Pernikahan Salsa

Pernikahan Salsa
Ketahuan Berbohong.


__ADS_3

🥀🥀🥀🥀🥀


.


.


"Tolong bayarin, ini pakai kartu milik gue, hari ini gue yang bayar barang-barang kalian. Termasuk Ara, tapi gue mau duluan sama princess." ucap Farel memberi paksa barang yang akan ia beli. Lalu sebelum para sohibnya menjawab, Farel sudah menarik tangan Salsa meninggalkan meja kasir.


Si princess yang memang sudah dari tadi ingin pergi agar tidak melihat sosok Kenzo dan Mia tentunya mengikut saja. Apalagi pria yang membawanya adalah sahabat sang kakak kesayangan.


"Kak, itu sahabat gue mau dibawa ke mana?" teriak Ara ingin mengejar Farel dan Salsa yang semakin menjauh dari meja kasir.


"Ara, Ara! Sudah biarin aja, setelah ini kita susul mereka. Gue yakin tu anak pergi mencari makan siang." cegah Denis menahan pergelangan tangan Ara, karena sebelum bertemu Salsa. Mereka memang berencana untuk makan siang di Restoran yang ada di lantai tiga.


"Tapi, Kak gue tak---"


"Nggak akan kenapa-kenapa, Farel pasti akan menjaga princess. Dia itu diam-diam sudah lama menyukai Salsa. Hanya saja si Farel mainnya santai, seperti ini contohnya, kita yang nyamperin Inces duluan, tau-taunya diserobot sama dia." sela Dito kembali melihat ke arah meja kasir, dan kebetulan sekali Kenzo sudah selesai. Tinggal giliran Ara.


"Wah, belanja bareng pacar, Men." seru Denis memberikan salam ala-ala anak muda. Hal serupa juga dilakukan oleh Dito, sedangkan Ara langsung saja membayar barang-barang miliknya sendiri, karena gadis tersebut ingin menyusul sahabatnya.


"Iya," jawab Kenzo singkat dan padat. "Gue duluan ya," pamitnya lalu pergi meninggalkan rivalnya saat di lapangan.


Dito dan Denis pun hanya mengangguk, karena mereka memang bukanlah teman. Bertegur sapa dengan orang yang dikenal hal wajar, jadi tidak ada yang salah.


"Ken, Lo kenal sama mereka? Kok gue seperti pernah melihat cewek yang tadi dibawa pergi sama cowok satunya ya?" ujar Mia mengingat-ingat, karena dia memang lupa.


"Mungkin saat pertandingan Basket waktu itu, mereka semua anak-anak SMK Erlangga." jawab Kenzo mulai tidak tenang setelah pertemuan dengan sang istri, yang tanpa ia duga jika Salsa akan mendatangi Mall tersebut. Selain jauh dari kediaman mertuanya, Arsya juga tidak ada yang biasanya selalu mengawasi adiknya.


Tadi pagi Kenzo dan Arsya perginya serempak, dia tahu kalau kakak iparnya lagi ikut bersama Sekertaris Aldi. Jadi mendatangi Mall ini menurut Kenzo sangatlah aman. Namun, nasi sudah menjadi bubur. Sekarang Salsa sudah mengetahui dia pergi bersama Mia, bukan seperti perkataannya yang ingin menemui rekan kerjanya.


Satu-satunya jalan agar Salsa tidak marah padanya, Kenzo harus berkata jujur dan menjelaskan bahwa dirinya di minta untuk mengawasi Mia selama orang tuanya kembali ke Korea. Ya, benar! Itulah yang lagi Kenzo pikirkan saat ini, dia sangat yakin Salsa pasti akan mengerti.


Si princess orang yang berhati lembut, walaupun ia terkenal begitu manja. Namun, dibalik itu semua tidak ada orang lain yang tahu, jika si manja tersebut pintar memasak dan bahkan membereskan dapur. Kenzo sendiri saja tidak menyangka jika istrinya bisa melakukan hal tersebut yang Mia sendiri saja tidak bisa melakukannya.


"Oh, pantesan mereka melihat kita seperti ada sesuatu gitu," Mia mengangguk mengerti, lalu ia menarik tangan Kenzo. Sehingga pemuda tersebut berhenti dan melihat kebelakang. Dari sorot matanya memberikan sebuah tatapan yang mengandung pertanyaan. Apa?


"Itu cewek yang dibawa pergi tadi Lo kenal dia juga?" Mia kembali bertanya karena dia merasa tidak asing dengan wajah Salsa.


"Huem, kenapa?" Kenzo bergantian bertanya.


