
🥀🥀🥀🥀🥀
.
.
Sementara itu, di Restoran tempat Salsa, Ara dan para sahabat kakaknya.
"Ternyata itu tadi pacarnya Kenzo, ya." ucap Denis saat melihat Kenzo dan Mia pergi dari sana.
"Kata siapa?" seru Farel sambil matanya menatap lekat Salsa yang hanya diam saja.
"Dia sendiri tadi yang menjawab iya," timpal Dito karena tadi dia juga mendengarnya.
"Ah, kalian berdua salah dengar kali, mungkin itu cewek hanya sahabat atau bisa jadi saudaranya. Seperti princess sama sohib kita, bagi orang yang tidak kenal. Akan menganggap mereka berdua pacaran." kata Farel takut jika kedua sahabatnya memang salah dengar.
"Enggak Kak, tadi Ara juga mendengarnya. Saat Kak Denis atau Kak Dito yang bertanya ya, Ara lupa. Namun, dia bilang iya lagi belanja bareng pacarnya." sambung Ara, sebab tadi dia memang mendengar bahwa Kenzo mengakui lagi berbelanja bersama pacarnya. "Jika itu teman pasti dia akan bilang bukan, ini sahabat, atau saudara perempuannya . Iya kan Kak Dito, Kak Denis," Ara meminta persetujuan pada kedua pemuda yang tadi mengobrol duluan.
Deg!
"Ternyata benar, Mia memang ke kasihnya. Thanks Ken, hari ini Lo sudah memberi hadiah besar yang belum pernah gue rasakan sebelumnya."
Salsa kembali bergumam di dalam hatinya. Sakit, sakit tapi tidak berdarah, di umur delapan belas tahun dia baru pacaran untuk pertama kalinya. Itupun pacaran dengan suami sendiri, yang sudah sah dan halal. Namun, kenyataan pahit harus di telan bulat-bulat oleh gadis yang merupakan princess Erlangga.
Gadis yang selalu di nomor satukan oleh keluarga besarnya. Hanya Salsa anak perempuan dari keluarga Erlangga maupun Ridwan. Begitu pula dari orang tua angkatnya, Nando dan Sari, Andre beserta Wika istrinya. Mereka tidak memiliki anak perempuan, makanya Salsa begitu mendapat kasih sayang yang berlimpah.
Persahabatan Rian dengan kedua sahabatnya yang menjadi seperti saudara sendiri, hingga akhirnya memilih tinggal di kompleks perumahan yang sama. Saling menjaga anak-anak mereka. Jadi jangan heran seperti apa mereka menyayangi Salsa.
"Iya, benar banget, Ra. si Arsya aja jika ada yang bilang mereka pacaran pasti orang tersebut akan mendapatkan tatapan tajam darinya," ujar Denis bergidik ngeri. Arsya jika lagi marah memang sangatlah mengerikan. Tapi untungnya dia orang yang sabar, boleh dikatakan jarang sekali dia marah. Pemuda tersebut bawaannya sangat tenang, dalam mengambil keputusan apapun.
Sebetulnya bila Arsya mau, dia akan di jadikan ketua OSIS. Namun, dia menolak keras tidak mau. Alasan pertama adalah karena dia tidak ingin di sibukkan dengan urusan sekolah, sebab Arsya ingin waktunya untuk menjaga adik perempuannya. Alasan kedua, dia tidak ingin orang lain berkata, karena dia anak pemilik sekolah jadi mendapatkan keistimewaan tersendiri. Padahal itu tidak benar, karena Arsya memang pintar dan memenuhi syarat untuk menjabat sebagai ketua OSIS.
"Kak, ayo kita nontonnya sekarang, mau sampai kapan kita di sini," sela Salsa saat mereka semua masih membahas masalah Kenzo dan kekasihnya.
"Oh, astaga! Iya benar, Sa. Gue juga mau pulang sekarang," seru Ara saat melihat jam tangannya. Tidak di sangka-sangka ternyata mereka sudah duduk di Restoran kurang lebih dua jam lamanya.
"Ya sudah, kalau begitu kalian berdua silahkan menikmati masa pdkt nya. Ingat Rel, Lo jangan macam-macam sama si inces, kalau nggak mau leher Lo di tebas sama Arsya." peringat Dito berdiri dari tempat duduknya.
