra tunggalnya.


Merasa ada banyak pasang mata yang melihat kearahnya. Ziko pun menoleh kearah samping dan alangkah terkejutnya dia melihat ada Arsya di sana. Ya, Ziko memang mengenal Arsya, dari foto pemuda itu yang ada di dalam kamar Aurel, calon istrinya.


"Mereka---"


"A--apa, eum... benarkah?" Ziko tergagap karena dia mengira bahwa Arsya memiliki dendam padanya.


"Iya benar, Nak. Mereka berdua yang sudah membantu mu. Jika tidak, entah apa yang terjadi padamu," ibunya Ziko mengangguk membenarkan.

__ADS_1


Merasa jika dia dan Jeni sedang dibicarakan. Arsya pun menarik lembut tangan sahabatnya, untuk menyapa Ziko dan juga sekalian berpamitan untuk pulang.


"Huem, Om, Tante. Maaf, kami berdua mau pulang sekarang," si tampan berdehem dan bicara pada Tuan Paradipto lebih dulu. Setelah itu dia menatap pada Ziko dan berkata. "Kak, cepat sembuh, ya. Kami mau pamit pulang, soalnya ada pekerjaan yang belum kami selesaikan," lanjut Arsya diangguki oleh Jeni.


Meskipun hatinya sedang tidak menentu. Tapi Arsya tetap berlaku sopan. Dia berpamitan layaknya tidak ada apa-apa. Sebab sebetulnya memang seperti itulah jika dia ingin melupakan Aurel sepenuhnya.


Arsya memanggil Ziko kakak, karena bingung mau menyebutkan namanya Ziko jauh lebih tua darinya. Mau memanggil Om, atau yang lain itu lebih tidak mungkin lagi.


"Kenapa buru-buru sekali? Saya bahkan belum mengucapkan terima kasih," jawab Ziko menatap Arsya yang tidak bisa ditebak oleh siapapun. Sedangkan Aurel tidak berani untuk mengangkat kepalanya. Dia hanya menunduk sambil menahan rasa sesak melihat Arsya tidak ada menyapanya. Ternyata mantan sahabatnya benar-benar sudah menjaga jarak.


"Tidak apa-apa, yang terpenting Kakak cepat sembuh saja dan lain kali, jika bepergian jangan sendirian lagi," Arsya sedikit tersenyum dan menarik tangan Jeni meninggalkan ruang tersebut.


*BERSAMBUNG*...

__ADS_1



__ADS_2