Pernikahan Salsa

Pernikahan Salsa
Sudah Ditakdirkan.


__ADS_3

🥀🥀🥀🥀🥀🥀


.


.


"Ziko, apa kamu sudah yakin dan tidak akan menyesal dengan keputusan mu?" tanya Tuan Paradipto setelah mendengar perkataan putranya yang sudah membatalkan pertunangan dia dan Aurel. Kini kedua pasangan paruh baya itu sudah kembali masuk ke dalam kamar rawat inap Ziko.


"Sangat, sangat yakin, Pa! Jadi tolong jika Papa benar-benar peduli padaku. Maka biarkanlah Aurel menikah dengan laki-laki yang dia cintai," jawab Ziko sangat yakin pada ucapannya.


Sedangkan Aurel hanya diam karena tidak berani berkata apa-apa. Takut bila Tuan Paradipto marah kepadanya. Namun, berbeda dengan ibunya Ziko. Wanita paruh baya itu hanya mengelus kepala putranya dengan sayang. Sebab dia memang tidak ingin Ziko menikah dengan gadis yang mencintai pemuda lain.


Lebih baik mereka kehilangan uang karena sudah menolong perusahaan orang tuanya Aurel. Daripada sang putra merasakan sakit hati. Apalagi Ziko sudah sengsara menanggung penyakitnya yang terlihat sepele. Akan tetapi bila dibiarkan akan berakibat fatal.


"Baiklah! Jika begitu terserah padamu," imbuh lelaki paruh baya itu akhirnya mengikuti kemauan sang putra. Sebetulnya sudah berulang kali Ziko mengatakan ingin mengakhiri hubungan dia dan Aurel. Namun, selama ini Tuan Pradipto lah yang selalu menghalanginya, karena beliau takut bila tidak ada yang mau menikah dengan pemuda memiliki penyakit seperti anaknya.


"Aurel, sekarang kamu dan anak kami sudah tidak ada ikatan lagi. Maka pergilah temui Arsya, sepertinya dia sangat kecewa pada hubunganmu dan Ziko," ucap Tuan Pradipto yang juga sudah tahu bahwa Aurel dan calon pewaris Erlangga group saling menyukai. Dari mana beliau tahu? Jawabannya tentu saja dari Tuan Ridwan dan Tuan Heri Erlangga.


Mana mungkin ke-dua lelaki paruh baya itu, membiarkan cucu kebanggaan mereka memiliki hubungan tanpa status yang jelas. Gara-gara menyukai Aurel, Arsya menjadi tidak pernah mau membuka pintu hatinya untuk gadis lain.


"A--apa, apakah Om serius?" Aurel sampai tergagap karena merasa seakan-akan semuanya hanyalah mimpi.


"Tentu saja, pergilah, Nak. Maafkan Om, karena sudah memanfaatkan kesempatan saat menolong papamu," ujarnya merasa bersalah.


"Om," seru gadis itu memeluk Tuan Pradipto sambil menangis tersedu-sedu. "Terima kasih, Om. Terima kasih!" lanjutnya lagi.


"Huem, sudahlah! Tapi sebagai ganti rugi karena pertunangan kalian dibatalkan. Maka kamu harus mau menjadi putri kami dan saudari Ziko," Tuan Pradipto balas memeluk Aurel karena dia dan istrinya memang sudah menyanyangi calon menantu mereka seperti mana putrinya sendiri.


"Jika soal itu, Om tidak perlu khawatir, tanpa Om dan tante pinta saja. Aku memang sudah lama menganggap Kak Zico sebagai kakak kandungku sendiri," jawab Aurel tersenyum sambil melepaskan pelukannya. Lalu gadis itu pun berjalan mendekati istri Tuan Pradipto dan memeluk wanita paruh baya itu bergantian.


Tidak lupa dia juga sudah menyebut Ziko dengan kata kak.