"Oke, oke! Kalian tenang aja, gue mana berani menyakiti princess ataupun berbuat macam-macam, itu sama aja mau bunuh diri," jawab Farel tersenyum sambil berdiri dan mengulurkan tangannya untuk membantu Salsa tegak dari tempat duduknya.
Akhirnya mereka berpisah setelah keluar dari Restoran. Farel dan Salsa pergi naik ke lantai Lima gedung tersebut, sedangkan Ara, Denis dan Dito langsung pulang ke rumahnya masing-masing.
"Kita mau nonton apa, Kak?" tanya Salsa ketika akan membeli tiket buat masuk.
"Maunya? Kakak ikut aja, karena sebagai laki-laki tidak boleh egois pada perempuan," jawab Farel tersenyum.
"Apaan sih," Salsa ikut tersenyum. Merasa heran saja, ternyata dibalik sikap dinginnya, Farel juga suka menggombal, yang bisa membuat Salsa tersenyum.
"Eum... kita nonton film untuk anak-anak saja ya, soalnya Salsa lagi malas buat nonton drama atau yang lainnya. Jika Film horor, Salsa nggak berani." ajak si princess yang tersenyum lebar. Di dalam hatinya tertawa memikirkan kekonyolan dirinya, bagaimana mungkin mengajak cowok cool seperti Farel nonton Film anak-anak.
"Oke, kakak setuju, menonton film anak-anak jauh lebih seru daripada nonton drama, karena tujuan kita buat nonton kan mencari hiburan." Farel yang jarang tersenyum akhirnya setelah bisa berduaan dengan princess selalu menampakkan senyumannya.
"Ayo kita beli tiket masuk, setelah itu princess tungguin Kakak di sofa itu, karena kakak akan membeli minum dan cemilan buat kita," kata Farel kembali menarik lembut tangan Salsa.
Setelah mereka membeli tiket film berjudul Hotel Transylvania. Salsa duduk menunggu di sofa yang hanya berjarak tiga meter saja dari tempat Farel mengantri untuk membeli cemilan buat menemani mereka saat menonton.
Ttdddd!
Ttdddd!
"Ck, mau apa dia nelepon gue," decak Salsa melihat nama Kenzo menelepon dirinya. Namun, gadis itu tidak menerima panggilan tersebut.
"Sa, angkat dong, Lo sudah pulang atau masih di Mall?
__ADS_1
Bunyi pesan yang Kenzo kirim. Tapi hanya dibaca saja oleh Salsa, gadis tersebut tidak ada niat untuk membalas pesan, ataupun menerima panggilan telepon.
"Gue sudah di jalan pulang ke rumah Opa, gue tunggu di rumah. Ada hal yang harus gue jelasin ke Elo."
Ttttddd!
Ttttddd!
Kenzo kembali menelpon dan setelahnya mengirim pesan lagi, yang tetap sama tidak mendapatkan jawaban dari Salsa.
"Sa, angkat dong! Semua yang Elo lihat nggak sama dengan kenyataannya."
Pesan terakhir yang Salsa baca, karena setelah itu dia menonaktifkan ponselnya. Namun, sebelum itu si princess tentunya sudah bilang pada kakak dan papanya. Jangan mengkhawatirkan ponselnya yang tidak aktif, karena sengaja di matikan. Soalnya Salsa lagi menonton bioskop.
Arsya yang sudah di telepon oleh Farel langsung. Tentu percaya akan hal itu, dia dan Farel bersahabat sejak lama. Arsya tahu sahabatnya itu pemuda baik-baik. Jika saja Salsa tidak mendapatkan musibah yang mengharuskan ia menikah dini dengan Kenzo. Maka Arsya akan merestui bila sahabatnya itu benar-benar serius pada adiknya.
"Nggak penting banget gue mendengar penjelasan dari pembohong seperti Elo, Ken," ucap Salsa berdiri menyambut kedatangan Farel yang di tangannya sudah di penuh dengan makanan.
"Wah, kalau begini kita bisa-bisa tidur karena kekenyangan, Kak." tawa Salsa melihat banyaknya Farel membeli cemilan.
"Tidak masalah, selagi bersama princess, jangankan tidur bersama, hujan-hujanan bersama juga kakak mau,"
"Eh, nggak ah, Salsa gak mau hujan-hujanan," sela Salsa cepat. Sehingga membuat Farel tertawa gemas melihat pada gadis yang sudah lama dia sukai.
