
🥀🥀🥀🥀🥀
.
.
"Aku baru tiba di sini dua hari yang lalu," sebelum Jeni bertanya, Arsya sudah menjelaskan lebih dulu.
"Berarti hanya berbeda beberapa hari saja. Thanks ya, sudah mau berkenalan dengan ku," ucap gadis tersebut dengan tulus yang disertai senyuman manisnya.
"Huem! Sama-sama. Jika kamu mau, kita bisa berteman, karena aku juga belum memiliki sahabat. Soalnya teman-temanku tidak ada yang melanjutkan studinya disini," jelas Arsya, karena walaupun baru bertemu dengan Jeni. Tapi dia dapat merasakan bahwa gadis itu adalah wanita baik-baik.
"Benarkah! Wah, terima kasih. Tentu saja aku mau," seru Jeni kembali tersenyum. lalu setelahnya mereka berdua pun saling berbagi cerita tentang sekolah masing-masing. Sebab keduanya ternyata memiliki jurusan yang sama. Ya, Jeni juga mengambil jurusan yang sama seperti si tampan Arsya.
Maka dari itulah gadis tersebut sampai tiba ke negara tetangga hanya untuk mengejar cita-citanya. Arsya sungguh sangat kagum pada Jeni yang memiliki keinginan gigih demi menjadi Arsitek hebat. Sama seperti dirinya yang rela meninggalkan keluarga besarnya demi menjadi Arsitek juga.
"Kakek dari mamaku juga berada di ibukota A. Tapi mereka sudah meninggal dunia disaat kami masih berumur sembilan tahun," ucap Arsya kembali bercerita setelah mendengar Jeni menceritakan siapa dirinya.
"Kalau begitu kamu masih sering kembali ke sana?" tanya Jeni sambil mengayunkan kedua kakinya ke kiri dan kanan.
"Tidak juga, terakhir kali ke sana adalah saat kami lulus SMP,"
"Kami? Maksudnya kami seperti apa? Apakah kami itu, kamu dan orang tuamu?" Jeni bingung dengan perkataan Arsya selalu menyebutkan kata kami.
"Bukan, bukan orang tuaku. Tapi aku dan adik kembar ku," jelas Arsya mengobrol layaknya mereka adalah teman lama. Entah mengapa dia yang sangat dingin bisa berbicara cukup banyak saat bertemu Jeni. Gadis yang belum satu jam berkenalan dengan nya.
"Kamu memiliki saudara kembar? Wah pasti saudaramu sangat cantik. Apakah aku boleh melihat fotonya?" seru Jeni penasaran dengan wajah kembaran sahabat barunya itu.
"Boleh, sebentar ya, aku cari dulu. Adikku memang sangat cantik. Dia begitu mirip dengan mamaku," dengan senang hati, Arsya mengeluarkan ponselnya dan mencari foto Salsa dan mamanya. Lalu ia perlihatkan pada Jeni.
"I--ini adik dan mama mu?" begitu melihat foto yang ditunjukkan oleh sahabatnya . Jeni langsung kaget, sebab dia mengenal salah satu dari mereka berdua.
"Iya, ini mama dan adikku. Mereka mirip, kan? Padahal saat masih kecil, adikku sangat mirip dengan papa. Eh tau-taunya saat kami mulai remaja. Wajahnya bisa sangat mirip dengan mama," jawab Arsya tersenyum kecil. Sebab dulu ketika mereka masih kecil. Wajah Salsa begitu mirip dengan sang ayah.
"Benar, sangat mirip. Tapi... aku mengenal salah satu dari mereka berdua,"
"Siapa? Apakah kamu mengenal adikku?" seru Arsya menoleh kearah Jeni. Sebab pemuda tampan itu sangat penasaran. Dari mana pula Jenie mengenal adiknya. Sebab siapa dan kemana pergi sang adik selalu bersama dirinya.
"Bukan dengan adikmu, tapi dengan mamamu. Aku mengenal Tante Ayla, karena dia adalah sahabat papaku," jawab Jeni mengingat sosok Ayla yang sering diceritakan oleh ayahnya.
"Benarkah? Kamu anak siapa? Kenapa aku bisa tidak tahu siapa dirimu?" Arsya benar-benar tidak menyangka bahwa Jeni mengenal baik mamanya.
"Aku anaknya Papa Vino, dia sahabat baik Tante Ayla sewaktu mamamu masih tinggal di kota A," jelas Jeni sangat tahu cerita ayahnya ketika masih muda.
