
🥀🥀🥀🥀🥀
.
.
"Kalian hati-hati ya," ucap nenek Kenzo mengelus kepala Kenzo dan Salsa saat kedua cucu menantunya bersalaman karena ingin berangkat ke sekolah masing-masing.
"Iya, Nek!" jawab mereka serempak. Setelah berpamitan, keduanya langsung berangkat. Pagi ini Kenzo akan mengantar Salsa langsung ke SMK Erlangga. Bukan ke rumah mertuanya lagi seperti kemarin pagi.
"Terima kasih!" ucap Salsa karena Kenzo sudah membukakan pintu mobil untuknya. Pemuda itu tidak berkata apa-apa dia hanya mengangguk kecil. Lalu setelahnya dia berjalan memutari mobil dan masuk di bangku bagian kemudi mobil tersebut.
"Pasang sabuk pengamannya, perasaan bila nggak di ingatin lupa terus," kata Kenzo karena Salsa bukannya memasang sabuk pengaman. Tapi malah bermain ponsel.
"Gue memang suka lupa. Mungkin karena selama ini selalu ada Kakak yang memperhatikan semuanya." jawab Salsa memasang selt belt pada tubuhnya. Setelah itu dia kembali lagi bermain ponsel.
Gadis cantik itu sengaja menekan kata kakak, karena itulah kenyataannya. Kasih sayang Arsya pada sang adik. Membuat Salsa bergantung pada kakaknya. Sampai-sampai mengering rambut mengunakan alat saja Salsa tidak bisa.
Mendengar ucapan istrinya. Kenzo hanya bisa menghembuskan nafas keudara. Ia bukanlah pria bodoh yang tidak mengerti perkataan Salsa menyebutkan kakak iparnya. Meskipun tidak sengaja melupakan keberadaan istrinya, kejadian tadi malam, tentu saja membuat Kenzo merasa bersalah.
"Nanti Lo pulang jam berapa? Biar gue jemput. Setelah ngantar Lo pulang ke rumah kakek, baru gue kembali ke kampus. Itupun jika jam pulang kita nggak sama." tanya Kenzo sudah mulai menjalankan kendaraan mewahnya.
Kenzo sengaja mengabaikan apapun yang akan Salsa katakan, sebab ia tahu kesalahannya.
"Jam dua biasanya dah pulang." menjawab tapi tetap cuek karena Salsa tidak ingin dekat-dekat dengan suaminya itu, karena setelah mendengar suara perempuan saat dia menelepon tadi malam. Salsa mengklaim jika suaminya itu adalah seorang Playboy.
"Oke, nanti gue jemput. Jangan pulang duluan." setelahnya Kenzo tidak bertanya lagi. Dia hanya pokus membawa kendaraannya membelah jalanan ibu kota yang ramai karena semuanya keluar rumah untuk beraktivitas seperti biasanya.
Sekitar delapan belas menit kemudian. Mobil mewah Kenzo sudah sampai di depan gerbang SMK Erlangga milik mertuanya.
"Berhenti! Cukup sampai di sini! Nanti juga jemputnya nggak usah masuk, tunggu aja karena gue yang akan keluar." seru Salsa karena dia akan turun di luar gerbang saja.
"Huem, ya sudah! Masuk gih! Setelah Lo masuk, baru gue pergi." titahnya yang tidak mungkin meninggalkan istrinya begitu saja.
Salsa mengangguk setelah mengendong kembali tasnya dia pun bersiap untuk keluar. Namun, saat tangannya ingin membuka pintu mobil tersebut. Ia berhenti, lalu menoleh lagi kearah belakang dan menarik tangan Kenzo untuk dia salami.
"Gue berangkat! Terima kasih!" ucapnya langsung keluar. Padahal Kenzo masih terbengong karena masih kaget, Salsa menyalami tangannya secara mendadak.
__ADS_1
"Hati-hati!" jawab Kenzo meskipun percuma saja dia menjawabnya, karena Salsa sudah masuk ke dalam pagar besi yang menjulang tinggi.
Setelah memastikan keselamatan istrinya yang sudah masuk ke dalam kawasan mertuanya sendiri. Barulah Kenzo menghidupkan kendaraannya untuk menuju Universitas Bima Sakti.
Saat dia ingin menjalankan kendaraan roda empat tersebut. Mobil Arsya yang sama mewah seperti mobilnya memasuki pagar sekolahan. Walaupun kaca mobil tersebut tertutup, tapi Kenzo tahu itu adalah mobil kakak iparnya.
Tiiin!
Tiiin!
"Huh!" Kenzo membunyikan klakson sebagai sapaan. Lalu dia meninggalkan kawasan tersebut. Apa yang Kenzo lakukan barusan anggap saja sebagai ucapan terima kasihnya pada sang kakak ipar yang telah membacakan cerita untuk istrinya. Meskipun lewat sambungan telepon, nyatanya sangat membantu. Salsa bisa tenang dan tidur dengan nyenyak.
"Besok gue mulai berangkat ke perusahaan. Mudah-mudahan tidak ada hujan besar lagi, kalau nggak repot banget hidup gue. Mana kerjanya mulai sore, mana mikirin istri yang takut sama hujan juga." keluh Kenzo pada dirinya sendiri.
"Lagian Salsa aneh banget sih, sama hujan kok takut," sambil mengendarai mobilnya Kenzo bergumam-gumam. Anggap saja dia lagi curhat pada dirinya sendiri.
