Pernikahan Salsa

Pernikahan Salsa
Memilih diam.


__ADS_3

🥀🥀🥀🥀🥀


.


.


"Sa, Lo kenapa diam aja?" Kenzo bertanya saat dia sudah duduk di bangku kemudi.


"Gue? Gue nggak diam!" Salsa menunjuk dirinya dan tidak mengatakan apa sebenarnya yang sedang dia pikirkan.


"Ayo ngomong, ada apa? Bila Lo keberatan nginap di rumah kakek, jangan di paksain. Setelah ngantar keluarga gue ke bandara. Kita bisa pulang ke sini lagi," tidak ingin memaksa kemauan dirinya sendiri.


"Nggak, nggak gitu! Gue cuma lagi mikirin jika gue berangkat kuliahnya bawa mobil sendiri bagaimana, ya. Kira-kira diizinin nggak, oleh papa sama Kak Arsya?" tutur Salsa yang tidak ingin orang lain mengetahui kalau dia sudah menikah dengan pemuda yang merupakan rival kakaknya apabila di lapangan Basket.


"Nggak boleh! Biar gue yang antar jemput Lo. Lagian Lo dengar sendiri kan, tadi papa ngomong apa," tidak ingin membahas hal tersebut. Kenzo mulai menjalankan kendaraan mewahnya.


"Sabuk pengamannya dipakai!" kata Kenzo melirik kearah sang istri. Setelah itu selama dalam perjalanan tidak ada yang berbicara lagi. Salsa yang merasa jenuh mengeluarkan ponselnya.


Sesekali pun Kenzo hanya melirik isterinya. Bingung, itulah yang dia rasakan. Salsa apabila lagi bersama dengannya tidak banyak bicara, mungkin karena mereka juga baru kenal.


Begitu mereka tiba di kediaman Tuan Fathan. Kedua orang tua Kenzo dan adiknya sudah keluar dari dalam rumah, dan tinggal menunggu mereka berdua, karena penerbangannya tinggal setengah jam lagi.


"Untung tepat waktu," seru Kenzo setelah mematikan mesin mobilnya. "Ayo kita turun dulu, sapa kakek sama nenek." ajaknya, sebagai pria yang sudah menginjak umur dua puluh dua tahun. Kenzo harus bisa menyeimbangi istrinya yang masih berusia hampir delapan belas tahun.


Meskipun dia mengetahui bahwa istrinya memiliki sifat sopan santun, yang tidak diragukan lagi karena terlahir dari keturunan keluarga baik-baik dan sangat terkenal kedermawanannya. Kenzo sebagai seorang suami juga tetap harus membimbing sang istri. Sebab itu semua adalah tanggung jawabnya juga sebagai seorang suami.


"Iya!" jawab Salsa meletakan ponselnya pada dasbor mobil. Lalu dia mengikuti suaminya turun. Kali ini dia turun membuka pintu mobilnya sendiri, karena mana mungkin dia mengandalkan suaminya. Sedangkan mereka berdua sudah di tunggu.


"Selamat sore semuanya, Maaf kami terlambat," ucap Kenzo pada anggota keluarga, termasuk kekek dan neneknya.


"Iya, selamat sore juga. Tidak apa-apa, sayang. Tadi Papa Rian sudah menelepon Papa, dan menjelaskan bahwa tadi kamu meminta izin dulu padanya." yang dijawab oleh Demian.


"Berhubung keberangkatannya dimajukan, kita harus berangkat sekarang." sahut Xiuan melirik jam tangannya. Seharusnya mereka akan berangkat satu jam lagi, akan tetapi karena ada urusan mendadak. Jadinya dimajukan lebih cepat.


"Iya, tidak apa-apa. Kami berdua juga sudah siap." Kenzo melirik istrinya yang lagi dirangkul oleh adik perempuannya.


Melihat pemandangan seperti itu hati Kenzo mendadak berdesir. Entah apa yang dia rasakan. Tapi yang jelas dia sangat senang melihat istri dan adiknya bisa dekat.


"Bagaimana kalau berangkatnya cukup satu mobil saja. Lagian kita tidak membawa barang, kecuali satu koper baju." ucap Demian pada putranya.


"Iya, tidak apa-apa, Pa. Nenek sama kakek tidak ikut 'kan?" jawab Kenzo setuju agar cukup mobilnya saja.


"Tidak, kalian berdua saja yang mengantar ke bandaranya." Tuan Fathan yang menjawab.


"Ya sudah, kita berangkat sekarang pakai mobil Ken aja," putus pemuda itu langsung mengambil koper dan dimasukan kedalam begasi mobilnya. Setelah itu mereka pun berangkat ke bandara.


