
🥀🥀🥀🥀🥀🥀
.
.
"Kalian sudah paham, 'kan?" tanya Arsya setelah memberikan penjelasan dalam melakukan penyerangan. Saat ini mereka sudah berada di stasiun gedung olahraga. Dimana malam ini Tim mereka menjadi satu dengan Universitas Bima Sakti.
"Sudah, nanti berarti yang gantiin posisi Farel adalah Hengki," jawab Andra sudah siap dengan kostum baju olahraga nya.
"Iya benar, sedangkan Denis sama Dito tetap pada posisi mereka seperti biasa. Begitu juga sama Elo," jelas Arsya terlihat begitu tampan apabila lagi memimpin pertandingan seperti saat sekarang. Sebab pada dasarnya dia memang sangat tampan. Siapa yang tidak menoleh kearahnya, yang memiliki paket komplit.
"Oke, sekarang kalian semua boleh pemanasan dulu, jika mau. Kita masih ada waktu sebelum pertandingan dua belas menit," lanjutnya melihat jam pada pergelangan tangannya.
"Gue mau duduk aja, takut kelelahan gara-gara hari ini belum istrirhat sama sekali," ucap Denis duduk disebelah Arsya. Sebab si Kapten Basket memang tidak ikut latihan, karena dia adalah pemimpin yang memberi arah. Berbeda dengan teman-temannya.
"Ya sudah, Elo nggak usah latihan duduk aja, lagian sebentar lagi, dan kalian kan juga tidak merubah posisi," jawab Arsya sambil melihat Andra dan yang lainnya melakukan pemanasan.
"Iya, tapi kasihan juga sama Kenzo ya, dia harus baring menonton kita bermain yang seharusnya adalah giliran Tim mereka," ungkap Denis mengajak Arsya mengobrol sambil menunggu waktu.
"Iya sih, tapi mau bagaimana lagi. Dia terluka gara-gara mau menyelamatkan gue,"
"Tapi Elo nggak boleh nyalahin diri sendiri juga, Men. Mungkin memang sudah takdirnya kita harus gabung sama mereka," Denis yang tau bahwa Arsya merasa bersalah menepuk pelan pundak sahabatnya. Lalu mereka kembali membahas hal lainnya. Namun, ketika waktu memasuki lapangan sudah tiba. Mata Arsya tanpa sengaja melihat gadis berkacamata tebal duduk di bangku bagian paling atas.
"Aurel, itu benar-benar dia kan? Dia nonton juga, apakah Aurel nggak tahu kalau ada gue, kenapa dia menjadi sombong seperti orang tidak kenal begitu?"
Gumam Arsya sambil berdiri dan mulai memasuki lapangan. Andai saja waktunya masih ada, Arsya akan menarik gadis itu dari kerumunan untuk menanyakan kepergian gadis itu selama ini.
__ADS_1
Aurel dan keluarganya hilang tanpa kabar bagaikan ditelan oleh bumi. Setiap mendatangi rumah kakeknya, Arsya dan Salsa adiknya selalu mendatangi rumah kediaman Aurel. Mana tahu ada berita terbaru tentang gadis tersebut. Namun, sampai beberapa bulan kemudian tetap tidak ada kabar berita apapun. Malah yang mereka ketahui rumah lama Aurel sudah dijual.
Entah ada hal apa gadis itu dan keluarganya pindah secara mendadak bahkan dengan kakek Ridwan pun, mereka tidak berpamitan. Padahal sudah bertetangga selama puluhan tahun lamanya.
Pruuiit!
Suara peluit yang sudah dibunyikan oleh wasit karena pertandingan babak pertama sudah dimulai.
Suara sorak dari para suporter mulai memenuhi gedung tersebut. Para fans Arsya terdengar silih berganti. apalagi malam ini suporter dari Universitas Bima Sakti dan SMK Erlangga menjadi satu, karena kedua tim terhebat mereka sudah menjadi satu. Jadi sudah tahu kan seperti apa kehebohan para suporter tersebut.
"Wah, Arsya memang sangat tampan," seru gadis-gadis dari Universitas Bima Sakti. Mengetahui jika Kenzo sudah menjadi menantu dari Rian Erlangga. Mereka semua tidak ada yang berani mengusiknya lagi. Sebab sudah tahu gadis seperti apa yang akan menjadi saingan mereka. Jadi anggap saja para gadis tersebut sudah kalah sebelum berperang.
Gara-gara Kenzo sudah menikah, sekarang Arsya lah yang menjadi incaran mereka semua. Meskipun sudah tahu umur mereka lebih tua dari Arsya tidak ada yang mau mundur untuk mendapatkan perhatian ataupun menjadi kekasih Arsya.
