
🥀🥀🥀🥀🥀
.
.
Tidak lama setelah Salsa masuk bersama Aditya, adik angkatnya. Kenzo menyusul di belakang mereka. Princes Erlangga itu tidak ada berbasa-basi mengajak pemuda yang sudah menjadi suaminya masuk kedalam rumah. Dia seakan-akan belum memiliki suami saja.
Untungnya Kenzo bukan seumuran dengan sang istri. Jadi bisa mengalah dan memaklumi kelakuan istrinya yang masih kekanak-kanakan. Apalagi dia tahu kalau Salsa begitu disayang oleh orang-orang disekelilingnya.
"Sayang, mana suamimu?" tanya Rian dan Nando secara bersamaan. Mereka berdua saat ini lagi berada diruang keluarga. Sedangkan Ayla dan Sari pergi ke dapur untuk membantu apa saja yang bisa mereka kerjakan. Meskipun para pelayan sudah banyak. Bukan berarti mereka menjadi Nyonya-nyonya pemalas.
"Agh, Papa sama Ayah selalu seperti itu." gadis itu tidak menjawab pertanyaan kedua pria terhebatnya. Dia hanya pokus pada Rian dan Nando yang menanyakan pertanyaan yang serupa. Kedua sahabat yang abadi sampai saat ini.
"Mana menantu kami?" tanya Nando mengulangi pertanyaan sebelumnya. Baginya Salsa dan Arsya sama seperti anak kandungnya sendiri. Dari Ayla hamil dia membantu menjaganya sampai sekarang.
Begitu mendengar kalau putri kesayangannya akan menikah gara-gara di jebak. Nando yang biasanya sabar langsung menghajar para pengawal Erlangga group. Tidak ada yang berani menantangnya karena tahu kalau Nando selain ayah angkat Salsa dan sahabat Rian. Dia juga merupakan anak didik dari Tuan besar mereka. Yaitu Tuan Heri Erlangga.
"Dia---"
"Kenzo disini, Pa, Yah." jawab Kenzo yang baru tiba, karena dia berjalan pelan. Ingin melihat Salsa akan menyusulnya keluar atau tidak. Ternyata percuma saja dia melakukannya. Sebab Salsa tidak ada menyusulnya keluar.
"Duduklah! Ada yang ingin Papa dan Ayah sampaikan pada kalian berdua." kata Rian pada menantunya. Namun, sebelum itu dia menoleh kearah Aditya yang tangannya di peluk oleh Salsa, karena gadis itu tidak boleh adiknya pergi dari sana.
"Sayang lepaskan tangan adikmu. Biar dia bermain bersama Kak Arsya." Rian berkata pada sang putri.
"Tapi Salsa mau duduk sama adek, Pa."
__ADS_1
"Nanti lagi, sekarang ada yang ingin kita bahas. Tapi percakapan ini tidak boleh didengar oleh anak kecil seperti adikmu." sekarang bergantian Nando yang berbicara.
"Iya!" melepaskan tangan Aditya dan setelah adik angkatnya pergi. Salsa mengambil bantal sofa lalu memeluknya. Jangan lupakan matanya menatap pada Kenzo tidak suka.
Namun, sayangnya yang di tatap malah cuek tidak perduli. Bagaimana tidak marah coba. Benar-benar menguji kesabaran Princes Erlangga.
"Ken, ayo duduklah! Jangan pernah sungkan. Sekarang kamu sudah menjadi anak Papa. Jadi rumah ini juga rumah mu." perintah Rian pada sang menantu hanya berdiri. Setelah disuruh barulah Kenzo duduk disebelah istrinya.
Meskipun dengan jarak berjauhan karena dia juga malu pada Rian. Mertuanya tidak hanya orang hebat, tapi juga masih sangat muda. Mungkin bila orang yang tidak mengetahui bila mereka berjalan, akan dikira bersahabat atau adik kakak. Bukan sebagai ayah mertua dan menantu.
"Kenzo, Salsa saat ini kalian berdua sudah sah menjadi suami istri. Papa harap kalian tidak pernah bermain-main dengan pernikahannya." ucap Rian membuka pembicaraan mereka lebih dulu.
"Benar sekali, maksud dari Papa kalian adalah. Jangan pernah kalian berdua membuat sebuah surat pernikahan misalnya--- Pernikahan kontrak, seperti yang lagi heboh di dunia pernovelan." timpal Nando menyambung ucapan Rian.
Rian yang mendengar ucapan sahabatnya langsung menatap kearah sang sahabat. Di dalam hatinya berkata.
"Berengsek, Lo Nan! Untung ada anak sama menantu gue. Kalau nggak, habis Lo."
"Terutama buat kamu, Ken. Jika kamu tidak bisa mencintai Putri kami. Maka tidak perlu membuat surat perjanjian atau sebagainya. Cukup kembalikan Salsa seperti saat kamu membawanya pergi dari rumah ini." lanjut Nando yang tidak ingin nasip putri angkatannya sama seperti Ayla.