"A--apa, be--benarkah?" si tampan Arsya tergagap tidak percaya. "Maksudnya Om Vino Anderson? Apakah kamu putrinya?" Arsya kembali memastikan. Sebab dia juga mengenal laki-laki tersebut.
"Iya, aku anaknya Vino Anderson. Dulu papaku dan mamamu kuliah di universitas yang sama."
"Ya Tuhan! Ternyata Dunia ini kecil sekali," Arsya sampai mengusap wajahnya kasar. "Tapi syukurlah jika kamu anaknya Om Vino. Jadi aku tidak akan salah saat memilih teman,"
"Apakah sejak tadi kamu meragukan bahwa aku gadis baik-baik? Sungguh menyebalkan sekali," kata Jeni berpura-pura marah. Padahal dia sangat senang bisa bertemu dengan pemuda yang baik juga. Apalagi orang tua mereka juga bersahabat baik.
Namun, anak-anak Vino dan Ayla memang tidak pernah saling kenal. Kecuali ketika mereka masih berumur empat atau lima tahun. Setelah itu tidak ada bertemu lagi. Kesibukan Vino yang mengurus perusahaan mertuanya, membuat pria tersebut meninggalkan ibukota A dan baru kembali lagi sekitar lima tahun lalu.
__ADS_1
"Ha... ha... aku tidak bilang seperti itu. Hanya saja aku takut salah memilih teman. Tapi jujur saja, dari cara kamu mengajak berkenalan. Aku bisa menebak bahwa kamu pasti wanita baik-baik. Tapi pantas saja, jika kamu ternyata putri dari Om Vino," Arsya tertawa merasa lega dan senang bisa melanjutkan hubungan baik orang tua mereka.
Tidak berbeda jauh dengan Jeni. Arsya juga mengenal Vino, semenjak beberapa tahun terakhir, dia masih bertemu dengan orang tua gadis yang bersama dengannya saat ini. Namun, dikarenakan Arsa tidak banyak bicara dan juga Rian masih memiliki rasa cemburu terhadap sahabat istrinya itu. Membuat Vino tidak pernah membahas perihal masalah keluarga dia sendiri.
Maka dari itu, hal wajar apabila mereka tidak saling mengenal. Tapi ternyata takdir pertemukan anak-anak dari Vino dan Ayla untuk kembali menjalin hubungan persahabatan tersebut.
"Sekarang bagaimana kabar kedua orang tuamu? Rasanya sudah lama sekali aku tidak pernah bertemu dengan papamu. Terakhir kali sepertinya saat acara peresmian restoran milik---"
"Om Nando, papaku pernah mengatakan jika anak dari Tante Ayla sudah besar sama seperti diriku," tebak Jeni sebelum Arsya males menyelesaikan ucapannya.
"Benar, saat itulah yang terakhir kali kami bertemu."
"Kabar kedua orang tuaku baik-baik saja. Mereka belum bisa mengantar aku ke sini, soalnya satu bulan yang lalu, kami juga sudah datang untuk mempersiapkan kuliahku," jawab gadis itu seraya berdiri dari tempat duduknya.
"Eh, kamu mau kemana?" tanya Arya ikut berdiri dari tempat duduknya.
"Aku lapar, ingin mencari makan. Gara-gara bertemu denganmu, aku sampai lupa untuk mengisi perutku yang sejak siang belum ada makan apa-apa," sahut Jeni sambil berjalan pelan yang diikuti oleh Arsya di sampingnya.
"Aku juga belum makan siang, karena tidak berselera makan hanya sendirian. Bagaimana jika kita makan bersama?"
"Huem! Ayo ikutlah denganku. Aku tahu tempat makan murah dan sangat enak disekitar sini," ajak Jeni yang memang sudah mengenal wilayah tersebut, karena dia sudah sering datang ke sana bersama kedua orang tuanya.
"Dengan senang hati," kata Arsya mengikuti kemana Jeni membawanya pergi.
"Kenapa kita berdiri di sini?" tanya Arsya bingung. Sebab Jeni mengajaknya berdiri di pinggir jalan raya.
"Tentu saja untuk menunggu Taksi. Memangnya kamu mau berjalan sampai satu kilo dari sini," Jeni berkata sambil tangannya mengarah ke depan untuk menyetop mobil Taksi yang lewat. Namun, tangan kecilnya sudah ditarik oleh Arsya menuju mobilnya yang hanya berjarak sekitar dua puluh meter dari tempat mereka berdiri saat ini.
