
🥀🥀🥀🥀🥀
.
.
"Jadi kita akan latihan lagi seperti biasanya?" Yogi kembali memastikan karena setelah hampir satu jam setengah mereka berdiskusi untuk pertandingan satu bulan lagi.
"iya, benar!" sahut Hengki. "Tapi Kenzo sesempat dia aja, karena sekarang teman kita ini sudah bekerja." lanjutnya lagi.
"Lo rajin benar, Ken. kayak sudah menikah aja," kata Eel ikut menimpali. "Santai aja Men, seperti kita-kita. Nikmati dulu masa muda, soalnya kata mama gue, kalau kita sudah menikah berabe mau keluyuran mana bisa, intinya kita sudah tidak bebas lagi." Eel yang paling banyak berbicara menasehati Kenzo dan sahabatnya yang lain.
"Gua sih bebas mau kerja atau nggak nya, tapi gue mau bekerja sendiri, karena ada anak gadis orang yang harus gue nafkahi." jawab Kenzo sambil tersenyum. Bagi dirinya menikah sekarang justru membuat dia menjadi jauh lebih baik lagi, yang biasanya tidak ingin bekerja. Sekarang malah menjadi sebaliknya. Kenzo ingin memiliki usaha sendiri agar bisa menafkahi Salsa.
Padahal mau uang berapapun tentu Demian ayahnya akan memberikan. Seperti itu pula Rian mertuanya. Sebetulnya Kenzo juga memiliki kartu tanpa batas yang diberikan oleh Rian saat pertama kali dia menginap di rumah mertuanya.
Namun, sampai saat ini Kenzo belum pernah menggunakannya. Ia malah menyuruh Salsa yang memegang kartu tersebut. Padahal sudah jelas Rian memberikan untuk Kenzo agar bila ingin membeli sesuatu atau untuk keperluan putrinya sendiri tidak meminta pada besannya.
Rian tidak pernah meminta agar Kenzo bekerja, begitu pula dengan Arsya putranya sendiri, karena tidak bekerja pun mereka tidak akan menjadi miskin.
"Ck, Lo halu aja, mentang-mentang sudah merasakan nikmatnya surga dunia. Jadi bawaannya menghayal seperti sudah menikah," decak Hengki. Pemuda itu memang mengira kalau Kenzo sudah tidur bersama wanita yang fotonya di bikin status Instagram Kenzo tadi malam.
"Lo diam-diam tapi menghanyutkan, Ken. Pantesan nggak mau pacaran dan betah menjomblo. Ternyata mainnya langsung bobol gawang," tawa Eel yang diikuti oleh yang lainnya.
"Ranjang apaan! kalian mikirnya terlalu jauh. Tidur bersama kekasih, bukan berarti gue sudah bobol dia." ujar Kenzo milirik jam tangannya yang sudah hampir jam lima. Lalu dia pun berpamitan untuk pulang lebih dulu "Gue pulang duluan ya, soalnya gue baru pulang dari perusahaan, ada beberapa hal yang harus gue bicarakan sama kakek."
"Iya, ayo! Gue juga mau pulang, sudah sore." Andra ikut berdiri, lalu hal yang sama juga dilakukan oleh ke tiga sahabatnya.
Mereka berpisah di parkiran. Kenzo pulang duluan karena tidak sabar untuk bertemu istri sekaligus kekasihnya.
Hanya tujuh belas menit. Kenzo sudah tiba di depan rumah mewah sang kakek. Setelah mematikan mesin mobilnya. Dia langsung berjalan masuk. "Sayang, sudah pulang!" sapa nenek Kenzo berdiri dari tempat duduknya untuk memeluk sang cucu.
"Iya Nek!" Kenzo membalas pelukan neneknya. "Salsa sama kakek kemana?" tanya Kenzo melihat di sekeliling mereka yang tidak ada siapa-siapa.
"Kakek ada di ruang kerjanya. Sedangkan istrimu baru saja naik ke atas. Tadi dia memasak untuk makan malam kita." papar wanita paruh baya tersebut.