"Dia anak SMK Erlangga juga?"


"Iya, ada apa?" tanya Kenzo lagi karena Mia belum menjelaskan, kenapa dia begitu ingin tahu.


"Nggak ada apa-apa. Tapi itu cewek yang Lo kasih air mineral waktu itu, kan? Oh, iya benar gue ingat sekarang. Dia memang cewek waktu itu, tadi gue juga dengar mereka menyebut namanya princess." Mia menepuk keningnya sendiri karena sudah berhasil mengigat Salsa.


"Iya, dia cewek waktu itu. Sudah ah ayo, mau jadi makan siang atau mau langsung pulang?" ujar Kenzo tidak nyaman harus membahas istrinya. Saat ini Kenzo ingin cepat-cepat pulang dan menjelaskan pada Salsa, agar tidak menjadi masalah pada hubungan mereka.


Kenzo sangat menyesal kenapa tadi dia tidak jujur saja, dan malah berakhir seperti saat ini. Dia berbalas pesan dengan Mia. Istrinya sudah marah, apalagi ini malah kepergok lagi jalan dan berbelanja berdua. Entah seperti apa marahnya Salsa nanti.


Namun, saat ini Kenzo juga tidak mungkin meninggalkan Mia, dan pergi menjelaskan pada sang istri bahwa semua ini tidak sama seperti yang ada di pikiran istrinya. Apalagi Salsa lagi bersama teman-teman Arsya. Bisa-bisa ketahuan hubungan mereka.


"Eh, nggak! Kita makan siang dulu, disini makanannya enak-enak. Rugi kalau kita langsung pulang." Mia yang takut Kenzo berubah pikiran, langsung saja menarik tangan pria itu menuju Restoran yang ada di dalam gedung yang sama.

__ADS_1


"Yasudah ayo, gue mau pulang setelah ngantar Lo pulang," kata Kenzo mengikuti Mia dari belakang. Sebab tangannya di tarik oleh sahabat dari masa kecil.


Tiba di dalam Restoran Jepang yang sangat terkenal akan enaknya makanan di sana.


"Ayo Ken kita duduk di sana," ajak Mia masih menarik tangan Kenzo. Sebetulnya bila Kenzo belum memiliki istri tidak ada yang salah, karena mereka berdua sejak dulu memang seperti itu. Namun, sekarang berbeda, Kenzo sudah memiliki istri dan seharusnya ia bisa menjaga martabatnya sebagai seorang suami. Agar istrinya juga akan berlaku seperti itu. Tapi karena melihat dengan mata kepalanya sendiri, apalagi Kenzo berbohong padanya. Membuat Salsa ingin membalas semuanya yang Kenzo lakukan padanya.


Deg!


Kenzo kembali lagi menegang saat kembali bertemu pandang dengan Salsa yang ternyata juga ada di Restoran itu. Si princess hanya memperhatikan saja tangan suaminya yang di gandengan oleh Mia. Salsa hanya menatapnya dengan tersenyum miris. Baru tadi pagi mereka bercumbu dan hampir saja ia memberikan mahkota berharganya pada laki-laki playboy dan pembohong seperti Kenzo suaminya. Lalu siang harinya sudah mengandeng gadis lain lagi.


"Brengsek Lo, Ken. Gue nggak nyangka Elo akan sepicik ini buat mempermainkan perasaan gue. Jadi ini alasannya kenapa Lo meminta maaf saat kita berdua sudah sama-sama akan melakukannya,"


Gumam Salsa sebelum suara Farel menyadarkan dia dari ingat kejadian tadi pagi.


"Bagaimana mau kan nonton bareng Kakak?" tanya Farel menatap Salsa penuh harapan. Saat ini mereka sudah mendapatkan meja kosong, yang ada di dekat dinding kaca besar. Kebetulan sekali meja yang Mia dan Kenzo duduki hanya berjarak tiga meja dari mereka. Selain weekend, ini adalah jam makan siang. Jadi sudah pasti sangat ramai pengunjung yang datang ke sana.


"Tapi Salsa harus izin dulu sama---"


"Tidak perlu, kakak yang akan ngomong langsung sama Arsya. Nanti pulangnya kakak yang akan mengantar sampai ke rumah Opa Heri," sela Farel tahu kegelisahan Salsa. "Ada masalah itu harus dibawa Heppi, jika diam di dalam kamar, maka pikiran kita akan bertambah kacau." kata Farel yang tahu kalau gadis yang ia sukai lagi ada masalah.


