Pernikahan Salsa

Pernikahan Salsa
I Love You My Wife.


__ADS_3

🥀🥀🥀🥀🥀


.


.


"Aauh, Salsa, kenapa Elo malah mendorong gue?" tanya Mia mengaduh kesakitan. Melihat Kenzo semakin mendekat, wanita itu mulai bersandiwara.


"Sayang!" Kenzo berjalan kearah sang istri "Ada apa, Mia kenapa bisa duduk diatas lantai?" tanya Kenzo menarik tangan sahabatnya untuk berdiri.


"Salsa mendorong gue, Ken.. Sepertinya istri Elo benci banget sama gue," adu Mia meniup-niup tangannya yang lecet sedikit. Saat ini dia sudah kembali berdiri seperti semula.


"Sa, apa benar?" tanya Kenzo menatap istrinya, meminta jawaban dari tuduhan Mia.


"Iya, gue sengaja mendorong dia," jawab Salsa dengan jujur, karena memang itulah tujuannya. Membuat Kenzo memilih mereka, karena Salsa tidak ingin kembali merasa sakit hati.


"Tu Ken, Elo dengar sendiri kan, dia sangat menakutkan. Masa gue nggak salah apa-apa, tiba-tiba dia dorong," sela Mia sebelum Kenzo menjawab.


"Istri gue bukan orang gila, Mi. Jadi, dia tidak akan marah, apalagi sampai berbuat kasar, bila Elo nggak cari gara-gara sama dia," ujar Kenzo merangkul Salsa diam dan melipat tangan didepan dadanya sendiri.


"Tapi Ken---"


"Mia, sudah cukup! Gue nggak nyangka Elo bisa seperti ini," sela Kenzo kesal pada tindakan Mia. Sebetulnya sudah dari tadi dia datang dan Kenzo mendengar semua perkataan Mia yang mencoba menghancurkan hubungan dia dan Salsa.


"Ke--Ken, Elo nggak percaya sama gue? Dia seperti orang gila, tiba-tiba mendorong gue, karena dia nggak suka sama persahabatan kita," Mia ingin menyentuh tangan Kenzo, tapi langsung di tepis oleh pemuda itu.


"Mia, stop! Gue tahu dari tadi Elo sengaja membuat pelayan tadi terjatuh. Gue kira Elo nggak akan bertindak sejauh ini, tapi ternyata gue salah." ucap Kenzo menarik lembut tangan Salsa mau diajak pergi dari tempat tersebut. Namun, baru beberapa langkah, Mia sudah memanggil namanya.


"Ken, Kenzo! Elo harus percaya sama gue, lagian Elo sudah janji akan menjaga gue sampai nyokap gue balik ke sini," teriak Mia yang langsung membuat Kenzo berhenti di tempatnya berdiri dan melihat kearah Mia.


"Iya, gue memang pernah berjanji seperti itu, tapi hari ini gue tarik semuanya," jawab Kenzo sudah mengambil keputusan dan berjanji pada Salsa tidak akan mengurus Mia lagi.


"Ma--maksudnya apa?" tanya Mia tergagap.


"Iya, mulai hari ini gue nggak akan menjaga Elo lagi, karena itu bukan tanggung jawab gue. Hari ini gue akan menelepon orang tua Elo dan menjelaskan semuanya," tutur Kenzo penuh keyakinan. Daripada kehilangan Salsa dan menjadi duda, lebih baik dia kehilangan sahabat seperti Mia.


"Apa gara-gara Salsa? Apa gara-gara gadis ini Elo ninggalin gue begitu aja?" tanya Mia beruntun di susul oleh air matanya.


"Bukan, tapi memang karena gue yang nggak mau. Gue punya tanggung jawab sama istri gue, Mi. Jadi gue nggak mau karena terus-menerus ngurusin Elo, gue jadi lupa kalau punya istri yang harus gue urus," sahut Kenzo tidak mau mengambil resiko pada rumah tangganya, karena dia sudah mendengar sendiri seperti apa Mia mencoba menghasut istrinya, dan sekarang saja Kenzo belum tahu Salsa akan marah atau memaafkan dia karena sudah bercerita pada Mia. Jika mereka belum melakukan hubungan suami-istri.


