Pernikahan Salsa

Pernikahan Salsa
Kepergian Arsya.


__ADS_3

🥀🥀🥀🥀🥀


.


.


"Ini semua gara-gara kamu, By," rutuk Salsa sambil memakai jam tangan mewahnya. Mereka baru saja selesai bertempur lima belas menit yang lalu. janji Kenzo yang hanya mengatakan sebentar, nyatanya setelah pelepasan pertama. Kenzo kembali lagi mengulangi percintaan mereka sampai beberapa kali, si Lele tunggal menyemburkan bisanya.


Cup!


"Maaf, habisnya terlalu nikmat untuk aku lewati,, bila hanya satu kali," Kenzo mengecup bibir Salsa seraya tersenyum. "Ayo kita turun sekarang! Kita pasti belum terlambat. Lagian jika terlambat sedikit tidak masalah juga. Namanya pengantin baru, mama sama papa pasti akan mengerti," lanjut pemuda itu lagi yang langsung mendapatkan cubitan pada perutnya.


"Aaaahk! Sayang kenapa kamu jadi galak, sih," teriak Kenzo. Padahal tidak sakit, dianya saja yang lebay ingin menggoda sang istri.


"Pengantin baru apanya, hampir setiap malam juga minta jatah," cibir si princess tetap menerima uluran tangan sang suami. Lalu sambil berbicara mereka berdua turun ke lantai bawah dengan saling bergandengan tangan.


"Lah, kita kan memang pengantin baru sayang. Pengantin baru, tapi stok lama. haha... ha...," Kenzo tertawa karena melihat raut wajah istrinya tiba-tiba menjadi memerah. Sebab apabila mereka lagi bercinta. Baik Kenzo, ataupun Salsa, mereka berdua saling mengatakan cinta satu sama lain. Makanya Kenzo mengatakan bahwa mereka adalah pengantin baru.


"Ih, nggak lucu ya," jawab Salsa tapi dia tidak bisa menyembunyikan senyum manisnya.


"Ha... ha... jangan tersenyum seperti itu. Aku tidak tahan ingin---"


"Ingin apa? Ayo antar Kak Arsya dulu ke bandara. Kami sudah menunggu kalian dari setengah jam yang lalu," sela Ayla membuat Kenzo terdiam dengan menahan rasa malu. Sebab takut ibu mertuanya mengetahui bahwa mereka habis melakukan penyemaian benih ikan Lele tunggal.


"Mama, maaf," cicit Kenzo karena jika si princes malah tersenyum melihat suaminya seperti ke geep oleh mamanya.


"Iya, tidak apa-apa. Mama senang jika kalian terus seperti ini. Agar rumah ini tidak sepi setelah kepergian Kak Arsya. Jadi cepatlah beri kami cucu," Ayla tersenyum sambil berjalan duluan menyusul suami dan putra sulungnya yang sudah menunggu di ruang tamu.


"Soal itu Mama tenang saja, Kenzo berjanji akan membuat rumah ini ramai seperti Taman kanak-kanak," jawab Kenzo kembali mendapatkan cubitan pada lengannya.


"Auh, mine, ini kenapa dikit-dikit mencubit kulit aku," tanya Kenzo berpura-pura tidak tahu penyebab istrinya marah.


"Apa maksudnya bikin rumah ini seperti Taman kanak-kanak?"


"Ya anak kita lah, aku ingin punya anak banyak. Kalau perlu kembar empat, biar mama sama papa tidak kesepian. Lagian jika kita punya anaknya kembar empat, bisa di titipin di rumah kakek kita satu persatu dan di sini satu. Kan kalau begitu jadi adil," seloroh Kenzo membuat Rian dan yang lainnya tertawa, karena mereka mendengar pembicaraan anak dan menantunya.


"Ha...ha.. Papa setuju Ken, jika seperti itu baru adil," timpal Rian masih tertawa bahagia.


"Papa ini gimana sih, satu aja nggak jadi-jadi. Gimana mau punya empat," Arsya ikut tertawa dan langsung berjalan keluar lebih dulu. Sebab mereka memang tinggal menunggu pasangan bucin itu saja.


"Kita satu mobil saja sama mama," ucap Kenzo begitu mereka mendekati garasi mobil.


"Iya, kasihan pulangnya nanti mama nggak ada temannya," Salsa hanya mengangguk setuju. Apalagi tadi malam Kenzo sudah berbicara pada ayah mertuanya. Bahwa mereka akan berangkat mengunakan satu mobil.


