Pernikahan Salsa

Pernikahan Salsa
Karena gue punya istri.


__ADS_3

🥀🥀🥀🥀🥀


.


.


"Ken, Lo mau apa?" seru Salsa begitu kaget. Gadis tersebut langsung memejamkan matanya saat posisi ia dan Kenzo hanya berjarak beberapa senti.


Kenzo tidak berbicara apa-apa. Dia melangsungkan niatnya yang ingin memasang sabuk pengaman pada tubuh istrinya. Bosan, ya Kenzo sudah malas setiap mau pergi selalu mengingatkan sang istri agar tidak lupa memasang selt belt. Padahal hal tersebut begitu penting untuk keselamatan dirinya sendiri.


"Gue cuma masang sabuk pengaman. Bukan mau ngapa-ngapain," bisik Kenzo mulai menjalankan kendaraan mewahnya meninggalkan SMK Erlangga.


Mendengar jawaban Kenzo. Salsa sontak membuka mata dengan menyipitkan sebelah matanya. Namun, saat matanya terbuka, ternyata Kenzo sudah menjalankan kendaraan beroda empat tersebut.


"Ken, Lo!" Salsa mengepalkan tangannya karena merasa malu dan kesal pada tindakan Kenzo yang tiba-tiba mendekatkan tubuh mereka.


"Huem, apa? Makanya jadi cewek jangan punya pikiran ngeres." ejeknya sambil mengendarai mobil menuju perusahaan Tuan Fathan kakeknya.


"Berengsek, Lo. Nagatain gue punya pikiran ngeres," sungut Salsa tidak terima.


"Emang iya, 'kan? Pasti tadi Lo ngira gue mau---"


"Ken, Ken... stop! Gue nggak pernah punya pemikiran seperti itu, ya." sela si princes berteriak karena dia merasa malu di katai seperti itu.


"Lalu, kenapa Lo mejamin mata?" Kenzo menyugikan senyum tampannya.

__ADS_1


"Gue mejam mata karena nggak mau dekat-dekat sama cowok Playboy seperti, Lo. Jadi jangan kepedean." Salsa sengaja menekankan kata Playboy.


"Playboy?" ulang Kenzo. Ia sengaja mengulangi perkataan Salsa karena takut salah dengar.


"Iya, Playboy!" takannya lagi.


"Atas dasar apa Lo ngomongin gue Playboy?" pemuda itu menyipitkan matanya. Kenzo memang sudah sering berpacaran. Akan tetapi dia bukanlah seorang Playboy seperti yang dituduhkan istrinya.


"Atas dasar---"


"Kenapa malah diam? Emangnya Lo ada buktinya?" Kenzo yang penasaran terus mendesak Salsa.


"Eh, ini kita mau kemana?" mengalihkan pertanyaan. Tidak lucu kan bila Salsa menyebutkan bukti yang ia punya.


"Huh!" Kenzo hanya tersenyum. "Kita mau ke perusahaan Kakek Fathan." jawabnya singkat.


"Buat lamar pekerjaan. Tadi kakek sudah menelepon. Katanya gue di suruh ke perusahaan hari ini."


"Lo mau kerja?" Salsa terperangah tidak percaya.


"Huem! Memangnya apalagi yang dilakukan pria beristri." pemuda itu menjawab asal. Namun, mampu membuat hati Salsa berdesir.


"Rencananya besok gue baru mau ke perusahaan kakek. Tapi entah kenapa tadi saat gue masih belajar, Sekertaris pribadi kakek menelepon gue. Katanya di suruh hari ini juga." jelas Kenzo berhenti sesaat. Lalu dia bicara lagi. "Tolong do'ain biar gue di terima bekerja walaupun hitungannya hanya paruh waktu."


"Kenapa Lo harus kerja?" sebanyak itu perkataan Kenzo. Hanya perihal kerja yang Salsa tannyakan.

__ADS_1


"Karena gue punya tanggung jawab. Ada istri yang harus gue nafkahi." sambil mengobrol tidak terasa mobil mereka sudah tiba di perusahaan Tuan Fathan.


"Ken!" lirih Salsa menatap Kenzo semakin lekat. Sungguh ia tidak menduga jika Kenzo ingin bekerja karena dirinya.


"Apa?" jawab Kenzo singkat dan padat.


"Lo nggak harus kerja, karena gue masih punya orang tua dan keluarga yang mencukupi kebutuhan gue." tutur Salsa yang mengira jika Kenzo mengangap dia sebagai beban. Padahal bukan itu maksud suaminya.


"Memangnya Lo pikir gue nggak punya orang tua." Kenzo tergelak. "Sa, Lo Istri gue, tanggung jawab gue. Nggak mungkin lah gue ngandelin orang tua kita buat memenuhi kebutuhan istri gue." jelas Kenzo balas menatap Salsa yang masih termanggu karena mendengar kata istri.


"Mulai sekarang, jika Lo butuh sesuatu mintanya ke gue. Jangan minta sama nyokap Lo lagi."


"Tapi gu---"


"Nggak ada tapi-tapian. Gue masih punya uang kalau cuma buat beli pakaian atau apa. Asalkan jangan minta pesawat. Gue belum mampu. Tapi bila gue sudah lulus kuliah dan kerja di perusahaan sendiri. Akan gue usahain." ucapnya sebelum turun dari mobil. Sebab mereka sudah berada di parkiran sejak beberapa menit yang lalu.


"Ayo turun! Mana tahu kalau datangnya bawa istri. Kakek merasa kasihan." ajaknya turun lebih dulu. Lalu iapun berjalan memutar untuk membuka pintu mobil buat istrinya.


"Ken, gue nunggu di sini aja, ya. Masa iya gue datang ke perusahaan pakai baju sekolah," Salsa diam tidak mau turun dari mobil.


"Nggak apa-apa pakai seragam juga. Ayo turun, kita sudah di tungguin." Kenzo mengulurkan tangannya.


"Kita nggak lama, 'kan?" tanya Salsa yang terpaksa ikut turun.


"Belum tahu, yang penting kita masuk dulu." tidak mau di bantah, Kenzo menarik lembut tanggan istrinya. Mereka berjalan sambil bergandengan tangan. Entah sadar atau tidak, yang jelas Salsa membiarkan Kenzo mengenggam tangganya.

__ADS_1


BERSAMBUNG...


__ADS_2