
🥀🥀🥀🥀🥀
.
.
"Kenapa es-nya malah dibuang? Bukannya baru dimakan?" ulang Kenzo karena Salsa hanya diam tidak berkata apa-apa.
"Nggak kenapa-napa! Ayo kita pulang sekarang," jawab gadis itu membuang pandangan matanya.
"Heum, baiklah!" sahut Kenzo tidak peka kalau istrinya sedang merasakan jengkel. Lalu diapun menjalankan lagi kendaraan mewahnya. Dari tempat mereka membeli es krim sampai ke rumah Tuan Fathan, mereka berdua tidak ada yang berbicara.
Begitu mobil Kenzo berhenti di garasi. Salsa yang tidak pernah membuka mobil meskipun untuk dirinya sendiri. Akan tetapi hari sudah dua kali Salsa membuka pintu mobil.
Jika tadi tidak heran, karena mereka berdua sudah di tunggu oleh keluarga Kenzo. Namun, kali ini tidak, dia keluar sambil membawa tas laptopnya sendiri.
"Dia kenapa, sih?" kata Kenzo menatap kepergian istrinya yang masuk begitu saja. Padahal Kenzo sudah mau membukakan pintu untuk istrinya.
"Sayang, kalian sudah kembali." sambut nenek Kenzo begitu melihat cucu menantunya masuk kedalam rumah.
"Iya, Nek. Tadi saat kami tiba di bandara, mama sama papa langsung melakukan Check out penerbangan." jawab Salsa menyalami tangan wanita paruh baya yang seumuran dengan kedua neneknya.
"Oh, yasudah! Kembalilah ke kamar kalian untuk istirahat." kata si nenek mengelus pundak Salsa.
"Iya, Nek. Salsa ke kamar dulu, ya." setelah berpamitan, Salsa pun pergi menuju lantai atas tempat kamar suaminya berada.
Ah entahlah! Mengigat kata suami, membuat mood Salsa kembali buruk. "Huh! Gue kenapa, sih," gumamnya pada dirinya sendiri.
Lalu dia kembali lagi menaiki tangga dengan pelan. Sedangkan Kenzo masih berhenti di ruang tamu, karena dia lagi menerima telepon dari Eel.
Ceklek!
Salsa membuka pintu kamar cukup kasar. Setelah itu dia menutup pintunya kembali, lalu dia berjalan kearah sofa untuk mengistirahatkan tubuhnya yang tiba-tiba terasa begitu lelah.
"Agh, mending gue ngerjain tugas dari pada mikirin yang bukan menjadi urusan gue." ucapnya mulai mengeluarkan laptop.
Sampai hampir dua puluh menit kemudian. Kenzo baru menyusul masuk kedalam kamar. Salsa tidak menoleh kearah pintu, karena sudah tahu siapa yang datang.
"Sa..." pangil Kenzo ikut duduk disamping sang istri. "Eum, gue mau pergi sebentar, ya." ucap Kenzo menatap Salsa yang tidak mengalihkan pandangan matanya.
"Ya!" jawab Salsa singkat.
"Lo nggak apa-apa kan gue tinggal," jika ragu, kenapa juga Kenzo harus bertanya.
"Nggak!" masih menjawab seperlunya.
"Lo kenapa, sih. Perasaan berbeda banget?" Kenzo yang tidak tahan akhirnya bertanya juga. "Jika gue punya salah, ngomong aja jangan cuma diam." lanjutnya lagi.
__ADS_1
"Gue nggak kenapa-napa, Ken, Ken! Jika Lo mau pergi, ya pergi aja. Gue lagi ngerjain tugas." jawab Salsa jengah. Moodnya semakin buruk begitu mendengar pertanyaan Kenzo.
"Oke, kalau begitu gue pergi dulu. Tapi minta nomor ponsel Lo. Nanti bila ada perlu, kita tinggal saling memberi kabar."
