
🥀🥀🥀🥀🥀
.
.
"Gue berangkat ke perusahaan, ya." pamit Kenzo pada sang istri. Mereka sudah sampai dari setengah jam yang lalu.
"Iya, Hati-hati," jawab Salsa menyalami tangan suaminya.
Setelah Kenzo berangkat, Salsa kembali lagi masuk ke dalam rumah, dan langsung menuju ke lantai atas, dimana tempat kamar mereka
Tadi begitu sampai mereka hanya mengobrol bersama nenek Kenzo diruang keluarga.
Setibanya di kamar Salsa mulai memeriksa tugas yang ia tinggalkan sebelum mereka pergi ke Villa. Meskipun Kenzo sudah berjanji akan mengerjakan dan memeriksa tugas tersebut. Tapi Salsa takut jika suaminya terlalu sibuk, karena kakek Fathan pun juga berangkat ke perusahaan.
Padahal hari ini perusahaan juga lagi libur. Jadi sudah bisa dipastikan kalau suaminya sangat sibuk. Masa iya, dia membiarkan Kenzo yang menyelesaikan tugasnya. Salsa memang manja, tapi dia tidak akan memanfaatkan keadaan.
*
*
Sementara saat ini Kenzo baru saja tiba di perusahaan. "Selamat siang, Kek. Maaf Kenzo terlambat," kata pemuda itu saat membuka pintu kantor, ternyata sang kakek dan sekertaris pribadinya sudah mulai bekerja.. Terlihat di atas meja ada tumpukan dokumen dan dua laptop yang sedang menyala.
"Siang juga, tidak apa-apa," yang di jawab oleh Tuan Fathan.
"Sini biar Kenzo yang mengerjakan, kakek lihat dan duduk saja." pinta Kenzo karena tidak tega melihat wajah lelah sang kakek. Seharusnya Tuan Fathan sudah istirahat dan menikmati masa-masa tua bersama neneknya. Bukannya harus berkutat dengan dokumen dan laptop. Semua itu dikarenakan tidak adanya pengganti beliau.
"Baiklah, jika kamu berhasil menyelesaikan masalah ini. Maka bulan depan setelah gaji pertamamu, kakek akan menyerahkan perusahaan ini sepenuhnya kepadamu." dengan senang hati Tuan Fathan menyerahkan pekerjaan tersebut pada cucunya.
__ADS_1
"Eum, tidak apa-apa, jika itu baik untuk kesehatan kakek," jawab Kenzo setuju.
Semenjak menikah, Kenzo dengan perlahan sudah mulai memikirkan masa depan untuk dia dan istrinya. Padahal sebelumnya jangankan disuruh bekerja, hanya mendatangi perusahaan itu saja dia tidak mau.
"Kakek sangat bersyukur kamu menikah dengan Salsa, Nak." Tuan Fathan menepuk pelan bahu cucunya yang sudah mulai memeriksa pekerjaan sang kakek. "Karena kakek sangat yakin, semua ini pasti berkat istrimu," lanjutnya lagi disertai senyuman bahagia.
"Bisa jadi juga karena Kenzo sudah menikah," sahut Kenzo membenarkan. Memiliki mertua kaya raya ternyata membuat pemuda itu ingin segera bekerja dan memiliki usahanya sendiri. Bukan malah sebaliknya, yang mengharapkan harta milik istrinya.
Setelah itu Tuan Fathan di suruh oleh Kenzo beristirahat di dalam kamar pribadi CEO yang tersedia di dalam ruangan tersebut. Dia tidak membiarkan kakeknya yang sudah tua dipusingkan dengan pekerjaan rumit. Yaitu memeriksa data keuangan yang ternyata diselewengkan oleh beberapa orang kepercayaan Tuan Fathan sendiri.
Melihat pakta tersebut tentunya Kenzo semakin bersemangat untuk bekerja dengan baik. Agar tidak ada lagi yang memanfaatkan keadaan sang kakek. Sehabis makan siang pun Kenzo masih terus bekerja dan malah menyuruh Tuan Fathan untuk kembali lebih dulu, karena nanti bila pekerjaan tersebut sudah selesai, dia akan mengirimkan data-datanya melalui E-mail.
Selanjutnya waktu terus berputar dengan cepat bagi orang-orang yang lagi bekerja seperti Kenzo. Tidak terasa sudah hampir lima jam dia dan sekertaris kakeknya memeriksa data seluruh pengeluaran. Nyatanya masalah tersebut bukan semakin selesai, akan tetapi masalahnya semakin bertambah, karena pihak yang bersangkutan bukan hanya satu, dua ataupun tiga, malainkan lebih dari lima orang.
