Pernikahan Salsa

Pernikahan Salsa
Mulai Melupakan.


__ADS_3

🥀🥀🥀🥀🥀🥀


.


.


"Eum... pulanglah! Bukanya dirimu sudah ada yang menunggu," ucap Arsya masih tetap tersenyum kecil. Meskipun didalam hatinya lagi tidak baik-baik saja.


"Tapi Ar, ak---"


"Tidak apa-apa, pulanglah! Kamu tidak perlu khawatir, mulai saat ini aku akan menjauhimu. Terima kasih, untuk persahabatan kita. Tapi jika bisa, tolong jangan jauhi adikku. Aku tidak ingin dia bersedih," sela si tampan lagi. Cukup sudah dia mendengar Aurel berkata agar dia menjauhi gadis itu.


Sakit yang ia rasakan sudah terlalu dalam. Harus kalah sebelum berperang. Sudah basah, sebelum dia menyiram dirinya. Baru juga akan memulai kisah cinta, tapi Arsya sudah disuguhkan oleh kenyataan jika Aurel ingin dia menjauhinya. Bahkan dengan terang-terangan gadis tersebut mengatakan mencintai pria lain.


"Baiklah, akan aku usahakan. Terima kasih juga," jawab Aurel mencoba untuk tetap tersenyum dan seakan tidak tahu apa yang dirasakan oleh Arsya.


Namun, daripada terluka nanti, setelah mereka berdua mengetahui perasaan masing-masing. Jadi lebih baik dari sekarang. Sakit pun tidak akan parah.


"Aku pulang duluan. Kamu hati-hati, maaf aku tidak bisa mengantar mu pulang ke Apartemen," kata si tampan melangkah pergi. Namun, baru saja dia akan masuk kedalam mobil. Aurel berlari memeluk dirinya dari arah belakang.


Buuuk!


"Ar, maaf!" lirih Aurel membuat Arsya belum jadi membuka pintu mobilnya. Pemuda tampan itu berdiri ditempatnya. Namun, tidak ada niat untuk membalas pelukan dari gadis yang ia sukai selama bertahun-tahun.

__ADS_1


Selain ingin menjaga adiknya. Aurel lah alasan kenapa selama ini Arsya tidak pernah mendekati gadis lain. Dia tidak ingin kedua gadis itu terluka karena Arsya mendapatkan perhatian dari para wanita yang mengejarnya.


"Tidak perlu minta maaf, kamu tidak bersalah padaku, Rel. Aku baik-baik saja, jangan terlalu dipikirkan," jawab Arsya terpaksa membalikkan tubuhnya karena terasa bajunya sudah basah oleh air mata sahabatnya itu.


Dengan gerakan pelan tangannya pun terangkat untuk menyapu air mata Aurel dan sambil dia berkata.


"Jangan menangis! Jika menangis kamu itu sangat jelek," ucapnya tersenyum mengacak rambut Aurel beberapa detik. Sebelum dia membuka pintu mobil dan masuk ke dalamnya. Lalu Arsa pun langsung pergi meninggalkan Aurel seorang diri. Bukan dia tega tidak mengantar gadis itu pulang sampai ke Apartemen. Namun, Arsya hanya ingin menjaga apa yang diminta oleh gadis itu.


Dia tidak mau gara-gara mengantar Aurel pulang, malah menjadi hubungan gadis itu dengan tunangannya memiliki masalah. Akibat kesalahannya yang tidak tega bila meninggalkan Aurel di pinggir jalan seperti saat sekarang ini.


"Ar, hu... hu... ! Ma--maafkan aku," Aurel menjatuhkan tubuh dan air matanya. Gadis itu menangis sejadi-jadinya setelah kepergian Arsy. Dia sangat mengenal baik seperti apa sifat Arsa. Pemuda itu apabila dia sudah mengatakan tidak, maka jangan harap untuk bisa mengubah keputusannya.


Sejauh ini hanya kepada adiknya lah Arsya bisa mengubah keputusan yang sudah dia iyakan. Calon pewaris Erlangga group itu sangat jarang berbicara. Namun, apabila dia sudah berkata, tapi tidak pernah dia ingkari. Jadi Aurel sangat tahu bahwa sahabatnya itu pasti benar-benar akan menjauhinya.


Mulai hari ini, baik itu Arsya ataupun Aurel harus sama-sama melupakan kenangan di antara mereka. Baik itu kenangan suka, ataupun duka. Sejak kecil mereka bersahabat baik, sampai tumbuh menjadi pemuda dan pemudi yang sama-sama memiliki kecerdasan mereka masing-masing.