"Ken, kamu yang membawa mobilnya. Agar kakak tidak kelelahan selama dalam perjalanan," titah Rian sebelum menyusul masuk kedalam mobil.


"Huem, iya Pa, biar Ken yang membawa mobilnya," setelah membuka pintu mobil buat sang istri. Kenzo pun duduk di bangku kemudi dan disebelahnya ada Arsya. Sedangkan Salsa duduk dibelakang bersama kedua orang tuanya.


Untuk barang Arsya, berada di mobil pengawal yang mengantar Sekertaris Aldi. Ya Sekertaris setia itu akan berangkat bersama Rian. Mereka berdua yang mengantar Arsya dan melihat tempat tinggal anaknya yang baru. Dari satu bulan lalu Rian memang sudah membeli sebuah Apartemen mewah. Namun, dia sendiri belum pernah melihatnya, karena semuanya dilakukan oleh orang-orang Erlangga.


Demi keselamatan sang putra, tentu saja Rian harus memeriksanya sendiri. Bukan hanya mengandalkan anak buahnya saja.

__ADS_1


Selama dalam perjalanan, Arsya tidak banyak berbicara. Dia hanya terdiam sambil memperhatikan jalanan ibukota yang mulai ramai. Hanya sesekali ia ikut tersenyum kecil mendengar ucapan adiknya yang begitu banyak memesan oleh-oleh pada ayah mereka. Padahal tanpa princess pinta, semuanya akan dibelikan oleh Rian.


"Kak, kenapa hanya diam saja?" tanya Ayla yang mengharapkan bahwa Arsya mengurungkan niatnya untuk pergi.


"Tidak apa-apa Ma, Kakak hanya pasti akan sangat merindukan kalian semua," jawab Arsya seraya memperbaik duduknya. Sebab sebentar lagi mereka akan tiba di bandara.


"Kakak tidak perlu khawatir, nanti setiap Minggu adek sama mama akan ke sana untuk melihat Kakak,' iya kan By?" sahut Salsa meminta persetujuan pada suaminya.


"Eh, ini kenapa minta persetujuannya pada Kenzo. Mama kan istrinya Papa," ujar Rian yang duduk di tengah-tengah antara anak dan istri tercintanya.


"Kan Salsa mau berangkatnya sama Mama, jadi mau tidak mau Papa harus memberikan izin," jawab princess tersenyum, karena bila atas keinginannya. Sang ayah mana mungkin akan melarang. Apalagi ini untuk melihat kakak tersayangnya.


"Mulai ya," Rian mengacak rambut sang putri sebelum mereka turun dari mobil. Seba saat ini mereka telah tiba di bandara.


"Itulah kelemahan kita, Ken. Jika berhadapan sama princess. Papa aja akan kalah," ujar Arsya ikut tersenyum bersama Kenzo.


"Huem benar, gue aja rasanya takut banget membuat dia merasa tidak nyaman,"


"Sudah tidak apa-apa, nanti lama-lama juga akan terbiasa sama sifat adek gue. Tolong jaga dia dan mama ya, gue pasti akan merindukan kalian semua," Arsya menepuk pelan pundak Kenzo dan mereka pun berjalan beriringan. Sebab keluarganya sudah masuk lebih dulu.


"Tidak perlu khawatir, gue akan menjaga semuanya semampu gue," janji Kenzo dengan yakin. Lalu setelah itu dia berbicara lagi. "Tapi saat pulang nanti Elo harus membawa pasangan dan jangan mencintai yang tidak pasti. Apalagi jika dia dengan sengaja menjauhi Elo,"


"Ck, sok tahu!" decak Arsya karena ingin menutupi semua yang ia rasakan. Namun, sayangnya justru tindakan tidak biasanya semakin terlihat oleh orang-orang disekitarnya.


"Gue serius, tapi jika ada harapan sama dia. Itu jauh lebih bagus, karena gue dengar dari princess Aurel gadis baik-baik," sekarang bergantian Kenzo menepuk pundak kakak iparnya.


Arsya hanya tersenyum kecil sebelum berpamitan. Sebab dia sudah harus melakukan check in sebelum melakukan penerbangan. Walaupun semua dokumen dan paspor sudah lengkap. Tetap saja harus melakukan pemeriksaan ulang.


"Ma, tolong doakan agar Arsya belajarnya lancar dan cepat kembali ke sini. Agar kita bisa berkumpul bersama lagi," ucapnya minta doa restu pada sang ibu.