Tadi bicara soal hujan, Farel hanya bercanda saja, karena dia tahu Salsa takut pada hujan dan apa yang tidak di sukai princess, tentunya Farel juga sudah tahu.
Setelah itu Farel dan Salsa masuk kedalam tempat bioskop. Mereka sengaja memilih bangku barisan nomor empat dari depan. Agar lebih terasa nyaman. Selama menonton, mereka berdua terus tertawa bahagia, karena Salsa sudah melupakan Kenzo, walaupun hanya sementara waktu saja. Sebab setelah pulang nanti ia harus siap bertemu kembali dengan laki-laki tersebut.
"Ternyata tidak salah Elo dibilang princess, Sa. Elo benar-benar sangat cantik luar dalam, sangat jarang ada gadis dari keluarga kaya yang punya sifat seperti Elo yang apa adanya,"
Gumam Farel mencuri-curi pandang pada Salsa yang tertawa lepas. Sungguh di dunia pernovelan sepertinya tidak ada gadis yang bisa mengalahi kecantikan Princess Erlangga.
"Gue nggak tahu ada hubungan apa antara Elo sama Kenzo, karena setahu gue, Arsya nggak pernah bicara tentang Kenzo dari awal kami berteman. Tapi jika antara kalian memiliki hubungan kekasih, kenapa Kenzo lebih memilih gadis yang dia bawa tadi?"
Kata Farel kembali bergumam. Ia lebih banyak memperhatikan Salsa daripada melihat ke arah layar bioskop. Sampai Film tersebut berakhir, Farel terus saja memperhatikan Salsa.
"Tidak ada, ayo kita keluar!" elak Farel mengandeng Salsa keluar dari sana. "Sa, masih jam setengah tiga, mau langsung pulang atau kita makan es-krim di tempat langganan kalian?"
"Eum... makan es-krim sepertinya lebih enak sebelum pulang," jawab Salsa setuju. Hari ini dia benar-benar marah, dendam dan benci pada Kenzo yang tega membohongi dirinya.
"Baiklah, ayo kita pulang, sekalian mampir makan es-krim." akhirnya kedua pasangan yang seharusnya tidak boleh pergi bersama itu menuju mobil Farel terparkir.
"Princess sudah bisa memasang selt belt sendiri?" tanya Farel yang baru masuk ke dalam mobilnya.
"Sudah dong, kan sekarang Salsa sudah jarang pergi bersama kakak," jawab Salsa sendu saat menyebut nama kakaknya. Pria yang sangat tahu perasaan Salsa. Daripada Rian, Arsya jauh lebih paham sifat Salsa.
"Iya, princess memang harus bisa memasang sendiri. Agar saat membawa kendaraan sendiri, tidak susah karena belum paham memasang sabuk pengaman," ujar Farel mengabgkuk membenarkan.
Lima belas menit kemudian. Mereka sudah tiba di kedai es-krim langganan si kembar. Farel memang tahu tempat itu, karena pernah beberapa kali menani Arsya yang ingin membelikan untuk adiknya.
"Kakak suka rasa stroberi?" tanya Salsa, saat ini mereka berdua sudah duduk menunggu pesanan mereka berdua.
"Iya, sedari kecil kakak memang menyukai rasa setroberi," jawab Farel yang tidak pernah bosan menatap wajah cantik Salsa.
"Kak, jangan ngelihatin Salsa terus," ucap Salsa merasa malu sendiri bila di tatap hanya berdua seperti saat ini.
"Kenapa? Apa takut ada yang marah?"
"Enggak kenapa-kenapa sih, cuma gak nyaman aja," jawab Salsa seperlunya. Dia tidak menjawab saat di tanya apakah sudah ada yang punya. "Ayo kita menikmati es-krim nya. Setelah ini anterin Salsa pulang." titah Salsa sengaja mengalihkan topik pembicaraan.
Farel yang mengerti hanya mengangguk setuju. Dia sadar mungkin terlalu cepat untuk Salsa menjawab tentang masalah pribadinya. Selama menghabiskan es-krim milik masing-masing. Keduanya tidak banyak bicara seperti tadi.
Beberapa saat selahnya. Farel dan Salsa sudah kembali lagi masuk ke dalam mobil. Tugas Farel tinggal mengantarkan princess pulang dalam keadaan baik-baik saja.