Kenzo dan ayahnya duduk di kursi depan. Sedangkan Salsa duduk bersama adik dan ibu mertuanya.

__ADS_1


"Sayang... saat liburan kamu harus ikut Kenzo pulang ke rumah kita, ya." ucap Xiuan untuk kesekian kalinya sejak tadi malam.


"Eum iya, Ma. Tergantung Kenzo saja. Bila di ajak, mungkin Salsa akan ikut" jawab Salsa bingung.


"Tentu saja Kenzo akan mengajak mu. Kamu adalah istrinya! Tapi mama khawatir kamu yang tidak mau." memiliki menantu seperti Salsa, membuat Xiuan ragu bila menantunya itu mau menuruti permintaannya.


"Bila papa sudah memberi izin dan diajak oleh Kenzo juga, saat liburan Salsa pasti akan main kesana." kata Salsa yang kebetulan duduk ditengah-tengah.


"Baiklah, mama tunggu! Bila kamu kesana, mama ingin membawamu jalan-jalan dan memperkenalkan menantu cantik Mama pada keluarga besar kita." hanya membicarakan saja, wanita paruh baya itu sudah tersenyum bahagia dan merangkul menantunya.


"Sebelum kalian memiliki bayi, karena jika kamu sudah melahirkan. Sangat repot dan kasihan bayinya bila dibawa perjalanan jauh. Jadinya kita harus menunggu setidaknya sampai anak kalian berumur satu tahun." jelas Xiuan.


Ah... entahlah! mendengar ucapan ibu mertuanya. Pipi putih Salsa langsung terasa panas. Wajahnya langsung berubah memerah seperti kepiting rebus.


Sedangkan Kenzo yang melirik dari kaca. Hanya tersenyum kecil, pemuda itu yang mengendarai mobilnya, karena papanya hanya duduk sambil memeriksa pekerjaan melalui tablet.


"Mama sangat berharap kalian akan memiliki anak kembar, seperti kamu dan kakak mu." Xiuan masih terus berbicara, meskipun Salsa hanya diam sambil menahan malu.


Saat ini Salsa sedang berharap ada sebuah keajaiban. Ia ingin kehadiran Doraemon dan memberikan kantong ajaib padanya, karena Salsa ingin pergi ke lorong waktu dimana dia tidak berada ditengah-tengah keluarga Kenzo.


"Ma, kita sudah sampai. Nanti setelah menantu kita kembali ke rumah. Baru mama bahas masalah cucu kita lagi." ucap Demian tersenyum kecil.


Sedari tadi, meskipun dia lagi memeriksa pekerjaan. Demian mendengar pembicaraan sang istri yang telah membahas cucu. Tidak tahu saja kalau Demian sudah berpesan pada anaknya agar tidak menghamili menantunya, sampai Salsa lulus sekolah.


"Agh, tapi mama masih ingin bersama menantu kita," keluh wanita paruh baya itu.


"Baiklah, mama tunggu kedatangan kalian berdua." tidak memiliki pilihan, Xiuan akhirnya mengalah. Lalu mereka semua keluar dari mobil. Kenzo mengambil koper yang di simpan pada begasinya lebih dulu. Setelah itu barulah dia menyusul masuk.


"Nak, kami pulang dulu, ya. Bila Kenzo membuatmu jengkel, telepon Papa dan mama. Atau kamu bilang saja pada Kakek Fathan. Biar dia yang akan memberikan hukuman pada suamimu." pesan Demian sebelum mereka masuk keruang tunggu.


Hal yang sama juga dilakukan oleh Xiuan dan adik perempuan Kenzo. Mereka semua sangat menyukai Salsa, jadi sudah pasti Kenzo akan di nomor duakan.


Salsa yang dipesankan seperti itu hanya mengangguk dan tersenyum, karena kakak dan mamanya juga sudah berpesan seperti itu.


Untuk berpisah saja mereka sudah menghabiskan waktu kurang lebih sepuluh menit. Sampai ada pemberitahuan dari pihak bandara barulah mama Kenzo masuk bersama putri dan suaminya.


"Wah, sepertinya gara-gara Lo, posisi gue bakalan terancam, nih." kata Kenzo sambil mereka berjalan keluar dari bandara menuju mobil.


"Apaan! Gue nggak nyuruh, tapi nyokap Lo sendiri yang memperlakukan gue seperti putrinya " jawab Salsa cuek.