"Lihat aja sendiri, ponsel gue nggak di kunci." meskipun malas Salsa memberikan nomor ponselnya, karena benar kata Kenzo. Bila ada perlu, mereka bisa saling menghubungi.
Tidak ingin menyia-nyiakan waktu. Kenzo langsung saja mengambil ponsel sang istri yang berada dihadapan mereka.
"Nomor gue sudah di save. Nanti bila Lo perlu sesuatu, atau ada apa-apa. Hubungi gue, nggak perlu ngubugin Arsya." pesan Kenzo berdiri dari Sofa lalu diapun langsung pergi begitu saja.
Tidak mungkin kan, dia mencium kening atau pipi istrinya lebih dulu, mereka berdua menikah bukanlah atas dasar cinta. Tapi melainkan karena keterpaksaan.
"Ck, terserah Lo mau pergi kemana," Salsa berdecak semakin kesal. "Oh, ya Tuhan! Biasanya bila gue lagi datang bulan perasaan mood gue nggak hancur gini deh," gadis cantik itu mengusap wajahnya kasar.
Pusing karena mengerjakan tugasnya jadi berantakan. Salsa memilih untuk tidur di atas Sofa. Mungkin dengan tidur sebentar, pikirannya kembali tenang.
*
*
Sementara itu di tempat yang berbeda. Kenzo baru saja datang dan lagi berkumpul bersama teman-temannya. Termasuk Mia, gadis itu sudah datang karena dijemput oleh Eel.
"Kenapa waktunya mepet seperti ini, sih. Padahal jam tujuh sekalian, biar nggak tanggung." protes Kenzo yang telah bergabung bersama Andra dan yang lainnya.
"Iya sih memang tanggung banget. Tapi ini cuma untuk sore ini aja, Ken." yang dijawab oleh Hengki, karena dia sebagai wakil Tim makanya berani mengambil keputusan untuk mereka berlatih.
"Gue bukan masalah persiapannya, Ki. Tapi bila terus-terusan latihan dari sore seperti ini, gue nggak bisa, karena tugas gue bukan cuma memperhatikan Tim Basket aja, tapi ada i---"
"Tumben banget! Biasanya Lo nggak pernah protes bila ada hubungannya sama Tim kita," cibir Eel memotong perkataan Kenzo.
"Apaan sih, mulai dua hari lagi setiap pulang kuliah gue mau mulai kerja di perusahaan kakek gue." jujur Kenzo karena dia memang ingin bekerja. Agar bisa memenuhi kebutuhan Salsa mengunakan uang hasil keringatnya sendiri. Bukan hasil pemberian dari kakek ataupun papanya.
Uuhukk!
Uuhuhk!
"Apa? Gue nggak lagi salah dengar, 'kan? Lo kesambat setan mana, Ken?" Andra yang mendengar Kenzo mau bekerja sampai terbatuk-batuk karena dia sedang minum.
Andra masih ingat, belum sampai satu bulan yang lalu. Kenzo bercerita bila kakeknya terus-menerus menyuruh dia bekerja di perusahaan milik sang kakek. Maka Kenzo akan kembali ke Korea. Lalu bagaimana mungkin sahabatnya itu bilang mau mulai bekerja.
"Kalian nggak salah dengar. Gue memang mau bekerja di perusahaan kakek gue. Sudah ayo kita atur Tim dulu. Jam tujuh kita mulai berlatih." seru Kenzo berdiri karena tujuan mereka datang lebih awal memang menyusun Tim lebih dulu sebelum berlatih.
Lalu untuk sementara waktu mereka melupakan pembicaraan tersebut, karena latihan jauh lebih penting.
"Mi, Lo tunggu bersama mereka aja. Gue mau mengatur teman-teman kita dulu." kata Kenzo pada sahabatnya. Tadi saat baru datang, Kenzo sudah berbicara pada Mia. Namun, karena ada ada hal yang harus dia bahas bersama para Tim Basketnya. Dia mengabaikan gadis itu.
