
Dipagi hari yang berbeda.
Tama dan Bagas yang memiliki tugas untuk terjun langsung memata-matai si tukang kebun.
"Woah, ini sangat keren, aku terlihat seperti seorang mata-mata sungguhan" Ucap Bagas.
Dia mengenakan pakaian serba hitam dengan peralatan mata-mata lengkap.
Bagas melihat dirinya dalam cermin yang terlihat sangat keren dimatanya. Tama yang melihat tingkah Bagas seperti itu, gelang-gelang.
"Norak" ucap Tama.
"Itu bukan norak, gue hanya mengekspresikan apa yang gue rasain"
"Hmmm" Tama hanya berdem, dalam dirinya dia masih tidak terima dengan perkataan Bagas. Dia masih berfikir Bagas itu alay dan norak.
"Ayo kita berangkat!" ajak Tama.
"Ayo" Bagas ikut pergi.
Mereka mengendarai satu mobil saja, agar lebih memudahkan mereka. Mereka menggunakan airphone ditelinga mereka, agar lebih mudah berkomunikasi. Tama dan Bagas sudah berada di balik pohon yang berdekatan dengan rumah si tukang kebun.
Mereka melihat si tukang kebun keluar dari rumahnya, seperti ingin pergi.
"Seperti dia ingin keluar, siapkan kendaraan! kita akan mengikutinya" ucap Tama, dia berada paling dekat dengan rumah si tukang kebun, sementara Tama dia berjarak 6 meter dari rumahnya.
"Siap" Bagas bergegas mengambil mobilnya.
Tama berlari kearah mobil, yang sudah Bagas jalankan.
Mereka mengikuti motor si tukang kebun dari belakang.
"Jaga jarak 5 meter dibelakangnya!" pinta Tama. Bagas menjaga jarak mobilnya, agar si tukang kebun tidak curiga dengan mobil mereka.
Si tukang kebun mengendarai motornya ke sebuah pedesaan, jalan sudah banyak yang rusak dan berlubang. Membuat Tama dan Bagas kesusahan.
"Ckk, jika gue tahu akan seperti ini, lebih baik kita gunakan motor saja" kata Tama.
"Kita kehilangan, dia" ucap Bagas, saat ia sudah tidak melihat si tukang kebun itu. Akibat jalanan yang berlubang, membuat mobil mereka berjalan lambat.
"Maju saja, dia pasti belum jauh!" kata Tama.
Bagas tetap melajukan mobilnya, dan benar saja, mereka menemukan si tukan kebun itu kembali.
Si tukang kebun sampai ditujuannya, membuat Bagas dan tama mengkerutkan keningnya.
"Sejak kapan ada bungker disini?" tanya Bagas pada Tama.
"Gue juga gak tahu!" balas Tama.
"Ini semakin mencurigakan" kata Bagas.
"Ayo kita ikuti!" Bagas menganguk dan mereka turun dari mobil.
"Bagaimana caranya kita bisa masuk kesana?" tanya Bagas.
Tama berusaha mencari jalan untuk masuk kedalam bungker itu. Tama melihat sebuah tangga di samping bungker tersebut dan ada sebuah lubang diatas atap.
"Itu disana, kita gunakan itu" tunjuk Tama pada tangga.
"Kau benar"
__ADS_1
"Kita berbagi tugas, gue akan naik ke atas sana, Lo jaga disini, kalau ada yang datang kemari, beritahu gue!" ujar Tama.
"Oke" Bagas mengangkat jari jempolnya.
Tama bergerak ke arah tangga, dia melangkah dengan pelan, agar tidak menimbulkan suara. Tama menaikinya, saat dia sudah sampai, dia mengintip dibalik celah itu.
Tama mencari-cari keberadaan si tukang kebun, namun saat dia masih mencarinya, Tama menemukan seseorang yang sangat dia kenal.
"Uncle jang" ucap Tama pelan, agar dia tidak mendengar suaranya.
"Kenapa dia bisa ada disini?" Tama bingung, karena setahu dia, uncle jang tengah berada di negara Z.
Tapi kebingungan Tama berubah menjadi kejutan, "Apa ini? kenapa si tukang kebun bertemu dengan uncle jang?"
Tama memperhatikan interaksi mereka dengan teliti. Dia melihat si tukang kebun tersebut, memberikan sebuah kotak kecil, tapi sayangnya uncle jang tidak membuka kota itu.
Setelah si tukang kebun memberikan kotak itu, mereka perga dari sana. Tama buru-buru untuk turun.