"Gimana caranya ya, biar gue bisa kerja. Tapi bisa jagain Salsa juga? Gue nggak mau nyusahin papa mertua sama si Arsya. Sudah kalah dalam pertandingan Basket, masa iya, buat menjaga adeknya gue juga nggak becus." Kenzo memang bertekad jangan sampai kejadian seperti tadi malam terulang kembali.
Sama saja dia menjatuhkan martabatnya sebagai laki-laki di hadapan kakak iparnya. Kenzo tidak mau dibilang tidak bertanggung jawab atau sebagainya.
"Agh, sudahlah! Nanti gue pikirin lagi caranya. Gue juga harus nannya sama kakek dulu. Di perusahaan gue kerja sebagai apa? Jangan-jangan sebagai tukang bersih-bersih karena kakek marah, saat dia nyuruh kerja, gue nya nolak." karena mobilnya sudah sampai, Kenzo pun berhenti mengoceh. Lalu dia mengambil tas, ponsel dan mencabut kunci mobilnya.
"Mia, Lo dah mulai masuk?" seru Kenzo membalas senyuman sahabatnya.
"Seperti yang Lo lihat," jawab Mia berdiri di samping Kenzo. "Ayo masuk!" ajaknya karena tahu jika Kenzo masuk pagi.
"Iya!" Kenzo pun mulai berjalan bersama sahabatnya. "Lo bawa mobil sendiri, atau di antar?"
"Di antar dong. Gue mana berani membawa mobil sendiri semenjak kejadian dua tahun lalu." jawab Mia sambil berjalan. Dua tahun yang lalu Mia pernah mengalami kecelakaan, maka dari itu dia tidak berani membawa mobil sendirian.
"Kita berpisah di sini, gue masuk pagi. Lo hati-hati, ya. Bila butuh bantuan hubungi gue." pesan Kenzo karena jurusan Manajemen dan jurusan desain berbeda arah.
Mia hanya meng-iyakan karena dia juga ingin mengenal tempat tersebut. Sebab kemarin siang, dia hanya pergi ke kantin dan ke gedung olahraga saja. Setelahnya langsung pulang.
"Ken, Lo dah datang!" sapa Andra. Dia sudah tiba duluan daripada sahabatnya yang lain.
"Iya! Apa yang lainya belum datang?" Kenzo balik bertanya.
__ADS_1
"Belum, paling sebentar lagi." jawab Andra yang tiba-tiba duduk di sebelah Kenzo.
"Kenapa?" mendapatkan keanehan pada sahabatnya. Kenzo menyergit satu alisnya keatas.
"Tadi gue nggak sengaja lihat mobil Lo berlawanan arah dari universitas kita? Emangnya Lo pergi kemana?" tanya Andra penuh selidik.
"Gue ngantar adek sepupu." Kenzo menjawab santai, karena dia memang sudah memikirkan hal tersebut. Apabila suatu saat ada yang melihat mobilnya mengarah ke SMK Erlangga.
Namun, siapa sangka. Baru pagi ini saja, sudah ada sahabatnya yang melihat.
"Sepupu? Bukannya papa Lo anak tunggal? Sepupu yang mana, jangan-jangan pacar Lo, ya?" Andra tadi memang melihat mobil Kenzo. Akan tetapi dia tidak tahu kalau Kenzo membawa penumpang.
"Ck, sejak kapan Lo kepo seperti Eel?" bukanya menjawab, tapi Kenzo malah mengejek Andra.
"Wah, wah! Jadi kalau gue belum datang. Kalian berdua ghibahin gue rupanya." dasar si Eel. Pagi-pagi dia sudah membuat kedua sahabatnya mengelus dada.
"Heh, Faijo! Kalau dengar omongan orang jangan suka mengambil kesimpulan aja," seru Andra menimpuk kepala Eel mengunakan buku. Lalu setelahnya dia pindah ke kursinya sendiri, karena kursi yang dia duduki tadi adalah tempat Eel.
"Andra! Lama-lama gue hajar Lo ya. Perasaan sering banget nimpuk kepala gue," sungut Eel duduk di bangkunya sendiri.
Tidak lama setelah perdebatan dan candaan atar sahabat. Dosen yang membimbing mereka sudah masuk dan mereka semua hanya pokus belajar. Tidak ada yang berani berbicara.
Kenzo pun merasa lega karena kedatangan Eel membuat Andra tidak menanyakan perihal sepupunya lagi.
*BESAMBUNG* ...
.
.
Sebelumnya... Mak ingin mengucapkan terima kasih karena kalian sudah mau membaca karya receh Mak author😘. Sudah sering Mak ingatkan, ya. Jika tidak suka sama jalan ceritanya atau pada karya-karya Mak author, maka silahkan skiip!!!! Carilah novel lain yang jauh lebih menarik😭😭🤧
Cerita Salsa adalah mengisahkan tentang pernikahan dia dan Kenzo. Tentu saja yang namanya kisah rumah tangga. Pasti akan ada kemiripan. Jadi berhentilah menghujat karena perkataan kalian akan membuat kami sebagai penulis down.
So... kami tidak akan rugi kehilangan pembaca yang julid, karena masih ada pembaca yang mau menerima karya kami meskipun menurut kalian hanya sampah.
Jika sesama author pasti tahu berapa hasil kami menulis. Perlu kalian ketahui, dalam 1000 pembaca, jika karya kami hanya level 3. Maka hanya mendapatkan penghasilan sebanyak 300 rupiah. Sedangkan yang baca saja hanya bijian.
__ADS_1
Jadi paham kan, betapa sulitnya kami berjuang! Jadi tolong berhentilah menghujat, yang kalian sendiri saja belum tentu bisa.
Atas perhatiannya, Terima kasih.🙏🙏🙏