
🥀🥀🥀🥀🥀
.
.
"Kalau Lo nggak mau bantuin gue beli pembalut. Tolong ambilin ponsel gue aja." ucap Salsa tidak ingin berdebat.
Percuma saja meminta tolong pada Kenzo. Pria itu bukan siapa-siapnya. Itulah yang Salsa pikirkan. Dia yang biasa tidak pernah berdebat ataupun semua kemauannya selalu terpenuhi. Merasa kesal sendiri saat meminta bantuan Kenzo yang tidak kunjung dituruti.
"Ponsel! Buat apa?" tanya Kenzo masih berdiri depan pintu kamar mandi.
"Aiissh, Lo mah banyak nannya. Ya-buat nelpon lah. Emangnya buat apa lagi. Gue tu tipe orang yang jarang banget bikin status." ungkap Salsa yang tidak tahu kalau Kenzo dan teman satu kampus suaminya selalu mengintip sosial media dirinya secara diam-diam.
"Pake baju dulu, jangan nelpon dalam kamar mandi." dasar si Kenzo. Istrinya itu sudah mengatakan dari tadi, dia tidak bisa keluar karena belum memakai pembalut.
"Ken, Ken! Cepat tolong ambilin ponsel gue," teriak Salsa benar-benar semakin emosi.
"Memangnya Lo mau nelpon siapa?"
"Astaga, naga! Dari tadi gue sudah ngomong mau nelpon kakak gue." sentak Salsa membuka pintu kamar mandi dengan kasar.
Lalu dia berjalan melenggang keluar untuk mengambil ponsel yang masih berada didalam tas kecilnya tadi malam.
Kenzo yang melihat sebagian tubuh dan paha mulus Salsa langsung tersedak liurnya sendiri.
Uuhukk!
Uuhukk!
Kenzo terbatuk-batuk. Namun, pandangan matanya terus mengarah kemana istrinya berjalan.
"Apaan sih, nggak jelas banget," kata Princes Erlangga yang melupakan karena dirinyalah Kenzo sampai tersedak liurnya sendiri.
Tttdddd!
Ttttdddd!
Sudah dua kali Salsa menghubungi mamanya. Tapi belum juga diangkat-angkat.
Sambil berdiri dengan tangan diletakkan pada pinggang rampingnya. Salsa melihat kearah jam didinding.
Ternyata masih pukul enam lewat tiga belas menit. Berarti mamanya lagi memasak di dapur. Lalu masih dengan posisi yang sama, Salsa menelepon kakak tersayang yang selalu menuruti kemauannya.
Tttdddd!
__ADS_1
Ah, sial! Ternyata si kakak tersayang tidak mengangkat telepon darinya juga.
"Pasti kakak sama papa lagi olahraga. Makaknya nggak ada yang mengangkat panggilannya." ucap Salsa yang masih bisa didengar oleh Kenzo.
"Ah, kirim pesan suara aja. Nanti pas kakak pulang pasti langsung buka ponselnya." tersenyum manis.
💌 Salsa : "Kak, adek lagi datang bulan. Tapi disini nggak ada pembalut. Si suami durhaka juga nggak mau beliin. Kakak anterin, ya. Di lemari adek masih ada sto---"
"Ken, lepasin! Ini ponsel gue." cegah Salsa sambil mempertahankan ponselnya.
"Iya, gue tahu ini ponsel, Lo. Gue juga nggak mau ngaku." jawab Kenzo masih berusaha merebut ponsel sang istri.
"Kalau tahu cepat lepasin! Lo apa-apaan sih, pagi-pagi sudah bikin gue darting." Salsa yang tidak mau kalah juga mempertahankan miliknya.
"Lo yang apa-apaan! lepas gue mau hapus pesan yang Lo kirim buat Arsya." seru Kenzo yang tidak suka mendengar pesan sang istri yang dikirimkan buat kakak iparnya.
"Kenapa pake dihapus, sih. Pesannya belum dibaca juga," Karena semakin dibuat kesal. Salsa menarik sekuat tenaga agar ponselnya dilepas oleh sang suami.
Namun, bukan hanya ponselnya yang tertarik. Tapi Kenzo yang tidak bisa menjaga keseimbangan tubuhnya, ikut tertarik. Lalu mereka berdua jatuh terjerambab di atas Sofa dengan posisi yang begitu intim.
Bagaimana tidak intim. Posisi Kenzo berada di atas tubuh istrinya. Tidak hanya itu, tangan Kenzo yang tadinya akan dia gunakan untuk penyangga pada pinggiran Sofa. Malah menempel pada salah satu gunung kembar miliki Salsa yang dilerengnya sudah terlihat, karena handuk gadis itu akan melorot kebawah bila saja dia masih tetap berdiri. Jadi meskipun terjatuh bersama Kenzo. Princes Erlangga itu tidak rugi.