"Tapi Ken, jika bukan Elo, siapa yang akan datang menjaga gue, bila orang tua gue nggak ada?" lirih Mia termangu tidak percaya jika Kenzo akan memutuskan menjaga dirinya.


"Itu tanggung jawab orang tua Elo, Mia. Bukan gue, karena tanggung jawab gue pada Salsa."


"Lo jahat Ken, kita sudah bersahabat sejak kecil, tapi Elo tega ninggalin gue, di saat keluarga gue lagi memiliki masalah?" ujar Mia terisak.


Salsa yang melihat hal itu hanya membuang pandangan matanya. Bukan dia jahat ingin membuat Kenzo memilih. Tapi apa yang ia lakukan demi melindungi pernikahan mereka dari pelakor.


"Iya, semua ini karena kesalahan Elo sendiri, jadi mulai saat ini kita bukan sahabat lagi, gue nggak mau Elo mencari cara buat hubungan gue sama Salsa bermasalah," setelah mengatakan itu Kenzo membawa Salsa pergi dari sana.


"Huh!" sambil berjalan menuju ke arah tempat pengunjung, berulangkali Kenzo menghembuskan nafas kasar.


"Ken," seru Salsa melihat kearah Kenzo dan menahan pergelangan tangan suaminya itu.


"Tidak apa-apa, maaf ya," Kenzo memaksakan tersenyum karena tidak mau membuat Salsa merasa bersalah. Sebenarnya tadi meskipun Kenzo tidak mendengar perkataan Mia, tentu Kenzo akan tetap percaya pada Salsa. Sebab istrinya keturunan dari keluarga baik-baik, Salsa meskipun manja, tapi memiliki hati yang lembut. Walaupun terlihat jutek dan suka marah-marah, terutama pada Kenzo.


Cup!


"Gue baik-baik aja, jangan berpikiran macam-macam, ayo!" pemuda itu mengecup kening Salsa dan dia peluk sebentar. Setelah itu mereka kembali berjalan kearah para sahabatnya menunggu.

__ADS_1


Tiba di dekat meja empat puluh tujuh.


"Ken, Mia mana?" tanya Andra melihat Kenzo datang dengan wajah tidak bersahabat dan hanya membawa Salsa.


"Dia masih di toilet, gue mau pulang sekarang," ucap Kenzo menyambar kunci mobilnya yang berada di atas meja.


"Tapikan kita mau menjenguk Farel?" kata Hengki mengingatkan, takutnya Kenzo lupa.


"Kalian aja yang menjenguk Farel. Bila dia belum dibawa pulang, besok pagi atau nanti malam gue akan datang ke sana sendirian," jawab Kenzo menjadi malas untuk berkomunikasi dengan siapapun.


Dia butuh waktu untuk menenangkan hatinya. Jujur, meskipun dia marah dan kecewa pada sikap Mia. Tetap saja melihat Mia terpuruk, hatinya juga tidak tega.


"Lalu makanan kalian bagaimana?" tunjuk Eel pada makanan di atas meja.


"Astaga! Gue lupa!" seru Kenzo mengusap wajahnya kasar. "Ini, pakai kartu gue buat bayar semuanya," Kenzo mengeluarkan kartu black card miliknya dan diberikan pada Andra.


"Serius nih?" tanya Yogi tersenyum.


"Kembalikan jika ragu,," kata Kenzo ingin mengambil kartunya kembali.


"Enak aja, barang yang sudah dikasih, tidak bisa dikembalikan sebelum dipakai," ujar Hengki merebut kartu tersebut dari Andra. "Sudah pergi saja, jangan buat gue kepanasan gara-gara melihat kemesraan kalian berdua," usir Hengki sambil berpura-pura marah.


"Ck, awas Lo, kalau sampai ketahuan masih meluk Foto istri gue," ucap Kenzo sedikit menyugikan senyum. "Gue pergi sekarang ya, tolong kalian urus si Mia. Dia ada di kamar mandi," pesan Kenzo sebelum benar-benar pergi meninggalkan kafe.


"Oke,biar kita yang urus," jawab Eel sedikit berteriak karena Kenzo sudah pergi.


"Ayo masuk!" titah Kenzo membuka pintu mobil agar Salsa masuk lebih dulu. Si princess tidak berkata apa-apa, dia hanya mengangguk.


Braak!


