Pernikahan Salsa

Pernikahan Salsa
Baik-baik Saja.


__ADS_3

🥀🥀🥀🥀🥀🥀


.


.


"Kenzo!" teriak Salsa langsung berlari kearah suaminya yang sudah berada dipangkuan sang kakak.


Tidak hanya Salsa yang berteriak, tapi juga Mia yang sudah ditahan oleh polisi. Begitu pula Robert dan orang-orangnya.


"Ken, bertahanlah! Kita akan ke rumah sakit" seru Arsya begitu khawatir melihat banyak darah segar keluar dari arah perut adik iparnya.


"Kenzo, Nak! Tolong jangan pejamkan matamu," Rian mengambil alih memangku kepala menantunya yang masih sadarkan diri. Hanya saja Kenzo terlihat lemah, menahan sakit akibat peluruh panas yang menembus kulitnya. Sampai-sampai keberadaan istrinya sudah tidak dia hiraukan. Hanya jari tangannya yang menggenggam erat tangan Salsa. Seakan takut ada yang memisahkan mereka berdua.


"Kak, kamu bagian kaki, ayo bantu Papa membawa adikmu ke rumah sakit," ucap Rian ingin mengangkat Kenzo. Walaupun Sekertaris Aldi dan pengawal yang lainnya siap melakukan apapun. Namun, Rian sebagai seorang ayah ingin melakukan sendiri bersama putra sulungnya.


"Baik, Pa," jawab Arsya membantu mengangkat bagian kaki Kenzo dan dimasukan kedalam mobil mewahnya. Tak perduli dengan darah yang terus keluar. Membeli mobil baru tidak masalah, asalkan nyawa menantunya bisa selamat.


"Aldi, urus mereka, pastikan keturunan Anton membusuk di penjara," kata Rian sebelum masuk ke dalam mobil. Bila tidak ada musibah yang menimpa menantunya, maka Rian sendiri yang akan turun tangan mengurus masalah Robert dan Perdi ayah Mia.


"Baik Tuan," jawab Sekertaris Aldi sigap.


"Pa... Salsa duduk dimana?" lirih Salsa yang dituntun oleh Sekertaris Aldi.


"Duduklah dibelakang, biar kakakmu duduk di bangku depan." Rian tidak bisa leluasa bergerak. Sebab tubuh Kenzo cukup besar.


Salsa tidak banyak protes, dia hanya menurut karena tahu jika saat ini dia tidak boleh bermanja. Nyawa suaminya lagi berada dalam bahaya.


"Ken... bangun, kamu harus kuat," Salsa yang khawatir terus saja menangis di sepanjang jalan.


"Ja--jangan menangis, aku baik-baik saja," jawab Kenzo tersenyum, dan langsung tak sadarkan diri.


"Kenzo, Kenzo!" seru Rian menepuk pelan pipi sang menantu.


"Roby, lebih cepat lagi!" titah Rian pada si sopir kepercayaan.


"Pa, Kenzo baik-baik saja, 'kan?" tanya princess gemetaran menahan khawatir dan juga dadanya yang sakit karena terlalu lama menangis.

__ADS_1


"Iya, dia pasti akan baik-baik saj---"


Jawab Rian langsung tercekat, karena melihat putrinya ikut pingsan.


"Kak, adikmu pingsan!" seru Rian tidak bisa berbuat apa-apa. Dia lagi memangku sang menantu yang juga sedang pingsan.


Dengan sigap Arsya pindah ke bangku belakang dan memangku adiknya. Rian terlalu khawatir, padahal tanpa ia pinta saja. Tentu Arsya akan kebelakang buat memangku sang adik.


Untungnya saat ini mobil mereka sudah tiba di rumah sakit dan langsung dibantu oleh para pengawal yang mengawal dari depan dan belakang mobil Rian.


"Kak, urus adikmu, ya. Papa akan menemani Kenzo," ucap Rian mengikuti menantunya yang di dorong menuju ruang operasi. Tapi dia hanya sampai di depan saja. Sebab tidak dibolehkan masuk.


"Kenzo, bertahanlah, Nak," seru Rian sudah duduk di kursi tunggu. "Astaga, aku lupa mengabari keluargaku dan yang lainnya," seru nya lagi mengeluarkan ponsel untuk mengabari keluarnya dan juga orang tua Kenzo.


📱Ayla : "Iya Pa, bagaimana keadaan anak-anak?" begitu tersambung Ayla langsung menanyakan keadaan putra-putrinya. Mungkin firasat seorang ibu membuat tingkat kekhawatirannya lebih tanggap.


📱Rian : "Eum... saat ini kami lagi berada di rumah sakit. Sekarang Mama ke sini ya, putri kita pingsan karena melihat Kenzo tidak sadarkan diri,"


📱Ayla: "A--apa yang terjadi? Kenapa dengan mereka?" belum apa-apa saja Ayla sudah menangis karena sangat mengkhawatirkan anak, maupun menantunya.


📱Rian : "Mereka baik-baik saja, jangan khawatir. Sekarang kamu ke sini bersama Nando. Dia akan menjemput mu. Tapi bawakan baju ganti untuk kami semua," jawab laki-laki paruh baya itu merasa bersalah tidak bisa menjaga ketiga anaknya.