Deg!
Deg!
"Aaaghkk! Kenzo... kenapa Lo megang gunung kembar gue." teriakan Salsa yang nyaring langsung membuat Kenzo berdiri dari atas tubuh sang istri.
Namun, sebelum beranjak tangannya yang nakal malah dia sengajakan meremas gunung kembar yang sudah berada dalam cengkeraman tangannya.
Anggap saja tangannya sedang surpei lokasi yang suatu saat akan dia jelajahi.
Untuk menutupi rasa malunya. Kenzo kembali merebut ponsel Salsa. Lalu dia menghapus pesan suara buat kakak iparnya.
"Nih ponselnya! Gue mau mandi dulu sebentar. Setelah itu biar gue yang beliin pembalut nggak usah nyuruh-nyuruh si Arsya." kata Kenzo mengembalikan ponsel yang mereka perebutkan.
Sebelum Salsa menjawab. Dia sudah berjalan kearah kamar mandi. Namun, saat sudah mau masuk. Kenzo membalikkan tubuhnya dan berkata. "Pakai bajunya, nanti masuk angin. Tunggu saja di atas tempat tidur."
Setelah mengatakan itu Kenzo pun langsung hilang dibalik pintu kamar mandi. Tidak lama, hanya sekitar sepuluh menit. Dia sudah keluar dengan tampilan begitu menggoda.
Tubuhnya yang putih bersih. Dada bidang berserta roti sobek berjumlah enam kotak. Belum lagi rambutnya yang masih basah, membuat Kenzo menjadi sasaran emak-emak dunia halu.
Untungnya Princes Erlangga tidak tertarik karena menurutnya itu pemandangan biasa. Makanya begitu mendengar pintu kamar mandi terbuka. Dia langsung menutupi kepala mengunakan handuk yang tadi dipakainya.
Tapi... bila Salsa melihat. Mungkin juga akan tertarik pada roti sobek miliki suaminya.
__ADS_1
"Dasar anak kecil."
Gumam Kenzo tersenyum melihat kelakuan Salsa yang semakin menggemaskan.
"Eh, tidak, tidak! Gue tarik ucapan gue. Dia bukan lagi anak kecil. Tapi--- sudah bisa diajak untuk membuat anak kecil."
Kembali berguman sambil tersenyum menatap pada tangannya yang sudah mengengam sebuah gunung.
"Buka aja selimutnya, Gue sudah pakai baju," ucap Kenzo menyisir rambutnya.
Setelah itu dia berjalan kearah ranjang untuk mengambil kunci mobil dan dompetnya.
"Sa, selain pembalut mau pesan apa lagi?"
"Nggak ada," jawab Salsa mengeluarkan kepalanya yang dia tutup mengunakan handuk.
"Yasudah, Gue pergi dulu." pamit Kenzo yang terpaka membeli pembalut untuk sang istri. Lebih baik dia yang membelinya sendiri, daripada Arsya si kakak ipar.
Di lantai bawah.
"Sayang, kamu sudah bangun! Masih pagi, mau pergi kemana?" tanya mama Kenzo yang baru saja keluar dari dapur bersih.
"Mama!" jawab Kenzo terperanjak kaget.
"Iya, Kamu mau kemana?" wanita paruh baya itu mengulangi pertanyaannya.
"Ken, mau ke Alfamart sebentar, mau beli sesuatu." jawab Kenzo tidak menyebut kalau dia akan pergi membeli pembalut buat Salsa.
Jika dia berkata jujur. Mungkin Kenzo tidak perlu pergi membeli benda tersebut, karena adik atau mamanya pasti mempunyai stok.
"Oh iya sudah, hati-hati," Xiuan menepuk pelan bahu putranya karena dia juga akan kembali kekamar untuk membersihkan dirinya.
Kenzo hanya mengangguk dan kembali lagi berjalan keluar. Setelah tiba di garasi dia langsung menyalakan mesin mobilnya lebih dulu.
Baru setelah mesinnya panas. Kenzo menjalankan kendaraan tersebut menuju Alfamart terdekat. tiga menit, pemuda tampan itu sudah mematikan mesin kendaraan.
Lalu dengan terburu-buru Kenzo masuk kedalam karena Alfamart itu buka dua puluh empat jam nonstop.
"Selamat pagi Tuan, ada yang bisa Saya bantu?" sapa pelayan dengan sopan.
"Saya mau beli--- Pembalut untuk wanita datang bulan. Bisa tunjukkan dimana tempatnya?" tidak malu mengatakan barang yang hendak dia beli, karena masih sepi. Hanya ada satu dua pembeli yang datang.
"Kenzo!"
Ucap seorang gadis cantik. Akan tetapi bila dibandingkan dengan Salsa. Dia bukanlah apa-apa.
__ADS_1
*BERSAMBUNG*...