Suara pintu mobil yang di tutup oleh Kenzo saat dia sudah duduk di bangku kemudi.


"Kenapa hanya diam aja? Elo marah sama gue?" tanyanya menyentuh tangan Salsa.


"Oke, kalau begitu kita jalan sekarang," Kenzo pun memasang sabuk pengaman pada tubuh istrinya. Untuk saat ini, dia hanya berpura-pura percaya saja. Biar masalahnya tidak menjadi panjang.


"Memangnya kita mau jalan kemana?"


"Nanti Elo juga akan tahu sendiri, sekarang kita pergi dari sini dulu," jawab Kenzo mengelus kepala istrinya. Lalu setelah itu dia mulai menghidupkan mesin mobi dan menjalankan kendaran roda empat tersebut melawan arah dengan kediaman orang tua mereka.


"Kenapa arahnya ke sini?" Salsa kembali bertanya karena penasaran Kenzo akan membawanya kemana.


"Ke Apartemen kita," jawab Kenzo singkat.


"Apartemen kita! Memangnya kita punya Apartemen sendiri?" Salsa tersenyum mendengar Kenzo menyebut Apartemen mereka.


Selama mereka menikah, Kenzo memang belum menceritakan apa-apa selain masalah pekerjaan dia di perusahaan.


"Punya dong! Sudah Elo diam aja, nggak jauh kok dari kantor kakek Fathan," Kenzo pun ikut tersenyum. "Tapi kita berhenti di depan sebentar, Elo tunggu di mobil aja," lanjutnya lagi.


"Mau ngapain?" karena Kenzo selalu bicaranya setengah-setengah, Salsa terus saja bertanya.


"Beli pakaian buat Elo, jika gue biarin sampai kita pulang ke rumah. Bisa-bisa di amuk sama Tuan Rian," Kenzo tertawa sendiri karena dia memang sangat takut pada mertuanya.


"Ken," panggil Salsa dengan suara kecil. Namun, Kenzo masih bisa mendengarnya.


"Huem, apa sayang?" sahut Kenzo memelankan laju kendaraannya.


"Eum... apakah Elo terobsesi sama gue?" meskipun Salsa mengetahui jika Mia hanya ingin menghancurkan hubungan dia dan Kenzo. Tapi princess harus membuktikan semuanya agar jelas. Biar tidak ada yang mengganjal di hatinya.

__ADS_1


"Maksudnya terobsesi bagaimana?" karena merasa pertanyaan tersebut serius. Kenzo membawa mobilnya ke sisi jalan raya dan berhenti di sana.


"Apa Elo sama seperti mereka -mereka yang hanya terobsesi ingin pacaran sama gue aja?" si princess mengulangi perbuatannya yang sama.


"Kenapa Elo bertanya seperti itu? Nggak percaya sama gue?" Kenzo balik bertanya. "Salsa, mungkin diawal iya, gue cuma penasaran mau pacaran sama si princess Erlangga. Tapi begitu kita dijebak dan disuruh menikah dalam waktu satu malam, gue menjadi serius. Gue bukan mau jadiin Elo pacar, tapi ibu dari anak-anak gue," jujur Kenzo mengurung Salsa di tempat duduknya.


"Eum, jangan se-seperti ini, menjauh lah!" nafas Salsa terasa tertahan karena jarang wajah mereka hanya beberapa senti. Aroma mint dari tubuh Kenzo membuat dia menelan saliva nya sendiri.


"Kenapa?" tangan Kenzo terangkat untuk mengelus pipi istrinya, dan berhenti di sisi bibir istrinya yang kebetulan digigit oleh Salsa guna menahan jantungnya yang berdebar-debar. Di tatap Kenzo tanpa berkedip, membuat nyalinya tiba-tiba menciut.


Gleeek!


Si princess menelan saliva nya lagi. Lalu dia balas menatap mata Kenzo. Dilihatnya dengan jelas dan jarak yang sangat dekat. Ternyata pahatan di wajah suaminya begitu sempurna. Tidak ada celah sedikitpun yang menunjukkan kekurangan.


Fiiiuuh!


Kenzo meniup muka Salsa karena istrinya menatapnya lebih lekat. Sampai-sampai tidak sadar saat Kenzo menanyakan apakah mau membeli sesuatu, atau tidak.