Wanita yang sudah dianggap adik perempuannya. Dari dulu sampai sekarang. Meskipun Nando sudah memiliki istri dan seorang putra. Rasa sayangnya pada Ayla tetaplah sama.
Kenzo dan Salsa hanya diam sambil menundukkan kepalanya. Mendengarkan nasehat untuk mereka berdua. Baik Kenzo ataupun Salsa tentunya tahu maksud dari pesan tersebut, karena kedua orang tua mereka sama-sama menikah karena perjodohan. Sedikit banyaknya mereka pasti tahu kisah para orang tuanya masing-masing.
"Satu lagi, kalian berdua tidak ada yang boleh memiliki kekasih, apabila masih terikat dalam tali pernikahan." sela Rian tidak ingin putrinya sampai di selingkuhi seperti dia menduakan Ayla.
Meskipun mereka sangat berharap pernikahan Salsa dan Kenzo bisa saling mencintai dan langgeng seperti hubungan para orang tua. Tetap saja Rian memberikan mereka pilihan, apabila memang keduanya tidak bisa saling mencintai. Buat apa di pertahankan.
__ADS_1
Papa sianga itu, tidak takut bila putrinya menjanda. Dari pada harus hidup menderita. Makanya dia berpesan seperti itu.
"Buat Salsa, Papa harap kamu bisa menjadi istri seperti mama kalian. Sekarang kamu bukan tanggung jawab Papa lagi. Jadi apabila itu baik, maka dengarkanlah ucapan suamimu." sekarang Rian bergantian menasehati Salsa. Sesayang apapun pada putrinya. Apabila sudah menikah, maka semua orang tua tidak bisa berkuasa seperti biasanya. Sebab semua tanggung jawab tersebut telah berpindah tangan.
Hampir empat puluh menit lamanya. Rian dan Nando memberikan nasehat pada anak menantu mereka. Entah di dengar atau tidaknya yang penting sudah memberikan nasehat tugas terakhir sebagai orang tua.
"Ken, malam ini bawalah Salsa pulang kerumah mu. Tadi, Demian sudah meminta izin, agar malam ini kalian menginap di sana, karena besok pagi kedua orang tuamu akan pulang." ucap Rian setelah selesai memberi beberapa pesan dan ancaman pada si menantu.
"I--iya, Pa. Tadinya Kenzo juga mau minta izin untuk membawa Salsa pulang. Tapi ternyata papa Demian sudah bilang ke Papa." jawab Kenzo merasa bersyukur karena sebelum dia berbicara pada mertuanya. Demian sudah meminta izin duluan.
"Tidak apa-apa, pergilah! Sekarang Salsa adalah istrimu. Sudah sepatutnya dia ikut kemana suaminya pergi." imbuh Rian tidak ingin mempersulit menantunya, karena dia juga mendapatkan mertua yang sangat baik seperti Ayah Ridwan.
"Tapi--- Bila diluar mau hujan. Kamu jangan pernah meninggalkan Putri Ayah sendirian." Nando kembali mengingatkan. Padahal membahas Salsa yang takut dengan hujan saja sudah lebih dari sepuluh kali.
"Iya, Pa, Yah. Ken akan menggigat semua pesan kalian." pemuda yang baru saja melepas masa lajangnya itu menjawab yakin. Bahwa dirinya bisa menjaga dan menjadi suami terbaik untuk Salsa.
"Kalau begitu pergilah istrirahat. Tidak usah buru-buru pulang ke sana." sambung Rian yang sudah merasa kantuk ingin istrirahat. Dari tadi malam dia tidak bisa tidur, gara-gara mengurus pernikahan Princes Erlangga yang secara dadakan.
"Sayang, bawalah Kenzo ke kamar mu." melihat kearah putrinya yang diam saja. Meskipun di dalam hatinya sedang merutuki Kenzo.
"Iya, Pa. Kalau begitu kami istrirahat sekarang.' Ayah adek istrirahat dulu. Dada ... sayang Papa, sayang Ayah juga." kata gadis itu berdiri dari duduknya. Lalu setelah memberikan pelukan pada Rian dan Nando. Dia langsung membawa Kenzo ke kamarnya.
Tiba di lantai atas.
Cek ...lek ...
Suara pintu dibuka oleh Salsa. Begitu tiba didalam kamarnya, dia kaget bukan main karena kamar tersebut sudah di hiasi oleh kelopak bunga mawar dan beberapa hiasan lainnya. Khas untuk pengantin baru.
__ADS_1
"Wah, wah, ternyata Lo suka sama Om, Om juga?" tersenyum melewati Salsa yang masih termangu di tempatnya berdiri.
*BERSAMBUNG* ...