"Iya, latihan aja. Gue disini hanya untuk memberikan semangat. Kali ini gue yakin, kampus kita pasti akan menang." ucap Mia tersenyum seraya mengangkat tangannya memberi semangat untuk semua yang akan berlatih.
__ADS_1
Kenzo hanya mengangguk dan ikut tersenyum. Sahabatnya itu memang selalu memberi dukungan padanya.
Setelah itu mereka semua mulai mengatur Tim dan malamnya sesudah istirahat dan makan malam dengan makanan ketering yang dipesankan oleh Hengki, berlanjut lagi latihan yang sebenarnya.
Sampai pada jam sembilan malam. Mereka pun menyudahi latihan yang sangat membuahkan hasil. Bila Tim mereka bisa menjaga cara main seperti saat latihan. Maka peluang untuk bisa mengalahkan Tim Arsya semakin besar.
"El, biar gue aja yang ngantar Mia." ucap Kenzo saat mereka mau keluar dari gedung olahraga tempat mereka berlatih.
"Oke, gue juga lagi buru-buru soalnya sudah ditungguin oleh nyokap." jawab Eel yang memang terlihat buru-buru setelah menerima telepon. Mungkin si penelepon adalah orang tuanya.
"Huem! Hati-hati, jangan terburu-buru." Kenzo memperingati sahabatnya itu. Lalu karena anak-anak yang lain juga sudah keluar. Kenzo pun mengajak Mia pulang.
"Masuklah!" ucap Kenzo membukakan pintu mobil untuk Mia. Gadis itu hanya mengangguk dengan senang hati. Secara tidak langsung perlakuan manis Kenzo membuat jantungnya kembali berdebar-debar.
Braaak!
Suara pintu mobil yang Kenzo tutup cukup kencang. "Pasang selt belt nya," melirik kearah Mia.
"Sudah dari tadi." jawab Mia memperbaiki duduknya. "Ken, sepertinya mau hujan besar." ucapannya ketika mobil yang dikendarai Kenzo mulai meninggalkan gedung olahraga.
"Iya, sepertinya!" jawab Kenzo belum ingat jika istrinya sangat takut sama yang namanya hujan. Jangankan hujan bercampur suara-suara petir. Hujan disiang hari yang biasa saja Salsa juga takut.
Tidak sampai sepuluh menit. Hujan besar langsung turun di sertai gemuruh dan petir yang terus menyambar.
Ttdddd!
Ttdddd!
"Ken, ponsel Lo." kata Mia melihat layar ponsel Kenzo menyala.
"Oh, iya." jawab Kenzo mengambil ponsel tersebut, yang dia letakan di atas dasbor mobilnya, karena sudah kebiasaan. Bila sedang berada di dalam mobil selalu menaruh di sana.
"Astaga! Salsa!"
Gumam Kenzo langsung saja menggeser tombol hijau yang bergerak-gerak minta di geser oleh pemiliknya.
📲 Salsa : "Ken, Ken Lo ada dimana? sepertinya mau hujan, gue takut." tanya Salsa begitu sambungannya terhubung.
📱 Kenzo : "Gue masih di jalan mau ngantar Mi---"
"Siapa Ken? Cepat matiin teleponnya. Petirnya ngeri banget." sela Mia karena suara petir memang sangat mengerikan. Dia hanya takut bila gara-gara Kenzo menelpon disaat hujan besar, malah mereka berdua jadi celaka.
"Ini telepon dar---"
Tahu jika Kenzo sedang bersama seorang wanita. Salsa langsung mematikan teleponnya. Meskipun saat berbicara dengan Kenzo kurang jelas karena suara air hujan. Tapi Salsa bisa mendengar kalau ada suara wanita yang menanyakan siapa yang menelepon.
*BERSAMBUNG*...
__ADS_1