__ADS_1
"Kak, tolong anterin ke rumah papa aja," pinta Salsa karena tidak mungkin ia minta diantarkan langsung ke rumah utama. Sebab di sana ada Kenzo yang lagi menunggu dirinya. Bisa-bisa rumit urusannya bila Farel mengetahui hal tersebut.
"Tapi tadi kata Arsya anterin ke rumah Opa Heri," Farel memelankan laju kendaraannya.
"Iya, tapi Salsa mau mengambil sesuatu dulu di rumah, nanti sore baru ke rumah Opa,"
"Oh, yasudah. Kalau begitu kakak akan memberi tahu Arsya dulu," sambil membawa kendaraan roda empatnya. Farel menelepon sang sahabat lebih dulu.
Tttddd!
📱 Arsya : "Iya Rel, mana adek gue?" tanya Arsya begitu sambungan terhubung.
📱 Farel : "Ada, ini Salsa minta di anterin ke rumah kalian, bukan langsung ke rumah Opa Heri. Nanti sore baru dia akan menyusul ke sana, katanya gitu." ujar Farel.
📱Arsya : "Coba tolong kasih ponselnya ke adek gue," ucap Arsya ingin bicara sendiri pada adiknya.
"Sa, ini." Farel menyerahkan ponselnya pada Salsa yang hanya diam mendengarkan saja.
📱 Salsa : "Iya Kak, ada apa?"
📱 Arsya : "Kenapa nggak langsung pulang ke rumah Opa? Ini kakak masih sama Om Aldi, nanti siapa yang akan menjemput adek," kata Arsya yang tahu pasti sudah terjadi sesuatu pada sang adik.
📱 Salsa : "Nanti adek minta di anterin sama paman Robi, Kakak nggak usah jemput ke rumah papa."
📱 Arsya : "Oh, yasudah! Nanti kita bicarakan lagi, ini Kakak masih ada urusan yang belum selesai."
Salsa hanya mengangguk meskipun kakaknya tidak akan melihatnya, karena jauh berbeda tempat. "Ini Kak," si princess yang tahu kakaknya lagi sibuk langsung mengembalikan ponsel milik Farel.
📱 Farel : "Ar, sudah dulu ya, ini gue lagi membawa mobil." ucap Farel kembali berbicara pada Arsya.
📱 Arsya : "Huem, iya. Thanks ya, Rel. Gue matiin dari sini," kata Arsya langsung memutuskan sambungan mereka.
Setelah itu tidak ada pembicaraan antara Farel dan Salsa. Mereka larut dengan pikirannya masing-masing. Sampai pada saat mobil Farel masuk ke pekarangan rumah mewah Rian.
"Itu mobil siapa, Sa?" tanya Farel sambil membuka pintu mobil buat Salsa turun.
"Oh, itu mobil anak teman papa. Thanks ya, Kak." seru Salsa yang kaget melihat ternyata mobil Kenzo ada di rumah orang tuanya, bukan di rumah utama. Untung saja Salsa bisa mengatasi hal tersebut, sehingga Farel tidak curiga padanya.
"Oh, kirain mobil Arsya," imbuh Farel percaya, karena saat mengatakan mobil anak teman papanya. Salsa terlihat biasa-biasa saja. "Kakak pulang ya, lain kali kita bisa jalan dan nonton bareng lagi," Farel tersenyum sambil tangannya terangkat mengacak rambut Salsa.
Setelah mobi Farel pergi. Barulah Salsa berjalan masuk dengan pikiran tidak karuan. Terdengar berulangkali dia menarik nafas dalam-dalam lalu ia hembusan dengan kasar.
Ceklek!
Begitu Salsa membuka pintu kamar, Kenzo sudah berdiri menatapnya dengan tajam.
*BERSAMBUNG*...
.
.
.
Hayo pada penasaran kan, itu bakalan terjadi perang dingin atau perang panas🤣 Sebelum lanjut, tolong beri dukungannya ya. Jangan sepi mencam kuburan.😭😭🤧
Like.
Vote.
Komen.
Subscriber.
__ADS_1
Bintang lima dan hadiah lainnya. Agar Mak Author semagat juga buat lanjuti kisah bbg Kenzo sama si princess Erlangga.🤕🤕
Terima kasih 🙏😘😘😘