Malam itu, saat di lampu merah ia tidak sengaja melihat Salsa dan Kenzo satu mobil. Makanya Farel mengira pasti Salsa lagi memiliki masalah dengan musuh mereka. Apalagi tadi ada Kenzo juga, yang lagi jalan dengan cewek lain.


Farel memang tidak tahu Salsa dan Kenzo adalah pasangan suami-istri. Akan tetapi ia mengetahui mereka pasti berpacaran. Hanya saja dia diam saja karena tidak memiliki hak juga untuk melarang Salsa mau dekat dengan siapapun


Sudah tiga kali pertandingan antara dia dan club Kenzo. Farel selalu memperhatikan rivalnya itu menatap Salsa penuh damba. Sama seperti anak-anak yang lainnya, bahkan dirinya sendiri juga seperti itu. Lagia makhluk mana yang tidak akan suka pada gadis secantik Salsa.


Bukan hanya itu saja. Di setiap ada kesempatan, meskipun lagi di dalam lapangan, Kenzo selalu mencuri pandang pada Salsa yang merupakan adik dari saingan Kenzo. Belum lagi Kenzo berani memberikan Salsa air minum padahal di depan teman-temannya. Dugaan tersebut semakin menguat setelah melihat Salsa satu mobil bersama Kenzo.


"Iya, Salsa mau. Tapi kita izin dulu sama kakak," jawab Salsa setelah terdiam beberapa saat, dan memikirkan perkataan Farel ada benarnya. Kenzo saja bisa jalan dengan cewek lain, meskipun sahabatnya sendiri. Kenapa Salsa tidak bisa. Seharusnya inpaskan.


"Durjana Dit, bukan Nurjanah. Nurjanah anak ibu kantin kita," tawa Denis mendengar ucapan sahabatnya.


"Alah sama aja, masih ada na nya juga," bela Dito yang selalu salah bila menyebutkan kata Durjana menjadi Nurjanah.


"Sudah, jangan pada berisik," cegah Farel. Lalu pemuda itu berkata lagi pada Ara yang hanya berdiri saja, karena mungkin bingung akan duduk di mana. "Ra, ayo duduk di samping princess," ucap Farel pada Ara yang juga menyusul ke Restoran. Tadi setelah memesan makanan untuk mereka semua. Farel sudah menghubungi Denis agar menyusul ke Restoran tersebut.


"Iya, Kak. Thanks!" Ara langsung saja duduk di sebelah Salsa. Begitu pula dengan Denis dan Dito.


"Lo main tikung aja, Rel. Kita di suruh mengantri di kasir. Elo merayu Salsa di sini," cibir Denis karena menurutnya Farel diam-diam menghanyutkan.


"Ck, mulai!" decak Farel. "Jika gue sama Salsa nggak datang ke sini duluan, maka kita tidak kebagian tempat."


"Kak Farel benar, coba lihat semua meja sudah penuh. Kita sudah hampir tidak kebagian tempat." imbuh Ara melihat ke seliling mereka tidak ada lagi meja yang kosong.


"Tuh, Ara aja tahu jika yang gue omongin benar," kata Farel seperti mendapatkan pendukung. "Ayo makan, setelah ini gue sama princess mau nonton, jika kalian mau ikut tidak apa-apa."


"Eh, tapi Ara nggak ikut lah, soalnya sudah ada janji mau pergi sama mama, takutnya telat." tolak Ara cepat. Sebab dia dan Salsa memang tidak ada rencana mau menonton.


"Tapi... Ra, gue nggak ada temannya kalau Elo pulang," kata Salsa yang ingin Ara juga menonton.


"Soryy Sa, gue ada janji sama mama jam setengah du berangkatnya. Lain kali aja kita nonton lagi, hari ini Elo nonton aja sama Kak Farel. Sebab Kak Denis sama Kak Dito juga nggak bisa nonton bersama kalian berdua." kata Ara tersenyum sambil memberi kode pada Denis dan Dito yang ingin protes. Kata siapa mereka berdua tidak mau ikut nonton bersama Princess.


"Tapi gue bis---"

__ADS_1


"Iya benar, kalian nonton berdua aja ya princess. Soalnya kakak sama Kak Dito ada acara lain." sela Denis cepat, karena ingin memberi Farel kesempatan buat mendekati adik teman mereka. Tanpa memikirkan Dito mengaduh kesakitan karena ia mencubit pinggang nya cukup kuat.


"Aaahk! Auh, kenapa di Restoran ada semut sih," seru Dito masih mengaduh kesakitan.


"Ha... ha... semutnnya nakal ya, Kak." ucap Salsa terkikik di ikuti oleh Ara. Mereka berdua bukannya gadis bodoh yang tidak tahu kenapa Dito mengaduh kesakitan.