"Apa? Salsa masak?" seru Kenzo kaget. Tidak menyangka jika istrinya benar-benar bisa memasak. Dia memang sudah pernah mendengar kalau istri kecilnya bisa memasak. Tapi tetap saja Kenzo kurang percaya.
__ADS_1
"Iya, Salsa memasak untuk makan malam kita. Tadinya nenek tidak mengizinkan ia turun ke dapur. Namun, karena istrimu memaksa, nenek akhirnya memberinya izin. Tapi sebelum itu nenek sudah berbicara dengan mama mertuamu." terang beliau. Dia menjeda sesaat, lalu berkata lagi "Jika tidak mendapatkan izin dari orang tuanya. Nenek juga tidak berani membiarkan princess Erlangga memasak di dapur. Dia tinggal di sini bukan untuk bekerja. Tapi sebagai cucu nenek." beliau tersenyum sambil mengelus bahu Kenzo.
"Tidak apa-apa bila sudah mendapatkan izin dari mama, atau papa. Jika kira-kira memasak bisa membahayakan Salsa. Tentunya mereka juga tidak akan memberikan izin." Kenzo ikut tersenyum kecil.
"Kamu benar, Nak. Sekarang pergilah bersihkan tubuhmu. Agar kita bisa makan malam tepat waktu." suruh si nenek yang kembali duduk pada sofa yang dia duduki tadi.
Kenzo hanya mengangguk mengiyakan. Rencananya dia akan membicarakan masalah pekerjaan setelah makan malam saja.
Ceklek!
"Ken, Lo sudah datang?" seru Salsa menyimpan kembali ponselnya di atas meja. Gadis itu sudah mandi dan lagi bersantai sambil memainkan ponselnya.
"Iya, maaf ya." jawab Kenzo berjalan mendekati sang istri.
"Maaf buat?" Salsa balik bertanya. Tidak lupa dia juga menyalami tangan Kenzo dan menggeser tempat tubuhnya, karena kebiasaan Kenzo adalah duduk di sisi Salsa.
"Maaf sudah---"
Tttddd...
Tttddd!...
"Siapa? Kenapa nggak diangkat?" tidak Kenzo beritahu pun tentunya Salsa sudah hapal siapa yang menelepon suaminya, karena bila sahabat Kenzo yang lainnya. Hanya mengirim pesan, sangat jarang menelepon langsung seperti halnya yang di lakukan oleh Mia.
"Eum... ini dari Mia," jawab Kenzo jujur.
"Angkat aja, mana tahu penting." titah Salsa karena Mia kembali lagi menghubungi Kenzo.
"Tapi... apa Lo nggak apa-apa?" tanya Kenzo yang tidak ingin istrinya marah lagi seperti kemarin pagi gara-gara menerima telepon dari Mia.
"Gue nggak apa-apa, angkat aja. Siapa tahu penting." titah Salsa untuk kedua kalinya.
"Oke," setelah disetujui oleh sang istri. Kenzo mengangkat panggilan tersebut. Namun, dia tetap pada posisinya di samping Salsa.
📱 Kenzo : "Iya, Mi... ada apa?" tanya pemuda itu begitu panggilan tersambung.
📲 Mia : "Ken, Lo mau ke rumah gue nggak? Gue butuh teman buat cerita," pinta Mia dengan suara terisak.
__ADS_1
📱 Kenzo : "Mia, Lo kenapa? Apa yang terjadi?" seru Kenzo merasa khawatir, karena sebelumnya Mia belum pernah menelepon sambil menangis seperti saat ini.
📲 Mia : "Nanti akan gue ceritain. Pliis! Lo bisa kan datang ke sini?" pinta Mia penuh harap. Saat ini dia memang sangat membutuhkan sahabatnya itu, selain dengan Kenzo. Wanita itu tidak memiliki sahabat dekat yang lainnya.
📱 Kenzo : "Oke, tapi tunggu gue mandi sebentar ya, setelah itu gue akan langsung ke sana." jawab Kenzo tanpa bertanya apakah Salsa mengizinkan dia pergi ke rumah Mia.
📲 Mia : "Iya nggak apa-apa. Lo mandi aja dulu, gue butuh teman curhat bukannya yang lain. Lo Hati-hati dan Thank's banget, Lo sudah mau datang."
