
Acara resepsi sebentar lagi akan di mulai. Key yang berada di altar menunggu sang mempelai perempuan hadir di sisinya. Ia hanya duduk dikursi dengan menundukkan kepalanya.
"Kau kenapa?" tanya Bagas saat melihat sahabatnya yang tampak gusar.
"Tama" jawab Key.
Mendengar nama itu, Bagas menghela nafas. Ia sudah mengerti maksud dari perkataan key. Sahabatnya yang satu itu belum menunjukkan batang hidungnya sama sekali. Padahal dia sudah berjanji pada Key untuk hadir di acaranya.
"Kenapa dengan anak itu? Apa dia marah sama gue? tapi salah gue apa?" ucap Key penuh kebingungan.
"Itu tidak mungkin. Tama pasti ada alasan kenapa dia tidak menepati janjinya kali ini" ucap Bagas. Ia menepuk pundak Key dengan ala lelaki.
"Apa benar begitu?" tanya Key.
"Pasti. Jangan murung seperti ini. Hari ini adalah hari spesial untuk lo dengan Maya, kau ingin membuatnya khawatir melihat kondisi lo seperti ini?" ucap Bagas.
Key menoleh kearah Bagas, ia baru menyadari hal itu. Key berdiri dan memperbaiki jasnya dan menatap di sekelilingnya.
Para tamu undangan tampak mulai memasuki ballroom hotel tempat resepsi pernikahan diadakan. Bagas yang melihat itu tersenyum.
"Gitu dong, harus semangat dan tunjukkan pada mereka bahwa kau sangat bahagia dengan pernikahanmu" ucap Bagas.
"Tentu saja" jawab Key.
"Halo para hadirin semuanya, acara akan segera dimulai mohon para tamu untuk kembali ke tempat duduk masing-masing karena mempelai wanita akan keluar untuk mendampingi mempelai laki-laki" ucap MC
Key tersenyum mendengarnya, ia tidak sabar menantikan sang istri. Ia menatap kearah di mana Maya akan keluar nantinya.
"ini dia ratu kita hari ini" teriak MC.
Suara high heels terdengar menggema di lantai kaca menuju pelaminan. Tampak tiga wanita berjalan ke arah Key. Ketiga wanita itu memiliki umur yang berbeda-beda.
Di sebelah kanan seorang wanita berumur 60 tahun sedangkan di sebelah kiri berumur sekitar 50 tahun dan di tengah mereka seseorang yang akan menjadi ratu hari ini yang akan menjadi pasangan seorang Keylbert putra Syam.
Dengan gaun berwarna putih menjuntai ke lantai, menyapu lantai kaca yang penuh dengan bunga dan lampu-lampu yang berwarna keemasan. Sebuah mahkota dengan hiasan kristal murni di atas kepalanya yang dibalut dengan jilbab berwarna putih menambah kesan yang sangat elegan.
Apalagi dengan senyum sang mempelai wanita membuat seseorang Keylbert menjadi terperangah melihatnya.
Bu Sri dan Bu Farah membawa Maya kehadapan Key.
"Kami memberikannya padamu untuk mendampingimu di sini sekaligus menjadi teman hidupmu selamanya" ucap Bu Sri. Ia mendorong tubuh Maya dengan lembut. Key mengangguk seraya tersenyum ke arah Bu Sri dan Bu Farah.
Key mengulurkan tangannya, meminta tangan Maya untuk ia genggam. Maya uluran tangan itu. Bu Farah dan Bu Sri berbalik dan meninggalkan keduanya.
"Kamu sangat cantik boo-boo ku" ucap Key lembut. Ia menatap Maya dengan penuh kagum, membuatnya kembali merasakan jatuh cinta untuk kedua kalinya pada sang istri.
__ADS_1
"Kamu juga sangat tampan" ucap Maya. Ia mengusap pipi Key menggunakan punggung tangannya.
"Aku mencintaimu" ucap Key. Maya tersenyum mendengarnya.
"Raja dan ratu kita sudah ada disini, jadi mari kita dengar apa yang akan di sampaikan oleh mereka" ucap MC.
Key dan Maya yang mendengar itu mengalihkan perhatiannya kearah para tamu. Key tersenyum kearah Maya dan menganguk.
"Saya mengucapkan terimakasih kepada para tamu yang sudah mau menghadiri acara pernikahan kami. Kalian pasti bertanya-tanya kapan saya melakukan akad nikah dan baru melaksanakan resepsinya hari ini." ucap Key. Ia sedang memegang sebuah mic di tangannya agar para tamu mendengar suaranya dengan jelas.
