
🥀🥀🥀🥀🥀🥀
.
.
Hari begitu cepat berlalu.
Sudah dua hari Arsya berada jauh dari keluarganya. Papanya dan Sekertaris Aldi sudah pulang tadi pagi. Sebab jika berlama-lama, perusahaan Erlangga tidak ada yang akan mengurusnya.
Di sini Arsya tinggal di Apartemen termewah yang ada di kota tersebut. Negara maju dari segi apapun. Putra pertama Rian itu sudah dibelikan mobil keluaran terbaru yang lagi trend di sana.
Meskipun Arsya menolaknya, tapi ayahnya tetap memaksa dan membelikan mobil tersebut. Bukan apa-apa, Rian tidak mau orang-orang memandang rendah putranya. Lagian membeli satu mobil mewah tidak akan ada pengaruh apapun pada kekayaan keluarga mereka.
Siang ini Arsya berencana akan pergi jalan-jalan terlebih dahulu. Untuk mengenal tempat tinggal barunya. Namun, saat ini dia baru saja bangun tidur. Sedangkan besok pagi, adalah waktunya pergi ke kampus tempat dia menimba ilmu untuk beberapa tahun ke depan.
"Eum... astaga! Sudah jam setengah empat, kenapa aku bisa tidur sampai selama ini" gumam Arsya sambil melirik jam tangan pada pergelangan tangannya.
Degan pelan Arsya bagun dan meregangkan otot-ototnya yang terasa kaku. Sebab sudah hampir tiga jam dia tidur tanpa ada yang menggangu. Semua itu gara-gara semalaman si tampan tidak bisa tidur karena ulahnya sendiri yang menghapus semua foto Aurel. Akhirnya dia susah tidur, sebab selama satu tahun belakangan ini setiap mau tidur Arsya akan menatap wajah cantik sahabatnya. Namun, ketika didalam pesawat, semua kenangan tentang gadis itu ia hapus semua tanpa ada yang tersisa.
Tidak tahunya Arsya sudah terbiasa dengan hal sepele. Namun, memilik efek yang begitu besar untuk dirinya. Jadilah dia hanya bisa mengutuk sikap dia sendiri yang seperti anak kecil. Sebab ditempat pemulihan sudah dia hapus Semuanya. Jadi tidak dapat diperbarui lagi.
"Huh! Aurel, Elo benar-benar bikin gue tersiksa," ucapnya sambil berlalu masuk kedalam kamar mandi. Tidak lupa Arsya juga mengambil handuk terlebih dahulu.
Dibawah guyuran air shower, dia mendiamkan tubuhnya. Berharap semua ingat tentang Aurel akan pergi mengikuti air yang mengalir. Konyol memang, tapi bagi kita sekiranya masih bisa berpikiran dengan jernih. Berbeda lagi bagi Arsya
Hampir selama lima belas menit dia berdiam diri berada didalam kamar mandi. Setelah merasa lebih baik barulah ia keluar dengan tampilan yang begitu menggiurkan bagi para kaum hawa.
Bagaimana tidak, pemuda itu sangat rajin berolahraga. Arsya memiliki tubuh tinggi atletis berkulit putih dan enam roti sobek yang berada di perut hingga dadanya. Semua itu terpampang begitu jelas.
Lalu dia melangkah menuju lemari untuk mengambil baju yang akan ia pakai. Kaki ini Arsya hanya mengunakan baju kaos biasa dan dipadukan dengan celana jeans panjang. Dia akan pergi berjalan-jalan disekitar Apartemennya saja. Sebab dari pertama kali datang, dia memang belum sempet untuk pergi kemana-mana.
Selain mengurus pendaftaran kuliahnya, si tampan Arsya juga menemani sang ayah untuk bertemu dengan klien bisnisnya yang kebetulan ada di negara tersebut. Anggap saja sebagai latihan karena jika sudah lulus kuliah sudah jelas Arsya akan menjadi Presdir perusahaan Erlangga group. Sebagai putra pertama dan cucu pertama Tuan Heri Erlangga.
Sebab jika untuk adik iparnya sudah ada bagiannya masing-masing. apalagi Kenzo meneruskan perusahaan kakeknya sendiri. Walaupun untuk saat ini Rian sudah turun tangan juga untuk membantu apa saja yang dibutuhkan oleh perusahaan menantunya.