Namun, hari ini dengan terpaksa Aurel mengatakan langsung agar Arsya menjauhi dirinya dan menganggap bahwa mereka tidak saling kenal Setelah satu tahun kurang lebih menjauhi pemuda itu.


Walaupun dirinya sendiri mengambil keputusan tersebut, tentu saja Aurel juga tersiksa. sebab apa yang dia katakan tidaklah benar Aurel belum mencintai calon suaminya itu sebab sejauh ini walaupun hubungan mereka terbilang cukup baik. Namun, hatinya masih untuk sang sahabat.


Tidak berbeda jauh dengan Aurel. Si tampan Arsya membawa mobilnya pergi meninggalkan Aurel bukan untuk pulang ke apartemennya ataupun untuk menjemput Jeni. Akan tetapi Arsya pergi mencari tempat yang bisa untuk mendinginkan pikirannya. Saat ini dia lagi galau atau biasa disebut patah hati.


"Huh! Maaf, Rel. bukannya aku tega ninggalin kamu sendirian di pinggir jalan. Akan tetapi bila berlama-lama di sana, aku juga takut malah bertindak yang aneh-aneh," ucapnya memejamkan mata nafas dalam-dalam lalu ia hembuskan dengan perlahan.

__ADS_1


"Mulai sekarang aku akan menjauhimu dan semoga kamu bisa bahagia dengan pria yang sudah dijodohkan oleh orang tuamu," ucapnya berhenti sejenak sebelum kembali bergumam seorang diri. "Setelah ini aku berjanji di manapun kita bertemu, maka aku akan berusaha untuk tidak mengingat bahwa kita pernah berteman baik," janjinya lagi pada diri sendiri. Lama Arsya terdiam mungkin hampir kurang lebih setengah jam lamanya. Dia hanya duduk sambil melihat burung-burung yang berterbangan untuk kembali ke rumah mereka.


"Aku tidak marah kepadamu, Rel. Hanya saja kecewa kenapa kamu harus menghindar dariku? Kenapa tidak jujur dari awal, mungkin saja aku masih bisa menyelamatkan hubungan kita. Akan tetapi nyatanya kamu tidak pernah menganggap hubungan kita ini berharga," setelah mengatakan itu si tampan yang sudah bisa tenang pun kembali ke Restoran yang dia datangi bersama Jeni.


Hanya kurang lebih sudah tiba di tempat dia memarkirkan mobilnya satu jam yang lalu. Baru saja dia akan membuka mobil dan turun, untuk melihat Jeni apakah masih ada di sana atau sudah pergi.


Namun, gadis itu sudah berjalan ke luar dari sana. Sebab tadi dia memang menunggu Arsya. Sahabat baru yang ternyata adalah anak dari sahabat papanya.


"Jen, syukurlah kamu masih ada di sini. Terima kasih, sudah mau menunggu ku," seru Arsya membukakan pintu mobil untuk gadis itu.


"Tidak apa-apa, lagian jika makan aku memang lama, karena bila cepat-cepat aku juga tidak bisa." jawab Jeni tersenyum kecil. Dia sama sekali tidak merasakan sakit hati ditinggal begitu saja. "Tapi Saya, kamu tidak jadi makan. Bagaimana jika turun lagi, biar aku temani?" memberi usul karena gara-gara melihat Aurel. Pemuda itu tidak jadi makan, padahal dia berkata sebelum mereka datang ke sana jika sangat lapar.


"Sudahlah, tidak apa-apa. Aku bisa mencari makanan lain, atau memesan setelah tiba di Apartemen ku. Sekarang tunjukkan jalannya, biar ku antar pulang," tolak Arsya mulai menjalankan kendaraan roda empatnya.


"Oke, baiklah! Agar bila ada apa-apa aku bisa meminta tolong padamu," Jeni mengangguk menyetujui ucapan Arsya. Sebab dia juga lelah ingin pulang dan beristirahat.


Meskipun di dalam hatinya penasaran bagaimana hasilnya, Arsya mengejar Aurel. Namun, karena mereka baru saja berkenalan. Jadi ia tahan, mana tahu Arsya akan bercerita sendiri. Lagian Jeni orangnya tidak begitu ambil pusing dengan kejadian di sekitarnya.


Apalagi bila itu bersangkutan dengan hubungan pasangan kekasih. Sebab sejauh ini dia tidak pernah mau memiliki pacar. Jeni cuma mau fokus pada kuliahnya saja. Agar bisa menjadi Arsitek hebat.


"Kamu ini, baru juga kenal sudah mau merepotkan aku. Aku jadi teringat pada adikku," jawab Arsya tersenyum mengigat seperti apa sang adik merepotkan dirinya.


...BERSAMBUNG......

__ADS_1


__ADS_2