"Aagh, so--soryy! Tapi Elo mau ngajak kemana?" cicit Salsa dengan wajah memerah karena merasa malu sudah ketahuan menatap Kenzo tanpa berkedip. Padahal hal tersebut bukanlah salah dirinya, tapi salah Kenzo yang menatapnya lebih dulu.


"It's okay, gue cuma nanya apakah mau membeli makanan? karena di Apartemen tidak ada apa-apa, gue sudah ada satu bulan tidak pernah datang ke sana," kata Kenzo masih di posisi yang sama.


"Terserah Elo aja, gue mah nurut aja," jawab Salsa masih dengan jantung berdebar-debar. "Ja-jauhkan dulu wajah Elo, Ken. Gu--gue, gue susah nafas ini," ujarnya yang langsung membuat Kenzo tersenyum tampan. Kenzo sudah tahu jika Salsa lagi terpana pada wajahnya, karena dia sendiri juga seperti itu.


Hanya saja Kenzo bisa mengendalikan dirinya lebi cepat.


"Oke, kita pesan Goo food aja, kita akan makan setelah di Apartemen." putus Kenzo karena Salsa menyerahkan keputusan pada dirinya.


Cup!


Sebelum menjauhkan tubuh mereka dan melanjutkan perjalanan mereka. Kenzo menempelkan bibirnya cukup lama. Namun, tidak ada acara lain, hanya menempel saja.


"I love you my wife, future mother of my children," bisik Kenzo tersenyum dan mengelus kepala Salsa.


Si princess tidak membalas ucapan sakral tersebut. Dia justru melihat kearah jendela untuk menyembunyikan rasa bahagianya. Jelas saja Salsa merasa malau mendengar Kenzo menyebutkan dia sebagai calon ibu dari anak-anaknya nanti.


Kenzo pun membiarkan saja, karena ingin mereka cepat tiba di Apartemen dan bisa melanjutkan lagi apa yang tadi sempat ia tahan.


Beberapa saat kemudian.


"Tunggu sebentar ya," pamit Kenzo sebelum turun dari mobil. Dia pergi sendirian, karena ingin mencari baju buat istrinya.


"Huuem, tapi jangan lama, gue juga nggak apa-apa pakai baju ini," jawab Salsa menunggu di dalam mobil. Namun, Kenzo tidak menghiraukan lagi ucapannya, karena pemuda itu sudah berjalan keluar dan menutup kembali pintu mobil tersebut.


Tiba di dalam butik, Kenzo langsung minta diantar oleh karyawan butik pergi mencari dress yang sekiranya muat untuk sang istri. Tidak lama, hanya beberapa menit saja Kenzo sudah menemukan yang cocok. Lalu setelah membayar dress tersebut, Kenzo pergi kembali ke mobilnya di mana tadi, dia meninggalkan Salsa.


"Ini, ucapnya menyerahkan paper bag pada Salsa.


"Thanks ya, gue jadi ngerepotin, Elo," ucap Salsa dengan tulus.


"Tidak apa-apa, memang sudah seharusnya gue memikirkan istri sendiri bukannya malah mengurus sahabat perempuan gue," jawab Kenzo yang sudah mulai menjalankan kendaraannya menuju Apartemen.


Hanya lima belas menit kurang lebih, mobil mereka sudah memasuki area Apartemen mewah yang berada di pusat ibu kota B. Kenzo seperti biasa akan turun lebih dulu untuk membukakan pintu mobil buat princess-nya. Setelah memberikan kunci mobil pada pihak keamanan, mereka pun berjalan masuk dengan bergandengan tangan. Di sini, Apartemen milik Kenzo terletak di lantai tiga puluh dua.


"Selamat datang, Nyonya Kenzo," goda pemuda itu saat membuka pintu Apartemen dan mempersilahkan istrinya masuk lebih dulu.


"Wah, keren sekali!" puji Salsa tersenyum berjalan mengitari ruang tamu. "Kapan Elo belinya, Ken? tanya Salsa yang tiba-tiba dipeluk oleh Kenzo dari belakang.


"Sudah lama, cuma gue jarang datang ke sini," jawab Kenzo melepas jaketnya yang memalut tubuh Salsa. Tapi masih di posisi dari belakang.

__ADS_1


"Ken, Elo mau ngapain?"


BERSAMBUNG...🤫


__ADS_2