Ketahuilah! Salsa paling tidak suka bila dicibir seperti yang Kenzo lakukan. Akan tetapi dia sendiri sangat senang mencibir orang lain. Mungkin bukan karena tidak suka. Hanya saja di dalam keluarganya, ataupun keluarga angkatnya. Tidak ada yang mencibir karena Salsa adalah Princes mereka.


Sampai sepuluh menit perjalanan. Gadis cantik itu masih diam tidak mau berbicara, walaupun Kenzo juga diam, tapi sesekali dia melirik sang istri.


"Sa, mau beli sesuatu nggak?" ditawar sesuatu. Mana tahu bisa membuat mood istrinya balik lagi.


"Eum... mau! Gue mau es krim." cara Kenzo ternyata berhasil karena benar saja, Salsa langsung berbicara dengan wajah yang tidak di tekuk lagi.

__ADS_1


"Oke, kita akan beli es krim di tempat langganan gue." Kenzo langsung menambah kecepatan laju mobilnya. Hanya tujuh menit kemudian. Dia sudah membelokan kendaraan mewahnya pada tempat yang hanya menjual berbagai macam parian rasa es krim.


"Ayo turun! Atau mau menunggu disini biar gue belikan."


"Iya, gue nunggu di mobil aja. Rasa coklat, ya." pesannya yang tidak mau turun karena merasa tidak nyaman bila terlalu banyak bergerak. Gara-gara lagi datang bulan.


"Iya, tunggu sebentar." Kenzo mengangguk lalu dia turun untuk membelikan keinginan istrinya. Saat dia masih membeli es krim. Ponselnya yang tertinggal di dalam mobil di pegang oleh Salsa, karena ponsel tersebut terus bergetar.


💌 Mia : "Iya, nanti malam gue tung---"


"Cewek ini lagi, dia siapanya Kenzo, ya? Gue kok jadi penasaran, sih. Nanti malam? Sepertinya mereka sudah janjian mau ketemuan."


Gumam Salsa yang tidak bisa membaca kelanjutan pesan tersebut. Ponsel Kenzo memiliki sidik jari, tidak sama seperti ponselnya.


"Tadikan Kenzo berjanji mau bantuin gue ngerjain tugas. Terus kalau dia janjian juga mau ketemuan sama ini cewek, waktunya bagaimana?"


Salsa bergumam lagi di dalam hatinya. Lalu setelah melihat Kenzo sudah keluar, Salsa menaruh kembali ponsel tersebut pada tempatnya.


Kleeeek!


"Sorry ya, agak lama. Soalnya antrie." ucap Kenzo sambil menyerahkan satu mangkuk cup es krim yang lengkap dengan coklatnya.


"Huem! Tidak apa-apa. Lo nggak beli?" tanya Salsa karena Kenzo hanya membawa satu.


"Nggak! Habisin aja dulu. Setelah itu baru kita jalan lagi." Kenzo meraih ponselnya yang kembali bergetar.


"Mia!" ucap Kenzo melihat orang yang mencoba menghubunginya adalah sahabatnya. Ucapan Kenzo masih bisa didengar oleh Salsa, hanya saja dia memilih diam berpura-pura tidak tahu.


📱 Kenzo : "Iya, Mi... oke, oke! Nanti Lo siap-siap aja. Jam tujuh gue jemput." jawab Kenzo begitu sambungan merek terhubung. Lalu dia terus berbicara dengan Mia sampai beberapa saat karena mendengar Salsa berdehem.


"Hem!"


Prak!


Princes Erlangga melempar es krim nya keluar lewat jendela. Dinginnya es krim yang dia makan, langsung mencair begitu mendengar suaminya berbicara dengan seorang wanita yang Salsa ketahui bernama Mia.


📱 Kenzo : "Bukan suara apa-apa. Sudah dulu, ya. Nanti kalau sudah berangkat dari rumah, gue telepon lagi." pamit Kenzo langsung mematikan sambungan telepon bersama sahabatnya, dan menoleh kearah Salsa dengan pandangan yang tidak bisa dibaca.


"Kenapa es nya dibuang? Bukannya baru Lo makan?" tanya Kenzo yang tidak menyadari kesalahannya.


BERSAMBUNG..


.


.


...Ini mulai ada konflik kecil-kecilan ya, karena bbg Kenzo ternyata begitu mementingkan sahabat. Daripada istrinya sendiri. Lalu apabila Si tampan Arsya tahu, adiknya disakiti oleh rivalnya. Kira-kira akan membalas perbuatan Kenzo atau sebaliknya. Penasaran? Jangan lupa untuk memberikan dukungannya dulu, ya. Terima kasih.😘😘😘...

__ADS_1


__ADS_2