"Pasti, pasti Arsya akan menjaga diri dengan baik. Arsya sayang sama Mama," bukan hanya mamanya yang berat untuk berpisah, Arsya pun sama. Namun, dia tidak ada pilihan lain. Untuk mencapai cita-citanya, tentu harus ada yang ia korbankan. Yaitu berpisah dengan keluarga tersayangnya.


"Adek, jagan nakal ya, harus nurut sama Kenzo. Jagan membantah bila itu untuk kebaikan adek, huem," Arsya memberikan pelukan yang erat juga pada adik kesayangannya.


"Iya, tapi kakak juga harus jaga diri selama di sana," jawab Salsa sama menangis seperti mamanya.


"Sudah, kami harus pergi sekarang," Rian mendekati anak dan istrinya yang masih berpelukan. "Ken, Papa titip mama sama princess ya," ucapnya lagi pada sang menantu.


"Oke, Papa tidak perlu khawatir, Ken akan menjaga mereka, tanpa Papa pinta," jawab Kenzo seraya memeluk ayah mertuanya. Lalu setelah semuanya berpamitan, mereka pun berpisah di depan pintu masuk untuk melakukan check in.


Dengan berlinang air mata Ayla dan putrinya saling berpelukan untuk saling menguatkan dirinya masing-masing. Sedangkan Arsya tidak menoleh kebelakang sama sekali. Dia terus melangkah masuk, karena takut tidak kuat melihat kedua wanita yang paling berharganya meneteskan air mata karena dirinya.


Tidak membutuhkan waktu lama, Rian dan putranya beserta Sekertaris Aldi sudah langsung menaiki pesawat. Sebab waktu boarding Time sebelum pesawat melakukan Take-off.


Hampir lima belas menit setelah itu pesawat tersebut sudah mulai mengudara dan beriringan Arsya meninggalkan masa lalunya yang berhubungan dengan Aurel. Ya, Arsya bertekad akan melupakan gadis yang sudah membuat dia kecewa. Tanpa penjelasan Aurel menghindari dia dan Salsa. Itulah yang membuat Arsya kecewa.


Jika tidak ada apa-apa, seharusnya Aurel mendatangi rumah kakek Ridwan. Sehingga mereka tidak perlu putus kontak seperti saat ini.


"Selamat tinggal Aurel! Terima kasih selama ini elo sudah mau menjadi sahabat kami. Walaupun endingnya tidak sesuai harapan, tapi gue merasa bersyukur. Karena pernah memiliki kenangan diantara kita,"


Gumam Arsya memejamkan matanya. Lalu dia membuka matanya lagi untuk menghapus semua foto Aurel yang sendirian ataupun yang lagi bersama dia dan Salsa.

__ADS_1


Semua kenangan dengan gadis itu dia hapus semuanya, karena untuk sekarang Arsya hanya ingin menyelesaikan studinya. Agar bisa menjadi mahasiswa yang terbaik dan bisa membanggakan keluarga besarnya.


"Semoga Elo bahagia karena keinginan ingin menjauhi kami terkabulkan. Mulai hari ini gue akan melupakan semuanya tentang kita,"


Ucap Arsya didalam hati dengan tangannya langsung menekan tombol wife pada ponselnya.


"Kak, Kakak kenapa? Jika berat untuk meninggalkan semuanya, maka kamu masih memiliki waktu untuk memikirkan kembali, dan tidak perlu mengambil keputusan terburu-buru seperti sekarang," ucap Rian melihat putranya seperti sedang gelisah.


"Tidak ada apa-apa Pa, Arsya baik-baik saja dan hanya lagi memikirkan di sana akan menggunakan sopir seperti kata mama atau tidak," dusta Arsya karena tidak mungkin bercerita pada ayahnya bahwa dia sedang memikirkan Aurel.


"jika soal itu bisa dipikirkan nanti, tidak perlu sekarang. setibanya di sana kita lihat dulu tempat dan situasinya. Jika ingin membawa mobil sendiri. Papa tidak akan melarang, karena semua keputusan ada padamu. Mama kalian hanya memberi saran, karena dia terlalu mengkhawatirkan dirimu," tutur Rian tidak ingin memaksa, bila anaknya tidak ingin memiliki sopir pribadi. Sebab yang terpenting bagi Ayah dua anak itu adalah, kenyamanan sang putra.