"Ke mobilku, aku ada mobil. Tapi kenapa kita harus menaiki Taksi," jawab Arsya terus saja menarik tangan Jeni. Tiba di dekat mobilnya, si tampan Arsya membuka pintu mobilnya dan menyuruh gadis itu untuk masuk di sebelah bangku kemudi.
"Ayo masuk!" titahnya sebelum menyusul masuk kedalam mobil tersebut.
Braaak!
Suara pintu mobil yang ditutup oleh Arsya. setelah memasang sabuk pengaman pada tubuhnya pemuda itu pun mulai menjalankan kendaraan roda tempatnya meninggalkan tempat tersebut.
"Wah, kamu memiliki mobil?" Jeni bertanya seperti orang susah saja. padahal Jika dia mau tentu saja Vino Anderson akan membelikan mobil untuk putri sulungnya.
Namun, Jeni sendiri yang tidak mau dibelikan kendaraan oleh sang ayah. Sebab Jeni lebih suka menaiki kendaraan umum seperti penduduk asli di sana.
"Iya, sebetulnya aku juga tidak mau. Tapi papaku yang memaksa agar aku memiliki kendaraan selama tinggal disini," Arsya menjawab sambil memperhatikan jalan di depan mereka.
"Oh! Ya tidak masalah juga bila mengunakan kendaraan sendiri. Jika aku memang tidak mau, karena aku lebih suka menaiki kendaraan umum. Lagian dari Apartemenku ke kampus kita, hanya membutuhkan waktu kurang lebih sepuluh menit saja. Jadi untuk apa juga aku memiliki kendaraan sendiri," tutur Jeni yang diangguki oleh Arsya. Bila tempat kuliahnya saja buat apa juga harus menaiki kendaraan sendiri.
"Jika dari Apartemenku kan memang cukup jauh, makanya papaku tidak mengizinkan menaiki kendaraan umum," sambil menuju ke Restoran yang dikatakan oleh Jeni. Mereka berdua kembali lagi bercerita sampai ke tempat yang dituju.
Setelah mengetahui bahwa gadis tersebut adalah anak dari sahabat mamanya. Arsya lebih berani untuk menanyakan tentang Jeni lebih banyak lagi. Sebab untuk kedepannya sudah pasti mereka akan saling membutuhkan, karena sama-sama jauh dari keluarganya masing-masing.
"Apakah ini tempatnya?" tanya Arsya begitu Jeni menunjukkan ke arah Restoran yang tidak terlalu ramai dan mewah. Seperti restoran di negara mereka sendiri.
"Iya benar sekali ayo turun! Perutku sudah sangat lapar," jawab Jeni, sudah turun lebih dulu. padahal mobil mereka baru saja berhenti di depan restoran tersebut.
"Gadis ini! Kenapa kelakuannya seperti Om Vino," ucap Arsya mengelengkan kepalanya. Tidak habis pikir karena Jeni berlaku seperti seorang pria. Tidak ada feminim sama sekali, seperti para gadis-gadis yang pernah ingin mendekatinya selama ini.
__ADS_1
Setibanya di dalam, ternyata Jeni sudah duduk di meja kosong yang terletak di bagian tengah Restoran tersebut. Dengan langkah santai Arsya pun menyusul sahabat barunya itu dan duduk di meja yang sama. Lalu mereka berdua sama-sama memesan makanan untuk diri sendiri.
Tanpa Arsya sadari, bahwa dari semenjak dia masuk ke dalam Restoran itu.Ada sepasang mata yang menatap lekat ke arahnya. Pemilik mata tersebut adalah Aurelia yang kebetulan lagi makan di tempat yang sama.
"Ar--Arsya! Gue, gue nggak lagi salah lihat, kan? Oh ya Tuhan! Ternyata dunia ini sangatlah sempit, mengapa gue harus bertemu dengannya lagi, dan siapa gadis itu apakah kekasihnya?"
Gumam Aurel sambil memasukkan ponselnya ke dalam tas. Untung saja pada saat bersamaan ada pelayan yang lewat. Jadi Aurel bisa membayar makanan yang sudah ia pesan, tapi belum disentuh sama sekali.
Gadis itu benar-benar tidak menyangka akan bertemu Arsya di negara tersebut. Padahal niat hatinya menerima beasiswa kuliah sampai ke luar negeri adalah, agar bisa melupakan sosok sahabatnya.
Namun, karena dia terburu-buru tanpa sengaja menyenggol pelayan yang akan mengantarkan makanan untuk Arsya dan Jeni.