"Bagaimana?" tanya Bagas, setelah Tama sudah ada di dekatnya.
"Nanti saja kita membahasnya, mereka sudah mau pergi dari sini" Tama menarik Bagas pergi dari sana.
Bagas mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi, Dia menerobos jalanan rusak itu. Mereka buru-buru pergi dari sana, agar si tukang kebun tidak curiga. Mereka harus cepat keluar dari wilayah tersebut.
Setelah mereka keluar dan sudah berada dijalan raya, membuat mereka bernafas lega.
"Apa kau mendapatkan sesuatu, tadi?" Tanya Bagas.
"Yah, gue menemukannya, bahkan membuatku sangat kaget"
"Memang kenapa?" tanya Bagas penasaran.
"Dia bertemu dengan si tukang kebun itu. Tukang kebun itu memberikan uncle jang sebuah kotak"
"Uncle jang? Bukan kah dia berada di negara Z saat ini?"
"Itu dia, gue juga bingung"
"Terus, apa kau tahu is dari kota itu?" tanya Bagas.
"Gue juga gak tahu, karena uncle jang tidak membukanya" Tama membuang nafas kasar. Teka-teki ini belum terpecahkan. Didalam mobil seketika hening bebera saat, tapi Bagas membuat Tama kaget.
"Tunggu" Bagas menghentikan mobilnya secara mendadak membuat Tama hampir terjungkal.
"Sial***n Lo, Kalau mau berhenti, bilang dong" ucap Tama, kesal.
"Maaf-maaf, tapi apa kau sepemikiran tentangku mengenai uncle jang?" Tama seketika menoleh.
"Gue juga sempat memikirkan itu, tapi apakah itu mungkin?, kerena uncle jang yang merawat key saat orang tuanya meninggal dan uncle jang juga begitu khawatir saat mengetahui paman Syam terbunuh," ujar Tama.
"Kau benar juga" Bagas membenarkan ucapan Tama.
Mereka mulai memikirkannya kembali.
Plak..
Tama memukul lengan Bagas, membuat sang empunya memekik.
"Lo apa-apaan sih?"
"Ayo kita turun, gue capek mikirin masalah ini, gue haus" Ajak Tama.
__ADS_1
Memang, tempat Bagas memberhentikan mobilnya tadi, berdekatan dengan mini market yang ada di sebrang jalan.
"Haiss..anak itu!" Bagas kesal, tapi dia tetap mengikuti Tama.
Bagas masuk kedalam mini market dan mengambil minuman, sedangkan Tama, dia terlihat membawa satu keranjang ditangannya.
"Astaga, banya sekali yang kau beli!" pekik Bagas.
"Biarin" jawab Tama ketus.
"Kau bilang, kau hanya haus tapi apa ini, segala macam keripik ada semua" Bagas mengangkat beberapa belanjaan Tama.
"Gue beliin Maya beberapa" kata Tama.
" Alasan" Bagas tidak percaya.
"Ayo kita ke kasir, gue sangat capek hari ini"
Bagas mengikuti Tama dari belakang. Setelah mereka membayar belanjaannya, mereka berinisiatif untuk pulang.
Tama memutar tubuhnya untuk keluar dari mini market, tapi saat dia berbalik, dia menabrak seseorang.
Brak...
"Astaga, maaf-maaf" ucap Tama, dia membantu memungut barang-barang orang itu.
Saat Tama ingin memberikannya, Tama keget saat melihat siapa yang dia tabrak.
"Dia?" ucap Tama dalam hati.
"Tunggu" Tama menahan orang itu saat dia akan pergi.
"Bukan kah kau gadis yang bersamaku malam itu di bar?" Tebak Tama.
"Itu bukan saya tuan, permisi" Gadis itu buru-buru pergi dari sana.
Tama memandang gadis itu sampai menghilang dari pandangannya.
"Hei, ayo" Ajak Bagas.
Tama tersadar dan mengikuti Bagas menuju mobil.
Mobil mereka melaju menuju manssion. Tama yang sedang duduk didepan, masih memikirkan gadis yang dia tabrak tadi.
"gua gak salah, itu benar gadis yang tidur denganku beberapa Minggu yang lalu"
"Dia yang mengaku, kalau gue yang menarik waktu itu"
"Tapi ,tunggu, dia membeli susu ibu hamil, apakah dia sudah menikah?" Ucap Tama dalam hati.
Dia benar benar yakin, jika gadis yang dia tabrak tadi adalah Jihan, gadis yang sudah tidur dengannya waktu itu.
.
.
.
.
Lanjut...
__ADS_1