"Baiklah, mari kita jalan-jalan dulu," ajaknya ponsel yang ada diatas meja di dalam kamar. Tidak ada yang diajak berbicara, akhirnya pemuda itu berbicara sendiri.
Setelah semuanya selesai, dengan bersiul kecil. Arsya keluar dari Apartemen dan menutup kembali pintu tersebut dengan kartu akses miliknya.
Tiba di lobby Apartemen, pengawal Arsya yang ditugaskan oleh Rian sudah menyiapkan mobil untuk tuan mudanya. Jadi Arsya hanya tinggal menaikinya saja, tidak usah repot-repot pergi ke parkiran terlebih dahulu.
"Apakah Tuan Muda akan pergi sampai malam?" tanya pengawal tersebut yang bernama Abraham. Dia adalah orang kepercayaan Sekertaris Aldi. Makanya pria itu yang mendapatkan tugas berat menjaga keselamatan Arsya selama dia menimba ilmu.
"Aku belum tahu, Paman. Tapi aku tidak pergi jauh, hanya disekitar sini saja," jawab Arsya menerima kunci mobilnya.
"Oke, baiklah! Tuan Muda hati-hati," Abraham menunduk hormat sambil menutup kembali pintu mobil tersebut, karena Arsya sudah masuk kedalam dan duduk di bagian bangku kemudi.
Abraham memang tidak pergi mengikuti Arsya, karena masih ada yang akan melakukan tugas mengawasi. Agar tidak ada yang mencurigai bahwa Arsya dijaga begitu ketat.
__ADS_1
Dulu saat ayahnya masih muda, Opa Heri tidak perlu repot-repot memberikan pengawalan begitu ketat seperti pada cucu-cucunya. Sebab Rian hanya kuliah di universitas Erlangga.
Tiin!
Tiin!
Arsya membunyikan klakson mobilya begitu meninggalkan Apartemen. Tujuannya yang pertama adalah berkeliling di daerah tempat tinggalnya saja. Kebetulan sekali Rian mencari Apartemen yang dekat dengan pantai dan kompleks perumahan.
"Huh! Kalau adek ikut gue pasti nggak akan kesepian seperti ini," keluh Arsya karena dia memang belum memiliki teman. Sebab semua sahabatanya tidak ada yang melanjutkan kuliah ke luar negeri. Rata-rata murid keluaran SMK mereka. Akan kuliah di universitas milik keluarga Erlangga, karena disana tak kalah bagusnya.
Ttttddd!
📱Salsa : "Hai Kakak tampanku? Kakak lagi apa? Sudah makan apa belum?" begitu sambungan telepon terhubung. Suara princess langsung membuat kakaknya menjauhkan alat yang ia tempelkan pada telinga. Soalnya Arsya lagi membawa mobil.
📱 Arsya : "Hai juga cengeng! Kenapa nanya, nya sekaligus. Kakak harus menjawab yang mana dulu nih?" mendengar suara adik kesayangannya. Mood Arsya yang bete karena tidak punya teman dan belum memiliki kegiatan langsung kembali pulih. Adiknya bagaikan obat bagi dirinya.
📱 Salsa : "Ha... ha... yang mana saja, asalkan Kakak baik-baik saja. Kakak kapan pulang? Salsa sudah kangen," tanya Salsa yang membuat Kenzo tidak tahan untuk menarik hidung mancung sang istri.
Bagaimana tidak gemes, baru juga dua hari Arsya pergi. Namun, Princess sudah bertanya kapan akan pulang.
📱 Arsya : "kakak tidak akan pulang! bukannya sudah janjian, bahwa kalian yang akan datang ke sini?" jawab Arsya tersenyum gemas. Andai saja mereka dekat, sudah pasti dia akan melakukan hal yang sama seperti genji lakukan saat ini.
📱 Salsa : "Agh, seharusnya adek tidak bertanya jika tahu jawabannya seperti itu," sahut Salsa dengan sendu. Akan tetapi setelah itu dia bertanya lagi. "Kak, kakak sudah makan atau belum? Dan sekarang Kakak lagi dimana? Kenapa ada suara kendaraan?" tidak ingin berlarut dengan kesedihan Salsa pun kembali bertanya hal lain lagi.
