
" Apa kamu tidak pernah melihat wajahnya?'
" Tidak. Aku tidak bisa melihatnya, karena wajahnya terlihat buram, tapi aku bisa melihat dengan jalas perutnya yang membuncit "
" Apa kamu tidak mengingat sama sekali tentang masa lalumu?" Key menggeleng.
" Can't Mamah tell me? " ( tidak bisakah mamah menceritakannya padaku?)
Key sebenarnya sangat penasaran ingin mengetahui cerita tentang masa lalunya, tapi setiap ia bertaya pada sang mamah, dia hanya berkata, Suatu saat kamu pasti tahu. Mamah tidak bisa menceritakan. Hanya kata itu yang selalu mamah katakan padanya.
Dan sama seperti saat ini, mamah menjawab dengan jawaban yang sama.
" Why do you always answer like that? why don't you know?" ( kenapa mamah selalu berkata seperti itu? kenapa mamah tidak tahu?)
Mamah menarik nafasnya berat. Ia ingin sekali bercerita tentang masa lalu putranya, tapi sayangnya ia tidak tahu bagaimana cerita tumbuh kembang sang putra hingga sebesar ini sekarang. Ia tidak punya cerita yang ia bisa ceritakan pada Key.
" I'm sorry. Mamah tidak punya cerita yang bisa mamah ceritakan padamu" mamah menatap Key dengan perasaan bersalah.
" Baiklah, kalau mamah tidak bisa. Key akan berusaha mengingatnya sendiri" Key memutar kursi rodanya dengan menggunakan tangannya. Ia memegang rodanya agar berputar dan meninggalkan sang mamah duduk sendirian didekat kolam ikan. Ia akan pergi ke kamarnya.
***
London
" Nyonya, ada sebuah surat untuk anda" Hud datang membawa sebuah aplop untuk di berikan kepada Maya.
" Surat? dari siapa?" tanya Maya seraya membolak-balik amplop itu untuk mencari nama pengirimnya.
" Saya juga tidak tahu nyonya. Yang membawa surat itu tukang pos tadi. Dan dia juga tidak tahu siapa pengirim surat itu. Dia hanya mengantar sesuai alamat yang tertera di sana"
" Oh..terima kasih, Hud" Maya mengangguk.
" Sama-sama, nyonya" Hud meninggalkan Maya di ruang Tama.
__ADS_1
Sepeninggalan Hud, Maya pergi ke kamar tamu. Selama perutnya sudah membesar, Maya memilih untuk tidur di kamar tamu, karena ia tidak bisa naik turun tangga. Ia takut jatuh saat akan naik maupun turun.
Saat sampai di kamarnya, Maya membuka aplop itu. Saat membukanya, bukan surat yang Maya lihat, tapi beberapa lembar foto.
" Foto?" Maya melihat foto itu.
Maya memperhatikan beberapa foto tersebut. Foto itu menampilkan sebuah gambar seseorang yang sedang duduk di kursi roda dengan membelakangi kamera.
Deg
Maya merasa tidak asing dengan punggung pada foto itu. Maya melihat foto yang lainnya, di mana foto itu menampilkan 2 orang yang membelakangi kamera, tapi satu di antara mereka menoleh kearah seseorang di sebelahnya, sehingga Maya bisa melihat pipi dan hidungnya.
" Gorge..." ucap Maya lirih. Ia yakin bahwa yang ada di foto itu adalah Key.
" Syukurlah, Kamu sudah sadar" Maya mengusap foto itu dan tanpa terasa, sebuah buliran bening menetes mengenai wajah yang Maya yakini adalah Key.
" Kenapa kamu belum menemui kami? apa kamu sudah lupa dengan kami?" Maya memeluk foto itu dengan air mata yang terus berjatuhan.
" Auhh..." Maya memegang perutnya. Ia merasakan bayinya menendang lumayan kerasa.
" Apa kamu juga ingin bertemu dengan papa sayang?" Maya mengusap perutnya, agar bayi yang ada di dalam bisa tenang.
