
🥀🥀🥀🥀🥀
.
.
Setelah acara memberikan nasihat dan do'a untuk rumah tangga pasangan baru tersebut. Tidak ada acara lainnya lagi kecuali makan bersama keluarga besar kedua belah pihak. Disinilah mereka sekarang, di meja makan yang sudah disiapkan untuk lima puluh orang kurang lebihnya.
Hari-hari biasanya. Princes Erlangga itu akan duduk diantara papa dan kakak tersayangnya. Namun, hari ini mereka duduk berjauhan. Salsa duduk di samping Kenzo suaminya. Sedangkan Arsya tetap ditempat biasa.
Pemuda yang akan menjadi, direktur perusahaan Erlangga group itu, tidak banyak bicara. Biasanya bila di rumah seperti saat ini, Arsya adalah pemuda yang ramah. Beda halnya bila sudah berada di luar.
"Sayang isi piring suamimu!" ucap Ayla menyuruh sang putri mengambil makanan untuk menantunya, karena dia melihat semua orang sudah mulai makan, sedangkan Kenzo hanya diam saja. Entah apa yang sedang dia pikirkan
"Dia belum lapar, Ma." jawab Salsa santai. Mana mungkin dia mengisi piring untuk musuhnya. Ya, Salsa beranggapan jika Kenzo adalah musuh yang sudah sengaja menjebaknya agar mereka bisa menikah.
Jawaban Salsa membuat Kenzo langsung menatap kearah sang istri. Bagaimana mungkin gadis itu menjawab kalau dia belum lapar. Gara-gara merasa gugup sebelum pernikahan mereka berlangsung. Tadi pagi Kenzo hanya sarapan satu potong roti dan segelas susu. Itu pun jam setengah tujuh tadi pagi.
Sedangkan sekarang sudah jam dua belas siang. Mana mungkin pemuda itu tidak lapar.
"Kenapa?" tanya Salsa seakan-akan dia tidak melakukan apa-apa. Belum sempat Kenzo menjawab. Tapi Ayla yang mengerti, menyela lebih dulu.
"Adek--- isi saja piring untuk suamimu. Meskipun dia tidak lapar, makan sedikit juga tidak apa-apa." untungnya Nyonya Erlangga itu tahu kalau putrinya hanya asal menjawab. Kalau tidak, Kenzo bisa-bisa kelaparan karena ulah Istri kecilnya itu.
"Tapi--- Ma,"
"Sayang, mulai saat ini putri Mama harus belajar untuk melayani suamimu. Untuk pertama kali mungkin agak aneh. Tapi bila sudah terbiasa, maka kamu akan menganggap itu sebagai pekerjaan baru bagi kita para istri." Ayla tersenyum sambil mengambil piring untuk dirinya.
Salsa yang tidak memiliki alasan untuk menolak, hanya bisa menuruti. Apalagi saat ini ada ibu mertuanya juga di dekat mereka. Namun, meskipun dia menurut dan mengambil piring untuk Kenzo. Gadis itu mengisi dengan porsi cukup besar.
Sehingga mata Kenzo langsung membola keluar. Pemuda itu memang lapar, tapi bukan berarti dia makan seperti orang kelaparan.
__ADS_1
"Ini, makanlah!" memberikan piring yang sudah di isinya pada Kenzo. Jangan lupa suaranya dibuat selembut mungkin. Padahal di dalam hatinya, Salsa menahan tawa. Dia mengisi piring tersebut dengan semua jenis makanan yang ada didekatnya.
"Awas Lo, ya! Berani-beraninya ngerjain gue." gumam Kenzo di dalam hatinya. Namun, dia menjawab setenang mungkin seakan-akan sangat senang melihat isi piring yang penuh dengan berbagai macam makanan.
"Terima kasih Istriku," sengaja menjawab begitu agar Salsa sadar bahwa Kenzo memiliki hak atas dirinya.
Uuhukk ... uuhukk ...
Salsa yang dibilang istri oleh Kenzo. Tapi Arsya yang terdesak makanan. Sehingga mengalihkan perhatian Ayla pada putranya lagi.
"Kakak!" seru Salsa ingin berdiri. Namun, pergelangan tangannya di tahan oleh Kenzo.
"Diam! Kalau Lo berani pergi dari sini, gue akan mencium Lo saat ini juga." bisik Kenzo di telinga istrinya. Sehingga Salsa kembali lagi duduk di kursinya.
"Sayang, ini minum dulu!" tidak perduli jarak dia dan putranya terhalang dua kursi. Ayla tetap berdiri memberikan putranya segelas air putih. Padahal dihadapan Arsya sudah tersedia air putih juga.
Uuhukk ... uuhuk ...
"Kenapa makanya tidak pelan-pelan." Ayla mengelus punggung putranya penuh kasih sayang. Meskipun putranya hanya tersedak makanan. Tapi Istri Rian itu tetap merasa khawatir.
"Arsya nggak apa-apa, Ma. Mama lanjut makan saja, nanti Mama sakit gara-gara telat makan." kata Arsya setelah merasa lebih baik.
"Benar tidak apa-apa?" tanya Ayla memastikan sebelum dia kembali duduk ketempatnya.