"Kami sudah menikah dua bulan yang lalu. Kenapa kami tidak mengadakan acara itu, karena ada sedikit masalah waktu itu. Jadi hari ini kami mengadakan resepsi pernikahan kami sekaligus memberitahu bawah saat ini istri saya tengah mengandung" lanju Key. Key menoleh ke arah Maya yang tersenyum ke arahnya. Ia mengusap pelan perut Maya.
Prokk..
prok...
Suara riuh tepuk tangan para tamu menggema.
"wooh... ternyata nyonya Syam tangah mengandung. Semoga nyonya dan bayi nya sehat" ucap MC.
"Silahkan nikmati makanan yang kami hidangkan dan jika kalian ingin memberi selamat kepada mempelai kita di persilahkan juga" ucap MC.
Para tamu yang mendengar itu mulai beranjak dari duduknya dan mengambil makanan di sana. Ada juga yang menemui pemilik acara untuk sekedar memberi ucapan selamat.
Bagas naik keatas dan menemui pemilik acara hari ini.
"Gue menunggumu untuk menyusul" ucap Key.
"Ckkk.." Bagas hanya berdecak.
Kemudian dia menghampiri Maya dan mengatupkan kedua tangannya. Ia tahu Maya tidak ingin bersentuhan dengan pria lain selain suaminya.
"Selamat juga untukmu. Jaga suamimu dengan baik, walaupun kamu sudah menikah dengannya masih banyak gadis-gadis yang akan tetap merebutnya darimu" kata Bagas.
"Pasti, kak" jawab Maya.
"Kau harus selalu percaya padanya" ucap Bagas lalu meninggalkan mereka tanpa mendengar jawaban Maya.
Maya hanya terdiam mendengarnya dan menatap Bagas dengan campur aduk. Maya beralih menatap ke arah suaminya yang sibuk melayani tamu dari rekan bisnisnya.
"Selamat kak Maya" ucap Jihan. Ia juga menghampiri keduanya. Maya tersadar dan tersenyum kearah Jihan.
"Terimakasih. Semoga kamu juga cepat menyusul" ucap Maya.
"Hahha..pasti, tapi aku belum punya calonnya" ucap Jihan.
__ADS_1
"Nanti aku akan membantumu mencarinya. hahah.." kata Maya.
"Harus yang kaya dan tampan juga ya, kak" lawak Jihan.
"Hahaha.. kau ini semakin menjadi-jadi" Maya menepuk lengan Jihan pelan. Jihan hanya cengengesan mendegarnya.
"Oh yah, di mana Bu Farah dan Bu Sri?" tanya Maya.
"Mereka ada di belakang sana. mereka malu katanya jika makan di sini, karena mereka ingin makan yang banyak. Makanya tadi mereka menyuruh para penjaga mekanan untuk mengantarnya kesana" kata Jihan.
"Hahah.. mereka itu ada-ada saja"
"Yahh.. begitulah. Mereka sudah sama-sama tua"
"Hahah.. yasudah kamu pergi temui mereka. Kita foto bersama di sini!" pinta Maya. Jihan menganguk dan pergi menemui wanitu yang bisa dibilang sudah tua itu.
Jihan melangkah ke belakang dan mengangkat gaunnya agar dia mudah untuk berjalan. Namun saat ia sudah dekat, ia mendengar suara ibunya yang berteriak dengan marah.
"Kenapa kau melakukannya pada putriku"
"Itukan suara ibu, Kenapa dia terdengar sangat marah?" gumam Jihan. Saat mendengar suara ibunya.
Jihan menghentikan langkahnya di sana, karena ia ingin mendengar semua ucapan ibunya.
"Maafkan saya, Bu. Ini semua salahku. Aku tidak tahu, kalau dia bisa hadir akibat perbuatanku"
"Suara siapa itu, kenapa terdengar seperti suara pri?" gumam Jihan. Ia kembali mempertajam pendengarannya.
"Tentu saja itu salahmu. Sekarang apa tujuanmu datang menemuiku setelah lebih dari sebulan kau melakukannya"
.
.
.
.
.
.
.
LANJUT...
__ADS_1
JANGAN LUPA TINGGALKAN JEJAK KALIAN...
LIKE, COMMENT, AND VOTE..