"Tante," ucapnya menagis. Meskipun Aurel senang karena tidak jadi menikah dengan Ziko. Namun, di dalam lubuk hatinya, dia juga merasakan sedih secara bersamaan. Sebab Aurel mengkhawatirkan nasib Ziko untuk kedepannya. Mungkinkah akan bisa mendapatkan istri atau tidak sama sekali.


"Jangan bersedih, kamu harus bahagia, Nak. Maafkan Tante yang pernah meminta mu untuk selalu setia mendampingi Ziko,"


"Tidak, Tante dan Om tidak salah. Aurel mengerti jika kalian sangat menyayangi Kak Ziko," jawab Aurel tidak pernah menyalahkan Tuan Pradipto ataupun istrinya. Sebab semua orang tua tentu ingin melihat putra-putri mereka bahagia. Namun, terkadang hanya caranya saja yang berbeda.


"Baiklah, baiklah! Kalau begitu kita saling meminta maaf dan memaafkan. Tapi tante juga punya satu permintaan kepadamu, yaitu panggil kami dengan sebutan mama dan papa. Seperti Ziko memanggil kami." pinta wanita tersebut seraya merenggangkan pelukan mereka berdua.

__ADS_1


"Iya, Ma," Aurel yang merasa bahagia tentu saja akan melakukan hal tersebut. Bila tidak malu, maka gadis itu sudah berteriak, karena saking merasa bahagianya.


"Terima kasih, sekarang pergilah temui Tuan Muda Erlangga, katakan padanya bahwa kamu juga menyukainya," titah beliau menyeka air mata bahagia Aurel.


"Iya, Aurel pergi dulu," jawab Aurel langsung berlari keluar untuk menyusul Arsya yang mungkin saja berada di Apartemennya. Entah sudah diatur atau bagaimana. Sehingga begitu Aurel keluar ternyata satu buah mobil sudah tersedia di depan lobby rumah sakit. Mobil tersebut adalah milik Tuan Pradipto. Namun, sang sopir mencegah saat Aurel ingin melewatinya dan mengatakan bahwa dia akan mengantar Aurel kemanapun gadis itu akan pergi.


Alhasil Aurel yang buru-buru pun tidak menolak untuk naik ke mobil tersebut dan dia langsung menyebutkan alamat tujuannya. Yaitu ke Apartemen milik Arsya yang tidak jauh dari rumah sakit.


Selama dalam perjalanan, Aurel begitu gelisah. Dia sudah tidak sabar ingin bertemu Arsya dan menyampaikan semua berita bahagia itu.


"Pak, bapak kembali saja ke rumah sakit nanti saya akan pulang sendiri ucapnya ketika mereka sudah sampai di depan gedung apartemen yang ditempati oleh Arsya.


"Tapi, Nona, bagaimana bila orang yang ingin Anda temui lagi tidak ada. Anda akan pul---"


"Bapak tenang saja, Arsya pasti ada dan tidak akan kemana-mana," sela Aurel sudah keluar dari dalam mobil dan menutup pintunya kembali.


"Anak yang lagi jatuh cinta, ternyata bisa berubah dalam waktu seketika," ucap pak sopir seraya mengelengkan kepalanya. Dia sudah sangat mengenal Aurel, jadi sudah paham seperti apa keseharian gadis itu.


Dengan langkah tergesa-gesa Aurel masuk kedalam gedung Apartemen. Tidak lupa dia bertanya terlebih dahulu pada resepsionis tempat letak Apartemen pujaan hatinya. Setelah tahu, gadis itupun menuju lift untuk mengantarnya ke lantai yang ia tuju.


Dengan tangan gemetar dan panas dingin. Aurel pun menekan bel Apartemen tersebut. Sampai beberapa kali, pintunya tidak juga dibuka. Sehingga membuat Aurel semakin gelisah. Dia terus mencoba dan mencobanya. Sebab gadis itu mengira pasti Arsya sengaja ingin menghindar.


Gumam Aurel begitu kecewa. Akan tetapi setelah dia berbalik ingin bersandar pada pintu. Tubuh tegap Arsya yang membawa barang belanjaan ada dibelakang tubuhnya.