"Princess kalau lagi tertawa bertambah cantik aja, jadi untuk mengurangi banyaknya saingan kakak. Jangan tertawa lagi, ya." kata Farel yang tidak pernah banyak bicara. Namun, hari ini malah menggoda Salsa di depan sahabatnya dan bahkan orang-orang yang ada di meja dekat mereka ikut mendengarnya. Termasuk Kenzo yang hanya bisa mengepalkan tangannya erat di bawah meja.


"Ken, kenapa makanannya tidak di habiskan?" tanya Mia melihat Kenzo sejak tadi hanya mengetik di ponselnya, dan juga nampakb tidak tenang.


"Gue... sudah kenyang. Habisin makanan Elo, kita pulang," titah Kenzo menaruh lagi ponselnya ke saku, karena percuma saja dia mengirim pesan. Salsa tidak membalasnya sama sekali.


"Yasudah ayo, gue sendiri juga sudah kenyang." ajak Mia berdiri lebih dulu.


Setelah Kenzo membayar makanan yang mereka pesan. Mereka berdua langsung saja pergi dari sana.


Braaak!


Suara pintu mobil yang Kenzo tutup cukup keras.


"Jadi Om mau berangkat jam berapa?" tanya Kenzo setelah mereka sama-sama masuk ke dalam mobilnya dan memasang sabuk pengaman masing-masing.


"Nanti sore jam setengah lima." jawab Mia karena tadi papinya memang tidak menyebutkan pada Kenzo, jika mereka akan berangkat pukul berapa.


"Oh, berarti sore." Kenzo mengangguk sambil menjalankan kendaran mewahnya. "Setelah ngantar Elo gue mau langsung pulang, nggak mampir lagi. Salam aja buat mami Elo, karena gue buru-buru." Kenzo berkata demikian agar nanti dia bisa cepat pulang dan berbicara dengan Salsa.


Sebab Kenzo belum tahu bahwa Salsa akan menonton bioskop bersama Farel. Entah jam berapa baru akan pulang.


"Iya tidak apa-apa, thanks ya, Ken. Maaf gara-gara masalah nyokap sama bokap gue. Elo jadi ketempuhan repotnya." ujar Mia merasa tidak enak.


"Tidak apa-apa, kita sahabat, Mi. Selama ini gue juga sering ngerepotin Elo," jawab Kenzo tersenyum kecil. Untuk menunjukan jika tidak tidak masalah sama sekali.


Sepanjang perjalanan kerumah Mia. Kenzo masih mengobrol seperti saat mereka berangkat tadi. Tidak ada yang berubah, walaupun hatinya lagi gelisah. Dua puluh menit kemudian, mereka sudah tiba di depan rumah mewah Mia.


Kenzo hanya turun membukakan pintu mobilya untuk membantu Mia. Sesudahnya ia langsung masuk ke mobil dan kembali pulang ke rumah Opa Heri, karena sudah tahu jika malam ini mereka di minta untuk makan malam bersama keluarga Erlangga.


Ttddddd!


Ttddddd!


"Sa, angkat dong!" seru Kenzo terus berusaha menghubungi Salsa. Namun, sudah berulangkali tidak juga di angkat-angkat.


Tttddd!


"Maaf nomor yang Anda tujui sedang tidak aktif. Mohon coba beberapa saat lagi."


Bunyi operator perempuan yang memberitahukan bahwa nomor Salsa tidak aktif. Padahal sebelumnya masih bisa terhubung. Sangat jelas jika Salsa sengaja mematikan ponselnya.


"Sial, kok malah di matiin sih," umpat Kenzo kesal. "Dia pasti marah gara-gara gue berbohong," Kenzo mengusap wajahnya kasar. Dia merutuki kesalahannya yang berbohong pada sang istri.


Jika saja Salsa tidak bertemu langsung dia lagi jalan dengan Mia. Maka Kenzo pasti tetap berbohong, karena tidak ingin Salsa menyuruh antara sahabat atau hubungan mereka.


Kenzo memang berniat menjauhi Mia, tapi dia butuh proses. Tidak bisa langsung seperti yang Salsa inginkan. Namun, siapa sangka juga, jika orang tua Mia meminta bantuannya yang sangat sulit untuk Kenzo tolak.

__ADS_1


Lagian hanya untuk mengawasi keadaan Mia saja. Jadi tidak ada masalah juga, karena tidak akan menggangu waktunya. Itulah yang Kenzo pikirkan.


*BERSAMBUNG*...


__ADS_2