"Sepertinya brondong lebih menggoda, gue ngefans banget sama dia," imbuh para gadis di sela suara riuh. Begitulah seterusnya mereka semua terus memberi teriakan sebagai penyemangat dan memuji Arsya.
"Hore... Arsya, I love you!" teriak histeris dari para gadis, karena si Kapten Basket sudah mulai mencetak poin. Padahal waktu baru berjalan selama kurang lebih delapan menit.
"Jagoan kita pasti akan menang," sepanjang pertandingan berlangsung. Masih tetap heboh, mereka terus saja memberikan penyemangat untuk sang idola.
"Dia memang tampan, tidak akan ada yang bisa menyaingi kehebatan Arsya dan juga kesempurnaan yang dia miliki,"
Gumam Aurelia di dalam hatinya, ketika mendengar pujian untuk laki-laki yang ia sukai hanya bisa tersenyum kecil. Namun, meskipun dia sudah tahu sejak awal bahwa Arsya ikut bermain. Tidak ada niat Aurel untuk menemui sahabat nya itu.
Berbeda saat dia bertemu dengan Salsa beberapa hari lalu. Gadis itu malah dengan sengaja memanggil si Princess yang lagi bersama Kenzo suaminya. Hari itu bahkan mereka sempat makan siang bersama.
Cuit, cuit!
__ADS_1
"Arsya!" seru para penonton ketika babak pertama berakhir, Tim Arsya sudah berhasil mencetak poin sebanyak tiga belas poin. Sedangkan lawannya hanya tujuh poin.
"Huh! Gila, gila! Elo memang hebat, Men," puji Andra begitu selesai meneguk air mineral yang sudah tersedia oleh staff mereka.
"Bukan gue, tapi kita semuanya hebat, sudah bermain dengan baik dan kompak," jawab Arsya yang tidak pernah ingin dipuji bahwa dirinya hebat.
"Enggak Ar, Elo memang paling hebat. Lagian kita bisa bermain baik juga karena instruksi dari kaptennya," timpal Hengki berhenti sejenak, lalu dia berkata lagi. "Gue bener nggak men?" dia meminta persetujuan pada temannya yang lain.
"Iya, benar banget! Arsya memang paling hebat deh pokoknya," Eel ikut memuji. sedangkan para sahabat Arsya hanya tersenyum sebab kapten mereka memang sangat hebat.
"Sudah ah, gue mau ke toilet dulu, kenapa malah jadi muji-muji seperti ini. Nanti gue terlalu percaya diri bisa-bisa kita kalah lagi," Arsya melihat Aurel pergi dari tempat yang gadis itu duduki, langsung berpamitan pada sahabatnya untuk mengikuti gadis tersebut.
"Ar, mau ditemenin nggak panggil Dito sudah bersiap untuk mengikuti sang sahabat. Namun, Arsya menggelengkan kepalanya, sebagai bentuk penolakan dan dia buru-buru pergi dari sana.
"Kira-kira Aurel ke toilet atau keluar ya?" tanya Arsya sambil berjalan melihat ke arah depan.
Untuk pertama pemuda itu pergi melihat ke arah depan gedung. Namun, tidak menemukan sosok yang ia cari. Dengan berlari kecil, si tampan Arsya kembali masuk menuju ke arah toilet wanita, dan benar saja ketika dia sampai di sana. Gadis yang ia cari baru saja keluar dari salah satu kamar mandi.
Deg!
Jantung Aurel langsung berdegup cukup kencang. Begitu melihat Arsya sudah ada di hadapannya. Seluruh aliran darahnya seakan berhenti, kaki Aurel tidak mampu untuk melangkah meninggalkan tempat itu. Padahal mereka bukan musuh ataupun mantan pacar. Melainkan dua orang sahabat yang sudah lama tidak bertemu dan bertukar kabar.
"A--a--Arsya!" seru gadis itu tidak mampu berkata-kata lagi.
Buuk!
"Aurel, Elo kemana aja? Kenapa kalian pindah tidak berpamitan kepada kami?" tanya Arsya sudah memeluk Aurel begitu erat. Seakan-akan dia takut gadis itu lenyap dari hadapannya.
__ADS_1
"A--a--Arsya," Aurel tergagap dalam pelukan Arsya yang belum juga melepas dirinya. gadis itu benar-benar tidak menyangka bahwa Arsya melihat dirinya. Bahkan menyusul sampai ke toilet wanita. Aurel kira sahabatnya itu tidak akan mau lagi mengenal dia yang berpenampilan seperti gadis culun. Mungkin saja Arsya akan berpura-pura lupa tidak mengenal dirinya. Namun semua dugaannya itu salah besar.
*BERSAMBUNG*...