📱Arsya : "Kakak lagi dijalan, mau melihat-lihat daerah sini. soalnya dari kemarin Kakak belum keluar untuk jalan-jalan. Coba adek lihat, tempatnya memang terlihat sepi, karena disini tidak banyak yang mengunakan kendaraan pribadi," tuturnya dengan suara lembut. Sehingga sang adik, selalu merasa nyaman bila berbicara dengan dirinya.
l
📱 Arsya : "Iya, sangat nyaman! Sekarang Kakak belum memiliki teman dan juga kegiatan lain. Jadi masih terasa aneh, apalagi ini baru kali pertama kita berpisah," jujurnya sambil memelankan laju kendaraannya. Sebab Arya mulai memasuki taman yang terlihat begitu ramai.
📱 Salsa : "Iya tidak apa-apa, namanya juga tempat tinggal baru. Mana tahu nanti saat jalan-jalan, Kakak akan bertemu dengan seorang gadis," goda Salsa mencoba menghibur kakaknya.
📱 Arsya : "Kenapa doanya seorang gadis, Kakak membutuhkan teman laki-laki," Arsya hanya tersenyum sambil mengelengkan kepalanya. Adiknya itu semenjak menikah semakin berani mengejek dirinya yang jomblo tidak memiliki kekasih.
📱 Salsa : "Karena Salsa ingin Kakak memiliki pasangan. Agar adek juga tenang, sudah ada yang akan memperhatikan Kakak. Selain adek, mama dan yang lainnya," sahut Salsa sendu.
📱 Arsya : "Tidak perlu khawatirkan soal pasangan. Sebab bila sudah waktunya, Kakak akan membawa gadis mana saja yang bisa menyaingi keluarga Kakak seperti keluarganya sendiri." jawab Arsya terdiam sejenak, sebelum kembali berkata lagi. "Dek, sudah dulu ya, ini Kakak sudah sampai dan mau melihat-lihat tempatnya dulu," ucapnya sambil mematikan mesin mobilnya dan melepaskan sabuk pengaman pada tubuhnya.
📱Salsa : "Baiklah! Kakak hati-hati ya, peluk jauh buat Kakak," jawab princess yang harus menagis setelah mematikan sambungan telepon mereka. Arsya dan dia dari terbentuknya gumpalan saja sudah bersama. Lalu bagaimana setelah sama-sama dewasa harus berpisah, karena mereka memiliki kehidupannya masing-masing.
"By," seru princess kembali menangis. Setiap habis berbicara dengan kakaknya. Mau dimana pun, gadis itu selalu menjatuhkan air matanya. Sebab tidak sanggup menahan rasa rindunya yang begitu menyeruak.
Cup!
"Sudah, jangan menangis lagi. Jika Kak Arsya tahu kamu seperti ini, dia pasti akan bersedih dan bisa jadi akan membatalkan niatnya kuliah disana, apa kamu mau itu sampai terjadi?" ucap Kenzo memberikan kecupan di mata yang lagi mengeluarkan air mata.
Salsa mengelengkan kepalanya dan menjawab. "Tidak, aku tidak mau kakak sampai tidak jadi mengejar cita-citanya,"
"Karena itu jangan bersedih lagi, kamu tahu sendiri seperti apa Kak Arsya menyanyangi mu. Mungkin dengan cinta yang aku miliki saja tidak ada bandingannya," tutur Kenzo merenggangkan pelukannya dan menyapu pelan air mata sang istri.
Cup, cup! Muuuah!
__ADS_1
"Jangan menagis lagi, pertama-tama tidak baik untuk kesehatan mu, kedua Kak Arsya pasti akan bersedih bila tahu hal ini,"
'Lalu yang ke-tiga apa?" tanya Salsa dengan mata dan hidung memerah karena sudah menagis.
Kenzo tersenyum tampan setelah mendengar pertanyaan istrinya. "Ketiga, jika kita miliki anak, maka dia akan merasa tersaingi. Sebab ibunya masih menangis seperti ini,"
"Ken, Ken! Enggak lucu ya," seru Salsa malah kembali memeluk tubuh suaminya. Saat ini mereka berdua lagi bersantai diatas ayunan besar yang berada di balkon kamar. Hari ini kebetulan sekali Kenzo pulang dari perusahaan lebih awal.
Jadi mereka berdua bisa bersantai untuk menghabiskan waktu berdua dengan pasangan halalnya.
"Kan emang nggak lagi melawak, aku lagi serius," jawab Kenzo semakin memeluk erat tubuh istrinya dari arah samping.