"Iya, Kakak nggak apa-apa." Arsya memberikan senyumnya agar mamanya percaya. Mendengar jawaban sang putra Ayla pun kembali ketempatnya lagi dan melanjutkan makan siangnya.
Lalu setelah itu, mereka semua pun makan siang dengan saling diam. Namun, sambil makan, Kenzo memperhatikan istrinya yang hanya mengambil sedikit makanan untuk dirinya sendiri. Gadis itu tidak mau melihat kearahnya. Mungkin marah karena Kenzo menahan pergelangan tangannya saat dia berdiri ingin memberikan kakak laki-lakinya air putih. Entahlah, hanya Salsa sendiri yang mengetahui kenapa dia bersikap seperti itu.
Hampir satu jam setelah selesai makan siang. Keluarga Kenzo berpamitan untuk pulang. Sedangkan yang lainya telah pulang sedari tadi. Termasuk Tuan Heri, Ayah Ridwan dan keluarga Andre, yang masih ada hanya Nando dan Sari berserta Aditya putra mereka. Nando sengaja pulang paling belakangan, karena dia ingin berbicara pada putri angkatannya dan Kenzo.
"Sayang, Mama pulang dulu ya. Nanti sore baru kalian menyusul kesana." ucap Xiuan mamanya Kenzo seraya mengurai pelukan pada menantunya.
__ADS_1
"Iya, Ma. Nanti kami akan menyusul." jawab Salsa ikut tersenyum pada ibu mertuanya yang hendak masuk kedalam mobil.
"Baiklah, Nak. Kami pulang dulu. Nanti bawa istrimu pulang kerumah Kakek. Malam ini kalian harus menginap di sana. Soalnya besok pagi Papa, Mama dan adikmu harus kembali." kata Demian sembari menepuk pelan pundak sang putra, sebelum ikut menyusul anak dan istrinya masuk kedalam mobil.
"Oke, Pa. Hati-hati!" kata pemuda itu sambil melambaikan tangannya ke atas. Hal yang sama juga dilakukan oleh Salsa karena tidak mungkin dia hanya diam saja. Tentunya dia harus bersikap manis di hadapan mertuanya.
Bagitu mobil mewah tersebut sudah hilang dari pandangan mereka barulah keduanya masuk. Tapi Salsa berjalan lebih dulu. Namun, Baru beberapa langkah gadis itu berjalan. Kenzo sudah mencekal pergelangan tangannya. Sehingga membuat dia berhenti dan menoleh kearah sang suami. Niat hati ingin marah. Akan tetapi, bukannya marah dia malah terpana melihat suami tampan nya.
"Tampan sekali!" puji gadis itu di dalam hatinya. Namun, baru beberapa detik dia sudah menarik kembali pujian tersebut.
"Eh, tidak, tidak! Mana boleh memujinya. Kakak Arsya paling tampan. Tidak ada yang bisa mengalahkan ketampanan kakak tersayang ku."
Tanpa sadar Salsa tersenyum-senyum sebelum sadar dari pikirannya, karena merasa ada angin besar menerpa wajahnya.
Fiuuuh!
Kenzo meniup muka Salsa yang berada hanya beberapa senti dari wajahnya. Lalu setelah itu dia berkata sambil mengejek. "Lo kenapa? Awas jangan bilang sedang terpana melihat ketampanan gue," narsis memang. Tapi itulah Kenzo, dia bukanlah sosok cowok yang terlalu dingin seperti kakak iparnya.
"Apa, jatuh cinta? Ogah banget jatuh cinta sama Om, Om. Emangnya gue nggak laku." apa yang dikatakan ternyata tidak sama didalam hatinya. Namun, karena Princes Erlangga itu selalu di kawal saudara laki-laki. Membuatnya tidak susah untuk menampilkan wajah juteknya.
"Yakin banget nggak jatuh cinta sama Om, Om. Jangan salah, Om, Om lebih banyak disukai oleh para gadis di luar sana." jawab pemuda itu tergelak karena melihat wajah imut Salsa yang marah mendengar perkataannya.
"Berani Lo macem-macem, gue aduin sama kakak gue. Biar pusaka Lo di basmi sampai ke akar-akarnya!" ancam Salsa sambil menatap penuh ancaman.
"Ah, gue kok malah jadi ingin mencobanya, ya." semakin gencar mengoda sang istri. Padahal sebelumnya tidak ada satupun yang berani menggoda Princes Erlangga.
"Heh, Ken, ken. Gue pe---"
"Kakak kenapa lama sekali? Adit disuruh menyusul kakak sama--- Kak Kenzo." cicit Adit melihat kearah Kenzo dengan sungkan, karena tahu kalau Kenzo adalah rivalnya Arsya.
"Agh, baiklah! Ayo kita masuk. Tadi Kakak melihat ada kambing tetangga main kesini." Salsa langsung berlari mendekati Aditya dan mengandeng tangan adiknya masuk kedalam rumah, karena takut Kenzo melakukan sesuatu padanya.
__ADS_1
"Apa, gue cowok paling tampan di universitas Bima Sakti, hari ini di bilang kambing tetangga. Oleh gadis kecil."