Pernikahan Salsa

Pernikahan Salsa
Tidak butuh janji, tapi pengertian.


__ADS_3

🥀🥀🥀🥀🥀


.


.


Ceklek!


Kenzo membuka pintu kamarnya dengan pelan. Ruangan tersebut sudah gelap, yang menyala hanya lampu tidur saja. Setelah menutup pintunya kembali, Kenzo melangkah pelan karena takut membangunkan istrinya. Ketika menaruh kunci motor dan ponsel pun dia berhati-hati, takutnya menimbulkan suara yang membuat Salsa terbangun.


"Huh! Maaf," bisik Kenzo sambil mengelus kepala Salsa pelan, karena sangat lelah seharian ini sibuk dengan pekerjaan. Kenzo akhirnya langsung saja tidur di samping istrinya. Di hatinya benar-benar merasa bersalah sudah melupakan janjinya yang akan kembali sebelum makan malam.


Tadi sebelum naik ke lantai atas, Kenzo berjalan ke dapur untuk melihat makanan yang sudah dimasak oleh Salsa. Namun, di meja makan sudah tidak ada apa-apa. Entah disengaja atau tidak, semua makanan habis tak tersisa.


Malam ini mereka berdua tidur seperti biasanya. Tidak ada yang berubah, meskipun Salsa merasa kecewa pada suaminya.


*


*


Pagi pun tiba.


Di kediaman Rian. Dia, istri dan putra sulungnya lagi sarapan bersama. Biasanya dimeja makan begitu ramai karena ada si princess yang sekarang sudah jarang bisa sarapan bersama mereka, bila tidak menginap di sana.


"Kakak mau jemput adek?" Ayla kembali memastikan. Tadi saat membantu dirinya menyiapkan untuk sarapan mereka, Arsya sudah berbicara padanya dan meminta agar mamanya itu membuatkan bekal untuk sang adik.


"Iya Ma, sebelum Arsya turun, adek ngirim pesan, minta dijemput, katanya Kenzo tidak sempat mengantar ke SMK kita," jawab Arsya sambil menghabiskan makanan di dalam piringnya.


"Oh, begitu!" Ayla mengangguk. Setelah itu dia kembali lagi berbicara. "Apa mungkin sudah terjadi sesuatu pada adikmu? Bukannya waktu itu dia mengatakan tidak ingin menyusahkan kakak? karena dari sini ke rumah Kenzo begitu jauh?" ibu dari dua anak kembar itu menatap kearah suaminya. Sebab bila ada masalah dengan kedua anaknya, Rian pasti sudah mengetahui.

__ADS_1


"Sepertinya tidak ada, Kenzo memang lagi sibuk mengurus pekerjaan. Kata Sekertaris Aldi ada penyelewengan uang perusahaan yang dilakukan berjamaah oleh orang-orang kepercayaan Tuan Fathan sendiri." jelas Rian tidak ingin berburuk sangka pada menantunya.


"Apa, benarkah? Lalu sekarang mau bagaimana, apakah Tuan Fathan sudah tahu?" Ayla sampai menaruh sendok nya pada piring. Ia bertanya begitu serius.


"Sepertinya Tuan Fathan sudah lama mencurigai hal tersebut. Sekarang Kenzo yang mengurus masalah perusahaan. Dia bekerja dengan benar. Jadi biarkan Salsa menjelaskan sendiri, apakah mereka miliki masalah atau tidak." Rian mengakhiri percakapannya. Dan kebetulan sekali Arsya juga sudah selesai menghabiskan sarapannya.


"Syukurlah jika tidak ada masalah di antara mereka berdua. Mama hanya takut Salsa menyembunyikan sesuatu," kata Ayla meneruskan kembali sarapan dirinya yang belum habis, dan tadi sempat tertunda.


"Kak, jemput saja adikmu seperti biasanya, mungkin Kenzo memang tidak sempat dan ingat pesan yang papa katakan beberapa minggu lalu. Kita boleh ikut campur urusan rumah tangga adikmu, apabila itu menyakiti dirinya. Tapi jangan pernah bertindak gegabah, karena kakek Ridwan juga melakukan hal yang sama." Rian berpesan pada putranya.


Bukannya dia tidak tahu Kenzo memiliki hubungan dengan Mia yang merupakan sahabat dari menantunya itu. Tapi Rian ingin memberi kesempatan untuk Kenzo dan Salsa menyelesaikan masalah rumah tangga mereka. Selagi putrinya tidak dalam bahaya, Rian hanya akan menonton saja.


Diamnya Rian tentu untuk mengetahui menantunya benar-benar menyukai princess mereka atau tidak. Pada saat malam Kenzo dan Salsa dijebak, Rian juga sudah menyebutkan. Bila pernikahan tersebut tidak bisa menghadirkan rasa cinta dari keduanya. Maka dia sendiri yang akan memisahkan pernikahan tersebut.