" Kita berdoa saja, agar papa cepat menemui kita"
Maya menjadi diam. Ia memperhatikan semua foto-foto itu sekali lagi. Hingga matanya fokus mengarah ke sebuah perban yang berada di kepala Key.
" Separah itu luka pada kepalamu. Pasti itu sangat sakit. Maafkan aku yang tidak bisa ikut merawatmu" Maya merasa tidak berguna menjadi seorang istri, karena tidak bisa merawat Key yang sedang sakit parah.
Tok..tok.. tok
" Kak Maya.. aku Jihan"
Terdengar suara ketukan bersamaan dengan suara Jihan yang memanggil namanya. Maya yang sedang melamun sedikit kaget mendengar suara Jihan. Ia buru-buru menyimpan foto itu di bawah bantal dan menghapus sisa-sisa air matanya. Ia kemudian membuka pintu.
__ADS_1
" Kak Maya..." saat Maya membuka pintunya secara sempurna, suara Jihan langsung menyambutnya beserta senyuman di bibirnya.
" Ehh..kamu baru datang ?" tanya Maya seraya menutup pintu kamarnya dan berjalan ke depan TV.
" Iya, baru saja "
" Kamu datang dengan kak Tama ?" tanya Maya saat mereka sudah duduk di sofa.
" Iya, tapi dia sudah pergi ke perusahaan menemui kak Bagas "
" Ohh.." Maya manggut-manggut. Ia sedikit bingung mau bercerita apa lagi.
" Perut kak Maya sudah besar juga. Sepertinya aku sudah sangat lama tidak pernah bertemu dengan kak Maya, heheh " Jihan tertawa kecil saat menyadari perut Maya yang juga hampir sebesar perutnya.
" Iya lah, kamu tidak pernah main ke sini selama menikah dengan kak Tama. Kak Tama pasti mengurungmu di kamar terus" ucap Maya dengan nada bercanda.
" Haha...nggak juga kali, kak. Sebenarnya kak Tama melarangku pergi kemana-mana sendirian dan harus pergi bersamanya saja. Jadi saat dia bilang mau ke perusahaan, aku meminta ikut dan menyuruhnya mengantarku ke sini"
Maya hanya tersenyum menanggapinya. Ia bahagia melihat Jihan yang sudah bahagia dengan pernikahannya. Ia mengingat di mana Jihan dulunya berjuang sendiri menghadapi kehamilannya tanpa di dampingi oleh seorang suami dan kini Jihan sudah mendapatkanya.
Berbanding terbalik dengan dirinya. Di mana saat kehamilan di bulan awal, ada Key yang selalu menuruti kemauannya dan apapun yang ia minta. Selalu menjaga dan mengawasinya kemana ia pergi. Tapi sekarang, dirinya lah yang sendiri lagi. Menjalani kehamilan yang sudah hampir mendekati masa lahiran.
Sebagai seorang ibu hamil, kita pasti butuh seorang suami untuk mendampingi kita saat proses lahiran. Memberikan dukungan, semangat saat akan berusaha mengeluarkan bayi yang mereka nanti sejak awal.
Tapi Maya masih berharap, Key pulang secepatnya dan menemaninya saat lahiran nanti. Setiap malam, punggung dan kakinya selalu sakit. Padahal ia hanya di mansion saja. Saat rasa sakit itu datang, Maya hanya bisa memijit tubuhnya sendiri tanpa meminta bantuan dari orang lain. Maya tidak ingin menyusahkan orang lain dengan dirinya yang selalu mengeluh.
Jika rasa sakit itu tidak terlalu, sakit itu akan berhenti setelah ia memijitnya sebentar, tapi pernah saat suatu ketika rasa sakit pada kakinya luar biasa. Hingga kakinya bengkak dan tidak bisa Maya gunakan untuk berjalan. Maya hanya bisa menahannya sendirian, tanpa mau meminta tolong. Entah berapa lama rasa sakit luar biasa itu, sampai akhirnya Maya berusaha untuk berjalan ke kamar mandi dan merendam kakinya dengan air hangat.
.
.
LANJUT
__ADS_1