📱 Kenzo : "Lo ngomong apa, sih. Kita sahabat, lagian selama ini Lo selalu ada saat gue mau curhat dan saat membutuhkan teman. Sudah Lo tenang dulu, jangan menangis lagi. Gue matiin teleponnya." kata Kenzo memutuskan sambungan mereka. Lalu ia menoleh kearah Salsa dan berkata.
"Sorry... gue mau ke rumah Mia sebentar ya, nggak akan lama. Sebelum jam makan malam, gue sudah pulang." ucapnya sambil mengelus kepala Salsa.
Tidak menunggu jawaban dari sang istri. Kenzo langsung masuk ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya yang terasa lengket setelah beraktivitas seharian.
Salsa hanya diam melihat punggung suaminya hilang dibalik pintu kamar mandi. Dia tidak bisa berkata apa-apa karena jujur, untuk mengangkat lidahnya terasa kelu. Andai saja bisa, maka Salsa akan melarang Kenzo pergi ke rumah wanita lain. Apalagi satu setengah jam lagi, sudah waktunya makan malam.
Tidak sampai lima belas menit Kenzo sudah selesai membersihkan tubuhnya. Ia melihat bajunya sudah disiapkan lagi oleh Salsa. Lalu tidak banyak bertanya Kenzo memakai pakaian tersebut. Sedangkan Salsa sudah kembali lagi bermain ponselnya.
Cup!
"Gue pergi sebentar ya," Kenzo mengecup kening Salsa yang lagi duduk bersandar pada kepala sofa. Setelah mengelus sebentar pipi mulus istrinya. Pemuda itu kembali lagi berdiri, lalu menyambar kunci motor dan juga ponselnya yang ada di atas meja di hadapan Salsa
Malam ini Kenzo memilih mengunakan motor agar tidak menghambat jalannya, karena di jam segini biasanya jalanan macet, sedangkan dia buru-buru. Agar saat makan malam tiba, ia sudah sampai di rumah lagi.
"Gue harus percaya padanya. Ingat pesan mama, jika pasangan kita mencintai wanita lain. Maka gue nggak boleh mengekang dirinya agar berada di sisi gue."
Gumam Salsa seraya mengigit bibir bawahnya agar tidak menjatuhkan air matanya.
"Yang harus menjaga hubungan itu para laki-laki, bukan wanita. Gue hanya berharap hal seperti ini tidak akan terjadi lagi. Gue bukanlah mama Ayla yang bisa sabar meskipun mengetahui papa memiliki kekasih."
Salsa kembali bergumam, guna menenangkan pikirannya sendiri.
Nyonya Rian Erlangga memang sudah menceritakan masa lalu ia dan suaminya pada kedua anaknya. Jadi si kembar sudah mengetahui dibalik kebahagiaan yang mereka rasakan saat ini, ada masa-masa sulit dan menyakitkan yang dialami ibu mereka.
Tidak mau ambil pusing. Salsa mencoba mencari hiburan melalui ponsel. Akan tetapi itu sebelum ponselnya berdering karena telepon dari Farel. Sebetulnya sudah dari tadi sahabat kakanya itu menelpon. Namun, Salsa tidak mau mengangkatnya. Tapi berbeda kali ini tanpa berpikir panjang Salsa langsung menerima pangilan tersebut.
Buat apa juga dia memikirkan Kenzo. Sedangkan suaminya itu lagi mengkhawatirkan sahabatnya. Sakit? Tentu saja Salsa merasakan sesak dihatinya. Bagaimana mungkin dia akan baik-baik saja. Setelah mengantar dia pulang jam sembilan tadi pagi. Mereka berdua baru saja bertemu, karena Kenzo baru tiba dari perusahaan.
__ADS_1
Salsa baru merasakan sekarang yang namanya berpacaran. Namun, ternyata rasanya sangat menyakitkan. Hari kedua menjalin hubungan sebagai pasangan kekasih. Ia sudah di kecewakan harus di tinggal sendirian, karena Kenzo mengkhawatirkan Mia sahabatnya.
*BERSAMBUNG*....