"Sekertaris Aan, kapan rapat bulanan akan dilakukan?" tanya Kenzo setelah mematikan laptop dan menutupnya. Untuk hari ini sudah cukup, selain lelah. Kenzo juga akan menemui para sahabatnya yang memaksa untuk bertemu sore ini juga. Sebab bila Kenzo tidak mau, mereka yang akan datang ke rumahnya. Berhubung ada hal yang akan Kenzo sampaikan, jadinya dia menyetujuinya.
"Baiklah, hari Rabu biar Saya meminta izin pada kakek untuk memimpin rapatnya." kata Kenzo sambil berdiri dan mengambil ponsel beserta kunci mobilnya.
"Siap, Saya sangat setuju bila Tuan Muda yang memimpin rapat kali ini. Saya mengurus semua persiapannya."
"Iya, ayo kita pulang sekarang." ajak Kenzo berjalan keluar lebih dulu. Tiba di lobby perusahaan mobilnya sudah disiapkan oleh penjaga keamanan. Jadi dia tinggal masuk dan mengendarai mobil mewahnya menuju kafe Healty tempat favorit para anak muda seperti mereka.
"Kenzo... akhirnya Lo datang juga," seru Eel berdiri dari kursi tempat duduknya. "Lo tahu nggak kita semua sudah menunggu lebih dari setengah jam yang lalu." lanjut Eel menarik Kenzo agar duduk di sebelahnya.
"Siapa suruh datang duluan, bukannya gue bilang jam lima, ya?" Kenzo langsung menyeruput jus milik Yogi, karena hanya pemuda itu yang menyukai jus alpukat seperti dirinya.
"Ck, sudah dua hari bermadu kasih, memangnya Lo belum puas juga," decak Eel.
"Ken, ayo jelasin! Siapa gadis yang Lo apload foto nya di sosial media?" tanya Andra tidak sabaran, sama seperti Eel, Hengki dan Yogi. Kali ini hanya ada mereka, karena Mia sengaja tidak diberitahu.
__ADS_1
"Ya pacar gue lah! Nggak mungkin pacar si Yogi," Kenzo menjawab santai karena sudah tahu ke-empat sahabatnya itu akan menanyakan perihal unggahan dia tadi malam.
"Iya, kita semua sudah tahu itu pacar, Lo. Tapi siapa ceweknya? Apa Lala?" Hengki menatap Kenzo penuh selidik. Soalnya sebelum bertemu Salsa, dia memang pernah menaruh hati pada gadis bernama Lala.
"Bukan lah, dia bukan Lala. Ngadi-ngadi kalian, jika mengira itu si Lala- Lala," Kenzo ikut menyebut Lala-Lala . Sama seperti reff di akhir lagu.
Mereka semua memang mengenal Lala, dia gadis yang cantik dan salah satu pengemar berat Kenzo.
"Kalau bukan Lala siapa lagi! Cepat kasih tahu siapa gadis yang sudah Lo tidurin? Kenapa Lo nulis kata-kata akan menjaganya? Itu benaran serius, atau hanya ingin membuat Dunia maya heboh aja," timpal Yogi paling baik diantara temannya yang lain.
"Nanti juga bila sudah saatnya, kalian akan tahu sendiri. Untuk saat ini gue belum bisa memberitahu tahu kalian." Kenzo memperbaiki cara duduknya, karena bukan masalah pacar yang ingin dia bahas. Akan tetapi masalah pertandingan mereka yang diundur menjadi bulan depan.
"Tadi gue dapat kabar dari BKMF dan panitia yang mengurus cabang olahraga kita," kata Kenzo dengan wajah seriusnya. "Minggu depan kita belum jadi bertanding seperti kesepakatan kemarin malam." jelasnya lagi.
"Maksudnya?" Hengki menyergit bingung.
"Gini, panitia mengatakan kita akan mengikuti turnamen yang sengaja diselenggarakan khusus antar beberapa ibu kota. Dari kota A, Tim kita dan Tim Arsya yang mewakili." jelas Kenzo sesuai informasi dari pihak bersangkutan.
"Lalu jika begitu bagaimana menentukan siapa pemain terbaik dari kota kita, bila harus mengikuti turnamen? Kenapa bisa membingungkan, sih?" sela Eel belum paham.
"Kata panitia dari melihat kehebatan Tim kita dan Tim Arsya, sudah jelas kota A akan menjadi pemenang. Nah dari turnamen ini, BMKF bisa menentukan siapa pemain terbaiknya."
"Lumayan berat," keempatnya hanya terbingung diam. Bila pertandingan bersama pemain luar kota. Maka mereka harus berlatih lebih giat lagi.
"Ya sudah, kalau begitu kita harus berlatih lebih sering." putus Hengki sebagai wakil Kenzo.
"Tapi... untuk latihan gue belum bisa berjanji sempat atau nggak nya, karena gue lagi ngurus perusahaan kakek." papar Kenzo yang tidak memiliki waktu luang seperti biasa, karena, sekarang ada tanggung jawab untuk ia jalani.
*BERSAMBUNG*...
__ADS_1