"Mulai nih jadi Playboy cap Kampak," cibir Salsa tersenyum. Kenzo memang paling bisa membuat dia tidak bersedih lagi. Pantas saja Arsya kakaknya sangat percaya bahwa Kenzo pasti akan bisa mengantikan dia untuk menjaga Princess Erlangga.
"Jika jadi Playboy buat merayu princess Erlangga,apa salahnya. Asalkan bukan untuk gadis lain, sebab mereka semua tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan Istriku," kembali menggoda sang istri yang akhirnya bisa-bisa mereka akan kembali melakukan penyemaian benih Lele tunggal.
Kedua pasangan ini memang tidak seperti pasangan suami-istri lainnya. Bila untuk bercinta saja harus ada acara-acara tertentu. Bayangkan saja, seorang princess Erlangga malam pertama hanya di Apartemen. Tidak ada cerita taburan kelopak bunga mawar seperti pengantin yang lain.
Namun, karena Salsa memiliki sifat yang sama seperti ibunya. Tidak suka mengumbar harta kekayaan seperti gadis lain. Justru Salsa adalah sosok yang sangat sederhana. Meskipun saat kecil dia selalu dibawa pergi berbelanja oleh kedua nenek dan Sari bunda angkatnya. Tidak merubah dia menjadi gadis yang suka shopping.
"Wah, wah! Jika sudah seperti ini, aku sangat yakin bahwa pasti ada udang dibalik tepung terigu," Salsa terkikik sambil berlari turun. Sebab ia sudah tahu jika Kenzo akan melahap bibirnya.
Sehingga membuat suaminya hanya tersenyum sambil mengigit bibir bawahnya. Salsa adalah gadis yang sangat menggemaskan. Jadi mana mungkin Kenzo bisa menahan dirinya untuk tidak menyentuh sang istri, bila hanya sebatas ciuman panas.
*
*
Di negara yang berbeda Benua.
Arsya yang lagi pergi jalan-jalan, asik menikmati pemandangan ibu kota yang semakin sore, juga semakin ramai. Sampai pada saat ada seseorang yang menabrak dirinya.
"Agh!" seru gadis yang tidak sengaja menabrak Arsya dari belakang. Gadis tersebut tidak sengaja tersandung pada kakinya sendiri.
"Soryy, i didn't do it on purpose," ucapnya meminta maaf pada Arsya.
"Huem... tidak apa-apa," jawab si tampan seraya membantu mengumpulkan barang-barang gadis itu yang berserakan dibawah.
"Apa kamu ada yang terluka?" tanya Arsya setelah mereka sama-sama berdiri.
"Tidak, aku baik-baik saja," gadis cantik itu tersenyum kecil. Lalu setelahnya dia tiba-tiba mengulurkan tangannya mengajak berkenalan.
"Hai, kenalkan namaku Jeni!" ucapnya memperkenalkan diri. Arsya tidak langsung menerima, tapi ia malah melihat kearah tangan gadis itu.
"Ma--maaf, mungkin aku terlihat lancang dan murahan. Aku hanya ingin berkenalan saja, karena aku baru di sini. Jadi aku hanya ingin berteman saja," Jeni yang mengerti dari tatapan aneh Asya. Akhirnya menjelaskan maksudnya mengajak pemuda itu berkenalan.
"Arsya," menjawab singkat. Lalu setelah saling melepaskan tangan mereka. Arya berkata lagi. "Apakah kamu datang ke sini untuk menuntut ilmu juga?" tanyanya memastikan. Sebab tadi Jeni mengatakan bahwa dia orang baru, yang sama seperti dirinya.
"Iya, benar sekali. Aku baru empat hari ini tiba disini," tutur Jeni jujur.
"Kalau boleh tahu, kamu dari kota mana?" si tampan yang sama tidak memiliki teman akhirnya bertanya lagi. Jika cocok apa salahnya dia berteman dengan gadis itu.
"Aku dari kota A, dan kamu dari mana?" sambil saling bertanya mereka berdua duduk di bangku Taman yang kebetulan berada dibelakang mereka.
__ADS_1
"Aku dari kota B, dan baru tiba di sini dua hari lalu," sebelum gadis itu bertanya. Arsya langsung saja menjelaskan lebih dulu.
...BERSAMBUNG......