"Iya Pa, terima kasih sudah mengerti Arsya. Maaf Kakak belum bisa membahagiakan Papa," jawab si tampan tersenyum pada ayahnya. Laki-laki yang paling mengerti anak dan istrinya. Rian benar-benar menjadi sosok ayah dan suami idaman bagi keluarganya.


"Sudah kewajiban Papa, Nak. Untuk memberikan semuanya yang terbaik pada kalian," kata Rian mengelus kepala anak bujang nya. sebesar apapun kedua anaknya Ryan dan Ayla memang selalu memperlakukan mereka seperti Arsya dan Salsa masih berumur tujuh tahun.


*


*


Sementara itu di sebuah Apartemen yang terlihat biasa saja. Namun, cukup layak untuk ditinggali, karena fasilitas di negara itu semuanya memanglah yang terbaik.


Seorang gadis memakai kacamata tebal, sedang menata pakaiannya ke dalam lemari pakaian. Dia baru tiba di negara tersebut sekitar jam sebelas tadi siang. Gadis itu adalah Aurelia, yang entah takdir atau bagaimana. Dia mendapatkan beasiswa untuk meneruskan kuliahnya di negara yang sama dengan Arsya. Alasan Aurel menerima beasiswa tersebut adalah, karena ingin benar-benar melupakan Arsya. Namun, siapa sangka mereka justru akan kuliah di universitas yang sama.


"Arsya... sekarang gue semakin jauh saja dengan kalian. Maafin gue harus melakukan ini semua, karena jika gue teruskan kebersamaan kita, walaupun hanya sebagai sahabat. Akan banyak hati yang tersakiti," ucap Aurel memandangi foto Arsya yang sengaja dia bawa di antara pakaiannya.


"Terima kasih karena Elo dan Salsa sudah mau menjadi sahabat gue selama ini. jujur, sebetulnya gue merasa bersalah pada kalian berdua karena pergi tanpa berpamitan Tapi percayalah, semua yang gue lakukan adalah untuk kebaikan kita semua," Aurel yang berniat membereskan pakainya, ia urungkan karena dia lebih memilih memandangi foto sahabatnya.



"Gue mau jujur sama Elo Ar, sebetulnya gue sudah lama suka sama Elo, tapi... bukan sebagai sahabat. Gue suka sebagai, sebagi gadis yang jatuh cinta," ungkap Aurel tersenyum sendiri sambil mengelus-elus muka Arsya. Padahal hanya sebuah foto, tapi Aurel seakan lagi berhadapan langsung dengan si pemilik wajah tampan.


"Maaf ya, gue terpaksa harus membawa foto Elo, agar selama di sini gue ada teman, enggak merasa sendirian," ucapnya lagi.


Sosok Arsya bagi Aurel seperti benteng perlindungan untuknya. Dulu baru-baru gadis situ memakai kacamata, begitu banyak anak seumuran dengannya yang mengejek bahwa Aurel adalah gadis culun. Padahal dia memakai kacamata ada alasan lain.


Namun, dengan beraninya Arsya membela Aurel. Sehingga sampai gadis itu besar, di daerah tempat tinggalnya. Yaitu saat masih menjadi tetangga kakek Ridwan. Tidak ada anak yang seumuran dengannya berani mengejek Aurel lagi. Maka dari itu ia membawa foto Arsya selama menimba ilmu di negeri orang. Sebagai bentuk pengganti sosok aslinya. Tidak tahu saja Aurel, bahwa Arsya juga kuliah di negara yang sama dengannya.


...BERSAMBUNG......


.


.


...Halo semuanya.... para raider Mak author yang tersayang! Terima kasih ya, atas semua dukungan yang kalian berikan selama ini. Nah untuk kelanjutan cerita pernikahan Salsa, belum jadi tamat ya. Mak akan memperpanjang ceritanya. Namun, kali ini ceritanya adalah menceritakan kisah percintaan si tampan Arsya bersama tambatan hatinya. Akankah Arsya bisa bersatu dengan Aurelia atau malah sebaliknya dan apa sebetulnya yang buat si cantik Aurel memutuskan hubungan bersama sahabat masa kecilnya itu? penasaran sama kisah mereka, yuk jangan lupa beri dukungannya ya....


Like.


Vote.


Komen.

__ADS_1


Subscriber.


Hadiah bintang lima, bunga ataupun kopi. Terima kasih. 🙏🙏😘😘😘


__ADS_2