"Iya, Pa." jawab Arsya yang tidak mungkin juga melampaui batasan dirinya. setelah itu Arsya pun berpamitan lebih dulu pada kedua orang tuanya yang masih belum selesai, karena dari rumah mereka ke rumah Kenzo bisa menghabiskan waktu kurang lebih setengah jam, makanya dia mau berangkat lebih awal agar tidak terlibat datang ke sekolahan.


*


Sementara itu kembali lagi di kediaman Tuan Fathan. Salsa sudah siap dan tinggal menunggu Kenzo selesai mandi. Pagi ini Salsa bangun lebih dulu, karena dia sengaja menyetel alarm. Agar bisa bangun tepat waktu.


Beberapa menit kemudian Kenzo sudah keluar dan bersiap-siapa juga dengan pakaian yang disiapkan oleh Salsa. Setelah memakai jam tangannya Kenzo berjalan ke arah sofa dan duduk di sebelah Salsa. Dia terus menatap istrinya tanpa berkedip. Kenzo binggung akan memulai dari mana untuk meminta maaf karena tidak pulang tepat waktu.


"Tumben sepagi ini sudah bangun?" tanya Kenzo untuk memecahkan keheningan diantara mereka berdua.


"Iya, gue sengaja nyetel alarm biar bisa bangun lebih dulu dari, Lo." jawab Salsa sambil mengoyangkan kakinya yang sudah memakai sepatu.


"Sa... Maaf ya, soal tadi malam." ucap Kenzo semakin merasa bersalah karena melihat rambut Salsa yang masih terlihat basah. Untuk mengeringkan rambutnya yang basah saja Salsa tidak bisa. Tapi kemarin sore istrinya itu malah memasak, untuk makan malam yang dia lewatkan. Alangkah keterlaluan sekali bukan!


"It's okay, I know why!" jawab Salsa hanya tersenyum kecil di sudut bibir atasanya. Entah apa sebetulnya yang ia rasakan. Namun, tetap menjawab bahwa dia tidak apa-apa dan mengerti kenapa suaminya tidak bisa pulang dan makan malam bersama mereka.

__ADS_1


"Apa? Lo nggak marah?" seru Kenzo menyentuh tangan Salsa. Hatinya langsung terasa lega sebelum Salsa kembali berkata.


"Gak, buat apa gue marah. Tapi... gue hanya kecewa aja." Salsa melepaskan tangannya yang di gengam. Lalu dia berjalan mengambil tas sekolahnya dan kembali lagi duduk di atas sofa.


"Itu sama aja Lo marah sama gue, 'kan? Ponsel gue ketinggalan di mobil, gue benar-benar lupa membawanya. Tolong percaya, ini tidak akan terjadi lagi." Kenzo yang mendengar pengakuan Salsa yang kecewa padanya, semakin merasa bersalah.


"Gue nggak marah, Ken. Gue cuma kecewa karena Lo gak bisa menepati janji." jujur Salsa. Dia tidak bisa harus menutupi apa yang lagi dirasakan. "Tapi mungkin gue terlalu lebay juga, hanya sebuah janji, kenapa juga harus kecewa." lanjut Salsa.


"Maaf, tapi gue janji nggak akan mengulangi hal yang sama. Lo percayakan?" masih tetap mengengam tangan Salsa karena takut istrinya pergi secara tiba-tiba.


"Nggak usah berjanji, nanti malah Lo lupa dan mengingkarinya. Cukup buktikan, karena sebuah hubungan itu bukan bersatu karena janji. Melainkan sebuah pengertian." jawab Salsa kembali lagi berdiri.


Namun, kali ini dia berdiri untuk berangkat ke sekolah.


Tiiiin...


Tiiiiin...


Suara klakson mobil Arsya yang sudah datang menjemput adiknya.


"Sudah siang, gue berangkat duluan ya, jangan lupa sarapan." pesan Salsa sudah berhasil melepaskan lagi tangan Kenzo.


"Eh, tunggu, tunggu! Lo mau pergi sama siapa? Dan sarapan dulu, baru berangkat." cegah Kenzo ikut berdiri.


"Gue mau berangkat bareng kakak gue. Soal sarapan nggak usah khawatir, karena kakak gue orangnya pengertian. Pasti dia sudah membawa sarapan dari rumah." jawab Salsa tersenyum penuh penekanan saat mengatakan kata pengertian.


"Apa... Sa, Salsa!" Kenzo mamangil Salsa yang sudah pergi dari kamar mereka. "Agh! Sial banget," Kenzo kembali duduk sambil mengusap wajahnya dengan kasar.


Pemuda itu benar-benar merutuki kesalahannya yang melupakan ponsel dan tidak menepati janji pertama nya pada istrinya.

__ADS_1


__ADS_2