Untuk beberapa mereka berdua saling pandang. Dari sorot mata masing-masing, seakan sedang berbicara.


Buuuk!


"Arsya, aku mencintaimu," begitu memeluk tubuh Arsya. Gadis itu langsung mengungkapkan perasaannya.


Deg!


"Apakah gue lagi bermimpi? Atau memang nyata?"


Batin Arsya terpaku pada tempatnya berdiri. Seakan tidak percaya Aurel datang ke Apartemen dan mengatakan mencintainya.


"Ar, apakah kamu tidak ingin balas memelukku?" suara Aurel menyadarkan si tampan Arsya.


"Aurel... kenapa kamu ada di---"

__ADS_1


"Aku datang untuk cintaku," sela Aurel cepat. Tidak lupa dia juga tersenyum bahagia. "Aku mencintaimu, Ar. Makanya aku datang ke sini," ungkapnya lagi tanpa rasa malu.


"Aurel, kamu baik-baik saja, 'kan?" tanya Arsya tetap masih belum percaya. Beberapa waktu lalu dia memohon agar Aurel mau memperjuangkan hubungan mereka. Namun, gadis itu menolak keras dan malah dengan sengaja memanggil Ziko dengan sebutan sayang. Lalu bagia mana mungkin sore ini Aurel berkata mencintai Arsya. Seperti itulah kiranya yang sedang si tampan pikirkan.


"Aku serius, Ar. Aku dan Ziko sudah putus. Coba kamu lihat ini, Kak Ziko melepas cincin pertunangan kami dan meminta aku untuk menjadi adiknya saja," tutur Aurel panjang kali lebar.


"Kenapa dia malaku---"


Cup!


Mata hitam pekat milik Arsya membola keluar, karena tiba-tiba bibir yang masih perawan dikecup begitu saja oleh gadis yang saat ini masih dia cintai.


"Karena kita sudah ditakdirkan bersama," sela Aurel tersenyum sambil menggigit bibir bawahnya sendiri. Pipinya yang putih sudah bersemu merah. Bohong jika dia tidak malu, Aurel nekat memalukan semuanya karena ingin Arsya berhenti bertanya.


"Kamu," seru Arsya berpura-pura marah. Lalu dia menempelkan kartu akses untuk untuk membuat pintu Apartemennya dan begitu terbuka, dia menarik tangan Aurel masuk dan menutup kembali pintunya. Sebab Jeni sudah pulang ke Apartemennya sendiri.


"Arsya, apakah kamu marah padaku? Kenapa---"


Cup!


Kali ini Arsya yang balas memberi gadis itu kecupan. Bibir yang selama mereka berteman selalu menjadi pusat perhatian Arsya.


"Iya, aku marah padamu, karena kamu sudah..."


"Sudah apa?" sela Aurel tersenyum yang mampu membuat jantung Arsya berdegup kencang.


"Sudah mencium bibirku bibir ku," jawab Arsya yang langsung menarik Aurel agar masuk kedalam pelukannya. Ia cium pucuk kepala gadis itu berulang kali. "Aku juga mencintaimu, Aurelia," ucap Arsya baru membalas pernyataan cinta sahabat yang sudah lama dia cintai.


TAMAT.


.


.


.


...Hayo! Kok tamat? Karena kisah mereka memang hanya sebatas ini. Tapi jangan khawatir ya, nanti akan ada Extra Fart kisah si bbg Kenzo dan Princess, bersama bayi mereka. ...


...Namun, sebelum itu Mak Author mau mengucapkan beribu rasa terima kasih karena kalian selalu setia membaca karya receh Mak Author. Maaf beribu maaf pula, karena Mak banyak mengecewakan kalian. ...

__ADS_1


😘😘😘😘😘😘😘😘😘😘 Jangan lupa untuk baca karya baru Mak author ya.🙏🙏🙏


__ADS_2