"Pa," seru Salsa dan Arsya. Keduanya berjalan mendekati ayah mereka.


"Sayang, kalian baik-baik saja," seru Rian berdiri dan memeluk kedua anaknya. Tadi dia mengira bahwa Princess nya masih pingsan.


"Pa, bagaimana keadaan Kenzo?" tanya Salsa sudah lebih baik setelah siuman dan dinasehati oleh kakaknya.


"Dia lagi ditangani oleh dokter terbaik di rumah sakit ini, jangan khawatir ya. Kenzo pasti akan baik-baik saja," Rian sedikit tersenyum, agar si kembar bisa tenang. Walaupun dia sendiri sangat takut bila terjadi sesuatu pada menantunya.


"Pa, apa Papa sudah memberitahu Om Demian?" sekarang bergantian Arsya yang bertanya setelah mengurai pelukan mereka bertiga.


"Belum!" jawab Rian singkat. Lalu dia berbicara lagi. "Kalian tunggu di sini sebentar, Papa akan mengabari keluarga Kenzo," lanjutnya akan menelepon besannya.


"Iya, Papa pergi saja," Arsya yang menjawab. Sebab Salsa hanya mengangguk kecil. Di dalam hatinya ingin menjerit agar para dokter mengizinkan dia untuk melihat keadaan suaminya.


"Baiklah, jaga adikmu, Papa tidak akan lama," kata Rian langsung pergi untuk menghubungi besannya dan juga Tuan Fathan kakek nya Kenzo. Bagaimanapun, mereka harus mengetahui keadaan anak dan cucu mereka.

__ADS_1


"Kak, Kenzo akan baik-baik saja, Kan?" tanya Salsa menatap mata sang kakak, agar memberikan jawaban yang menenangkan sedikit saja rasa takut di dalam hatinya.


"Tentu, Kenzo akan baik-baik saja, adek tenang ya. Ingat pesan kakak, jika melihat adek pingsan. Papa kita pasti akan semakin merasa bersalah," jawab Arsya menuntun adiknya untuk duduk di kursi tunggu.


"Iya, Salsa ingat," Salsa kembali merasa tenang setelah mendengar ucapan sang kakak. Lalu setelah itu mereka berdua hanya diam tidak bicara apa-apa.


Sampai beberapa waktu kemudian.


"Apakah belum ada dokter yang keluar?" tanya Rian sudah kembali lagi.


"Belum ada, Pa," jawab Arsya begitu gelisah. Andai tadi Kenzo tidak memeluk dirinya, Maka saat ini yang terbaring di meja operasi adalah Arsya.


"Kita tunggu saja, mungkin seb---"


Ceklek!


Belum selesai Rian berbicara, tapi pintu ruangan operasi sudah terbuka. Sehingga membuat mereka bertiga berdiri dan bertanya pada dokter yang keluar.


"Dokter bagaimana keadaan anak Saya?" tanya Rian lebih dulu.


"Operasi untuk mengeluarkan pelurunya berjalan sangat baik. Anak Anda baik-baik saja. Sebentar lagi rekan Saya dan para perawat akan memindahkan dia ke kamar rawat inap," jelas si dokter karena operasinya sudah selesai. Sebab tembakan tersebut ternyata hanya mengenai bagian perut saja. Tidak terlalu parah, apalagi Rian langsung membawanya ke rumah sakit.


"Syukurlah, jika begitu Dokter lanjutkan saja pekerjaan nya," seru ayah dua anak itu bisa bernafas lega.


"Sabar ya, sebentar lagi Kenzo akan dipindahkan ke ruang perawatan. Kita akan bertemu dengannya," ucap Rian tersenyum kecil sambil mengelus kepala putrinya.


"Pa... maaf ya, ini semua gara-gara Salsa yang pergi sendirian," setelah mendengar jika suaminya baik-baik saja. Si princess baru ingat jika semua atas kesalahannya dan langsung meminta maaf pada sang papa.


"Huem, tapi jangan diulangi lagi. Kita tidak tahu siapa saja orang yang menjadi musuh kita," jawab Rian tidak ingin membahas masalah Anton. Cukup anak-anaknya tahu jika Robert memiliki dendam pada keluarga mereka.


Saat mereka masih mengobrol, pintu ruang operasi kembali terbuka. Namun, kali ini tidak hanya para Tim dokter. Akan tetapi Kenzo juga sudah dibawa keluar.


"Ken," Salsa berlari mendekati sang suaminya yang belum sadarkan diri. "Bangunlah, jangan membuatku takut," lirihnya kembali menangis.


"Nona Muda, biar kami membawa Tuan Kenzo keruang perawatan," ucap dokter yang membantu mendorong pasien mereka.


"Adek," tahu jika adiknya menghalagi para dokter. Arsya langsung mendekat dan mengelus bahu Salsa. Agar sang adik membiarkan para Tim medis mengurus adik iparnya lebih dulu.

__ADS_1


"Kita ikuti mereka dari belakang, nanti jika sudah di ruang perawatan, kita bisa leluasa bertemu dengannya," kata si tampan Arsya dengan tenang, karena dia pun sama merasa cemasnya.


...BERSAMBUNG......


__ADS_2