Praaank!
"Aurel! Ternyata dia juga ada disini? Kenapa dia terlihat terburu-buru, apakah karena ingin menghindariku? Aurel, kamu harus menjelaskan padaku hari ini juga, kenapa kamu malah menghindariku,"
Gumam Arsya langsung berdiri dari tempat duduknya. Mata pemuda itu menatap Aurel dengan tatapan tajam. Bagaimana Arsya tidak marah, setelah apa yang terjadi di hadapannya Aurel sengaja ingin menjauhi dia, padahal Arsya tidak tahu apa kesalahan yang sudah diperbuat olehnya.
"Ar, apakah kamu mengenal gadis itu?" tanya Jeni menapat Arsya dan Aurel bergantian.
"Iya, dia sahabatku," jawab Arsya jujur "Kamu makan sendiri saja, nanti aku akan menyusul. Atau kalau tidak, lain kali kita masih bisa makan bersama. Soalnya ada masalah yang harus aku selesaikan dengan dirinya," lanjut pemuda tampan itu lagi.
"Huem, pergilah! Selesaikan masalah kalian berdua dengan cara baik-baik," pesan Jeni tidak mau ikut campur dengan urusan orang lain. Gadis itu lebih memilih untuk memainkan ponselnya sembari menunggu makanan yang ia pesan datang.
"Sorry, I di not mean it," ucap Aurel meminta maaf karena dia memang bersalah tidak berhati-hati. Niat hati ingin cepat-cepat pergi dari sana.
Agar Arsya tidak melihat kehadirannya di sana. Akan tetapi justru karena dia yang tidak berhati-hati, membuat semua orang yang berada di dalam restoran tersebut melihat ke arah dirinya, termasuk Arsya sendiri.
"Miss why rush? Has something happened?" tanya si pelayan menoleh kearah kiri dan kanan mereka. Takutnya pada orang yang ingin menyakiti gadis yang menabrak dirinya.
"There isn't any. It's jst that I'm in a hurry," jawab Aurel mengatupkan kedua tangannya sebagai permintaan maaf.
Setelah itu dia pun langsung meninggalkan Restoran tersebut, karena takut bila Arsya mengenali dirinya dan semua ketakutan Aurel memanglah benar. Begitu dia tiba di luar Restoran. Arsya mencengkram erat tangan Aurel.
"Aurel, Elo mau kemana? Berhenti! Kita perlu bicara," ucap Arsya tidak bisa lagi menahan dirinya begitu melihat Aurel yang sengaja ingin menjauh.
"Ar---Arsya! Elo ke--kenapa ada disini ju--juga?" tanya Aurel terbata-bata selain merasa gugup Aurel juga takut melihat sorot mata tajam sahabatnya itu.
"Kenapa? Apa Elo kaget gue ada di sini?" bukannya menjawab tapi Arsya balik bertanya dengan sengit.
"Bu--bukan, bukan gitu! Gue---"
"Ayo ikut gue, kita perlu bicara," sela Arsya cepat dan dia menarik tangan Aurel menunju ke mobilnya. Setelah itu diapun mendorong tubuh sang sahabat agar masuk kedalam mobilya.
"Ar--Arsya, kita ma--mau kemana?" tanya Aurel masih tergagap. Gadis tersebut mengutuki dirinya sendiri. Kenapa tadi dia malah terburu-buru. Padahal Aurel bisa berpura-pura tidak melihat Arsya. sehingga dia tidak perlu ketahuan menghindari pemuda tersebut.
"Aurel! Elo tau nggak sih, jika begitu banyak yang harus Elo jelasin ke gue," seru Arsya sambil menjalankan kendaraannya meninggalkan Jeni yang masih menghabiskan makanannya di Restoran tersebut.
"Gu--gue bisa jelasin, jika tadi gue benar-benar enggak bermaksud untuk menghindari Elo, Ar." jawab Aurel sambil berpikir keras apa yang harus dia jelaskan pada Arsya. Apabila sahabatnya itu bertanya kenapa dia menghilang tanpa kabar.
Jika tahu Arsya juga berada di negara tersebut. Maka Aurel akan memilih tidak mengambil beasiswa yang ia dapatkan. Namun, untuk saat ini bukanlah saatnya menyesali semua yang sudah terjadi Aurel hanya membutuhkan sebuah alasan agar Arsya tidak marah kepadanya.
...BERSAMBUNG......
__ADS_1